
.
.
Sepulang sekolah mereka langsung mengunjungi panti asuhan, Fano berangkat duluan, sedangkan yang lain membeli beberapa makanan, mainan dan selimut hangat untuk anak-anak itu.
Seperti janji Fano, dia bertemu dengan bocah laki-laki tadi pagi. Bocah itu sudah ada disana bersama teman sebayanya, membaca buku bergambar.
Fano hanya membawa beberapa kotak susu bersamanya, dia kemudian membagi kotak susu itu pada kedua bocah itu.
“Ini juga anak panti?” tanya Fano, menunjuk anak laki-laki yang berpipi chubby, yang sudah disana bersama bocah panti yang memiliki janji dengan Fano.
“Iya kak, dia baru datang hari ini, dia takut berada di panti, makanya aku bawa kemari” kata bocah yang pertama.
Fano tersenyum ramah pada bocah cubby itu “Oh iya, kalian namanya siapa? Panggil aku Fano ya”
“Aku Adit” kata anak yang pertama.
“Aku Dean” kata anak yang berpipi chubby dengan suara pelan, sepertinya dia masih malu-malu dengan Fano.
“Ngomong-ngomong, apa maksudnya Dean takut ada di panti tadi?” tanya Fano, sambil kemudian menyedot susu kotaknya, susu pisang.
“Itu kak.. tadi Dean dimarahi sama bu Mira” kata Adit.
“Bu Mira siapa?” tanya Fano lagi.
“Yang punya panti” Adit.
“Apa bu Mira biasa marah-marah pada kalian?” Fano bertanya dengan santai, seolah pembicaraan ini hanya basa-basi, padahal Fano sudah merekamnya dari tadi.
Adit mengangguk “Iya kak, kalo kita salah atau minta kue atau mainan, kita dimarahin atau di pukul”
“Eh? Kok dipukul sih? Terus ibu panti yang lain gak nolongin?” pancing Fano lagi.
Adit menggeleng lemah “Ibu yang lain takut, soalnya kalo mereka berani nanti mereka dipecat terus disuruh pergi. Kalo gak ada mereka gak ada yang ngurusin kita kak, cuma mereka berdua yang baik sama kita”
Mendengar cerita Adit, Dean mulai menangis sesenggukan. Wajar sih ya, dia masih baru disana, eh.. ternyata tempatnya seperti neraka. Jika Fano menjadi Dean pasti sangat sedih.
Fano menepuk-nepuk kepala Dean agar bocah itu lebih tenang.
“Biasanya dipukulnya kayak gimana?” tanya Fano lagi.
“Sama sapu, kemoceng.. atau panci... hiks – kak Fano gak bisa nolongin kita? Aku.. gak mau disini terus”
Fano pun berhenti bertanya, dia hanya diam sambil menenangkan kedua bocah itu. Fano bisa melihat ada memar juga di betis Adit, seperti sudah pernah dipukul beberapa kali.
“Kalian tenang ya, kakak akan membantu kalian, tapi kakak juga butuh bantuan kalian, gimana?” tanya Fano.
Adit dan Dean berhenti menangis, menatap Fano bingung “Bantuan apa kak?” tanya Adit.
Fano tersenyum kemudian berbisik kepada mereka “Jadi begini..”
***
Saat teman-teman Fano sudah sampai, Fano mengajak Adit dan Dean untuk kembali ke panti asuhan.
Sama seperti tadi pagi, mereka disambut oleh anak-anak dan juga Bu Mira. Seperti perkiraan Fano, raut wajah Mira tidak terlihat senang melihat Fano dan teman-temannya hanya datang dengan barang dan bukannya uang. Karena itu Mira pergi lagi dan membiarkan mereka.
__ADS_1
Setelah itu rencana pun dimulai, dengan bantuan Adit dan Dean, mereka memasang beberapa kamera tersembunyi di berbagai sudut ruangan di panti. Setelah semuanya terpasang Fano menelfon Wawan, bocah itu mengatakan semua kameranya sudah tersambung dengan baik.
Jadi, mereka akan memantau apa yang terjadi saat tidak ada orang lain di panti asuhan, jika ada sesuatu yang buruk, mereka bisa menggunakan rekaman sebagai bukti untuk menghukum Mira.
Setelah semuanya selesai Fano dan teman-teman pulang.
Karena sudah menyusahkan teman-temannya, Fano sudah berjanji akan membuatkan masakan yang spesial untuk mereka makan malam.
Jadi mereka akan makan malam di apartemen Fano.
Wawan dan Bima sudah ada di apartemen Fano saat mereka datang. Oh, ada Alfred juga.
Teman-teman Fano berdecak kagum melihat sosok Alfred, terutama karena ternyata Alfred memang nyata, bukan karangan Fano saja.
Meski sebenarnya mereka ingin menanyai banyak hal pada Alfred, tapi mereka tidak berani.
Alfred membantu Fano memasak untuk makan malam, Fano terkejut saat mengetahui Alfred bisa memasak. Alfred bilang maid dan butler di mansion selalu mengajarinya berbagai hal saat di mansion.
Entah mengapa, Fano merasa bangga padanya.
Alfred memang pandai.
Fano memasak ayam panggang dan juga ayam bumbu pedas manis. Masakan yang teman-temannya inginkan memanglah ayam, jadi sebelum kembali ke apartemen Fano mereka sempat membeli ayam segar dulu.
Sementara itu disisi lain yang sedang menunggu Fano dan Alfred memasak.
“Kak Fano kelihatannya dekat sekali dengan kak Alfred” gumam Wawan. Yang lain ikut menoleh ke dapur tempat Fano sedang asyik memasak dan tertawa dengan Alfred.
“Benar, serasa dunia milik mereka berdua” sahut Haikal.
“Apa ini aneh ya? Tapi aku kurang suka melihatnya.. aku bukannya tidak menyukai kak Alfred” sahut Dave.
Dave mengingkirkan tangan jahil Bima dari wajahnya “Apaan sih! Enggak!” elaknya.
“Apa aneh cemburu karena temanmu dekat dengan orang lain?” tanya Yoshi.
“Menurutku sih tidak, ku rasa itu normal, seperti kita tidak suka ibu kita lebih memperhatikan saudara kita yang lain” timpal Andy.
Haikal mengangguk “Aku ngerti banget itu, aku benci saat sepupuku lebih disayang ibuku”
“Makanya jangan pecicilan jadi anak” kata Bima.
“Ngaca dulu sebelum ngomong Bim” sahut Yoshi.
“Mungkin ini perasaan iri” kata Wawan.
“Aku juga iri dengan kak Alfred, apa pernah kak Fano memperlakukan kita selembut itu?” sahut Dave.
Yang lain menatap Dave tidak percaya.
“Kau beneran ngomong kayak gitu? Gak inget pas kamu sakit?” cibir Yoshi.
“Iya, Fano kan jagain kamu sampe gak masuk sekolah” Bima.
Dave menggaruk kepalanya canggung “Iya tapi.. rasanya perlakukan kak Fano sama ke kita beda deh”
Mereka semua terdiam lalu kembali menoleh pada Fano dan Alfred yang memasak di dapur.
__ADS_1
“Bukankah itu wajar mereka sangat dekat? Ayolah jangan cemburu karena hal-hal sepele” kata Haikal.
“Benar juga – oh!” Yoshi mengangkat telfonnya, dia diam saja mendengarkan orang yang menelfonnya bicara, sampai kemudian wajahnya terlihat sangat cerah, dia tersenyum lebar.
“Maji de? Hai wakata!” (beneran? baik, aku mengerti) kemudian Yoshi menutup telfonnya, dia masih tersenyum lebar setelah itu lalu kembali bicara “Kata mama, mama punya manjuu coklat yang banyak, aku ambilin dulu ya!”
Mendengar itu sontak yang lain bersorak, akhirnya ada makanan lain. Memang rejeki tidak akan kemana.
“Ada apa? Kok kalian ribut?” tanya Fano dari arah dapur.
“Mama bilang punya manjuu coklat dikirim kakek dari Jepang!” teriak Yoshi sebelum kemudian melesat keluar menuju rumahnya sendiri.
Manjuu ya? Fano penasaran itu kue seperti apa.
“Yoshi itu dari Jepang?” tanya Alfred, Fano mengangguk “iya, dia keturunan Jepang, ibunya orang Indonesia, sedangkan ayahnya Jepang” jawab Fano.
Alfred terlihat kagum, mungkin baginya keren karena Yoshi berdarah campuran.
“Kalau aku? Apa kau tau aku keturunan apa saja? Kau bilang tau banyak tentang keluargaku?” tanya Alfred.
“Kau memiliki banyak darah campuran Alfred. Ibumu saja memiliki darah Indonesia, Eropa, Australia.. tidak bukan Australia asli sih, lebih ke Eropa, lalu apa lagi ya? Oh iya, China. Keluarga nenekmu berasal dari Hongkong, kalau tidak salah. Kalau ayahmu kau memiliki darah asli Eropa, yaitu Perancis, German, Spanyol dan Inggris”
Alfred terlihat shock “Serius sebanyak itu?”
Fano terkekeh melihat reaksi Alfred, tidak heran dia kaget, karena Alfred memang memiliki banyak darah campuran.
“Akan tetapi, Ibumu dan ayahmu agak berbeda. Ibumu masih memiliki darah bangsawan, lalu ayahmu yah.. dari rakyat jelata, meski jaman sekarang itu sudah tidak terlalu penting”
“Tapi Ayah memiliki mansion yang sangat besar” kata Alfred.
“Itu benar, ayahmu membeli mansion itu setelah lari dengan ibumu – ah, lupakan”
Fano bodoh, kau tidak seharusnya bicara banyak hal pada Alfred.
“Ternyata kau banyak tau tentang orangtuaku ya”
“Ti.. tidak juga, hanya kebetulan. Aku kan sudah bilang, ayahku memiliki hutang budi pada ayahmu, karena itu aku tau banyak”
Alfred mengangguk saja dan percaya dengan ucapan Fano “Lalu kalau Fano.. apa kau asli Indonesia?”
Fano terdiam, sebenarnya Fano yang asli juga tidak terlalu mengerti orangtuanya itu berasal dari daerah mana. Mereka sebelum meninggal tinggal di salah satu kota di Jawa timur, karena itu Fano bisa bahasa Jawa.
Banyak tetangga mereka yang percaya jika Fano ada keturunan orang luar karena wajah Fano yang sangat tampan dan hidungnya yang mancung.
“Aku orang Indonesia, suku Jawa.. haha mungkin, entahlah, aku tidak terlalu yakin”
“Tapi Fano terlihat seperti gabungan orang barat dan Asia” kata Alfred.
“Menurutmu begitu?”
Indentitas asli orangtua Fano itu... tidak terlalu jelas.
Tapi, mungkin paman Fano tau sesuatu, meski begitu... Fano yang tidak yakin akan bertanya pada pamannya.
“Hmm.. selesai, bisa minta tolong ambilkan wadah disana?”
Alfred berjalan menuju rak yang Fano tunjuk.
__ADS_1
.
.