
.
.
Fano menghela nafas berat untuk yang entah ke berapa kalinya. Dia telah pergi dari hotel tempat Alfred berada tapi dia malah khawatir meninggalkan Alfred disana. Karena bagaimanapun juga, Fano tidak berpikir itu aman bagi Alfred bersama anggota mafia meski mereka mengatakan ada di pihak Alfred.
Ini jelas mereka yang memberontak ingin Alfred mengambil alih posisi Gio menjadi ketua, dan hal itu tidak baik untuk keselamatan Alfred. Mungkin sekarang masih baik-baik saja, tapi tidak dengan nanti.
Alfred tidak cocok berada dalam dunia gelap, karena dia selalu dikurung dari kecil, jadi dia tidak banyak tau betapa kejamnya dunia. Meski dia memiliki otak yang genius, tapi mentalnya masih lemah.
Tinggal menunggu waktu baginya untuk hancur.
Benar, satu-satunya tempat yang aman bagi Alfred hanya bersama keluarga Raynold, lagipula dia memang bagian dari mereka.
Fano sudah sampai di gedung apartemen, dia melihat Bima duduk termenung di salah satu bangku taman, jadi dia memilih untuk menghampirinya.
Tidak biasanya Bima menyendiri seperti ini.
“Bima, kenapa kau melamun disini?” tanya Fano.
Bima mendongak melihat Fano sudah berdiri di depannya, Bima tersenyum sebentar lalu menggeser tubuhnya agar Fano bisa duduk di sebelahnya.
“Aku tidak melamun, aku menunggu Queen datang membawakanku ice cream” jawab Bima.
“Queen? Dia sudah kembali?” tanya Fano
“Akan kembali sebentar lagi”
“Tapi itu tidak menjawab pertanyaanku, kau memang melamun tadi, ada masalah?”
Bima menggeleng “Tidak.. hanya saja, paman Lino bilang dia telah menemukan ayahku, di Italy. Karena itu moodku tiba-tiba hancur begini”
Fano menepuk-nepuk pungung Bima “Tapi apa salahnya itu? Kau merindukan ayahmu? Tunggu! Jadi ayahnya Queen ada di Italy?”
Bima mengangguk “Iya, dengan Kaisar juga, aku tidak merindukan ayah, sudah sejak lama aku membencinya, bukankah aku sudah mengatakan itu?”
“Benar juga, lalu yang membuat moodmu hancur itu apa?”
“Kau ingat masalah narkotika yang sedang viral? Ku rasa itu ada hubungannya dengan ayahku, karena kau pernah kena masalah gara-gara itu, aku jadi tidak enak padamu.. Andy dan Haikal juga”
“Aku masih tidak mengerti Bima” Fano pura-pura polos dan tidak mengerti agar Bima menceritakan banyak hal padanya, lagipula tempat ini sepi dan hanya ada mereka berdua, jadi aman.
“Begini, ayahku ketua mafia yang besar, mereka memiliki bisnis seperti itu. Aku sudah lama curiga jika ayah ketuanya, tapi setelah paman Lino bilang sudah menemukan semua bukti-bukti, tinggal menunggu waktu saja bagi ayahku untuk ditangkap. Ini masalah yang rumit, tidak seharusnya aku bercerita padamu”
“Apa paman Lino memang berencana untuk menangkap ayahmu?”
Bima menggeleng “Sebenarnya tidak, yang ingin mereka temukan adalah anak dari adiknya paman Lino yang diculik oleh ayahku, tapi mereka malah menemukan hal lain, Kaisar menghubungiku satu jam lalu, meminta pendapatku tentang itu”
“Karena itu moodmu jadi hancur?”
Bima mengangguk pelan.
“Apa kau masih menyayangi ayahmu? Jujur saja Bima”
__ADS_1
Bima mengangguk lagi, kali ini lebih pelan “Iya.. sedikit? Bagaimanapun juga, dia ayahku, meski dia tidak mengakuiku”
Fano menepuk bahu Bima “Kau anak yang baik Bima, lalu.. apa yang kau inginkan saat ini? Memenjarakan ayahmu?”
Bima mengedikkan bahunya “Entah, apa dengan begitu ayahku jadi berubah baik? Bagaimana jika dia bisa membayar agar dia bebas?”
“Keluarga Raynold pasti bisa melakukan sesuatu bukan?"
“Tapi Fano –” Bima menoleh pada Fano dan menatap Fano dengan mata berkaca-kaca “Apa jika aku menyetujui tawaran Kaisar.. aku akan jadi anak durhaka?”
Sekarang Fano bisa merasakan kesedihan Bima, pasti sulit sekali menjadi dia.
“Tidak Bima, kau bukan anak durhaka, justru ayahmu sangat jahat karena telah menelantarkanmu dan juga ibumu, dia berhak mendapatkannya”
“Ibuku sangat setuju dengan usulan itu, jadi aku tidak punya pilihan lain.. meski begitu paman Lino dan Kaisar masih belum bisa melakukannya”
“Tapi kenapa?”
“Karena ayahku menolak untuk memberitahukan dimana keponakan pamanLino yang sedang dicari”
Fano kembali menepuk-nepuk bahu Bima “Pasti akan segera ketemu, aku yakin itu”
“Semoga saja”
***
Di pagi hari Fano bangun dia sudah
Alfred memiliki nomor Fano agar bisa dihubungi, Alfred mendapat ponsel baru dan nomor lokal selama berada di negara ini. Agar tidak bisa dilacak oleh siapapun.
Jadi Alfred hanya memiliki nomor Fano.
Yang membuat Fano bingung adaah Alfred menghubungi di dini hari, sekitar jam lima pagi, hanya untuk mengatakan dia ingin pergi keluar. Tapi karena dia diawasi oleh anggota-anggota mafia yang memberontak, jadi dia tidak dapat berbuat apapun.
Fano tidak tau harus membalas bagaimana, semua ini membuatnya pusing.
[Bagaimana jika kau barter dengan Lino]
“Maksudmu?”
[Lino dan Kaisar bisa menggantikanmu memburu Gio karena mereka lebih dari mampu melakukannya, mereka belum melakukan hal itu hanya karena belum menemukan Alfred bukan?]
[Kau bisa membantu mengeluarkan Alfred dari hotel itu, lepas dari kejaran para mafia]
Fano menghela nafas berat “Jadi aku harus bekerjasama dengan mereka?”
[Itu bukan pilihan yang buruk, bukankah kau ragu untuk menghadapi Gio karena kasihan dengan Bima? Aku tidak yakin jika kau yang menghadapi Gio, kau tidak akan membunuhnya]
Fano mengacak-acak rambutnya frustasi, dia tau sistemnya benar. Dengan sifat kejamnya Fano mungkin saja tanpa sadar membunuh Gio. Meski sistemnya membebaskan Fano, tapi bagaimana perasaan Bima? Dia tidak akan suka melihat ayahnya dibunuh oleh sahabatnya sendiri bukan?
Beda dengan Albert yang tidak akan pikir panjang... sekarang dia berada dalam tubuh Fano. Fano tidak boleh melakukan kejahatan apapun, tidak boleh ketahuan melakukan hal kotor, harus menjadi orang yang baik dan bersih.
“Kau benar, tidak ada cara lain selain bekerjasama dengan keluarga Raynold”
__ADS_1
[Selain namamu juga bersih dan aman, kau juga bisa memastikan Alfred aman juga]
Fano kembali membaringkan tubuhnya, menatap langit-langit kamarnya yang hanya berwarna putih saja.
Dia sekarang sudah banyak berubah, bukan lagi seorang yang tidak akan pikir panjang untuk menghabisi nyawa orang. Dia sekarang banyak berpikir sebelum bertindak, memikirkan konsekuensi yang akan dia dapat jika dia berbuat kejam seperti dulu.
Ibunya tidak akan suka jika Albert yang sudah diberi kesempatan hidup lagi malah berbuat buruk.
“Ibu.. maafkan aku, aku akan berusaha hidup sebaik mungkin sekarang”
Fano kembali meraih ponselnya, menelfon sebuah nomor dengan nama kontak Queen.
“Halo Fano? Kenapa?”
Fano terkekeh mendengar suara baru bangun Queen yang terdengar lucu.
“Fano?”
“Maaf, hehe suaramu lucu, aku hanya ingin bertemu denganmu, ini penting”
“Sepenting itu? Kau kan sekolah hari ini, nanti sore saja”
“Baiklah, nanti sore kita bertemu, aku akan ke rumahmu bersama seseorang”
“Seseorang siapa? Yoshi? Dave?”
“Bukan, yang pasti kau akan menyukainya”
“Kau mau menjodohkanku dengan siapa?”
“Jangan ge er, aku tidak ingin menjodohkanmu, pokoknya ada seseorang yang harus kau temui”
“Tapi nanti sore kakakku Raja akan datang”
Raja?
Oh iya, Abel bilang anaknya Lino ada lagi satu selain Kaisar dan Queen, yaitu Raja. Karena Abel menyukai Raja, Fano pikir Raja bukan orang yang buruk, paling tidak harusnya lebih baik dari pada kaisar.
“Itu tidak masalah, aku akan membawanya ke rumahmu”
“Ada Christal dan Peter juga akan datang”
Aduh siapa lagi itu? Karena Fano malas berpikir Fano hanya mengiyakan saja, jadi Queen juga setuju. Pasti Queen sedang penasaran dengan siapa orang yang akan dibawa Fano ke rumahnya.
Tidak mungkin orangtua Fano karena kedua orangtua Fano sudah tiada.
Fano memutus telfonnya dengan Queen lalu segera beranjak dari ranjangnya untuk siap-siap pergi. Dia tidak akan mengerjakan misi pagi seperti biasa, tapi dia akan pergi untuk membawa Alfred kabur dari hotel.
Meski anggota mafia itu mengatakan berpihak pada Alfred, tapi Fano tidak terlalu mempercayai mereka. Mereka masih bisa berbuat buruk pada Alfred yang masih naif dan polos.
.
.
__ADS_1