
.
.
Sepulang sekolah Fano cepat-cepat pergi dan menghindari teman-temannya, dia ada pertemuan H.Z Group, mereka akan membicarakan proyek baru mereka. Fano sebagai perwakilan Alfred, yang sebenarnya hanya dirinya sendiri tentu saja harus ikut.
Fano sudah berpesan pada Yoshi untuk menjaga Dave selama Fano tidak ada, karena orangtuanya Dave kan masih pergi ke luar kota.
Kali ini dia ingin mengendarai motornya, dengan bantuan skill fast change, Fano dapat menghemat waktu dengan langsung mengganti seragamnya dengan setelan di dalam lemari.
Gedung H.Z sebenarnya cukup jauh, sekitar satu jam dengan naik motor, Fano sampai sana sekitar jam empat sore. Rapatnya entah kenapa diundur menjadi jam setengah lima sore. Padahal jika siang Fano bisa minta ijin pulang duluan, mengingat Fano adalah murid teladan, pasti dapat memperoleh ijin dengan mudah meski alasannya tidak masuk akal.
Akhirnya Fano sampai juga di gedung H.Z tanpa kendala, terima kasih pada sistem yang telah menjadi map yang lebih praktis dari pada ponsel, karena sistem akan mencarikan jalan terbaik agar tidak terkena macet dan cepat sampai tujuan.
Fano membuka helmnya setelah memarkirkan motornya di parkiran depan, gerah sekali, cuaca memang sedang panas-panasnya. Minum es sepertinya enak, tapi tidak terlalu sehat. Namun karena tidak ada yang menjual es di sekitar sini jadi Fano tidak mungkin bisa membeli es.
“Maaf dek, karena akan ada rapat penting jadi tidak sembarangan orang bisa memasuki gedung” seorang petugas keamanan datang menahan Fano.
“Tapi aku orang penting” Fano kembali berjalan namun, petugas itu kembali menahan Fano.
“Saya harus memeriksa identitas adek dulu”
Fano sebenarnya kesal dia di panggil ‘adek’, meski dia juga tau jika dia masih SMA tapi tetap saja kan.
Dengan malas Fano menunjukkan identitasnya, sebagai perwakilan dari Alfred, dia mendapat kartu undangan khusus yang baru tadi malam dikirim ke apartemennya.
“Baiklah, adek bisa masuk”
Fano kembali merebut kartu undangan itu dari tangan petugas, lalu kembali berjalan memasuki gedung.
Saat Fano baru masuk, semua orang disana menatapnya aneh, tapi Fano masa bodoh dan memilih lanjut saja menghampiri resepsionis. Belajar dari kesalahannya tadi, Fano segera menunjukkan kartu undangan.
“Mari saya antar ke tempat rapat” resepsionis cantik itu tersenyum dengan ramah bahkan mau mengantarkan Fano ke tempat rapat. Mereka memasuki lift khusus yang hanya bisa dipakai petinggi perusahaan. Jadi Fano pikir, undangannya itu ada maksud tersembunyi, mungkin dengan undangan itu mereka jadi tau jika Fano adalah perwakilan pemilik saham 15% di perusahaan ini.
15% bagi perusahaan sebesar ini nilainya tidak main-main, itu uang ratusan miliar, jadi tidak aneh jika dia harus diperlakukan khusus.
“Silahkan tuan..” resepsionis itu membukakan pintu untuk Fano.
Beberapa orang sudah sampai di tempat rapat, menoleh pada Fano yang baru datang.
Tidak menghiraukan mereka, Fano hanya duduk di tempat yang tersedia disana.
“Untuk apa ada anak kecil kemari?”
“Jangan bilang dia hanya memiliki sahan 0,5 persen dan memaksa masuk kemari”
“Ini proyek besar, jadi memiliki saham segitu mungkin harus ikutan”
__ADS_1
Mati-matian Fano menahan dirinya untuk tidak meledak, Fano ingin membantai mereka tapi dia tau dia tidak bisa melakukannya. Di dalam bisnis, kesopanan dan tingkah laku yang baik akan mempengaruhi kepercayaan rekan kepada kita. Merepotkan memang, tapi hal sekecil itu harus diperhatikan.
Meski kita memiliki banyak uang dan kekuasaan tapi orang-orang tau kelakuan kita minus, orang-orang tidak akan bisa mempercayai kita apalagi produk yang kita jual.
Sial sekali, Fano ingin mendapatkan skill berbisnis itu, tapi masih tinggal 70 poin kebaikan untuk naik level lima. Sekarang susah sekali mendapatkan poin kebaikan meski hanya 10 poin.
[Padahal kau sudah tau cara meningkatkannya]
‘Iya iya berbuat kebaikan dan membuat orang lain bahagia, aku mengerti’
[Kalau begitu lakukan!]
Rapat akhirnya dimulai, Fano hanya diam mendengarkan dan memperhatikan dengan seksama. Mereka ingin membuka cabang di beberapa kota kecil yang berpotensi, karena itu mereka membutuhkan dana untuk menjalankannya.
Itulah yang Fano tangkap dari rapat kali ini.
“Sebagai perwakilan dari pemilik saham sebanyak 15% apakah tuan Farelino memiliki saran?”
Semua mata tertuju pada Fano, mau tak mau Fano memasang senyum terbaiknya lalu menjawab “Tuan Alfred memiliki kepercayaan pada perusahaan ini, jadi tuan Alfred bilang akan mendukung berapa pun biaya yang harus dia keluarkan, biaya tidak menjadi masalah bagi kami” jawab Fano.
Tentu saja jawaban itu membuat mereka puas, orang-orang yang tadi mencibir Fano jadi menyesal, mana mereka tau jika Fano adalah utusan orang yang bukan kaleng-kaleng, yang memiliki saham sampai 15%.
Fano menyeringai dalam hati, puas melihat ekspresi malu dan menyesal mereka yang tadi membicarakannya sebelum rapat dimulai.
“Tuan Farelino, jika tuan memiliki waktu, saya ingin mengajak anda untuk makan malam, ada yang ingin saya bicarakan”
Karena Fano memiliki saham di perusahaannya, jadi tidak ada salahnya menyetujui ajakan makan malam tersebut. Fano pikir dia ingin mengetahui lebih banyak tentang Alfred.
“Saya sudah mendatangkan masakan dari restoran bintang lima ke tempat khusus di gedung ini” kata pemimpin perusahaan lagi, tuan Dirgantara, atau biasa dipanggil Tuan Tara.
“Baru kali ini saya diundang makan oleh orang penting, saya jadi gugup” Kata Fano.
Tuan Tara terkekeh sebentar “Haha tuan Farel bisa saja”
“Panggil saja saya Fano, biar akrab” Sahut Fano.
“Silahkan Fano.. semoga kau menyukainya”
Mereka sampai di sebuah ruangan yang terlihat memiliki banyak hiasan antik nan mewah. Selain itu, salah satu tembok adalah kaca tebal trasparan yang dapat melihat pemndangan kota yang indah.
Karena ini sudah waktunya makan malam, lampu-lampu kota mulai menyala, menjadikan pemandangannya kian indah.
Fano duduk di salah satu meja menghadap tuan Tara. Setelah itu makanan mulai berdatangan dibawakan oleh pelayan, mungkin tuan Tara memang menyewanya dari restoran bintang lima.
Makanan yang tersedia terlihat familiar bagi Fano.
“Silahkan Fano dinikmati makanannya”
__ADS_1
Tuan Tara tidak menyangka jika Fano memiliki table manner yang bagus, padahal dia sudah tau identitas Fano, dia berasal dari keluaga yang biasa saja bahkan bisa dikatakan menengah ke bawah, atau ke bawah saja.
Sekarang Tara mengerti mengapa Fano bisa terpilih menjadi asisten dari orang yang hebat tapi misterius macam Alfred, padahal sebelumnya Tara agak bingung mengapa yang dipilih adalah bocah yang masih SMA seperti Fano?
“Saya mengajak Fano kemari untuk membicarakan sesuatu” kata Tara
“Silahkan Tuan, anda bisa membicarakannya”
Tara berdehem sebentar “begini, saya sudah mengetahui identitas nak Fano, kebetulan tunangan putra sulung saya adalah siswi disana, makanan ini juga berasal dari restoran tunangan putra saya”
Hmm? Tunggu! Apa maksudnya si Tari?
“Maksud tuan Tara itu kak Tian?” Tanya Fano
“Benar, Tian adalah anak sulung saya... kami menjodohkan putra kami untuk kerjasama bisnis, kami tidak menyangka keduanya bisa cocok setelahnya”
Jadi H.Z bekerjasama dengan restoran yang masih di bawah The Royal group? Kenapa kemana-mana Fano menemukan mereka terus sih?
“Kalau saya boleh tau, kerja sama apa itu?” tanya Fano.
“Haha, sebenarnya bukan kerja sama bisnis juga sih.. tapi istriku adalah teman baik dari istri pemilik restoran”
Ah, hanya karena itu.
“Lalu?”
“Kami juga mengetahui jika nak Fano sedang menjalankan bisnis yang baru saja dirintis bukan? Nak Fano memiliki produk yang luar biasa, meski harganya cukup mahal apalagi bagi kaum menengah ke bawah tapi produk itu bisa laris dan sedang viral dimana-mana”
Fano tersenyum, mulai bangga dengan dirinya sendiri “Benar, tuan saya memasrahkan semuanya pada saya, jadi saya dan teman-teman yang mengelolanya saat ini. Masih belum besar, jadi kami masih bisa mengelolanya dan belum mengalami masalah”
“Sama seperti tuan Alfred yang berinfestasi dan percaya pada bisnis kami, kami juga ingin berinvestasi – ah, tapi sebenarnya bukan saya juga sih, tapi putra saya, putra bungsu saya... dia sangat tertarik dengan produk yang nak Fano jual, jadi..”
“Kebetulan tuan Tara” Fano meraih tas ransel yang sengaja ia bawa dari tadi, kemudian mengeluarkan paper bag yang di dalamnya berisi kotak bathbomb all varian, juga shampoo all varian, Fano memberikannya pada Tuan Tara.
“Saya memberikan ini sebagai bingkisan”
Tara terlihat senang menerima bingkisan itu “Terima kasih nak Fano, kami – terutama putra bungsu kami akan senang menerimanya”
“Putra tuan Tara bisa menemui saya langsung, tidak perlu malu, saya akan ada di apartemen atau sekolah, atau bisa juga menghubungi nomor saja” Fano memberikan kartu namanya juga pada Tuan Tara. Fano membeli semua kartu nama itu dari toko sistem, dia hanya perlu mengeluarkan satu koin, dia sudah mendapat banyak kartu nama.
Kartu namanya cukup unik, disana ada alamat gedung kantor Milik Fano, juga nomor telfon Fano serta akun toko di marketplace juga akun di media sosial, semuanya lengkap, desain kartunya juga terlihat indah dengan hiasan tinta perak yang berkilauan.
“Terima kasih nak Fano”
“Sama-sama, saya juga senang putra bungsu tuan Tara menyukai produk kami”
.
__ADS_1
.