
.
.
Pintu kamar telah di tutup, Fano berjalan perlahan mendekati sosok yang hanya mengenakan bathrobe tersebut.
Dia adalah seorang pria tinggi dengan rambut pirang, hampir mirip dengan postur dan juga rambut Fano saat ini. Pria itu duduk membelakangi Fano, sepertinya dia makan siang sambil menatap pemandangan di luar tembok kaca.
Makanan yang terhidang di depannya adalah steik, ada pula satu botol wine kualitas tinggi dan juga dua gelas wine kosong.
“Duduklah”
Entah mengapa, Fano memiliki perasaan yang aneh, antara penasaran, khawatir, senang dan juga bingung. Fano tau dia bukan Gio karena Gio sendiri memiliki rambut coklat tua.
Fano duduk di depan pria tersebut.
Kini Fano bisa melihat wajahnya.
Dia adalah pria muda yang tampan, dengan hidung mancung dan rahang tegas. Matanya biru dengan kulit putih, dia terlihat sempurna. Hampir mirip dengan Albert waktu masih muda, hanya saja pria ini memiliki kulit yang lebih putih dan berambut pirang.
Fano tidak menyangka bisa langsung mengenalinya, dia tidak mungkin salah. Meski Fano bukan siapa-siapa, tapi jiwa Albert tetaplah ayahnya.
Tidak salah lagi, ini pasti Alfred.
Alfredo Maverick yang asli.
Bagaimana dia bisa ada disini sedangkan Fano dan keluarga Raynold mati-matian berusaha mencarinya.
Dia telah menyelesaikan makannya lalu menatap gelas wine yang kosong, kemudian menatap Fano.
Mata biru yang bulat dan besar itu... Fano tidak mungkin salah mengenalinya.
“Kau suka wine?”
Pertanyaan barusan menyadarkan Fano dari lamunannya, kemudian Fano mengangguk pelan “sedikit.. tidak terlalu”
“Kalau cola?”
Fano mengangguk lagi “Aku suka cola”
Pria muda itu berdiri, meski dia memakai bathrobe, tapi dia masih mengenakan celana piyama. Dia membuka kulkas yang ada disana lalu mengeluarkan sebotol cola.
Saat dia kembali, dia menuangkan cola tersebut ke dalam gelas wine, lalu duduk.
“Minumlah”
__ADS_1
Fano yang masih tidak mengerti memilih meraih salah satu gelas dan meminumnya perlahan, cola itu tidak mungkin beracun atau semacamnya, karena saat diambil masih tersegel rapat.
“Jadi.. apa namamu sungguhan Alfredo Maverick, atau kau hanya menyamar saja? Tapi untuk apa kau menyamar menjadi aku? Maksudku... aku sedang sembunyi, kemudian tiba-tiba saja ada seseorang yang mirip denganku dengan nama yang mirip pula. Kan nanti aku jadi ketahuan jika ada disini” kata pria muda itu, Alfred.
“Kenapa kau sembunyi?” bukannya menjawab, Fano malah balik bertanya.
Alfred menghela nafas berat, kemudian menraih gelas wine yang berisi cola tersebut, menyesapnya sebentar sebelum bicara.
“Aku banyak dikejar-kejar, ayahku melarang untuk pergi ke Indonesia, tapi aku yang penasaran diam-diam pergi ke Indonesia. Pria yang tadi kau temui di bar itu adalah salah satu kaki tangan ayahku, sepertinya dia berpikir kau adalah aku, makanya dia memintamu untuk bertemu disini. Jadi aku tidak mau ketahuan anak buah ayahku, selain itu ada lagi yang mengejarku.. itulah kenapa aku diminta bersembunyi di Bangkok, aku tidak bisa bahasa Thailand, jadi aku menyerah dan memilih Indonesia, karena aku bisa sedikit bahasa Indonesia”
Fano memijat pelipisnya selama mendengar ocehan Alfred sampai kemudian dia menyela “Tunggu! Tunggu dulu...”
Alfred terdiam dan menatap Fano, menunggu ucapan Fano selanjutnya.
Fano menatap Alfred tidak percaya, bagaimana bisa dia menceritakan semua itu pada orang asing yang baru ditemuinya? Apa karena ada banyak pria besar di luar kamar jadi dia tidak takut... atau, apa mungkin dia memang seperti ini?
“Begini.. ayahmu itu.. bukannya sudah meninggal?”
Alfred terlihat terkejut mendengar hal itu “bagaimana kau bisa tau – maksudku, aku saja baru tau kemarin. Apa jangan-jangan kau ini dopelgangger ku? Seperti kloningan atau kembaran jauh?”
Fano menggeleng “Tidak.. rambut ini palsu, warna mataku juga palsu. Kita tidak mirip, aku menggunakan namamu untuk menemukanmu”
Alfred kembali terkejut, kali ini lebih terkejut dari sebelumnya “Jadi.. kau ingin menyakitiku?”
Fano kembali menggeleng “Tidak.. tidak seperti itu, aku.. aku..”
“Apa kau suruhan orang-orang yang sedang mencariku itu? Tapi kenapa kau malah membeli saham perusahaan ayahku?”
“Berhenti”
“Iya?”
“Berhenti memanggilnya ayah, dia bukan ayahmu!”
“Kenapa kau marah?”
Fano kembali diam, mendengar Alfred menyebut pria brengsek itu ayah membuat Fano tersulut emosi. Sial sekali hormon remaja ini, mudah sekali meledak-ledak.
“Sampai aku berumur tujuh belas tahun aku dikurung di sebuah rumah besar, tidak boleh kemana-mana. Dia bilang dia ayahku, dia juga bilang ibuku telah meninggal. Aku hanya didatangi berbagai guru setiap harinya. Hanya ada dua butler dan dua maid yang menenamiku, aku beruntung mereka baik dan mau bermain denganku. Tapi saat aku sudah berumur tujuh belas tahun.. lima tahun lalu, aku mulai diajari untuk melakukan bisnis, juga dikenalkan dengan kelompoknya. Mereka semua orang-orang yang sangat baik padaku.
Akan tetapi, tiga tahun kemudian ada seorang pria tua yang menemuiku, dia bilang ayahku berbohong padaku, dia bukan ayah kandungku, lalu salah satu kaki tangan ayah datang dan membunuh pria itu di depan mataku. Aku sangat ketakutan, saat aku hampir menelfon polisi kaki tangan ayahku bilang itu tidak boleh dilakukan, karena ternyata mereka termasuk ayahku dan aku adalah mafia, musuh polisi. Aku makin ketakutan mendengarnya. Lalu aku kembali mengurung diriku. Setahun kemudian beberapa anggota mengatakan berpihak padaku dan akan membantuku untuk kembali menguasai harta ayah kandungku dan merebut kekuasaan.
Itu sangat konyol. Banyak dari mereka mengatakan hal gila seperti ayahku yang menghianati ayah kandungku hingga membuat ayah kandungku dihukum mati, mereka juga bilang ibuku meninggal gara-gara ayah. Harta dan kekuasaan ayah kandungku diambil alih. Aku sangat frustasi, tapi kemudian ayah tiba-tiba datang menyuruhku pergi bersembunyi di negara lain selain Indonesia, Amerika, Australia, Jepang, China dan Korea. Terutama Indonesia, karena itu aku kemari.. dan ternyata, aku menemukanmu!”
Fano tidak mampu berkata-kata lagi mendengar semua itu.
__ADS_1
Alfred yang selama hidupnya dikurung di mansion, yang Fano pikir itu adalah mansion milik Albert. Dia hanya berinteraksi dengan pelayan saja, tidak berhubungan dengan teman sebaya, tidak pandai berinteraksi. Dia pasti sangat terkejut mengetahui Gio adalah mafia dan orang-orang disekitarnya juga mafia.
Fano bisa membayangkan Alfred yang sangat tertekan dan mungkin juga trauma melihat pria tua dibunuh di depannya.
Sebenarnya tidak aneh jika Alfred menjadi pria yang naif seperti ini.
Fano merasa sangat bersalah.
Sepertinya Gio memanfaatkan Alfred untuk mendapat kepercayaan anggota mafia Albert, karena dengan mengurusi Alfred, maka dia bisa juga dengan bebas mengambil harta Albert juga mendapat kepercayaan anggota mafia yang lain.
Licik sekali.
“Maaf mengatakan semua ini padamu, kau pasti terkejut juga kan? aku bisa disini karena dibantu beberapa anggota yang memberontak, jumlahnya sudah hampir setengah sekarang, tapi Simon yang kau temui itu tidak berada dipihakku. Bagaimana jika kau juga berada dipihakku? Dengan begitu aku akan membiarkanmu mengecoh anak buah ayahku dengan memakai namaku, bagaimana?”
Fano menghela nafas berat.
Dia masih shock melihat putra Albert tumbuh menjadi pria lugu dan naif seperti ini. Tapi Fano tau dia tidak bisa membiarkan Alfred sendirian juga di dunia ini, dia harus bertemu keluarga
Raynold, mereka akan menjaga Alfred. Lagipula keluarga Raynold lah satu-satunya kerabat milik Alfred.
“Apa tujuanmu setelah ini Alfred?” tanya Fano.
“Aku? Oh iya, namamu siapa? Nama asli”
“Fano, panggil saja Fano”
Alfred mengangguk “Nama yang bagus, kalau kau setuju berada di pihakku, aku akan memberitahumu”
“Baiklah, aku setuju, aku akan membantumu, jadi sekarang beritahu aku”
Alfred tersenyum puas “Tujuanku adalah menangkap ayahku dan menjebloskannya ke penjara, setelah itu aku bisa hidup bebas, eum.. mungkin aku akan membagi harta ayahku dengan putra aslinya, katanya ada di negara ini, kalau tidak di London”
“Aku setuju dengan menangkap ayahmu, tapi... bagaimana jika selanjutnya kau bertemu dengan kerabatmu saja? Tujuanku menemukanmu adalah untuk mempertemukanmu dengan keluargamu”
Alfred terkejut “Aku.. masih punya keluarga?”
“Kakek, paman, bibi, sepupu.. kau memilikinya”
“Kau tidak berbohong?”
Fano tersenyum lalu mengangguk pelan “Aku juga mengetahui semua rahasia dan silsilah keluargamu, aku mengetahui semuanya”
“Kalau begitu, bisa kau ceritakan padaku?”
Fano mengangguk “Tentu”
__ADS_1
.
.