Sistem Kekayaan Hukuman

Sistem Kekayaan Hukuman
Peri kupu-kupu


__ADS_3

.


.


Fano dan Lylac kembali ke kastil Floutessia untuk sarapan, Fano tidak menyangka sarapan mereka telah disiapkan oleh peri-peri cantik berukuran mini.


Mereka peri kupu-kupu, memiliki tubuh yang mungil, tingginya kira-kira 10-15 cm, dengan ukuran sayap dua kali ukuran tubuh mereka. Sayap mereka indah dan berwarna-warni, mereka juga cantik-cantik seperti boneka barbie – tidak, mungkin lebih cantik lagi? Barbie akan minder melihat kecantikan peri kupu-kupu.


Oh iya, meski tubuh mereka mini, bentuk tubuh mereka – atau lekukan tubuh mereka, mirip dengan tubuh wanita dewasa. Menurut Lylac, yang laki-laki ada, tapi untuk memasak begini tentu saja tugas peri kupu-kupu perempuan. Peri kupu laki-laki memiliki tugas lain lagi.


Sarapan yang disiapkan juga unik, untuk ukuran sarapan sendiri juga – eum, agak berat? Karena itu adalah ayam panggang madu. Peri kupu-kupu yang membantu memotongkan, jadi Fano dan Lylac tinggal makan saja.


Bahkan khusus Fano, mereka menyuapi juga, jadi Fano senang-senang saja. seru sekali punya pelayan peri seperti ini.


“Kau sepertinya senang sekali ya dilayani peri” celetuk Lylac setelah mereka selesai sarapan, hampir saja Fano tersedak nektar saat mendengarnya. Minuman mereka adalah madu bunga, nektar, yang diolah menjadi minuman ringan, tidak terlalu manis, namun rasanya menyegarkan.


“Ehem – terus kalo aku senang, salah gitu? Mereka semua cantik dan manis, mungil juga, bagaimana aku bisa tidak suka? Ini seperti hiburan” bantah Fano, mencari alasan agar Lylac tidak menatapnya seolah dia baru saja melakukan dosa besar. Padahal yang Fano lakukan hanyalah menikmati pelayanan peri, itu saja.


Sepertinya peri kupu-kupu suka dengan ucapan Fano barusan, kemudian para peri mendekati Fano dan mengecup pipi Fano, mungkin seperti rasa terimakasih? Mereka tidak bisa bicara, namun mengerti semua ucapan Fano dan Lylac.


Rasanya aneh karena mendapatkan kecupan-kecupan kecil, tapi jujur saja Fano senang sekali, ini pengalaman baru baginya. Hitung-hitung hadiah karena telah bekerja keras di dungeon warna-warni.


“Terserah kalian saja, tapi jika kau mau, kau bisa merubahnya mereka menjadi besar” kata Lylac, kemudian meminum nektar dari gelasnya sendiri.


“Oh ya? Caranya gimana? Tunggu! Kok aku yang merubahnya, bukan diri mereka sendiri?” tanya Fano.


Lylac mengangguk “Iya, jika kau menjadikan salah satunya pelayan terkontrak – kontraknya dengan darah – lalu kau ingin mereka melayani nafsumu, maka mereka akan berubah besar dengan sendirinya” kata Lylac.


Fano menendang kaki Lylac, “Jangan bicara yang tidak-tidak, mereka kan jadi malu!” kata Fano. Memang peri kupu-kupu sekarang menutupi wajah mereka yang memerah karena ucapan Lylac.


“Aku hanya mengatakan fakta, tapi setelah selesai akan kembali kecil” kata Lylac.


“Oh iya, ada yang ingin ku tanyakan dari kemarin, tapi aku lupa terus – itu, kan Royal Group ingin mengeluarkan produk baru, itu menggunakan bunga levare dari duni ini, itu bunga seperti apa?” tanya Fano, ini pertanyaan yang paling ingin Fano tanyakan tapi lupa terus.


Lylac mengernyitkan darinya “Kamu belum tau ya? Bunga levare sangat umum di dunia ini, namun masing-masing wilayah memiliki bunga levare dengan warna yang berbeda-beda, tiap warna juga memiliki rasa uniknya masing-masing. Teh bunga levare di dunia ini lebih umum dari pada teh bunga mawar atau melati, namun di beberapa wilayah, bunga levare dijadikan bahan masakan juga, karena menambah cita rasa masakan, lalu di wilayah lain juga sering dicampur menjadi bahan mue atau manisan, tergantung jenis” jelas Lylac.


Mendengar penjelasan itu Fano jadi lebih penasaran dari sebelumnya.


“Kau masih penasaran? Coba kalian perlihatkan pada Fano bentuk bunga levare, untuk menjadi oleh-oleh bagi Fano” kata Lylac, yang terakhir untuk peri kupu-kupu. Lalu para peri mengangguk dan pergi terbang dari sana, mungkin untuk mengambilkan bunga levare untuk Fano.


“Wah, aku jadi seperti melihat film Barbie, peri kupu-kupu cantik sekali” celetuk Fano.


“EHEM! Aku bisa melaporkanmu pada Queen lho”

__ADS_1


Fano menatap Lylac jengkel “Aku juga bisa melapor jika kau genit pada Dave dan Wawan, biar Noa semakin menjauh darimu”


Dugh


Ganti Lylac yang menendang kaki Fano “Dasar kakak ipar jahat!”


“Kau jug bibi ipar jahat!”


“Jangan memanggilku bibi ipar!”


“Tapi kau kan bibinya Queen, wajar dong ku panggil begitu!”


“Diam! jangan berteriak!”


“Kau juga teriak, kan aku jadi ikutan.”


“Cih.”


***


Fano menata toples-toples kaca berisi bunga levare di dapur. Ada warna merah, ungu, pink, biru, hijau, putih dan kuning. Dia dan Lylac sudah kembali ke bumi, masih jam 7 pagi di bumi, anak-anak lain juga baru bangun.


Fano ingin mencoba teh bunga levare warna kuning, katanya rasa manis bunga levare kuning mirip dengan manisnya madu, jadi Fano penasaran.


“Fano, ohayou” Yoshi yang baru bangun menyapa Fano, kemudian melipat tangannya diatas meja dan kembali tidur.


“Kamu buat apa? minta” gumam Yoshi lagi.


“Aku buat teh hangat, cobalah” kata Fano, kemudian menyodorkan satu cangkir teh bunga levare kuning untuk Yoshi, Fano sendiri sudah mencicipi tehnya, dia duduk di depan Yoshi.


Ternyata memang rasanya unik, seperti rasa madu, manisnya tidak berlebihan, sangat enak, terutama bagi yang suka manis, pasti suka rasa bunga levare kuning.


“Teh apa ini? enak” komentar Yoshi, dia sudah bangun dan tidak terlihat mengantuk lagi.


“SELAMAT PAGI!!”


Mereka berdua menoleh, menatap Fira yang baru datang dengan wajah ceria, melihat dari wajahnya, sepertinya dia sudah baikan dengan Lily, dia menginap dengan ayahnya dan Lily kemarin malam.


“Ohayou! Kamu bawa apa itu?” sapa Yoshi.


Fira mendekati mereka lalu duduk bersama mereka, lalu dia meletakkan  barang bawaannya di meja dapur “Ini ada sandwich dan juga kue, dibeliin ayahku buat kalian” kata Fira.


“KUE?! Mana?” Lylac keluar dari kamarnya dan buru-buru ke dapur menghampiri mereka. Mendengar ada yang menyebut kue, penghuni lain mulai bermunculan.

__ADS_1


Memang harus disuap dengan kue dulu, baru mau bangun.


“Anak sekolah, bukannya kalian harus sekolah?” tanya Fano, sambil menatap Dave dan Wawan yang malah asyik memakan kue sambil minum teh.


“Kan masuk jam delapan, santai dulu kak” sahut Wawan.


“Tapi ini udah jam tujuh, jangan sesantai itu” kata Fano lagi.


“Iya kak Fano, bentar lah, kita bawa seragam kok” timpal Dave.


“Terserah aja, kalo telat jangan ngambek lho ya” Fano.


“Kamu udah kayak bapak mereka aja deh” sahut Andy.


“Kan mereka emang anak-anaknya Fano” tambah Yoshi.


“Sembarangan!” Fano.


“Kak Fano dipanggil Papa atau Daddy?” tanya Dave.


“Daddy aja” Fano.


“Daddy?” Bella.


“Iya, sayang?” Fano.


Kemudian Lylac menginjak kaki Fano, membuat Fano berteriak kesakitan karena injakan itu sepertinya dengan tenaga dalam. Kaiki Fano nyut-nyutan rasanya, padahal dia bercanda.


“Fano, jangan tikung anak sendiri” Yoshi.


“Iya nih, kan Bella sukanya - ADUH” Vivi yang mau menyahut sudah dicubit oleh Bella.


“Udah udah bubar, anak sekolah cepet siap-siap, aku keluarin mobilnya dulu” kata Surya, dia sudah berdiri siap menyiapkan mobil untuk mengantar anak-anak, sekalian mobil lain juga di keluarkan.


“Kalian balik ke Korea kapan?” tanya Andy, setelah Surya dan anak-anak sekolah bubar.


“Nanti sore, iya kan Fano? Kita harus cepat karena ada pekerjaan menunggu juga disana” jawab Yoshi, Fano tidak menjawab karena dia masih kesakitan setelah diinjak Lylac.


“Makanya kita habis ini balik ke apartemen untuk bersiap-siap lalu pergi” sahut Lylac.


“Kau tidak pamit dengan keluargamu?” tanya Yoshi.


Lylac menggeleng “Tidak perlu lah, aku bukan anak manja juga.”

__ADS_1


.


.


__ADS_2