Sistem Kekayaan Hukuman

Sistem Kekayaan Hukuman
Tawaran The Royal Group


__ADS_3

.


Bima telah sampai di sebuah mansion paling besar di kota ini... tidak, negara ini. Keluarga Raynold memiliki dua mansion di kota berbeda dan semuanya adalah mansion termewah dan paling indah. Baru masuk gerbang saja sudah disuguhi pemandangan bunga-bunga yang indah bermekaran, desain taman di depan mansion juga sangat indah.


Di malam hari, terdapat lampu-lampu berkerlip di dalam taman.


Selain itu, di samping dan belakang mansion terdapat pohon-pohon buah yang buahnya selalu terlihat matang meski telah diambil setiap harinya.


Saat masuk Bima disambut oleh beberapa maid, Bima sendiri segera menanyakan dimana Queenza berada. Setelah maid mengatakan keberadaan Queenza, Bima segera pergi menemuinya.


Meski Bima bukan bagian dari keluarga ini, namun keluarga mereka masih berhubungan satu sama lain, seperti kerabat jauh. Karenanya, Bima sudah biasa berkeliling di rumah ini tanpa mengkhawatirkan apapun, dia juga bebas menghabiskan makanan di kulkas atau di dapur.


Bima mengetuk kamar Queenza, belum disilahkan masuk dia sudah masuk duluan.


“Kenapa kau kemari?” tanya Queenza yang sedang membaca buku di atas ranjang. Bima mendekatinya lalu duduk di tepi ranjang di sebelah Queenza, mengembalikan paket yang Queenza berikan untuk Fano.


“Fano tidak ingin menerima undanganmu” kata Bima


“Pasti kau yang mengahasutnya agar menolak undangan ini kan?”


Bima tertawa mendengar tuduhan Queenza “Hahaha aku? Untuk apa aku melakukannya? Dia langsung menolaknya segera setelah membaca isinya”


“Mustahil ada orang yang menolak undangan dari The Royal Group” Queen menutup novelnya, dia sudah tidak mood untuk membaca sama sekali sekarang. Bagaimana bisa ada orang yang menolak undangan dari keluarga Raynold?


Queen tidak bisa menerima ini.


“Lagipula kenapa kau ingin mengundangnya? Pasti ada maksud tersembunyi kan?” tanya Bima.


Queen menatapnya jengah, kemudian dia mengeluarkan ponselnya sendiri, menunjukkan sesuatu didalam ponselnya pada Bima.


“Temanmu itu, sedang memulai bisnis dengan bathbomb yang dapat membantu menghilangkan kotoran dan lemak tubuh –


jangan tanya dari mana aku mendapat informasi ini, kau tau aku bisa mendapatkannya dengan mudah. Temanmu itu harusnya sedang kesusahan saat ini, dia mendapat kecelakaan dan hampir meninggal tapi keajaiban terjadi, aku mendapat informasi ini dari Kak Tio, dia dirawat di rumah sakitnya kak Tio. Setelah keluar dari rumah sakit, paman dan bibi yang seharusnya merawatnya malah mengusirnya. Tidak hanya itu, ternyata paman dan bibi temanmu itu melakukannya karena tidak mau mengeluarkan biaya untuk perawatan temanmu dan –”


“Tunggu! Queen... pelan-pelan, jadi maksudmu Fano baru saja kecelakaan?”


Queen mendengus senang karena sekarang Bima tertarik dengan informasi dari teman yang baru saja dia kenal.


“Benar, dia terjatuh dari atap gedung di sekolah... kalau tidak salah itu lantai empat atau lima, bahkan menurut kak Tio mustahil sekali temanmu itu –”


“Fano”


“Mustahil Fano selamat, tapi akhirnya dia bangun seperti keajaiban, aku ingin membicarakan banyak hal dengannya, jadi ku mohon bujuk dia untuk menemuiku” Queen meraih lengan Bima, menatap Bima dengan wajah memelas seperti anak kucing minta dipungut.


“Tidak!” Bima menyingkirkan tangan Queen dari lengannya “Itu masih tidak cukup menjadi alasan kau mau bertemu dengannya, apa dia tipemu atau bagaimana?”


“Ini tidak ada hubungannya dengan tipe meski itu benar juga.. tapi! Aku itu benar-benar tertarik dengan bathbomb yang sedang dia pasarkan, aku yakin dia punya produk lain juga yang menjanjikan, karena itu Royal Group tidak boleh melepaskannya, lagipula kakek berpesan untuk menghidupkan kembali Royal beauty yang telah redup” kata Queenza


“Royal beauty? Memangnya The royal Group punya produk kecantikan?” tanya Bima, seingatnya The Royal Group tidak memiliki produk kecantikan. Mereka hanya punya produk makanan, restoran, hotel dan resort, elektronik, Fashion, agensi entertaiment dan perhiasan.


“Kakek bilang dulu ada, sekarang sudah tidak ada.. karena itu, jika Fano mau bergabung –”


“Ku rasa itu mustahil Queen, Fano tidak akan mau.. tapi, cobalah menemuinya langsung, goda dia atau apa mungkin dengan begitu dia bisa luluh padamu” kata Bima.


“Sekarang kau tidak berpihak padaku?” Queen


“Untuk apa?” Bima

__ADS_1


“Kau harus mendukungku!” Queen


“Kenapa kau pikir aku harus mendukungmu?” Bima


“Karena aku masih sepupu jauhmu! Keterlaluan jika kau memilih berpihak pada seseorang yang baru kau temui daripada aku!”


Bima beranjak dari duduknya “Berusahalah sendiri, dengan kekuatanmu sendiri.. apalagi ini urusan hati”


BUGH


Queen memukulkan bantal bentuk donat pada Bima “Aku sudah bilang ini bisnis!”


“Fano menyukai Angel, menyerahlah” Bima


“Keluarga Graham tunduk pada keluarga


kita” Queen


“Jangan berbuat yang aneh-aneh, kalau tidak kau akan dikirim ke dunia iblis” Bima


“Tidak masalah, disana cukup menyenangkan” Queen


Bima memungut bantal donat milik Queen lalu melemparnya kembali pada Queen “Pergilah ke New York jika kau hanya mengacau disini!”


“Kenapa tidak kau yang kembali ke London!”


Queen sudah ingin kembali melempari Bima tapi terlambat karena Bima sudah pergi dari kamar Queenza.


“Fano..” Queen melipat tangannya di bawah dada “Kenapa dia menolak? Apa alasannya? Menyebalkan!”


***


Fano mendengus malas melihat pertanyaan dari sistem yang tertera di layar transparan di depannya.


“Aku sudah tau maksud kenapa aku diundang, lagipula aku akan menolaknya kok, aku tidak mau berurusan dengan mereka lagi, apalagi berada dalam kekuasaan mereka”


[Jadi kau akan menghindari mereka?]


“Hmm..”


Fano hanya menatap langit-langit kamarnya.


Dia tau undangan itu pasti berhubungan dengan bisnis yang akan segera ia kembangkan, cepat atau lambat mereka akan menemukan Alfredo Maverick juga, nama buatan untuk menutupi identitasnya.


Fano tidak akan mau berada di bawah mereka apalagi berhubungan dengan mereka lagi.


“Kak Fano..”


Fano terkejut mendengar panggilan tersebut, dia segera menyalakan lampu kamarnya. Dia melupakan fakta bahwa malam ini Dave menginap di apartemennya setelah tadi membuat akun toko online untuk Fano bersama Angel dan Yoshi juga. Sedangkan Andy dan Bima pergi setelah belajar kelompok selesai, tadinya Andy ingin mengantarkan Angel juga, tapi Angel tidak mau ikut.


Setelah selesai membuat toko online di beberapa market place terkenal, Angel pulang karena dijemput supirnya, Yoshi juga pulang karena ibunya juga baru pulang dari bekerja.


Tinggal Dave yang masih tinggal karena kedua orangtuanya sedang pergi untuk seminggu ke depan, orangtua Dave menitipkan Dave pada Fano dan Yoshi.


Itulah kenapa Dave bisa ada di kamar Fano.


Apa dia mendengar Fano tadi bicara sendiri dengan sistem ya? Wah, kalau dengar bisa dikira gila nanti.

__ADS_1


[Dia tidak dengar kok]


Syukurlah.


“Dave, kenapa?” tanya Fano, tiba-tiba Dave merengek sambil mendekat pada Fano dan memeluk Fano erat.


Fano kembali dikejutkan setelah memerika kening Dave yang terasa panas.


“Dave kamu demam?” tanya Fano sambil sedikit menjauhkan Dave darinya, lalu menangkupkan tangannya pada kedua pipi Dave.


Panas.


Dave tidak menjawab, dia malah menangis.


“Pusing kak Fano...”


“Sebentar ya..” Fano mengeluarkan ramuan penyembuh dari laci kecil di meja yang ada di sebelah ranjang Fano.


“Ayo minum obat dulu” bujuk Fano, tapi Dave menggeleng dan malah semakin menangis kencang.


Bagaimana ini? Fano tidak penah merawat anak kecil demam, apalagi Albert.


“Mau ke rumah sakit?” tanya Fano lagi


Dave kembali menggeleng.


“Mau ku panggilkan dokter?” tanya Fano kembali.


“Kak Fano kenal dokter?”


Fano mengangguk pelan “Kenal, dia masih kuliah sih, karena mau jadi dokter spesialis.. tapi da sudah membantu di rumah sakit milik keluarganya, dia baik.. ku panggilkan dia, mau kan?”


Perlahan Dave mengangguk “Mau..”


Fano mengusap airmata yang mengalir di pipi Dave “Jangan nangis, kamu kan laki-laki.. harus kuat ya?”


Fano tidak mengerti kenapa Dave tiba-tiba demam, padahal tadi sebelum tidur dia tidak kenapa-napa, malah masih bercanda dengan Angel dan Yoshi.


“Kak Tio? Apa kakak sibuk? Syukurlah.. kak Tio bisa ke apartemenku? Tidak bukan aku – tolong ya kak, aku tunggu” Fano kembali menutup telfonnya, lalu menatap Dave yang sudah terbaring di ranjang, tapi dia masih terisak.


“Sebentar lagi kak Tio kemari. Sabar ya..”


Padahal kalau mau minum ramuan bisa cepat sembuhnya, apa Fano paksa dia minum saja ya? Tapi pemaksaan itu tidak bagus.


[Tumben kau pengertian begitu?]


‘Aku sudah menganggap Dave seperti adikku sendiri’


[Seperti Ibunya Bima dulu?]


‘Begitulah’


“Kak Fano...” kembali Dave merengek saat kepalanya kembali berdenyut dan terasa berat, dia meraih tangan Fano untuk dia genggam.


“Sabar ya.. dokternya akan kemari”


.

__ADS_1


.


__ADS_2