
.
.
Penyamaran kembali Fano lakukan untuk mengelabui beberapa anggota mafia yang menjaga kamar Alfred. Jika seperti ini untuk apa mereka membawa Alfred ke Indonesia ya kan? jika Alfred tetap tidak bebas untuk bergerak.
Karenanya Fano tidak bisa mempercayai mereka.
Fano kembali berpenampilan seperti kemarin, dengan rambut pirang dan mata biru. Meski Fano merubah diri seperti itu, dia tidak memiliki wajah yang sama dengan Alfred, karenanya Simon berpikir Fano hanyalah orang lain yang memiliki nama yang sama saja dengan Alfred, lagipula saat ini identitas Alfred itu bukan Alfredo Maverick, tapi Alfredo Delarez. Mengikuti marga Gio.
Jadi yang tau nama Alfredo Mavercik tentunya hanya orang-orang dalam saja, belum tentu anggota mafia, terutama yang baru-baru bergabung, mereka tidak akan sadar dengan nama Alfredo Maverick jika tidak diberitahu.
Kalau Simon tentu saja mengetahuinya, berhubung dia salah satu kaki tangan Gio, Fano juga ingat sepertinya Simon adalah anak buah yang baru-baru bergabung saat Albert ditangkap.
Karena pria-pria berbadan besar itu sudah mengenali penyamaran Fano sebagai Alfredo Maverick kemarin, jadi mereka mempersilahkan Fano masuk. Alfred pasti juga sudah mengatakan jika dia adalah orang kepercayaannya.
Saat Fano sudah masuk, jam masih menunjukkan pukul setengah tujuh pagi, namun Alfred sudah sangat rapih dan siap.
“Kau tidak bisa pergi jalan-jalan hari ini” kata Fano.
Semangat Alfred terlihat luntur mendengar itu “kenapa? Pasti mereka setuju jika aku perginya denganmu”
Fano menggeleng “Tidak sesederhana itu, mereka tidak memperbolehkanmu pergi pasi ada sesuatu, jadi meski ada aku, kau tetap tidak boleh pergi”
Alfred kembali duduk di ranjangnya “lalu aku harus bagaimana?”
“Kita bisa kabur”
“Kabur?” ulang Alfred, Fano mengangguk “Iya, kabur”
“Bagaimana jika kita tertangkap?”
Fano mengedikkan bahunya “Aku tidak tau, kita belum mencoba bukan? Itu bisa jadi urusan nanti”
Alfred menggeleng kuat-kuat “Aku tidak mau!”
“Aku tidak butuh persetujuanmu, memangnya kau tidak ingin bebas? Aku sudah bilang kan ingin mempertemukanmu pada keluargamu? Kau tidak percaya padaku?”
Alfred menatap ke dalam mata Fano, entah mengapa, meski Fano harusnya orang asing baginya, tapi Alfred sudah menyukainya, seakan mereka sudah kenal sangat lama. Alfred sangat mempercayai Fano tanpa alasan. Lagipula, Fano memperlakukan Alfred sangat tulus, sama seperti pelayan-pelayan di mansion lama yang mengurusinya sewaktu kecil.
“Aku mempercayaimu Fano, tapi aku takut”
Fano meraih tangan Alfred lalu menariknya agar dia bangkit berdiri “Kau memilikiku, jangan takut, kau harus kuat Alfred.. apa kau tidak ingin bertemu keluarga kandungmu?”
Alfred mengangguk “Aku sangat ingin bertemu mereka”
Fano tersenyum “Kalau begitu, percayalah padaku dan ikuti aku, okay?”
Tanpa sadar Alfred menganggukkan kepalanya, dia sangat mempercayai Fano. Ada sesuatu dalam diri Fano yang membuatnya sangat mempercayainya.
Ini aneh, tapi Alfred tidak keberatan sama sekali.
***
__ADS_1
Pria-pria berbadan besar yang selalu menjaga kamar Alfred merasa agak aneh karena pria yang baru masuk beberapa menit lalu sudah pergi saja.
“Tuan muda bilang pria itu bisa dipercaya, tapi apa benar seperti itu? Aku tidak yakin” kata salah satu dari mereka.
“Aku juga tidak yakin, tapi sepertinya dia sangat berguna bagi perusahaan, dia memiliki banyak uang, jadi kita tidak boleh sembarangan” kata yang lain.
“Kenapa namanya bisa kebetulan mirip dengan nama asli tuan muda ya?” sahut yang satunya.
“Sepertinya kebetulan”
“Kalau kebetulan, kenapa tiba-tiba mau berpihak pada tuan muda?”
“Kalau dipikir-pikir pria itu aneh sekali ya?”
“Apa harus kita ikuti dia?”
“Sepertinya orang suruhan boss Simon sudah mengikutinya dan menyelidikinya, jadi kita tidak perlu bergerak juga”
“Tapi bagaimana jika pria itu orang suruhan keluarga kandung tuan muda? Rencana kita bisa gagal dan boss Simon bisa membunuh kita”
“Kau jenius juga ya, kita lihat tuan muda dulu apa dia baik-baik saja”
Salah satu dari mereka pergi untuk membuka pintu dan melihat keadaan tuan muda mereka, namun bukan tuan muda yang mereka lihat, melainkan pria lain.
Dor
Fano menyeringai melihat pria itu pingsan begitu saja, Fano sudah merubah dirinya kembali menjadi orang lain, pria yang lebih pendek, dengan kulit lebih gelap, juga rambut ikal, agar tidak dikenali.
Sontak saja dua teman yang lain berdatangan masuk ke kamar, dan dengan segera juga Fano menembak mereka dengan senjata khayalan.
Fano pun segera keluar dari sana dan menutup pintu.
Dengan bantuan sistem, cctv sedang tidak berfungsi di lantai tempat Fano berada. Fano segera pergi menyusul Alfred yang tadi pergi duluan. Pria-pria itu tidak bisa mengenali Alfred karena Alfred mengenakan pakaian Fano dan juga wajahnya ditutup masker.
Mereka terkecoh karena tinggi Fano dan Alfred sama, posturnya pun hampir mirip.
Alfred menunggu Fano di tempat parkiran mobil, setelah Fano datang, Fano sudah kembali dalam rupa semula, hanya saja rambutnya sudah berubah coklat gelap.
“Kenapa rambutmu tidak pirang?” tanya Alfred yang terkejut dengan rambut Fano yang berubah drastis.
“Aku kan sudah bilang rambut pirang itu wig, aslinya rambutku seperti ini, aku orang Indonesia asli” kata Fano, dia sudah masuk di kursi kemudi.
“Tapi kau terlihat sangat tampan mirip dengan orang luar – tidak.. seperti campuran barat dan asia, kurasa...”
Fano hanya terkekeh dengan komentar Alfred.
“Kita akan kembali ke apartemenku Alfred, aku harus sekolah dulu, baru setelahnya kita akan pergi ke rumah keluarga kandungmu, okay?”
Alfred mengangguk saja “Okay, tapi kau serius kan? tidak menipuku?”
Fano sudah menjalankan mobilnya keluar dari hotel “Aku serius, apa kau pikir ada orang bodoh yang akan mengorbankan keselamatan nyawanya untuk melindungimu selain aku?”
“Tapi kau tidak bodoh Fano”
__ADS_1
“Bukan itu maskudku.. ini semua sangat berbahaya, aku kan sudah bilang, aku melakukan ini demi mendiang ayah kandungmu, pesan dia adalah agar kau selamat dan hidup dengan baik. Karena itu aku berusaha mengembalikanmu pada keluarga kandungmu”
“Kau sangat baik, aku akan membalas budimu suatu saat nanti”
Fano terkekeh sebentar lalu menggeleng “tidak perlu, aku hanya ingin kau hidup dengan baik dan bahagia saja”
“Andai orangtuaku masih hidup pasti aku memiliki adik sepertimu”
Fano kembali terkekeh mendengarnya, ini miris sekali. Fano tidak bisa mengatakan jika sebenarnya jiwanya adalah jiwa ayah kandungnya. Sebagai ayah, Fano tidak masalah menjalani hal berat asal Alfred bahagia.
Fano tidak ingin Alfred berakhir dengan buruk sama seperti ayahnya dahulu, itu tidak boleh terjadi. Sekarang Fano mengerti kenapa ibunya Albert ingin Albert menjadi orang baik hingga memberi kesempatan kedua baginya.
Orangtua akan mendahulukan kepentingan anaknya sebelum kepentingannya sendiri.
Setelah sampai gedung apartemen Fano dan Alfred buru-buru memasuki gedung agar cepat sampai di dalam apartemen.
Namun, Fano harus berhenti saat di depan pintu apartemennya ada Aron dan Abel.
Mereka juga terkejut melihat Fano datang bersama seseorang.
“Kak Fano dari mana sih? Kita pencet belnya dari tadi gak ada jawab! Hampir aja Aron buka pin – mmm”
Aron segera menutup mulut Abel yang hampir membocorkan jika Aron akan membuka pintu apartemen Fano begitu saja. Dengan sihir, bukan kunci atau apapun.
“Dia siapa? Kenapa mirip denganmu?Kembaranmu?” tanya Aron, dia sangat tertarik dengan sosok Alfred yang masih mengenakan masker untuk menutupi wajahnya.
“Kebetulan sekali kalian ada disini, ayo masuk” Fano membuka pintu apartemennya dan meminta mereka semua masuk.
“Ini temanku Al, aku ingin mengajaknya jalan-jalan tapi aku harus sekolah” kata Fano saat mereka semua sudah masuk ke dalam apartemennya.
“Yah.. kok kak Fano sekolah sih?” keluh Abel.
Fano tersenyum pada gadis itu lalu mengusak kepalanya gemas, Abel sangat imut kalau cemberut begitu.
“Mau gimana lagi, aku kan sudah kelas tiga Bel, sebentar lagi ujian kelulusan” jawab Fano.
“Kalian bisa ada disini tapi ada syaratnya” lanjut Fano.
“Syaratnya apa? Aku setuju main kesini soalnya bosen kalo di rumah atau di mansion, disini juga banyak makanannya” sahut Aron.
Fano berdecak kesal mendengar alasan Aron barusan, tapi tidak masalah sih meski mereka menghabiskan makanannya. Fano jadi seperti paman muda yang direpoti oleh keponakannya.
“Syaratnya kalian harus menjaga kak Al, Abel mau menjaga kak Al dan bermain dengan kak Al?”
Abel mengangguk antusias, dia sih senang dapat kakak baru, apalagi kakaknya tampan seperti Alfred “Mau kak!”
Fano menepuk bahu Aron lalu berbisik di telinganya “Jaga Alfred dengan baik, bukankah keluarga kalian mencarinya? Tapi.. jangan bocorkan hal ini dahulu pada anggota keluargamu yang lain sebelum aku kembali. Jika kau berhasil melakukannya, aku akan mengabulkan satu saja permintaanmu”
Mendengar itu Aron jadi sangat bersemangat, kemudian dia mengangguk yakin “dia aman bersamaku dan Abel, kau bisa sekolah... tapi ingat untuk tidak ingkar janji, kau harus mengabulkan permintaanku” balas Aron, juga dengan berbisik.
Fano tersenyum kecil “Tidak masalah”
Aron senang mendengarnya, dia bisa menggunakan Fano yang tahan banting untuk percobaan sihir yang lain, mengingat Fano satu-satunya manusia biasa yang memiliki sihir, jadi Aron sangat tertarik dengan Fano.
__ADS_1
.
.