Sistem Kekayaan Hukuman

Sistem Kekayaan Hukuman
Membantu dengan tulus


__ADS_3

.


.


Fano tidak menyangka ada orang yang lebih kejam dari dirinya, meski dia dulu telah membunuh banyak orang, tapi sekali pun dia tidak pernah membunuh atau menyiksa anak kecil yang tidak bersalah. Malah Albert juga sering membagi sebagian hartanya untuk membantu anak-anak yang tidak mampu.


Tapi sekarang, Fano melihat sendiri dengan kedua matanya lewat layar yang menampilkan vidio yang berasal dari kamera tersembunyi yang dia pasang di setiap sudut panti asuhan.


Dengan kamera itu Fano menemukan banyak bukti.


Mira mempergunakan uang yang seharusnya disumbangkan untuk anak-anak panti, ada yang dia gunakan untuk membeli rumah mewah, mobil, belanja barang-barang tidak berguna.. bahkan untuk berpacaran juga.


Sepertinya dia belum menikah, karena memang kelihatannya juga masih muda, mungkin sekitar umur 26-30 tahun. Atau mungkin juga dia janda, Fano tidak tau yang pasti Mira tidak memiliki suami atau anak, tapi punya pacar.


Mira juga sering memukul anak-anak di panti saat dia marah atau untuk melampiaskan emosi saja. Dia juga marah karena Fano dan teman-temannya, tidak memberikan uang tapi malah makanan, mainan dan selimut. Dia juga melampiaskan kemarahannya pada ibu pengurus panti yang lain.


Fano tidak bisa membiarkan hal tersebut terlalu lama, jadinya malam ini juga bersama Alfred dia pergi ke kantor polisi agar mereka cepat menindaklanjuti hal itu.


Fano telah membeberkan semua kecurigaannya pada mereka, juga bukti-bukti berupa rekaman dan vidio.


Untungnya mereka juga sudah curiga dari jauh-jauh hari, hanya saja tidak bisa melakukan apapun karena tidak ada bukti. Lalu juga, Mira dibantu oleh pacarnya yang ternyata preman di sekitar sana.


Fano sekarang bisa lega telah melihat Mira dan pacarnya ditangkap.


Ibu pengurus panti dan anak-anak juga terlihat sangat senang, mereka berterima kasih pada Fano karena telah membantu mereka. Fano hanya mengatakan itu sudah sepantasnya dia lakukan sebagai manusia.


Baru kali ini Fano membantu orang dengan tulus. Memang benar dia mendapatkan koin yang bisa ditukar dengan banyak uang. Namun sekarang rasanya berbeda, melihat mereka bahagia seperti ini Fano juga ikut bahagia.


[Selamat! Anda telah menyelesaikan misi penting!]


[Anda mendapat hadiah 3000 koin!]


Fano berjanji akan menggunakan uang hadiahnya untuk membeli tanah di panti ini, lalu dia akan merenovasi bangunannya juga.


Mendengar hal itu mereka semakin bahagia.


Bagi mereka, Fano adalah pahlawan mereka.


Dengan itu Fano bisa tidur nyeyak setelahnya, Alfred juga selalu ada bersamanya, Fano merasa sangat bahagia.


Namun.. kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.


Saat Fano masuk sekolah keesokan harinya, ada saja masalah yang terjadi.


Beredar rumor buruk tentang Fano yang berbuat jahat pada keluarga pamannya, disebutkan jika Fano mencaci maki bibi dan sepupunya, memukul mereka dan mengusir mereka dari rumah mewahnya setelah Fano sukses dan banyak uang.


Hal tersebut tidak berpengaruh pada penjualan produk yang Fano jual, terutama yang di luar negri dan pembelian online. Tapi, di toko jadi sangat sepi, pengunjung makin sedikit.

__ADS_1


Tidak hanya itu, ada beberapa brand yang menjadikan Vivi dan Bella sebagai model tiba-tiba membatalkan perjanjian.


Queenza terus marah-marah dan bersumpah tidak akan mau bekerja sama dengan orang-orang itu lagi, mereka juga tidak akan bisa bekerja sama dengan Royal Group. Alhasil beberapa dari mereka tidak jadi membatalkan perjanjian.


Fano tidak senang.


Dia tahu pasti ini semua ulah bibi dan sepupunya, karena dia marah jadi dia pergi ke rumah pamannya untuk meminta penjelasan.


Tapi yang terjadi malah di luar perkiraannya.


Ternyata pamannya sudah menceraikan istrinya tersebut, pamannya bilang dia sangat marah karena istri dan anaknya menyebarkan rumor buruk tentang Fano. Pamannya juga meminta maaf pada Fano.


Dengan itu Fano mulai tenang dan tersenyum pada pamannya, kemudian dia bertanya dimana sekarang istri dan anak pamannya tersebut. Oh, maksudnya mantan istri.


Pamannya mengatakan dia memberi sebagian uang pada mereka agar pergi. Saat ini mereka menempati rumah petak yang ada di perkampungan kumuh.


Fano tidak tau dia harus kesana atau tidak, atau.. haruskah dia menjadi pemaaf?


Tapi meski dia memaafkan tidak ada yang berubah, orang-orang tetap menilainya buruk.


Fano tidak tau harus bagaimana, dia juga tidak mengerti kenapa tiba-tiba bisa berada di mansion keluarga Raynold, bersama Queenza di rumah pohon.


Alfred baru saja datang membawakan jus jeruk, lalu pergi lagi.


“Tenangkan dirimu, kau sudah menemui bibimu?” tanya Queenza.


Queenza menghela nafas berat “Kau ternyata kekanakan juga ya, kau harus lebih tenang dan memikirkan semuanya dengan pikiran jernih”


“Aku juga tidak tau kenapa aku bisa seperti ini, aku sangat marah hingga berpikir untuk membunuh mereka, tapi aku tau aku tidak boleh melakukannya, ini membuatku frustasi” kata Fano.


Queenza menangkup wajah Fano dengan kedua tangannya, memaksa Fano untuk menatap ke dalam mata birunya yang indah.


“Fano, aku tau kau marah, tapi membunuh bukan solusi yang tepat, apalagi jika kau melakukannya, masalah akan jadi semakin rumit dan kau mungkin akan dipenjara selama 20 tahun lebih.. kau tidak ingin menghancurkan hidupmu kan?” kata Queenza.


Fano menggeleng lemah, Queen tersenyum “Bagus, kau tidak boleh menghancurkan hidupmu. Kau harus mengingat jika kau punya rantai di lehermu, mungkin suatu saat rantai ini bisa menjeratmu jika kau berbuat buruk”


Fano menarik pinggang Queen mendekat lalu memeluknya erat, Queen juga memeluk leher Fano erat. Dia sangat suka karena Fano memeluknya seperti ini.


“Terima kasih, kau membuatku lebih tenang sekarang”


Queen hanya mengangguk dalam pelukan Fano.


“Kau tidak keberatan aku memelukmu seperti ini?” tanya Fano, Queen menggeleng “Tidak, aku tidak keberatan.. ini rasanya seperti familiar, seperti kita telah melakukannya dari dulu”


Fano terkekeh mendengarnya “Apa maksudnya itu?”


Queenza menggeleng “Entah, aku hanya berpikir seperti itu”

__ADS_1


Kemudian mereka berdua terkekeh.


Queenza lega karena Fano sudah lebih baik sekarang, dia tidak tau harus bagaimana jika Fano terus-terusan murung.


Dia tidak ingin Fano sedih, Queen harus melakukan sesuatu dengan masalah Fano. Fano yang marah dan tidak bisa berpikir jernih hanya bisa memikirkan untuk membunuh mereka. Padahal, ada beberapa cara yang lebih baik untuk balas dendam.


Yaitu membuat mereka menderita.


Queen kembali memeluk Fano lalu berbisik “Fano, apa kau masih mencintai Angel?”


“Kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu?”


Queenza menggeleng pelan, lalu kembali bicara “keluarga Angel ternyata sangat menyukai calon tunangan Angel, rupanya dia sudah mengenal Angel sejak kecil, Angel kan sering ke Korea juga”


“Kenapa kau mengatakan ini padaku?”


Queenza mendongak menatap Fano “Kau tidak penasaran dengannya? Aku pikir kau ingin tau apa yang terjadi”


Bohong jika Fano berkata tidak penasaran, tapi dia juga sudah mengetahui semua apa yang terjadi dengan Angel, mengingat Fano masih berkirim pesan dengan kakak sepupu Angel, Jungyu.


Fano bahkan banyak mencari informasi tentang calon tunangan Angel, Ryu Yohan, dan Fano sama sekali tidak menyukai fakta bahwa Yohan sangat terkenal di Korea dan menjadi incaran banyak perempuan karena selain dia ahli waris konglomerat, Yohan juga sangat tampan.


“Bisakah kita tidak membicarakan hal itu?” pinta Fano.


Queenza melepaskan pelukannya “Maaf, aku pikir kau masih menyukai Angel, tidak – aku tau kau masih menyukainya. Aku hanya orang ketiga di antara kalian, tidak apa.. aku akan berhenti”


Fano kembali menarik pinggang ramping gadis itu, meraih tengkuknya lalu menciumnya. Tentu saja Queen terkejut dengan apa yang tiba-tiba Fano lakukan tersebut.


Queen sedikit menjauhkan wajahnya dari Fano, tapi Fano menariknya semakin dekat.


Pada akhirnya Queen menyerah dan membalas ciuman Fano, sebisa mungkin Fano membawa ciuman mereka untuk tidak menuju ke arah yang panas. Fano tidak ingin mendapat peringatan lagi. Itu sangat menyakitkan, meski hanya sakit kepala tapi rasanya seperti mau mati. Fano tau rasanya detik-detik sebelum mati seperti apa, dan itu ribuan kali lebih menyakitkan dari pada yang bisa kalian bayangkan.


Setelah Fano mulai sadar dengan apa yang ia lakukan, dia mulai melepaskan ciumannya, dan menatap Queen dengan lembut. Dia mulai merasa bersalah karena mempermainkan perasaan Queen selama ini.


Dan kenapa Fano menciumnya? Entahlah, Fano hanya tergerak dengan sendirinya. Meski Fano mencintai Angel, selalu ada tempat khusus di hatinya untuk Queen.


Tapi apakah ini sudah benar?


“Queen aku –”


BRAK


Sontak Queen langsung menjauh dari Fano begitu pintu tiba-tiba dibuka dengan kasar.


“Raja..”


.

__ADS_1


.


__ADS_2