Sistem Kekayaan Hukuman

Sistem Kekayaan Hukuman
Aku? aku Raja


__ADS_3

.


.


Fano sedang menunggu gilirannya rekaman sambil mempelajari lagu yang akan ia nyanyikan. Sebenarnya untuk meng-cover


lagu dari grupnya Noa, atau Ether, itu cukup sulit. Mereka memiliki banyak bagian rap yang sulit. Untung saja hanya lagunya, kalau sampai dancenya juga mungkin Fano bisa mempelajarinya, tapi dia yakin keesokan hari dia langsung encok. Ether memiliki dance yang cukup rumit, yang bahkan sudah diakui oleh para dancer profesional.


Anak-anak Ether memang sangat berbakat, karena dapat membawakan lagu sebagus itu dengan dance yang juga rumit. Tapi tidak hanya mengandalkan bakat, mereka juga terus berlatih di saat senggang.


Fano bahkan menyiapkan aula yang ada di mansion ini agar dapat menjadi tempat mereka berlatih juga. Jika mereka hanya berlatih di gedung agensi pasti bosan, jadi jika berubah suasana di tempat baru Fano berharap mereka memiliki semangat terus.


[Fano]


‘Oh, kau sudah tidak ngambek?’


[Mau lihat status?]


‘Menurutmu?’


[Huh! Fano ngeselin]


--*--


Nama: Farelino Adhitama / Alberto


Maverick


Umur: 19 tahun / -


Level: 16 (16.000/17.000)


Koin: 500.000


--*--


Ternyata koin Fano pas ada 500 ribu, Fano akan menggunakannya untuk membeli dan menyetok banyak produk lagi.


‘Ambil 100 ribu untuk stok produk lagi ya’


[Oke]


Kemudian Fano mengambil ponselnya, memberitahu pada karyawannya di seluruh cabang bagian gudang untuk memeriksa


stok yang akan datang lalu segera memberi laporan.


Fano juga memeriksa beberapa pesan, siapa tahu ada yang penting. Tapi ternyata isi pesan Fano hanya ada hal-hal tidak penting. Seperti Raja yang bilang akan datang dan memukul Fano, dia marah karena Fano memutus telfon seenaknya. Ada juga pesan dari Yoshi yang curhat tentang perusahaan dan Abel. Ada juga pesan dari Andy, minta oleh-oleh jika kembali nanti.


Fano hanya membalas seperlunya saja setelah itu kembali fokus mempelajari lagu.


“Kak Fano” panggil Noa.


Fano mendongak, ternyata Wonhi dan Cherin sudah selesai.


[Cepat selesaikan, aku ada misi untukmu setelah ini]


Padahal Fano ingin santai saja setelah rekaman.


[Tidak ada santai, ini hal penting]

__ADS_1


Jadi begini ya rasanya jadi budak –


[Hey aku membayarmu, budak itu jika tidak dibayar]


Fano berjalan menuju ruangan, dia sudah malas berdebat dengan sistem yang labil ini. Rekaman berjalan dengan lancar, Fano juga tidak perlu mengulang-ulang rekaman. Suho dan Noa terlihat sangat puas setelah rekaman selesai.


Dan saat itu Raja datang ke studio, dia awalnya menyapa Cherin dan Wonhi dengan lembut, baru kemudian mendatangi Fano dan merangkul bahunya – lebih seperti mencekik lehernya. Fano sampai mau batuk-batuk, tapi kemudian dia berhasil menyingkirkan Raja darinya.


“Kenapa kau kemari sih? Ganggu aja” Fano.


“Dasar tidak sopan, aku tamu disini” Raja.


“Tamu yang tidak diundang? Kayak jelangkung aja” sahut Fano, mendengar itu Raja kembali memiting lehernya.


“Lepas gak!! Jangan pakek tenanga dalam!!”


Raja baru melepas Fano setelah Fano menyikut perutnya.


“Aduh! Sakit beg – aduh lupa ada Cherin, gak boleh kasar” Raja.


Fano yang berhasil lepas dari Raja buru-buru keluar dari studio, tapi Raja malah mengikutinya.


“Ngapain ikut-ikut sih!” protes Fano.


“Siapa juga yang ngikutin? Aku mau deketin Cherin lagi kok” sahut Raja.


“Menyerahlah, neneknya gak suka orang kaya sombong kayak kamu, apalagi playboy” kata Fano.


“Heh, kapan aku sombong hah? Lagian yang playboy bukan aku, tapi kamu” sahut Raja tidak terima.


Fano memutar bola matanya malas “Ya ya ya, terserah”


“Hanya kebetulan saja aku ketemu, udah aku mau ambil minum, haus” Fano buru-buru menjauh dari Raja karena dia tidak mau menjelaskan apapun padanya. Fano juga bodoh, kenapa juga dia mengatakan hal itu tadi? Harusnya tidak perlu mengatakannya.


Akan tetapi Raja tidak mau melapaskan Fano, dia menarik lengannya agar tidak bisa pergi.


“Lepas gak!” protes Fano.


“Fano gak usah drama deh, sekarang katakan padaku, apa kata neneknya Cherin” tuntut Raja.


Fano kembali berbalik pada anak-anak di studio “anak-anak, aku akan bicara dulu dengan orang ini, kalian kalo mau ambil makan silahkan aja ya, bebas, tapi inget, jangan pacaran disini” kata Fano.


“Siapa juga yang pacaran?” protes Suho, boro-boro pacaran, deket sama perempuan saja jarang, palingan yang dia lihat hanya perempuan yang ada di agensi, walau cantik-cantik semua, tapi kan mereka hanya teman saja.


“Iya nih, kan Noa masih kecil gak boleh pacaran” sahut Wonhi.


“Aku udah gede ya!” timpal Noa tidak terima.


“Kak Fano pergi saja, kami akan melanjutkan pekerjaan disini” kata Cherin, memangnya mendengar suara Cherin bawaannya adem terus, idaman memang.


Fano kemudian lanjut menyeret Raja menjauh dari tempat itu, sebelum dia tebar pesona lagi pada Cherin.


Fano baru melapaskan Raja saat mereka sampai di dapur, Fano mengambil minuman dari kulkas tanpa berniat untuk mengambilkan juga untuk Raja. Masa bodoh meski namanya Raja, Fano tidak mau melayaninya.


“Minuman untukku mana?” tanya Raja.


“Kamu punya tangan kan?” sahut Fano.


Raja berdecak malas lalu mengambil sendiri minumannya, sekalian dengan apel juga.

__ADS_1


“Kamu ini calon adik ipar durhaka ya, baik dikit kek sama calon kakak iparmu ini” kata Raja.


“Males – udah kita langsung ke intinya aja. Aku pernah nolong nenek-nenek, membawakan barangnya sampai ke rumahnya, lalu melihat ada foto Cherin disana, ternyata dia neneknya Cherin. Cherin itu sudah tidak memiliki orangtua, jadi hanya punya nenek saja” cerita Fano.


Raja mengangguk-angguk mengerti “jadi begitu ya, aku juga dengar Cherin orangtuanya sudah meninggal, lalu apa lagi?”


“Neneknya bilang, nenek tidak mau Cherin memiliki pasangan orang kaya, terutama konglomerat sepertimu ini, karena akan banyak wanita lain yang mengejarmu, nenek takut nanti Cherin kalah – sepertinya nenek dulu pernah mengalami, jadi dia takut Cherin juga begitu. Intinya Raja, menyerahlah” kata Fano.


“Biasanya kalo ada yang kayak gini disuruh semangat atau apa, ini malah disuruh menyerah” protes Raja.


“Habisnya, kau tidak pantas dengan Cherin yang lemah lembut begitu, dia terlalu bagus untukmu yang bar-bar” Fano.


“Dasar calon adik ipar durhaka” Raja “Aku akan meminta papa untuk mencoretmu dari daftar calon menantu baru tau rasa” lanjutnya.


“Eh jangan dong! Ya udah, semangat aja ... mungkin kau bisa coba dekati neneknya dulu atau gimana, itu pun kalau kau serius, kalo gak serius, mending mundur aja” kata Fano.


“Aku serius deh” Raja.


“Gak meyakinkan gini, mending ga usah!” Fano.


[Fano, ada misi]


Fano berdiri dari duduknya lalu menepuk bahu Raja dengan dramatis “Selamat berjuang, Raja”


Tapi kemudian Raja menyingkirkan tangan Fano dari bahunya.


“Aku pergi dulu, awas kau macam-macam di mansionku!” kata Fano, kemudian dia pun pergi meninggalkan Raja yang masih duduk sambil meminum minumannya.


“Mau pergi kemana?”


“Ada deh” Fano saja tidak tahu disuruh pergi kemana oleh sistem.


“Kalo balik beliin roti bawang dong, lagi pengen nih” pinta Raja.


Fano berbalik, menatap raja malas “Kau siapa nyuruh-nyuruh hah?”


“Aku? Aku Raja”


Fano ingin sekali melempari bocah itu dengan sepatunya, tapi Fano sedang tidak memakai sepatu, hanya sendal rumah saja.


“Kau ini ... apa sih pekerjaanmu dan gunanya kamu disini itu apa? Balik ke Amerika gih sana!” Fano.


“Kok ngusir sih? Aku ada kerjaan disini, jangan salah ya!”


“Memang apa pekerjaanmu?”


“Mengganggu hidupmu”


Mendengar itu, Fano pun segera pergi dari sana, capek sekali berdebat dengan Raja, lebih capek dari berdebat dengan sistemnya. Tapi karena terus terlatih, akhir-akhir ini kesabaran Fano sepertinya sudah meningkat drastis, buktinya dia tidak segera mengusir Raja dari


mansionnya.


Tapi capek juga punya kakak ipar seperti Raja, belum lagi Kaisar.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2