
.
.
Fano merebahkan tubuhnya di ranjang kesayangannya, yang rupanya bed covernya baru saja diganti. Memang Fano meminta Dave dan Wawan untuk mencari orang untuk membersihkan apartemennya karena dia akan pulang. Dua bocah itu langsung bersemangat dan
berulang-kali meminta banyak oleh-oleh, Fano sampai bosan dengan kata oleh-oleh itu.
Maunya sih Fano langsung tidur saja, namun perut Fano tidak bisa berkompromi, perut itu berbunyi keras, menandakan dia sangat kelaparan. Padahal Fano sepertinya di pesawat makan juga kok, kenapa sekarang bisa lapar lagi?
Mau tidak mau dia bangkit duduk.
Fano mendengar Lylac dan Fira sedang heboh diluar kamarnya, mungkin berebut kamar atau semacamnya, padahal sudah ada dua kamar tersisa, mereka masih rebutan lagi.
Fano keluar dari kamar, ternyata benar mereka berebut kamar, gabut sekali dua gadis cantik ini.
“Kalian ini ngapain sih? Jangan ribut dong, aku tuh capek –”
“Kalo capek tidur aja sana” sahut Lylac, memotong ucapan Fano. Fano yang malas untuk menegur lagi akhirnya hanya duduk di ruang tengah sambil mengutak-atik ponselnya. Fano tidak sedang iseng scroll scroll medsos, dia tidak ada waktu untuk itu saat ini.
Fano sedang menghubungi Dave dan Wawan, kemudian memesan makan malam karena Fano malas masak, lagipula tidak ada bahan juga. Lalu yang paling penting, tentu saja menghubungi ayahnya Fira, Om Randy.
Untungnya Randy penasaran dengan Fano dan minta nomor Fano duluan, kalau tidak begitu Fano tidak akan bisa kontakan dengannya. Fano kan mageran, mana mungkin dia ada inisiatif duluan begitu, kalau tidak dipaksa sistem dan hadiah, tidak akan Fano melakukannya.
Mengingat sistem dan hadiah, Fano jadi kesal, kemudian dia melirik Lylac yang telah menang melawan Fira, ternyata mereka rebutan kamar yang dekat dengan kamar Fano. Mungkin karena pemandangan jendelanya lebih bagus.
“Kalian mau makan apa untuk makan malam?” tanya Fano.
“Ikan!” sahut Fira.
“Berarti seafood ya?” Fano, Fira mengangguk senang “Ikan, cumi, tiram ....”
“Abalone, kaviar!” sahut Lylac.
“Bisakah kau memilih makanan sederhana saja?” tanya Fano, bukannya dia tidak mau, mudah saja untuk
memesan, tapi Fano hanya sedang tidak ingin.
“Seperti nasi padang, rendang, pecel lele, begitu?” Lylac.
“Iya, yang penting kan kenyang, dan enak” Fano.
“Rendang itu apa? Enak?” tanya Fira.
Fano mengangguk antusias “Fira mau makan rendang aja? Itu enak banget lho!”
“Kau ini brand ambassadornya rendang ya?” cibir Lylac.
“Mau mau!” Fira.
__ADS_1
“Oke, aku pesenin juga, Lylac ga usah” Fano.
“Cih” Lylac.
Setelah itu Lylac dan Fira masuk kamar masing-masing, mungkin setelah itu mandi atau berganti pakaian. Fano sendiri masih di ruang tengah, berkutat dengan ponselnya.
Beberapa menit kemudian ada pengantar makanan datang, tapi hanya seafood saja, rendang dan juga minuman boba yang Fano pesan belum sampai. Entah kenapa Fano malah pesan boba matcha malam-malam, hanya ingin saja sih. Urusan gula darah naik itu belakangan.
“Udah dateng makanannya?” kata Lylac, dia sudah keluar kamar dengan mengenakan piyama tidur yang lucu, yang dia beli di Shibuya.
“Nasi padangnya belum” sahut Fano.
“Kau beli nasi padang juga? Ku pikir hanya rendang” kata Lylac.
“Iya maksudku rendang” Fano.
Lylac berdecak malas, Fano memang tidak konsisten.
“Fira mana?” tanya Fano.
“Sepertinya masih mandi, dia kan duyung jadi mandinya lama” jawab Lylac, dia sudah duduk manis di kursi, di depan meja makan yang penuh dengan makanan.
Semuanya terlihat lezat dan menggiurkan, Fano sungguhan membelikan abalone.
“Ngomong-ngomong, kenapa Yoshi dan Jehyuk biasa saja setelah mengetahui Fira adalah duyung?” tanya Fano.
“Jadi Jehyuk masih ingat?” tanya Fano lagi, Lylac menjawabnya dengan anggukan kepala.
Ini aneh sekali, Yoshi bisa mudah dihapus, kok si Jehyuk susah?
“Biasanya sih yang tidak bisa begitu, karena ingatannya sangat kuat atau dia memang tidak mau
melupakannya” tambah Lylac.
Fano mengangguk mengerti, dia curiga temannya satu itu sudah terjatuh oleh pesona Fira, dan dia tidak bisa bangkit lagi. Sayang sekali perasaan Yua tidak dibalas, mungkin Jehyuk tidak bisa dengan Yua karena Yua kan masih sekolah, jadi dia ragu-ragu.
Kalau Fano menjadi Jehyuk sih pasti akan ragu juga, tapi alasannya karena tidak mau menjadi adik ipar Dojun. Malas sekali soalnya.
Kemudian terdengar suara bel pintu berbunyi lagi. Fano segera membukakan pintu, karena pikir itu rendang dan boba yang datang, tapi ternyata bukan, yang datang malah Dave, Wawan dan ayahnya Dave.
“Apa kabar Fano? Lama gak ketemu nih” sapa ayahnya Dave, om Zeus.
“Iya nih, saya sibuk soalnya, ada apa ya Om kemari?” Tanya Fano “Mau masuk dulu Om?” tambah Fano.
Namun, Zeus menolak “Maaf ya Fano, aku tidak bisa mampir, ada kerjaan mendadak di Singapore, jadi rencananya aku menitipkan Dave padamu” kata Zeus.
“Ah, tidak masalah sih Om” sahut Fano.
“Papa ih! Kan aku udah gede, ngapain dititip-titipin mulu sih?” protes Dave.
__ADS_1
“Gede apanya? Kamu itu tetap bayi dimata papa, pokoknya jangan ngrepotin kak Fano ya, papa tinggal dulu” kata Zeus, kemudian dia pamit pergi.
Dokter yang super sibuk.
Ayahnya dokter, ibunya dokter, eh, anaknya si Dave malah kerja di perusahaan. Untungnya orangtua Dave tidak memaksa Dave untuk menjadi dokter seperti di drama-drama.
“Kak Fano kangen!” Wawan yang bongsor itu memeluk Fano erat-erat, belum juga Fano protes, pengantar makanan datang lagi.
“Kalian pinter banget ya datang waktu makan-makan” kata Fano, setelah menerima makanan dan pengantar
makanan pergi.
“Hehe, gak sengaja kak, kebetulan belom makan” sahut Dave.
“Kalian ini, oh iya, kenalin ini Lylac, panggil aja lila kalo belibet, dia ini anak bungsu, paling bungsu kakeknya Queen” kata Fano, memperkenalkan Lylac yang tersenyum manis seperti gadis-gadis imut nan polos.
“Halo kak Lila, kenalin aku Ridwan” Wawan.
“Panggil aja dia Wawan kak, kalo aku Dave!” sahut Dave.
“Kalian berdua imut banget sih, mau jadi selingkuhan kakak gak?” tanya Lylac, Fano buru-buru menjitak kepalanya “Jangan sembarangan!”
“Apa sih Fano, kalo aku punya banyak pacar cowo imut gitu kan seru, tipe aku banget!” Lylac.
“Coba aja gitu, aku ga bakal restuin kamu sama Noa, bakal aku balikin kamu ke orangtuamu” ancam Fano.
“Fano kejam!” kemudian Lylac menendang kaki Fano, tapi Fano tidak merasa sakit, tumben sekali Lylac tidak menendang dengan segenap kekuatan, jangan-jangan dia jaim di depan Dave dan Wawan.
Setelah itu Fira juga keluar dari kamarnya, lalu Fano mengenalkan Fira juga, tidak seperti sebelumnya
di Jepang, Fira kali ini malu-malu dan sopan sekali pada Dave dan Wawan. Padahal saat baru bertemu Yoshi, Jehyuk, Jungyu dan bocah-bocah Ether, Fira biasa saja, malah dia sangat ceria.
Fano tidak mengerti dengan kelakuan perempuan, mereka suka berubah-ubah.
Setelahnya mereka pun makan malam dengan tenang, padahal makanan yang dipesan banyak sekali, penuh
dari ujung meja ke ujung satunya, namun nyatanya lima orang saja mampu menghabiskan semua makanan itu.
Saat kemudian Yoshi dan Abel ikut datang sambil membawa beberapa box pizza karena dia pikir Fano
dan yang lain belum makan, mereka semua lanjut makan pizza sambil menonton film terbaru.
Iya benar seperti ini, suasana apartemen kecil yang penuh dengan teman-teman membuatnya bahagia. Mereka semua ribut, namun Fano merasa tenang dengan suasana tersebut.
.
.
.
__ADS_1