Sistem Kekayaan Hukuman

Sistem Kekayaan Hukuman
Bocah yang sangat aktif


__ADS_3

.


.


Ini baru setengah jam setelah Fano sampai di tempat ini, sekarang dia sudah terbaring lemas di ranjang warna lylac milik Abel. Fano sudah capek hanya dengan melihat Abel loncat sana loncat sini, berlarian, berputar-putar... entah apa yang bocah itu lakukan.


Tadi saja Fano sudah menggendongnya di punggung dan berkeliling seisi rumah besar ini, ada maid dan butler lewat, mereka malah tersenyum senang dan mengatakan tuan putri mereka terlihat bahagia dan menyukai babysitternya yang baru.


Padahal dalam hati Fano sudah tertekan.


Ini tidak bisa dibiarkan, Fano mengeluarkan ponselnya untuk menelfon seseorang.


“Halo Fano?” suara lembut di sebrang sana membuat hati Fano tentram kembali, dia pun bangkit duduk.


“Angel? Kau bisa membantuku?” tanya Fano.


“Bantu apa? Kebetulan aku sedang di rumah kakek”


Semangat Fano luntur mendengarnya “Yah.. jadi kamu gak bisa bantu dong”


“Emang ada apa?”


“Aku sedang mengurus seorang bocah, dia sangat aktif lari sana lari sini, aku sudah capek padahal ini baru setengah jam” keluh Fano


Angel terkikik di sebrang telfon.


“Jangan ketawakan aku Angel..” tambah Fano


“Hehe maaf deh, biasanya anak kecil suka diajak jalan-jalan atau piknik”


Oh, boleh juga itu..


“Kalau begitu aku akan mengajaknya jalan-jalan saja”


Setelah itu telfon selesai.


“Hah!” Fano kaget tiba-tiba Abel sudah duduk di depannya “Abel ngagetin aja sih..” keluh Fano, Abel hanya terkikik melihat raut sebal Fano.


“Aku dengar tadi kakak mau ngajak jalan-jalan?”


“Benar, kamu mau jalan-jalan?”


Abel mengangguk antusias “Mau mau! Ayo kita ke kebun buah! Piknik disana!” kata Abel sambil bergerak-gerak aktif hingga ranjangnya berguncang, Fano harus menahan bahunya agar bocah itu tetap tenang.


“Baiklah, mau siapkan bekal makan siang dulu?”


Abel mengangguk antusias lagi “mau mau! Bibimbab!”


“Hmm.. okay”


“Onigiri! Pasta! Donat! Cheese cake! Takoyaki!”


“Jangan banyak-banyak, dikit aja cukup”


Mendengar larangan itu Abel merajuk bergulung-gulung di ranjang seperti cacing kepanasan, Fano sampai mengelus dadanya, mencoba menyabarkan diri. Kesabaran Fano sebenarnya tidak sebanyak itu, tapi dia tidak punya pilihan lain.


“Huwaaa kak Fano jahat! Papaaaa!! Mam –mmppp”


Abel berhenti saat Fano menutup mulutnya, habisnya bocah satu ini berteriak kencang sekali sampai Fano takut seluruh penghuni perumahan akan mendengarnya. Kalau ada orang datang kan gawat! Nanti Fano dikira melakukan sesuatu pada bocah satu ini.


“Okay.. kita bisa membuat onigiri, telur gulung, sosis gurita, kita bisa membuat semuanya, gimana?” tawar Fano.


Abel melepaskan tangan Fano dari mulutnya lalu kembali duduk dan memeluk leher Fano erat “Mau!! Ayo buat kak!!”


Astaga.. ini bukan seperti memiliki anak umur 14 tahun, tapi 5 tahun... aktif banget! Padahal penampilan Abel sama seperti gadis remaja kebanyakan, malah Abel memiliki bentuk tubuh yang indah dan molek, kulitnya pun putih mulus, wajah juga sangat cantik, rambutnya mirip dengan ibunya pirang keemasan, lalu matanya juga berwarna biru seperti ayahnya.

__ADS_1


Tapi dibalik semua kesempurnaan itu kelakuannya... astaga.


Akhirnya Fano mengalah, dia membawa Abel ke dapur sambil menggendong Abel seperti koala. Mereka bertemu seorang maid di dapur, maid itu meringis melihat tingkah tuan putrinya.


“Yang sabar ya tuan, tuan putri memang jika sudah menyukai seseorang akan sangat menempel seperti ini, sepertinya tuan putri sangat menyukai tuan” kata maid tersebut.


“Begitu ya.. oh iya, aku akan mengajak Abel untuk piknik, kita akan membuat bekal makan siang” kata Fano.


“Baiklah, saya akan siapkan keperluan yang lain”


Setelah itu maid pergi dari sana untuk menyiapkan keperluan piknik.


Abel turun dari gendongan Fano, lega sekali... seakan beban hidup Fano berkurang.


“Kak kita buat apa?!”


“Kamu duduk aja disana sambil minum susu, biar bekalnya aku yang buat” kata Fano


“Oke!” Abel pun duduk sambil meminum susu almond yang ia dapat dari kulkas.


Sementara itu Fano membuatkan onigiri, telur gulung, sosis bentuk gurita, udang goreng, ayam goreng...


Melihat Fano yang memasak dengan keren dan cekatan Abel pun ingin membantu, dia juga ingin memasak.


“Kak Fano.. mau ikut bantuin!”


“Hmm.. kalo gitu.. ah! Kamu potong-potong buah ini aja ya? Untuk kita makan disana” Fano memberikan beberapa buah untuk dipotong oleh Abel, seperti buah apel, pear dan persik.


“Siap kak!”


Karena Fano pikir akan baik-baik saja membiarkan Abel memotong buah, jadi Fano kembali memasak telur gulungnya.


Tapi ternyata Fano salah, saat telur gulung Fano selesai, tiba-tiba Abel berteriak dan menangis.


“Abel kenapa?” Fano segera mendatangi Abel, dia langsung panik melihat ujung jari Abel berdarah.


“Tenang tenang, jangan nangis, biar kak Fano obatin..”


Setelah itu Fano mendudukkan Abel di kursi, mengambil tisu dari atas meja, lalu mengeluarkan ramuan penyembuh.


Meski Fano sudah menyuruh Abel untuk tidak menangis, bocah itu tetap menangis meski tidak sekencang sebelumnya.


Fano meneteskan ramuan pada tisu, lalu membersihkan luka Abel dengan tisu tersebut. Perlahan-lahan ramuan bekerja dan menutup luka dengan cepat.


“Masih sakit?” tanya Fano.


Abel berhenti menangis melihat lukanya sudah sembuh, lalu dia menggeleng pelan. Fano tersenyum, dia meraih tisu baru lalu mengusap air mata dari pipi Abel.


“Jangan menangis, Abel udah gede jadi gak boleh cengeng ya?”


Abel kembali mengangguk.


Setelah memasak selesai, Fano menata bekalnya ke dalam beberapa kotak bekal yang disiapkan maid. Sekarang Abel sudah pergi bersama maid untuk berganti baju, tidak mungkin dia pergi piknik dengan piyama kan.


Selesai menata bekal, Fano memasukkan bekal ke dalam tas, lalu dia mencuci tangan sebentar dan membawa bekalnya ke depan.


Abel sudah siap dan rapi, dia memakai gaun chiffon sederhana warna krem dengan sweater pink di luar, rambut pirangnya juga tertata rapi, dia juga memakai topi berret warna pink.


Kalau seperti ini Abel terlihat seperti gadis lain yang kalem.


“Kak, Abel udah siap!!”


“Cantiknya.. semuanya udah siap kan?”


“Udah! Ayo kita bawa Hiu juga” Abel menunjukkan boneka baby shark berukuran jumbo.

__ADS_1


“Tidak Abel.. untuk apa bawa boneka sebesar itu sih?”


Abel kembali menaruh boneka Hiunya tapi kemudian meraih boneka lumba-lumba yang jauh lebih besar, ukurannya hampir setengah badan Fano.


“Kalo Dolpin?”


Fano menggeleng “Enggak, itu gede banget Bel”


Sekarang Abel menunjukkan boneka squid yang juga jumbo “Kalo Cumi?”


Fano menghela nafas kesal “Gak boleh”


“Kalo gitu nemo?”


Boneka ikan badut putih-jingga itu sebenarnya masih cukup besar, mana mau Fano menenteng boneka segitu untuk pergi piknik?


“Jangan yang itu juga”


Abel melempar bonekanya kesal, lalu dia mulai ingin menangis “Hiks..”


Fano panik melihat Abel mau menangis lagi, buru-buru Fano mengangkat boneka lain yang lebih kecil “Gimana kalo ini? Kita bawa ini ya?”


Abel berhenti merengek, melihat boneka alpaca yang Fano usulkan padanya, kemudian dia mengangguk dan meraih boneka itu lalu memeluknya erat “Okay kita bawa Ruru!”


Boneka lain namanya sesuai jenis, kenapa Alpaca namanya jadi Ruru? Nyambungnya kemana? Fano tidak mengerti pikiran bocah.


“Udah kan? ayo kita pergi”


“Disana ada banyak temen?”


“Aku sudah menelfon temanku untuk ikut datang kesana”


“Kalo gitu Abel juga mau ngajak kakaknya Abel!”


“Eh? Kakak? Siapa?”


Fano malas bertemu anak Raynold yang lain.


“Rahasia! Kak Fano pasti suka!”


“Terserah kamu deh, yang penting jangan nangis ya?”


Abel mengangguk “Oke!”


Mereka pun berangkat piknik dengan diantar oleh pak supir, tidak mungkin Fano mengajak Abel naik motornya.


Sebenarnya kebun buah yang dimaksud tidak terlalu jauh, tapi karena barang bawaan cukup berat, jadi lebih baik memakai mobil.


Kebun buah itu adalah salah satu kebun buah paling kecil milik keluarga Raynold, sekarang sudah dijadikan taman. Banyak bunga dan buah ditanam disana, buahnya bisa dipetik dan dimakan disana asal tidak dibawa pulang. Kalau mau membawa pulang buah harus membayar.


Untuk masuk ke kebuh buah tiketnya cukup murah kok, hanya 30 ribu rupiah saja. Tapi karena Abel masih keluarga Raynold jadinya gratis.


Barang bawaan mereka dibawakan supir, seperti tikar dan bekal, sementara Fano dan Abel berjalan santai di belakang.


Tikar digelar di bawah pohon apel besar yang rindang. Fano segera menata barang bawaan mereka di atas tikar.


“Kak Queen!”


Fano menoleh cepat pada Abel yang baru saja memanggil nama yang sebenarnya ingin Fano hindari. Benar saja, Queenza datang sambil membawa papper bag entah isinya apa, yang pasti ukurannya cukup besar.


Sudah Fano duga kakak yang dimaksud Abel adalah Queenza.


Mungkin sudah takdir Fano untuk berada di sekitar mereka.


.

__ADS_1


.


__ADS_2