
.
.
SRET
Fano membuka lakban yang menutupi mulut Indra dengan tidak sabaran, setelah itu Fano mencengkram dagunya.
“Kenapa kau memilih untuk main-main denganku? Harusnya kau bersyukur aku tidak mempedulikanmu akhir-akhir ini, aku sampai baru tau jika kau sudah keluar keluar karena jaminan. Hah – apakah itu adil? Setelah kau melakukan kejahatan, tidak ada setahun sudah dikeluarkan dan dijamin, berapa banyak orangtuamu berkorban untukmu, ku harap mereka mendapat anak yang lebih baik di kehidupan selanjutnya” kata Fano, kemudian dia melepaskan Indra lalu berdiri.
“Kalian ingin membunuhku? Itu artinya kalian akan melakukan kejahatan juga” kata Indra.
“Tapi membunuh orang jahat adalah kebaikan, Yo! Hisasiburi!” Yoshi mendekat, tersenyum manis pada orang yang dulu sering mengganggunya di sekolah. Yoshi tidak terlalu terkejut anak seperti Indra akan berakhir seperti sekarang. Justru Yoshi terkejut karena Andy sekarang menjadi orang baik dan bekerja sangat giat, karena dulu Andy kan temannya Indra.
Kemudian Yoshi kembali melakban mulut Indra “Aku tidak ingin mendengar suaramu yang memuakkan” kata Yoshi, kali ini dengan nada yang dingin. Indra tidak menyangka Yoshi bisa terlihat menyeramkan, padahal wajahnya adalah tipe-tipe yang orang-orang sering bilang ‘pria manis’ atau ‘cowok imut’. Tipe yang akan selalu dipikir masih SMA meski beberapa tahun telah lulus.
Fano yang sudah selesai memakai sarung tangan, melirik pada Yoshi dan Indra, lalu menyeringai.
Kemudian Lylac mendekat, mendorong dahi Indra dengan jari telunjuknya. Seketika jari itu seperti mengalirkan sengatan listrik yang kuat, Indra merasa seperti disambar petir, rasanya sakit, tapi itu hanya rasa sakit saja, jadi dia tidak bisa pingsan atau mati. Dia tetap sadar, dia baik-baik saja, namun merasakan rasa sakit yang sangat.
Lylac terkekeh melihat pria di depannya kesakitan, kemudian menoleh pada Fano “Apa yang harus kita lakukan padanya? Memutilasinya seperti yang di Jepang?” tanya Lylac.
“Yah! Jangan! Serem amat” keluh Yoshi, padahal traumanya sudah hilang berkat Lylac menghapus trauma itu, tapi sekarang Lylac sendiri yang membangkitkan trauma itu.
“Bercanda” sahut Lylac.
“Tidak, kau tidak terdengar bercanda sama sekali tadi” timpal Yoshi.
“Berisik kalian” kata Fano jengkel, kemudian dia kembali menatap Indra, rasa kesal dan amarahnya kembali lagi. Dengan tangan yang telah memakai sarung tangan, Fano meninju wajah Indra.
“Itu untuk kebodohanmu yang memilih untuk mengusikku.”
BUGH
“Itu untukmu yang hampir membunuhku dahulu, asal kau tau saja, aku orangnya pendendam, aku diam bukan berarti lemah, aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk menghabisimu, menunggu dosamu menumpuk, jadi aku punya banyak alasan untuk menyiksamu seperti ini”
BUGH
Fano kembali melayangkan tinjunya “Itu untuk orang-orang tidak bersalah yang menderita karena mu.”
BUGH
BUGH
“Itu karena kau anak yang durhaka, harusnya kau bersyukur karena masih memiliki mereka, tapi kau malah memilih untuk membuat mereka gila karena kelakuanmu.”
BUGH
Fano memukul Indra dengan tinju yang lebih keras dari sebelumnya, lalu kembali membuka lakban yang menutupi mulutnya dengan kasar, pasti rasanya sakit, tapi untuk apa juga Fano memperlakukan orang sepertinya dengan lembut?
“Katakan sesuatu, seperti pembelaan diri atau semacamnya, jika hatiku tergerak, mungkin aku akan melepaskanmu” kata Fano.
“Dasar psikopat!” umpat Indra, kemudian meludahkan darah ke arah Fano, tapi karena Fano dengan cepat menghindar, darah itu hanya sampai ke lantai.
__ADS_1
“Itu bukan kata-kata untuk membela dengan benar, baiklah, waktu habis – Andy, sekarang giliranmu” Fano pun mundru dari sana, lalu duduk di sofa tunggal yang ada di pojok ruangan.
Di ruang bawah tanah ini seperti bar tersembunyi, ada lemari yang penuh dengan botol alkohol mahal berusia beberapa tahun. Jika kalian mencuri satu botol saja lalu menjualnya di Ebay mungkin kalian bisa jadi sultan mendadak.
Padahal Fano tidak terlalu menyukai alkohol, tapi semua itu sudah satu paket dengan pembelian mansion, jadi apa boleh buat.
Selain meja bar dan lemari penuh alkohol mahal, ada juga permainan dart di dinding, lalu di pojok meja biliyar, lalu ada meja untuk bermain kartu juga.
Ruangan di bawah tanah ini sangat luas.
Ada juga beberapa mobil sport milik Fano yang dia dapat dari hadiah sistem, disimpan di ruang bawah tanah yang memiliki pintu yang terhubung dengan garasi. Ada sekitar tiga mobil sport dan dua motor sport. Terpajang disana menjadi penghias ruangan, agar terlihat estetik saja.
Andy mendekati Indra dengan membawa pemukul bisbol, pemukul bisbol itu terlihat mengerikan karena ada beberapa paku yang tertancap disana.
Yoshi mundur karena ngeri melihat pemukul bisbol itu, dia tidak mengerti Andy mendapatkan itu dari mana.
Sementara itu Lylac sudah duduk bersama Fano, sambil membawa gelas wine berisi seperempat gelas red wine.
“Apa permintaan terakhirmu?” tanya Andy.
“Kau brengsek!” teriak Indra.
“Hmm? Jika itu – aku sudah mengetahuinya, aku memang brengsek, kalau tidak ada, aku akan segera mengeksekusimu, karena kau tidak memiliki manfaat lagi di dunia ini, kami sudah sering memberi kesempatan, tapi kau malah ingin membunuh anak-anak panti dan tetangga sekitar? Kau pikir itu lucu?” kata Andy.
“Paling tidak, aku tidak jadi budah si culun itu, sepertimu - cuih” Indra.
Andy bersiap mengangkat tongkat bisbolnya, Yoshi menelan ludahnya dengan susah payah, melihat paku-paku runcing yang ada di tongkat bisbol membuatnya merinding.
Yoshi membelalakkan matanya saat Andy mulai mengayunkan tongkat itu dan – gelap.
Yoshi hanya mengangguk dan menuruti Lylac saja, suara teriakan memilukan dari Indra tidak dapat dia dengar, karena Lylac sudah memasang sekat untuknya. Lylac hanya tidak ingin teman Fano yang satu ini jadi terguncang karena melihat dan mendengar hal-hal yang mengerikan.
Ketahanan seseorang berbeda, dan Yoshi mentalnya tidak sekuat itu.
Beda sekali dengan Fano yang sudah agak bosan melihat adegan mengerikan di depannya.
Andy sudah seperti algojo yang tidak memiliki hati, dia juga memiliki dendam pada mantan temannya itu.
***
TAK
“Ugh – siapapun tolong aku?” Dave yang sedang memotong bawang sudah berurai air mata, kedua matanya terpejam erat.
Namun, tidak ada dari temannya yang bergerak untuk memberinya tisu atau apa, malah Dave bisa mendengar suara gelak tawa Vivi menertawainya.
“Kalian kejam! Hiks perih ... Wan! Bel! Dimana kalian?” tanya Dave sambil masih menangis karena bawang merah yang jahat.
SRET
Suara seseorang menarik tisu terdengar di telinga Dave, lalu dia membantu Dave mengusap air matanya, perlahan pedih di mata Dave menghilang, jadi dia bisa melihat dengan jelas jika Fano –
Dave tercekat melihat noda merah di kemeja yang Fano kenakan.
__ADS_1
“Da – da – da ... darah?” Dave melepaskan pisaunya, menatap ngeri pada noda merah di kemeja Fano. Fano pun menunduk untuk melihat apa yang Dave lihat “Oh, ini sih saus, bekas saus yang ada di corndong – apa tadi aku sudah memakan sampai habis ya? Ngomong-ngomong, kamu masak apa?” tanya Fano, dia melihat hanya Dave yang memasak, ada beberapa sayur telah terpotong, ada juga daging ayam ... entah masakan apa yang akan bocah ini buat.
“Kak Fano jadi bunuh orang?” tanya Bella, yang baru selesai mengambil bahan-bahan masakan lain dari kulkas lalu menaruhnya di meja.
“Eum – tidak kok” kata Fano.
“Kak Fano jangan bohong!” ahut Wawan, yang dari tadi asyik main game dengan Vivi.
Fano menghela nafas lelah, “Aku tidak bohong, hanya saja, aku membuang orang itu ke kolam piranha, hitung-hitung memberi makan piranha, iya kan?” jawab Fano enteng, lalu dia duduk sambil melihat bagaimana Dave memasak.
Kemudian Lylac, Yoshi, Andy dan Surya juga datang. Oh iya, ngomong-ngomong, tadi Surya tidak ada di ruang bawah tanah karena harus memasukkan mobil-mobil ke garasi, langit mendung seperti mau hujan, jadi lebih baik mobil dimasukkan juga.
“Piranha?” tanya Vivi.
“Iya, piranha, kalau piranhanya sudah kenyang, baru kita makan” sahut Fano.
“Aku gak mau, masa piranha habis makan orang terus kita makan sih? Belum apa-apa aku udah mual” keluh Bella.
“Aku hanya bercanda” Fano.
“Memang ada piranha disini?” tanya Dave.
“Ada, banyak sekali, jadi kalau kalian nakal, kalian akan dimasukkan kolam piranha juga” sahut Andy.
Mendengar itu sontak Dave, Wawan, Vivi dan Bella jadi merinding.
“Kok kalian pucat sih? Aku bercanda” kata Andy.
“Gak lucu kak! Itu serem banget!” Vivi sudah melempar bantal sofa pada Andy.
“Maaf ya kalo Wawan ada salah, Wawan janji akan jadi anak baik kok” Wawan.
“Aku juga adik ipar yang baik, kak Fano, ampuni Vivi” Vivi.
“Aku belum menikah dan punya anak, aku juga anak baik-baik” Bella.
“Anu –” Dave.
“Dave, kamu diajak nikah tuh sama Bella” Yoshi.
TAK
Dave mengetukkan pisau yang tadi dia pakai memotong bawang.
“A – aku bercanda” Yoshi.
.
.
.
.
__ADS_1
tidak ada adegan mengerikan, novel harus tetap aman dan dapat dibaca oleh semua umur 🤣🤣