
.
.
Mobil Fano berhenti di sebuah rumah minimalis, yang ada di perumahan yang cukup bagus di pinggiran
kota. Sebelum terbang ke Korea, Fano memutuskan untuk mengunjungi kedua orang tua Indra. Meski anak mereka sangat Fano benci, namun, orangtuanya tidak bersalah.
Fano tidak memiliki kolam ikan piranha, dia hanya bercanda. Yang membunuh Indra adalah Lylac, menggunakan sihir khusus yang tidak menimbulkan jejak, kemudian dia buang di laut. Pagi ini sepertinya ada berita jika nelayan menemukan jasadnya, nelayan bisa mengenalinya karena Indra cukup terkenal, pernah jadi buronan juga.
Fano hanya ingin menyantuni mereka karena merasa bersalah, itu saja.
Ayahnya Indra tersenyum ramah pada Fano, dia terlihat sangat sungkan. Menurut Fano, dia pria yang kuat, masih bisa tegar meski berkali-kali ditipu anaknya, Indra.
Seingat Fano, dulu rumah keluarga mereka bagus, besar, ada di tengah kota juga, namun sekarang pindah di rumah yang lebih kecil untuk menghemat uang, setelah seluruh uang mereka habis oleh Indra.
Fano melihat keadaan ibunya Indra, yang stress karena anaknya, pasti ibunya sangat sedih. Ayahnya Indra bilang ibunya sudah seperti itu sejak dulu, hanya sekarang lebih parah karena Indra telah menghabiskan banyak uang ayahnya hingga mereka terpaksa pindah.
Ternyata Indra juga punya adik, masih kecil sih, laki-laki juga.
Beda dengan Indra, Andra, nama adiknya, terlihat lebih pendiam dan suka bermain game, seperti bocah-bocah jaman sekarang. Fano tidak bisa mencela Andra, karena Fano sendiri suka main game. Meski sekarang sudah tidak terlalu, Fano sangat sibuk sih.
Fano memberi mereka oleh-oleh dari Jepang, juga beberapa kue. Fano juga memberi teh mawar, yang dia dapat dari keluarga Raynold. Teh mawar Royal Group cukup mahal, jadi seperti barang mewah bagi menengah ke bawah.
Ayahnya Indra sempat menolak, namun kemudian Ibunya Indra datang dan melihat Fano, wanita paruh baya itu memeluk Fano, mengira Fano adalah putranya.
Ayahnya Indra ingin melepaskan istrinya, tapi Fano tersenyum dan mengatakan tidak apa, biarkan saja ibu itu menganggapnya sebagai putranya.
Kemudian Fano mengusulkan untuk membuatkan teh mawar itu untuk mereka, tentu saja ayahnya Indra menolak karena sungkan, tapi ibunya Indra yang menganggap Fano putranya senang sekali mendengar itu.
Jadilah Fano menyeduhkan teh untuk mereka, Fano juga memberikan dua bunga levare kuning ke dalam teh, agar rasa tehnya menjadi lebih unik.
Kemudian mereka meminum teh sambil memakan kue dan mengobrol ringan. Fano menanyai adiknya Indra, yaitu Andra, tentang sekolahnya dan teman-temannya. Andra bilang dia dijauhi di sekolah setelah teman-temannya tau tentang kakaknya.
Kasihan juga.
Tapi Fano orang asing, tidak mungkin ikut campur terlalu banyak, jadi kemudian dia pamit pergi. Ibunya Indra sempat menahannya, tapi kemudian Fano mengatakan dia harus pergi bekerja, nanti kembali lagi, baru ibu mau melepasnya.
Setelah itu Fano kembali ke apartemennya.
Selama perjalanan Fano terus kepikiran, Indra yang punya orangtua serta adik yang baik, kenapa bisa
jadi brandalan seperti itu.
Sudahlah, bukan urusan Fano. Yang penting keluarga itu sudah baik sekarang, semoga mereka bisa bahagia.
__ADS_1
Sesampainya Fano di apartemen, Lylac dan Fira sudah berpakaian bagus, koper juga sudah berjajar rapih, termasuk koper fano dan Yoshi juga.
Dia perempuan itu sedang asyik makan buah-buahan sambil menonton entah apa di layar laptop.
“Kalian sudah siap?” tanya Fano.
Mereka mendongak menatap Fano yang baru saja datang.
“Aku siap!” jawab Fira antusias, dia sudah sabar pergi ke Korea, ingin tau tempatnya seperti apa, karena kan, Fira belum pernah kesana.
“Aku juga sudah siap bertemu Noa” sahut Lylac.
Fano tersenyum, Fano pikir Lylac akan mencari ribut dengan Vivi karena sama-sama menyukai Noa, ternyata tidak.
“Hmm? Vivi kenapa?” tanya Lylac.
Ups, Fano lupa jika Lylac bisa membaca pikiran Fano jika sudah dari jarak dekat.
“Gak ada, aku mau mandi dulu ya?” Fano ingin segera kabur, namun Lylac menahannya “Hei tunggu! Ini simpan.”
Dengan sihirnya, Lylac memberikan sebuah – undangan? Undangan itu melayang-layang sampai Fano menangkapnya.
Rupanya undangan pernikahan Lady Lydia dan Kaisar, Fano menghela nafas berat, tapi kemudian dia tersenyum dan memasukkannya ke dalam kotak penyimpanan.
“Itu dari orangtua Fano yang dulu kan?” tanya Fira.
Tadi saat Fano berangkat, ada Roi datang membawakan berbagai buah-buahan mahal untuk Lylac dan juga undangan pernikahan untuk Fano. Undangan itu hanya formalitas sih, meski Fano datang tanpa undangan juga tidak masalah.
Fano sudah pergi ke kamarnya lalu mandi dan berganti pakaian.
***
Akhirnya sampai juga di Korea, setelah sampai bandara, ada Jehyuk yang terlihat begitu bersemangat
menyambut mereka, bersama Jungyu yang terlihat lelah. Mereka sampai di malam hari, jadi langsung pergi ke restoran untuk makan malam.
Karena sudah tidur di pesawat, Fano tidak bisa tidur, tapi kemudian dia ingat jika besok pagi dia masuk ke dungeon lagi selama satu jam lagi.
Jadi Fano memilih untuk bekerja sebentar saja. di mansion cukup sepi, Noa tidak ada karena tidur di asramanya. Dia dan anggotanya sudah memulai aktifitas untuk comeback, jadi jadwal mereka akan kembali padat, itulah kenapa dia memilih untuk tidur di asrama.
Tapi jika Noa sudah tau Fano telah sampai, mungkin dia akan menyempatkan diri untuk mengunjungi Fano barang sebentar saja.
Krieekkk
Suara pintu kamar Fano yang dibuka membuat Fano sedikit kaget, dia mendongak dari laptopnya, menatap ke arah pintu. Namun setelah tau siapa yang datang Fano tersenyum lebar.
__ADS_1
“Fano!”
Angel menghambur memeluk Fano.
“Fano, kamu lama banget, aku kangen!” kata Angel, kemudian dia mengecupi wajah Fano, lalu yang terakhir bibir Fano, kemudian terkekeh.
“Maaf ya, aku banyak urusan” kata Fano.
“Jangan langsung bekerja, itu buat besok saja” protes Angel setelah tau Fano melihat-lihat laporan. Fano menghela nafas lalu menuruti perintah Angel, lagipula ini sudah malam. Fano membuka pekerjaan saja agar dia ada kesibukan lalu mengantuk.
Tapi jika sudah ada Angel, untuk apa mencari kesibukan.
Setelah meletakkan laptop ke meja nakas, Fano kembali memeluk Angel, kemudian mendengarkan cerita Angel. Angel juga sangat sibuk dengan kuliah dan juga pekerjaan, kemudian Angel mengatakan jika ditawari untuk ikut casting sebuah drama. Sutradara ingin sekali Angel menjadi pemeran utama wanitanya.
Angel yang tidak memiliki pengalaman akting, juga tidak pernah belajar ingin menolaknya, namun manager dan pihak agensi ingin Angel mencoba dahulu.
“Menurutku coba saja dulu sih, kalau casingnya lulus bukankah itu hal baik?” tanya Fano.
“Tapi, itu adalah drama yang agak dewasa, maksudku bukan drama remaja, aku diberi naskahnya untuk belajar dan ada beberapa adegan kissing disana” kata Angel.
Fano terkejut mendengarnya “beberapa? Tidak tidak, tidak boleh Angel! Aku akan membantumu untuk menolaknya” kata Fano. Mana mungkin Fano membiarkan Angel mencium pria lain, meski itu hanya akting.
“Memang aktor yang akan menjadi lawan mainmu siapa?” tanya Fano lagi.
“Ya belum tau, tapi kak Dojun ikut casting” kata Angel.
“Okay, keputusanku bulat, tidak boleh” Fano.
“Hehe, aku juga tidak mau” Angel.
Fano menarik pinggang Angel agar lebih mendekat padanya “Angel tidak butuh menjadi Aktris, kalau pun kau mau, tidak boleh ada adegan, lagipula nantinya kau hanya akan mendapat hujatan lagi jika tiba-tiba menjadi pemeran utama kan? cobalah untuk menjadi cameo atau figuran saja dulu, jika memang ingin berakting” saran Fano.
Angel menggeleng “Aku sebenarnya tidak tertarik Fano, tapi agensi memaksaku, katanya aku ada bakat, padahal aku tidak bisa berbohong lho, bagaimana bisa mereka menyebutku bakat akting” kata Angel.
“Entahlah, aku sendiri belum pernah melihatmu berakting”
“Fano sudah mengantuk?” tanya Angel.
Fano tersenyum, lalu mengecup pipi Angel “sedikit, aku belum bisa tidur karena sudah tidur di pesawat, tapi badanku pegal semua, padahal aku banyak duduknya” kata Fano.
“Mau aku pijit?” tawar Angel.
“Boleh, tapi ples-ples ya”
“Hmm?”
__ADS_1
.
.