
.
.
Fano berdecak kesal, kesal kenapa dia mengatakan hal yang seharusnya belum bisa dia katakan. Belum tentu juga Lady Lydia adalah ibunya yang bereinkarnasi kan?
Ah, Fano bodoh.
Tapi, dia memang tidak rela reinkarnasi ibunya menikah dengan orang seperti Kaisar. Kaisar menyebalkan, dia sangat dingin, masa bodoh dengan wajahnya yang tampan, yang akan membuat semua wanita bertekuk lutut.
Lagipula Fano juga bukan wanita kan, jadi pesona Kaisar tidak sampai padanya.
“Aku bilang –”
“Dia bukan ibumu brengsek!”
Emosi Fano sudah sampai di ubun-ubun saat Kaisar meneriakinya, dia ingin meninjunya kembali namun tentu saja Lady Lydia menghentikan Fano.
Lady Lydia menarik Fano ke belakang tubuhnya, dan itu membuat Kaisar semakin marah, Fano bisa melihat raut wajahnya yang semakin menyeramkan.
“Kenapa kau melindunginya? Kau juga jatuh pada pesonanya? Sama seperti adikku?” teriak Kaisar lagi, namun Fano bisa melihat Lady tidak gentar sama sekali, sama seperti dulu, dia adalah wanita kuat yang berpendirian tinggi.
“Fano benar, dia adalah putraku di kehidupan sebelumnya dan aku hanya mengajarinya berbagai bumbu yang ada di dunia ini, seharusnya aku yang bertanya padamu, kenapa kau sangat marah padahal
belum tau apa yang terjadi? Aku sangat kecewa padamu, lebih baik kau pergi”
Kaisar tidak percaya Lady mengatakan semua itu. Jadi Fano benar-benar putra Lady dari kehidupan sebelumnya? Kenapa Kaisar tidak mengetahui itu? Sebenarnya Kaisar tau kakeknya mengetahui sesuatu, namun dia yakin kakeknya tidak akan dengan mudah memberitahu semua padanya.
“Jangan bercanda, kenapa kau tidak memberitahuku? Dia akan menikah dengan adikku dan aku tidak menyukainya” kata Kaisar.
“Apa salah Fano sehingga kau tidak menyukainya?” tanya Lady.
Fano menyeringai senang melihat Kaisar bingung untuk menjawab pertanyaan itu, memangnya apa salah Fano iya kan? Fano tidak salah apapun tapi Kaisar tidak menyukainya, Dojun juga.
“Pokoknya aku tidak suka” kata Kaisar pada akhirnya, setelah agak lama memikirkan jawabannya. Kaisar memang tidak menemukan jawaban yang tepat mengapa tidak menyukai Fano. Dia sebenarnya anak yang baik, tidak bisa melakukan banyak hal yang buruk karena memang tidak bisa. Mungkin Kaisar hanya tidak suka karena adik kesayangannya mencintai Fano.
Apa aneh jika seorang kakak tidak menyukai pacar adiknya? Bahkan ayahnya juga tidak menyukai Fano karena alasan yang sama.
Lady Lydia maju satu langkah, kemudian meraih wajah Kaisar yang tertunduk. Kaisar agak lega melihat senyuman Lady, namun ... yang Lady katakan selanjutnya membuatnya tidak senang.
“Jika pangeran tidak menyukai Fano, itu terserah pada pangeran, namun mungkin aku memikirkan kembali pernikahan kita, maafkan aku” kata Lady.
Kaisar meremat jari-jarinya, ia ingin meninju sesuatu hingga hancur.
Marah? Tentu saja dia marah.
__ADS_1
Mana dia tau jika Fano merupakan anak Lady di kehidupan sebelumnya? Apa kesalahan dia hingga Lady tega mengatakan hal itu.
Kemudian Kaisar menatap Fano tajam, dia semakin kesal melihat seringai Fano, bocah itu!
“Aku rasa, aku harus pergi, besok aku banyak pekerjaan” kata Fano.
“Hati-hati Fano, jika kau kemari lagi, aku akan menjelaskan semuanya” balas Lady, Fano mengangguk lalu tersenyum. Setelah menepuk bahu Kaisar dan berbisik “Jangan terlalu membenciku” kemudian dia pun pergi.
Tentu saja Fano mengerti jika mereka berdua butuh sendiri.
Meski pun dulu Lady adalah ibunya, namun di kehidupan sekarang Lady bukanlah siapa-siapa, bahkan boleh dinikahi, secara hukum. Tapi tentu saja mereka tidak mungkin melakukannya, ikatan
ibu-anak mereka masih terlalu kuat, buktinya mereka berdua dapat langsung mengenali satu sama lain meski Fano belum diberitahu. Jadi tentu tidak ada perasaan romantis semacam itu.
Sebenarnya Fano ingin tau apa yang akan terjadi pada mereka berdua, dia senang jika Lady tidak jadi dengan Kaisar. Tapi Fano juga tidak ingin keduanya bersedih hanya karena dirinya, jika mereka memang saling mencintai Fano bisa apa? Tidak mungkin dia merengek pada Lady untuk memutuskan hubungan mereka.
Keduanya sudah sama-sama dewasa, pasti sudah tau apa yang baik dan tidak, mereka juga pasti sudah memikirkan semuanya sebelum memutuskan untuk menikah kan? pasti ada pertimbangan tersendiri.
Jika Kaisar memang mencintai Lady, dia pasti memperjuangkannya, namun jika tidak ... sudah bisa dipastikan Fano benar-benar tidak akan membiarkan mereka menikah.
“Fano!”
Belum juga Fano berjalan jauh keluar dari bangunan resto, dia sudah melihat Raja berlari kecil ke arahnya.
“Raja? Kenapa kau disini?” tanya Fano.
Tapi, dia ini bodoh atau bagaimana? Padahal kan bisa menggunakan sihir teleportasi. Sudahlah, suka-suka pangeran mahkota saja, mungkin sekalian olah raga ya.
“Kau juga tidak bercerita jika kakakmu ada hubungan dengan Lady” kata Fano.
“Oh? Belum ya? Hehe, aku lupa – tapi kan itu tidak terlalu penting” balas Raja.
“Itu penting, pangeran” Fano.
“Jangan sebut aku seperti itu, aneh jika kau yang mengatakannya” protes Raja “Eh tapi, penting gimana? Jangan bilang kau mulai menyukai Lady Lydia!” tambah Raja.
“Jangan bodoh! Aku tidak menyukai Lady Lydia seperti itu, itu penting karena aku yakin Lady adalah ibuku di kehidupan sebelumnya” kata Fano.
“Oh, kau ini reinkarnasi? Aku baru tau” sahut Raja.
“Sekarang kau tau kan?”
Kemudian Raja menyeret lengan Fano, bukan menuju istana, melainkan menuju danau teratai yang letaknya memang tidak jauh dari sana.
Rasa kesal dan amarah Fano seketika lenyap melihat keindahan danau tersebut.
__ADS_1
Beberapa teratai sedang bermekaran saat ini, namun berbeda dengan saat siang hari, di malam hari jauh lebih indah lagi karena teratai yang mekar bersinar, mengeluarkan cahaya indah sesuai warna kelopak bunga. Ada yang biru, pink, kuning, hijau, ungu ... selain itu, ada pula kupu-kupu yang juga bersinar mengeluarkan cahaya.
Kupu-kupu itu juga berwarna-warni, agak besar seukuran telapak tangan manusia dewasa.
“Jika malam hari- kupu-kupu cahaya akan berkumpul di sekitar bunga cahaya seperti teratai ini, untuk mencari nektar, sama seperti kupu-kupu lain di dunia manusia kan, namun pemandangannya jadi sangat indah” kata Raja.
“Hmm, kau benar” gumam Fano.
Perasaan Fano sudah lebih baik hanya dengan memandangi bunga dan kupu-kupu itu. Sangat indah.
“Boleh aku memotretnya?” tanya Fano.
Raja mengangguk “Silahkan”
Fano mengambil kamera terbaik dari kotak penyimpanannya.
“Oh kau punya kotak penyimpanan? Pantas saja energi sihirmu banyak, aku dengar Aron pernah meminta energi sihirmu ya? Cepat sekali kau pulihnya, jauh-jauh dari Aron jika tidak ingin sekarat kehabisan energi sihir, dan juga Christal – dua bocah itu sering sekali membuat repot”
“Noted”
Kemudian Fano mengarahkan kameranya pada pemandangan indah yang tidak biasa di depannya tersebut. Hasilnya sangat aestetik tanpa bantuan editing, manual saja sudah seperti editan pro, terutama karena cahayanya yang memang sangat indah.
Hampir sama seperti kunang-kunang saat sedang berkumpul, namun ini kupu-kupu.
“Apa kau tau Fano, kupu-kupu itu meminum sebagian nektar saja, sebagian lain mereka kumpulkan di sarang mereka, hampir seperti lebah, mereka menghasilkan madu, namun madunya lebih sering dinamai nexie” kata Raja.
“Sepertinya aku pernah mendengar nama nexie” sahut Fano.
“Ada yang memanen nexie di sarang kupu-kupu cahaya di hutan, bahkan kupu-kupu yang ada di sini ini adalah kupu-kupu yang ada di peternakan istana, ada peternakannya di pinggir hutan, mereka akan kembali lagi ke peternakan setelah selesai, tidak akan kabur” jelas Raja lagi.
Fano kembali memotret pemandangan itu sambil mendengarkan ucapan Raja, ternyata ada banyak hal menarik ya.
Fano hampir melupakan masalahnya tadi jika saja Raja tidak menyinggungnya kembali.
“Jadi, Lady Lydia itu sungguh ibumu dari kehidupan sebelumnya? Itu artinya kau juga reinkarnasi ya? Aku sendiri, ini kehidupan pertamaku, kurasa. Queen juga reinkarnasi” kata Raja.
Fano berhenti memotret kemudian menoleh pada Raja lalu mengangguk “Iya, aku bisa merasakannya, ikatan ku dengan ibuku masih sangat kuat” kata Fano.
Raja tersenyum “Apa kau senang bertemu dengan Lady Lydia?”
“Ada senangnya, ada tidaknya”
“Maksudmu?”
.
__ADS_1
.