Sistem Kekayaan Hukuman

Sistem Kekayaan Hukuman
Bertemu keluarga Queenza


__ADS_3

.


.


.


Fano akhirnya keluar dari gedung H.Z dengan senyuman lebar, dia senang karena sepertinya bisnisnya akan lancar.


[Kalau begini sepertinya kau tidak butuh skill bisnis]


‘Tidak begitu juga, aku pasti membutuhkannya’


[Kalau begitu naikkan poin kebaikan agar naik level]


‘Akan ku lakukan’


Fano memasang helmnya dan siap melajukan motornya keluar dari gedung, tapi kemudian dia merasakan seseorang naik di belakangnya, Refleks Fano menoleh ke belakang.


Dia terkejut Melihat Queenza ada disana.


“Kenapa kau ada disini? Turun dari motorku!”


Fano menatap Queen yang sudah duduk manis di atas motornya, padahal dia mengenakan rok lipit setengah paha dan sweater warna baby pink, rambut pirangnya yang panjang dan indah itu diikatnya menjadi kuncir kuda yang tinggi.


Tidak cocok menaiki motor.


Dia terlihat sangat cantik dan soft malam ini.


Eh? Apa yang kau pikirkan Fano!


“Antar aku pulang” Kata Queen, sama sekali tidak terpengaruh dengan perintah Fano yang ingin dia turun segera dari motornya.


“Kau tidak memiliki helm –” Fano terdiam saat seorang butler datang membawakan helm pink untuk Queen.


“Bagaimana kau bisa ada disini? Kau menguntitku atau apa?” Fano


“Untuk apa aku menguntitmu, aku ada urusan disini, dan mobilku mogok jadi kau harus mengantarku – oh, aku bisa membayarmu nanti”


 “Rumahmu jauh, bayar aku tiga juta untuk kesana” kata Fano, sebenarnya dia hanya main-main agar Queen turun saja dari motornya. Seenaknya sendiri dia memperlakukan Fano seperti ojek.


“Aku akan memberimu empat juta, jalan saja”


Tentu saja uang tidak menjadi masalah baginya, semua Raynold sama saja!


‘Apa aku akan dapat poin atau koin untuk mengantarnya?’


[Jika dia puas dan bahagia kau mungkin bisa dapat poin atau koin]


[Tolong saja, mobilnya memang mogok kok]


‘Apa kau berpihak padanya?’


[Kau serius bertanya seperti itu? Tentu saja tidak]


Fano pun menyerah dan memilih untuk kembali


menyalakan mesin motornya dan melaju keluar dari sana.


Queen memegangi Pakaian Fano, merematnya dengan kuat, menolak untuk memeluk pinggangnya.


“Kalau kau takut kau bisa memelukku” Teriak Fano agar bisa didengar oleh Queen.


Awalnya Queen tidak mau menurut, tapi pada akhirnya dia memeluk pinggang Fano karena laju motor makin kencang saja. Baru kali ini Queen menaiki motor, dia dilarang naik motor oleh kakek, nenek dan orangtuanya, lagipula Queen lebih suka memakai mobil.


Fano tersenyum Saat Queen akhirnya memeluk pinggangnya, dia tau Queen takut menaiki motor. Anak perempuan Keluarga Raynold mana boleh menaiki motor, bolehnya hanya mobil, sepeda, berkuda atau jalan kaki.


Kalau ketahuan pasti Queen dimarahi, tapi itu bukan urusan Fano, dia akan senang melihat Queen dimarahi. eh, tapi Fano tidak ingin bertemu anggota keluarga Raynold sih. Terutama mertua dan kakak iparnya, malas sekali. Meski dia sekarang dalam tubuh Fano.


“Kau tau alamat rumahku?” tanya Queen


“Tau”

__ADS_1


“Tau darimana?”


“Rahasia”


Mana mungkin Fano mengatakan jika sistem yang memberitahunya? Albert juga tidak tau alamat mansion besar Raynold kok, kalau yang di Sidney baru dia tau.


PUK PUK PUK


Queen menepuk-nepuk bahu Fano agak kencang, hingga akhirnya Fano menepikan motornya “Apa lagi sih?”


Kemudian Queen menunjuk sesuatu setelah Fano menoleh padanya dan membuka kaca helmnya. Yang ditunjuk adalah restoran burger.


“Kau belum makan malam?” tanya Fano


“Sudah” jawab Queen singkat.


“Lalu kenap –”


“Please?”


Fano terdiam melihat wajah memelas Queen, terlihat seperti anak kucing minta dipungut, imut sih.. tapi – ah, sudahlah, tidak ada salahnya membeli burger, mumpung Fano belum kenyang setelah makan malam tadi. Tau sendiri lah porsi restoran bintang lima itu sebenarnya tidak  terlalu banyak.


Baik Fano maupun Albert, makannya itu sangat banyak porsinya, jadi tentu saja kurang.


Mereka sudah sampai di depan tempat memesan drive thru, Queen memesan menu baru yang sedang promo.


Fano tau kenapa Queen ingin membeli burger itu sekarang, karena burger yang promo hari ini itu terbatas, warnanya burgernya pink. Fano juga memesan empat burger, karena dia pikir satu tidak cukup, belum lagi jika bertemu Yoshi atau Dave di apartemen, pasti mereka minta.


Tapi Fano tidak membeli burger pink seperti Queen, Fano membeli burger yang juga promo, warnanya hitam.


Selesai membeli burger mereka mampir lagi ke tempat lain, kali ini tempat untuk membeli boba. Queen membeli rasa red velvet, Fano membeli yang rasa matcha. Baru kemudian lanjut lagi ke rumah besar.


Fano baru berhenti saat motornya melewati gerbang sampai tepat di depan mansion. Queen turun dari motor “ayo masuk”


“Kau sengaja melakukan ini agar aku datang ke rumahmu kan?”


“Ada yang ingin aku bicarakan denganmu Fano”


Queen kesal mendengarnya, sepertinya Fano sudah mengetahui maksud dia mengundangnya beberapa hari lalu.


“Bukankah kau meminta bayaran?” tanya Queen


Fano menggeleng “aku hanya bercanda, masuklah ke dalam”


“Tapi –”


Ucapan Queen terhenti saat pintu rumah terbuka lebar, seorang pria tampan keluar dari sana sambil memanggil nama Queenza dan berjalan mendekat.


Fano juga ikut berhenti dan tidak bergerak di atas motornya.


“Papa? Sejak kapan papa sampai?” tanya Queen, dia mendekati papanya, lalu pria itu memeluk putrinya erat, kemudian kembali menatap Fano.


“Kamu siapa? Ojek?”


Fano sudah ingin mengangguk tapi Queen menyahut “Bukan Pa, dia temanku, teman Bima juga”


“Queen sudah punya teman rupanya.. bagus, kau tunggu apa lagi? Ayo masuk!”


Sial, Fano tidak bisa kabur.


Memang kakak ipar Albert ini sangat menyebalkan, demi menjaga reputasi Fano sebagai anak baik dan teladan, Fano pun melepas helmnya dan turun dari motor.


Queen kembali pada Fano, mengambil bungkusan burger dan boba yang tadi mereka beli “Biar ku bawakan”


Ya ya ya, terserah saja, Fano sudah malas dan menyesal telah mengantar tuan putri satu ini kembali ke rumahnya. Ujung-ujungnya Fano berurusan lagi dengan keluarga ini, kenapa?! Tidak adakah tempat untuk lari?


[Sudah, bersikaplah yang baik]


‘Untuk apa?’


[Kau – maksudku, albert memiliki banyak kesalahan pada mereka bukan?]

__ADS_1


‘Hah? Kesalahan yang mana?’


[Jangan pura-pura bodoh! Kau membuat istrimu sengsara]


‘Dia bahagia’


[Bahagia kepalamu?!]


Akhirnya Fano menginjakkan kaki di dalam mansion besar ini, dalamnya sangat indah sudah seperti istana. Fano terkejut karena banyak anggota keluarga yang sedang berkumpul. Kenapa mereka semua ada disini bukannya di Amerika?


Jangan-jangan istri Albert ada disini juga...


Queen datang untuk menggandeng Fano “Jangan gugup, mereka semua baik kok”


Baik apanya? Mana ada keluarga Raynold baik?


“Kak Lino membawa siapa itu?” seorang wanita cantik dengan rambut perak dan mata perak datang mendekat “Calon menantu kita?” lanjutnya.


Ayahnya Queen, Lino, kembali menoleh pada Quen dan Fano lalu berdecih “Mana ada? Hanya temannya Queen” setelah itu Lino tidak peduli lagi dan memilih untuk pergi ke dapur.


“Mama, kenalkan ini Fano” kata Queen


Fano berusaha untuk tersenyum dan bertingkah sesopan mungkin “Selamat malam, nama saya Farelino, panggil saja Fano”


Mamanya Queen mendekat pada mereka dan membalas senyum Fano “Kamu anak yang tampan, aku mamanya Queen, panggil saja kak Luna”


“Mama!” protes Queen


“Kenapa? Mama kan masih muda”


Benar juga, mamanya Queen masih terlihat seperti perempuan berusia 20 tahunan, dia tidak berubah sama sekali, masih persis sama seperti ingatan Albert tentang perempuan itu, Luna.


Entah apa rahasia mereka, tapi semuanya awet muda, papanya Queen juga masih terlihat seperti berumur 25 tahunan alih-alih seperti pria berusia 40 tahun lainnya.


“Ada siapa sih?” seorang lelaki lain muncul, memakai pakaian kasual dengan rambut hitam mengkilat dan berantakan, dengan kulit putih pucat, terlihat agak seram tapi masih terlihat sangat tampan.


“Bukan urusan kakak! Kenapa juga kakak ikut kemari?” sahut Queen


“Queen jangan begitu dengan kakakmu, dia sedang libur kuliah dan ingin jalan-jalan bersama kami di Indonesia, kita juga akan pergi ke Malang, kau mau ikut sayang?” tanya mamanya Queen, Luna.


“Aku tidak mau ikut, aku disini saja” balas Queen.


Fano yang berada di tengah-tengah keluarga ini agak canggung rasanya, dia juga tidak bisa kabur karena Queen menggandeng lengannya.


“Lebih baik dia tidak ikut, yang ada hanya merepotkan” sahut lelaki itu, kakaknya Queenza.


Kalau Fano tidak salah ingat, anak pertama kakak iparnya ini seumuran dengan anaknya Albert sendiri, tapi bukan Luna yang melahirkannya, istri yang lain. Kalau tidak salah namanya Kaisar.


Tidak mau membalas kakaknya, Queen memilih pergi dari sana sambil menyeret Fano menjauh, mereka kembali ke luar mansion. Fano pikir dia sudah boleh pulang, ternyata Queen membawanya ke taman, kemudian naik ke rumah pohon.


Rumah pohon yang berada di antara pohon-pohon besar berbatang putih, dengan daun hijau. Fano tidak tau pohon apa ini, kenapa warna batang pohonya putih? Tidak ada buahnya juga.


[Itu persik putih]


Jadi benar-benar tidak berbuah ya sekarang.


“Kenapa kau membawaku kemari? Biarkan aku pulang” kata Fano.


Mereka sudah ada di dalam rumah pohon, ternyata di dalam sini hangat juga, ada ranjang dan sofa, meja dan televisi juga.


“Mau nonton film?” tanya Queen.


Fano duduk di sofa di sebelah Queen “Boleh, kalau kau mau nonton film thriller”


“Tidak masalah – maaf ya, keluargaku memang begitu, aku dan kakak bukannya tidak akur, dia memang menyebalkan saja, ayahku juga tidak galak kok.. dia baik”


Yang terakhir itu, mungkin Fano belum bisa setuju.


.


.

__ADS_1


__ADS_2