
.
.
Pelajaran olah raga kali ini materinya adalah basket ball, jadi mereka berada di lapangan basket indoor. Seperti biasa, Fano kini dapat melakukan semuanya dengan baik, bahkan saat bertanding kelompok dia juga unggul. Semuanya ingin satu kelompok dengan Fano. Yang kelompoknya menang akan mendapat nilai tertinggi, kali ini tidak dibedakan perempuan atau laki-laki.
Jadi Fano memilih timnya ada laki-laki dan perempuan, yaitu Andy, Angel, Vero yang memaksa ikut, lalu satu lagi siswa biasa-biasa saja dan tidak menonjol bernama Ben.
“Fano, biarkan aku ikut kelompokmu” pinta Haikal.
“Disuruhnya satu tim lima anak, timku sudah cukup” tolak Fano.
Tepat setelah itu pak guru bertanya siapa yang belum mendapatkan tim, refleks Haikal angkat tangan, hanya dia yang belum mendapatkan tim.
“Kalau begitu kamu satu tim dengan Fano saja ya, Fano tidak keberatan kan?” tanya pak guru.
Fano tersenyum lalu menggeleng kecil, meski dalam hati sangat keberatan, padahal Fano sudah mau repot-repot menerima Vero karena tidak mau satu tim dengan Haikal, tapi malah pada akhirnya satu tim juga.
Tidak Fano sangka, ternyata Haikal juga pandai bermain basket, gerakannya juga lincah dan dia banyak mendapat decakan kagum dari penonton.
Karena tim Fano sangat kuat, memiliki beberapa pemain yang cukup pandai bermain basket seperti Fano, Andy dan Haikal, maka tidak heran jika mereka pada akhirnya mengalahkan tim-tim yang lain hingga memenangkan pertandingan tersebut.
Dengan begini tim mereka berhasil mendapatkan tambahan nilai.
“Ini semua karena Fano, terimakasih sudah mengajakku bersama di timmu!” kata Vero sambil tiba-tiba memeluk lengan Fano.
“Apa? Aku tidak salah dengar? Kau merengek-rengek agar Fano kasihan padamu kan tadi? Fano terpaksa memiilihmu dan bukan aku” sahut Haikal.
Vero menatap Haikal malas “Fano dari awal memang ingin menjadikanku timnya!”
Angel yang sudah tidak tahan akhirnya memberanikan diri untuk melepaskan Vero dari Fano, lalu menyeret Fano menjauh dari Vero “Haikal benar, Fano terpaksa” kata Angel.
“Hei Angel, jangan salah sangka ya.. Fano itu hanya baik padamu, kau jangan berlebihan dan mengangapnya milikmu, kalian tidak memiliki hubungan lebih selain teman” kata Vero.
Angel yang mendengar itu jadi kesal dan sedih, ia ingin membalas perkataan Vero jika itu tidak benar, tapi tidak ada yang keluar dari mulutnya, malah yang ada Angel ingin menangis.
Angel benci dirinya yang lemah dan cengeng ini.
Tahan air matamu Angel, jangan menangis disini...
“Harusnya kata-kata itu untukmu Vero, bukan Angel” sahut Andy
“Tau nih, gak punya kaca ya di rumahnya, kasihan, mau aku beliin?” timpal Haikal.
Vero terlihat kesal saat ini “kenapa sih kalian belain Angel? Hanya karena dia udah langsing? Kalian gak inget dia dulu gendut dan jelek?”
“Cukup!”
Vero terdiam setelah Fano membentaknya.
“Aku tidak suka seseorang yang hanya menilai orang lain dari penampilannya saja, sebelum melakukan itu, berkaca dulu apa dirimu pantas mengatakannya” kata Fano, setelahnya Fano menyeret lengan Angel untuk pergi menjauh dari Vero.
Karena kelas olah raga hampir selesai, Fano sebagai anak teladan dipanggil pak guru olah raga untuk membantu membereskan lapangan.
Jadilah Fano, Angel, Andy, Haikal dan Ben membantu membereskan lapangan tersebut dan membawa bola-bola basket dan peralatan lain kembali ke tempatnya semula di gudang khusus yang tidak jauh dari tempat itu. Sementara anak-anak yang lain mulai pergi dan berganti seragam.
__ADS_1
“Kenapa Fano yang disuruh ya? Bukannya biasanya ketua kelas atau yang piket – apa kau piket hari ini?” tanya Haikal saat mereka selesai mengembalikan peralatan.
[Kamu telah membantu membersihkan peralatan!]
[Kamu mendapatkan hadiah 400 koin!]
“Tidak apa Haikal, aku senang melakukannya” sahut Fano. Fano memang sengaja mengiyakan permintaan pak guru demi misi berbuat baik berhadiah koinnya.
“Pantas saja kau murid teladan” sahut Ben.
Fano merasa bersalah, karena mungkin saja mereka pikir Fano melakukan hal itu tanpa pamrih.. padahal ya tidak juga. Meski begitu, sekarang Fano mulai terbiasa membantu orang lain seperti ini. Asal dia masih mampu dia akan melakukannya.
Dan jika ada koinnya.
[Dasar!]
“Oh iya, kemarin kau buru-buru pulang kenapa sih?” tanya Angel pada Haikal.
“Yang mana?” Haikal malah balik bertanya.
“Jangan pura-pura bodoh, kemarin kau langsung aneh setelah kita membicarakan tentang penyebaran obat terlarang yang sedang viral” sahut Andy, sambil merangkul Haikal yang sedikit lebih pendek darinya, Andy memiliki tinggi 180 cm, jadi kira-kira lebih tinggi 4 cm dari Haikal.
“Kita sampai curiga jangan-jangan kau ada hubungannya dengan itu” timpal Fano, sengaja memancing.
“Apa sih! Mana mungkin aku ada hubungannya dengan obat-obat seperti itu! Jangan menuduhku yang tidak-tidak, kalian tidak tau jika – ah, sudahlah.. jangan bicarakan itu lagi” kata Haikal.
Malah tingkahmu yang seperti ini yang membuat yang lain curiga, sulit untuk berpikiran positif tentang Haikal jika dia terus menghindar begini. Padahal Fano tidak menemukan yang aneh tentang riwayat Haikal, tapi tingkahnya mengundang kecurigaan.
“Aku tidak memaksamu, tapi jika ada sesuatu kau bisa cerita pada kami, kita kan teman” kata Angel.
“Angel benar, kau bisa cerita... siapa tau kita bisa membantu” sahut Andy.
Andy menepuk punggung Haikal “Santai aja bro”
“Tapi kalau ngomong obat terlarang, bukankah harusnya kalian curiga sama Reno dan Zion?” timpal Ben yang dari tadi diam saja menyimak obrolan mereka.
Saat ini mereka berjalan menuju ruang kelas.
Fano melirik Ben lalu menyahut “Kenapa kau berpikir seperti itu? Kita tidak bisa menuduh tanpa bukti”
“Itu benar sih.. tapi –” Ben menggantung ucapannya, dia terlihat gelisah dan juga sedikit takut.
“Tapi apa?” sahut Andy.
Ben menggeleng pelan “tidak lupakan”
Satu lagi yang membuat curiga. Fano pikir Ben adalah anak pendiam di kelas, tidak jauh berbeda dengan Fano. Tapi keberadaan Ben lebih transparan, makanya dia jarang kena bully, dia benar-benar pendiam dan tidak banyak tingkah.
Meski begitu, bukan berarti Ben tidak memperhatikan teman-teman sekelasnya bukan?
Yang Fano ingat dari ingatan Fano yang lama, Ben biasanya membantu Fano dalam beberapa hal. Seperti saat Fano baru saja dikerjai oleh anak lain, membantu Fano yang kesulitan menemukan buku di perpus.. karena entah bagaimana Ben selalu hafal buku-buku perpus dan juga letaknya.
Ben banyak membantu Fano, meski tidak sepintar Fano, Ben anak yang cukup pandai.
Fano mengajak Ben ikut ke dalam timnya hari ini karena ingin membantu Ben yang agak kesulitan meraih nilai dalam bidang olah raga, itu saja... hitung-hitung balas budi.
__ADS_1
Mereka sudah sampai di ruang kelas, tapi ada yang aneh.
Banyak sekali siswa-siswi yang bergerombol dan membicarakan entah apa dengan heboh.
“Hei, ada apa ini?” Haikal yang sudah akrab dengan hampir semua anak kelas bertanya pada segerombol siswi.
“Itu.. Zion tiba-tiba aneh”
“Keluar busa dari mulutnya”
“Kayaknya dia gunain obat terlarang”
“Udah dibawa ke rumah sakit sama pak guru”
Bersahutan gerombolan siswi itu menjelaskan apa yang tadi terjadi.
Sial sekali! Zion sungguhan menggunakannya.
“Lalu sekarang Zion sudah dibawa? Apa barusan aja?” tanya Fano tidak sabaran, yang Fano tanyai malah pipinya merona, siswi itu tidak menyangka jika Fano memilih bertanya padanya.
“It.. itu.. udah dari tadi sih, mungkin sekarang udah nyampe rumah sakit” jawab siswi itu malu-malu.
Fano mengumpat dalam hati, dia terlambat, semoga Zion baik-baik saja sampai nanti sepulang sekolah.
Setelah itu beberapa guru datang, mereka mengadakan razia obat terlarang. Kelas ini akan menjadi yang pertama, selanjutnya kelas lain akan dirazia juga.
Semua murid diminta untuk keluar dari kelas, sementara para guru melakukan razia.
Fano yang kesal dan pusing memilih mengajak teman-temannya untuk pergi ke kantin sambil menunggu razia selesai. Fano juga ingin memutar otak mencari ide untuk langkah selanjutnya.
Tiba-tiba Fano merasa otaknya buntu, tidak tau harus bagaimana.
Bagaimana jika dia gagal dalam misi ini?
Sepertinya hukumannya akan sangat berat, jika dia gagal berarti gagal juga mendapatkan saham perusahaan Gio.
“Kenapa kau terlihat kesal? Santai aja sih” kata Andy.
“Hmm” Fano hanya membalasnya dengan gumaman.
Mereka sudah duduk di kantin, menunggu pesanan mereka datang. Fano dan Angel memilih membeli siomay, Andy dan Haikal memilih untuk membeli bakso mercon, Ben tidak ikut mereka, dia lebih memilih pergi ke perpustakaan.
“Haikal juga terlihat cemas, kau baik-baik saja?” tanya Angel, dia khawatir melihat Haikal yang wajahnya kian pucat.
Haikal tersenyum lalu menggeleng “Tidak, aku baik-baik saja.. hanya – aku khawatir dengan Zion, dia baik-baik saja kan?”
“Kemungkinan besar tidak, tapi aku akan pastikan dia baik-baik saja, karena hanya dia yang tau siapa yang memberinya obat itu” sahut Fano.
Mendengar itu Haikal makin gelisah.
Andy menepuk bahu Haikal “Bukan kau yang memberinya obat kan? kenapa kau seperti tersangka begini?” kata Andy sambil terkekeh.
“Zion benar-benar akan baik-baik saja kan?” tapi pertanyaan Andy malah dibalas dengan pertanyaan lain.
Haikal aneh sekali.
__ADS_1
.
.