
.
.
“Hi handsome”
Fano baru saja sampai villa, seseorang membukakan pintu untuknya dan itu adalah Chrystal. Pantas saja
ada mobil lain yang terparkir selain mini van.
“Kenapa kau ada disini?” tanya Fano, sambil mendorong bahu Chrystal yang tidak ingin menyingkir, jadi Fano dan Fira bisa masuk.
“Aku disini karena Abel ada disini, mumpung aku dan Bima lagi liburan” jawab Chrystal.
“Bima? Jadi ada Bima juga? Ku pikir kau datang dengan Peter” kata Fano.
“Peter sibuk di perusahaan, ada rapat bersama Uncle Lino, Grandpa Felix, Uncle Roi, banyak lagi deh, membicarakan produk baru” cerita Chrystal, dia sudah duduk di sofa ruang tengah.
Disana ada Bima, Abel, Dave dan Wawan yang main kartu uno, yang kalah mukanya dicoret dengan bedak bayi, Bima dan Dave mendapat banyak coretan. Padahal Dave biasanya pandai bermain game, tapi kalau dia kalah biasanya dia memang sengaja mengalah, terutama jika main dengan Wawan atau Abel.
Fira yang masih membawa kotak kuenya, membagikan kue itu pada mereka. Fano sendiri membawa camilan yang dia beli dari pinggir jalan, kepiting chrispy.
Karena Fano penasaran dengan cerita Chrystal, jadi Fano memilih duduk bersamanya “produk baru apa itu
kalau boleh tau?” tanya Fano.
“Bukannya kau ini perusahaan saingan ya?” Chrystal meminta camilan Fano, dahinya mengernyit setelah berhasil makan satu, tapi karena enak, dia lanjut makan lagi.
“Sejak kapan aku saingannya Royal Group? Aku ini memiliki saham juga lho” bantah Fano.
“Iya tapi di Royal Ent. Kan? bukan Royal Food&drink, produk baru itu adalah makanan dan minuman, dengan satu bahan yang unik” kemudian Chrystal mendekat pada Fano dan berbisik “Kau kan pernah ke Ardez ya, bahan yang ku maksud itu dari sana, ada
bunga yang tumbuh liar tapi sangat unik, namanya bunga levare” setelah membisiki hal itu, Chrystal kembali nyemil kepiting chrispynya.
Bunga levare? Unik sekali namanya, Fano jadi penasaran.
“Apa tuh? Jangan dihabisin sendiri dong!” protes Bima, dia penasaran dengan camilan yang dimakan Fano dan Chrystal.
Fano terkekeh melihat wajah Bima yang sudah penuh dengan bedak, tidak heran lagi jika dia selalu kalah bermain.
“Gak gak! Bersihin mukamu dulu!” tolak Chrystal, mengusir Bima dengan kakinya, memang sopan sekali gadis satu ini.
“IH, kenapa sih? Ini bedak bayi kok” protes Bima.
“Kamu banyak bedaknya kelihatan jyjyk, kalo Dave baru kelihatan gemes” tambah Chrystal, kemudian Dave yang namanya disebut, menoleh dan tersenyum pada Chrystal.
“Anaknya Om Zeus gemes banget ya, jadi pacar aku aja gimana?” tanya Chrystal, sambil tersenyum genit.
__ADS_1
Dave hanya terkekeh saja, beda dengan Fano yang mati-matian menahan diri untuk tidak memukul
Chrystal, ngeselin banget soalnya, lebih ngeselin dari Lylac.
“Asal kamu tau aja, kalo naksir Dave banyak yang ngantri, sainganmu berat, ada Bella yang jadi model perusahaan kami, ada juga centernya La-ve, Wonhi, jadi ngantri dulu ya” sahut Yoshi yang baru datang dari dapur, membawa satu gelas besar berisi es kelapa muda.
Nama grupnya Wonhi dan Cherin itu La-ve (bacanya Lav, ejaan Koreanya jadi Labeu, soalnya huruf hangul tuh, v/f gak ada)
Namanya sangat sederhana, namun Fano sering melupakannya.
“Kak Yoshi jangan fitnah!” balas Dave.
“Fitnah gimana sih? Aku hanya memberikan fakta, tapi kalo kamu lebih suka tante-tante kayak Chrystal ya
silahkan” Yoshi, yang kemudian mendapat lemparan bantal sofa dari Chrystal “Jika aku tante-tante kamu om-om berarti ya! Kita seumuran!” protes Chrystal.
Rupanya Yoshi sudah kebal menghadapi keluarga Raynold, buktinya sudah bisa membully Chrystal segala. Fano hanya menikmati keributan mereka dengan memakan camilannya.
“Tapi aku setuju sama Yoshi, mending kamu pikir-pikir dulu Dave kalo mau sama Chrystal, dia cowonya banyak di Aussie” kata Bima.
“Jangan fitness kamu ya!” Chrystal.
“Emang ga lagi fitness kok” Bima.
“Aku masih kecil qaqa jadi ga boleh pacaran” Dave.
“Halah, kalo gini aja ngakunya kecil, jentiknya kali yang kecil” sahut Yoshi.
“Tuh kan, dia udah tante-tante, jangan ditemenin” Bima.
“Kalo gitu Abel ga boleh pacaran juga dong?” pertanyaan dari Abel ini membuat mereka semua terdiam “Abel kan lebih muda dari kak Dave” tambahnya.
“Ih, Abel gak gitu, aku cuma bercanda aja kok, gak serius” sahut Dave.
“Kak Fira, kuenya kurang” kata Wawan.
“Masih ada tapi macaron” jawab Fira.
“Mau!” Wawan.
Camilan Fano habis, cepat sekali sih? Padahal Fano membeli banyak lho, sampai tiga bungkus. Fano pun berdiri “Dimana Lylac?” tanya Fano.
“Oh, dia keluar katanya mau jalan-jalan, mau jalan-jalan juga?” tanya Yoshi.
“Boleh deh”
***
__ADS_1
Fano dan Yoshi jadi jalan-jalan di sekitar sana, anak-anak yang lain masih mau lanjut main kartu uno, sekarang malah Chrystal ikutan main, Fira juga ikut setelah dijelaskan cara mainnya.
“Fira dengan ayahnya bagaimana? Kenapa dia jadi diam? Aku pikir dia akan heboh dan banyak cerita tentang ayahnya” tanya Yoshi.
Mereka hanya jalan-jalan di sekitar villa, disini ada area camping, glamping, cafe-cafe, juga beberapa villa lainnya.
“Itu dia masalahnya, kau masih ingat Lily kan? dia itu ternyata anak dari om Randy, yang artinya dia adik tirinya Fira. Lily tidak menyukai Fira, bahkan dia sempat menjambak rambutnya, aku punya vidionya juga, aku merekamnya hanya jaga-jaga jika Lily nanti bertingkah” kata Fano.
“Oh iya, sebelum Bima dan Chrystal datang, Aku, Wawan dan Dave sempat menyelidiki masalahmu, tentang CCTV di pesawat itu, kita berhasil mendapatkannya, juga rekaman saat manager Lily ingin meracuninya, kita juga dapat, setelah itu kita hapus rekaman kau yang digoda Lily. Namun, kami ada menemukan rekaman lain sebelum manager meracuni Lily, manager itu seperti berbincang dengan petugas lalu memberi uang. Jadi ku pikir, sepertinya petugas tidak akan memberikan bukti itu pada Lily siang ini” jelas Yoshi panjang lebar.
Mereka menemukan sebuah bangku yang berada di atas tebing, mereka duduk disana. Pemandangan dari
atas sini sangat indah, angin juga lebih sejuk karena ada banyak pohon juga di sekitar sana.
Kebetulan bangku yang mereka duduki tidak panas karena dinaungi oleh sebuah pohon besar. Di atas pohon itu juga ada rumah pohon yang belum jadi.
“Itu artinya aku masih harus berurusan dengan Lily?” tanya Fano, Yoshi menatap Fano tidak mengerti.
“Kenapa kau harus membantunya? Biarkan saja sih” Yoshi.
“Jangan jahat begitu, meski dia tidak menyukai Fira, aku sudah berjanji untuk membantunya” kata Fano.
“Kau ini selalu suka tebar pesona ya Fano”
“Aku bukan tebar pesona, tapi memang mempesona – becanda. Aku hanya kasihan saja sih, managernya
tidak menyukainya hingga ingin membunuhnya segala, memang kau tidak kasihan? Dia masih umur delapan belas lho, eh apa tujuh belas ya?” Fano.
“Serius? Bukannya dia udah dua puluh tahunan?” tanya Yoshi “Maksudku, penampilannya itu ... agak, eum –” tambahnya.
“Seksi? Menurut Dave sih, dia memang mendapat banyak kontroversi karena penampilannya” kata Fano.
“Dave kenal ya? Ternyata bukan hanya kamu, sampai Dave juga suka tebar pesona, memang buah jatuh tidak jauh dari pohonnya ya” Yoshi.
“Sembarangan! Emang aku bapaknya Dave apa?” Fano.
“Dia banyak menirumu, makanya kelakuanmu benerin dong Fano, Wawan juga menirumu tau!” Yoshi.
“Baiklah, semuanya salahku, salahkan saja aku, aku memang selalu salah dimatamu, Yoshi!” Fano.
“Gak usah drama, jadi Dave tadi gimana bisa kenal Lily?” tanya Yoshi.
“Kak Dave teman kecilnya Lily!”
Mereka berdua menoleh pada asal suara, Wawan dan Dave sudah menyusul mereka.
“Teman kecil maksudnya gimana?” tanya Yoshi.
__ADS_1
.
.