Sistem Kekayaan Hukuman

Sistem Kekayaan Hukuman
Cantik keturunan bidadari


__ADS_3

.


.


Lylac memutar-mutar tubuhnya di depan cermin besar. Dia telah mengganti gaunnya dengan baju biasa,


baju santai milik Abel yang berupa kaos lengan panjang warna pink dan juga celana pendek warna putih. Baru kali itu dia memakai pakaian manusia dari jaman modern, agak aneh, tapi karena dia cantik jadi cocok saja.


Fano berdecak kesal karena Lylac tidak mau pergi juga dari depan cermin, karena dia tidak sabar untuk makan malam, jadi dia menarik lengan untuk keluar dari ruang pakaian.


Sampai di ruang makan semuanya menatapi Fano dan Lylac dengan tatapan bingung, sampai kemudian Lylac tersenyum dan melambai kecil pada Noa.


“Fano, dia pacar ketigamu?” tanya Yoshi.


“Jangan semuanya dijadiin pacar, bagi-bagi dong” sahut Jungyu.


“Mana bisa pacar bagi-bagi! Tapi ini bukan pacarku, dia hanya temanku” kata Fano, sambil melirik Lylac yang hanya tersenyum manis seperti gadis lemah lembut yang tidak banyak tingkah, berkebalikan sekali dengan kelakuan aslinya.


Abel mengangkat tangannya tinggi-tinggi “kak mau nanya!! Itu rambutnya diwarnai dimana bisa ungu bagus gitu? Abel juga mau” kata Abel.


“Abel, jangan diwarnai, aku suka rambut pirangmu” sahut Yoshi.


“Oke, kalo gitu ga jadi” Abel.


“Ini rambut asli kok” gumam Lylac, yang untungnya hanya bisa didengar Fano.


“Jadi kamu gak punya pacar kan? namanya siapa?” tanya Jungyu, yang sudah bersemangat setelah tau


Lylac bukan pacar Fano, akan tetapi jawaban Lylac selanjutnya hanya bisa membuat mereka yang tadinya berharap tersenyum pedih.


“Namaku Lylac, panggil aja Lila, kalo pacar emang gak punya, tapi kalo calon suami udah, ada yaitu Noa, iya kan Noa?”


Noa yang mendengar itu hanya terdiam antara malu, senang dan bingung bercampur menjadi satu, dia pun tidak tau harus bereaksi seperti apa.


“Yah kok malah milih daun muda sih? Yang lebih tua malah masih jomblo” keluh Jungyu, Yoshi menepuk-nepuk bahunya “Sabar bro, nanti kita cari aja di Jepang”


Jungyu menggeleng “Gak bisa, aku kan anak laki-laki satu-satunya, harus nikah sesama orang Korea”


“Ribet amat, kalo gitu ya jangan berharap sama Lila juga dong, eh, Lila asalnya dari mana nih?” tanya Yoshi.


“Ayahku orang Australia-Indonesia” jawab Lylac.


“Kalo ibunya orang mana?” tanya Suho, dia ini salah satu yang kecewa karena naksir Lylac, eh, Lylacnya malah naksir Noa yang masih piyik dan masih belum mengerti apa-apa tentang cinta-cintaan, puber juga baru aja beberapa hari lalu.


Tapi pepet aja dulu ya, siapa tau bisa berpaling.


“Ibuku? Seorang bidadari, hahaha” Lylac.


Duh, Fano rasanya ingin memukul Lylac saja, garing sekali candaannya, tapi yang anehnya, yang lain ikut tertawa dengan Lylac.


Mungkin Fano saja yang tidak bisa menangkap lelucon itu.


“Pantes kamunya cantik kayak bidadari” sahut Shiho yang sedang ingin menggombal.


“Udah udah makan dulu, laper nih” timpal Fano “Ini semua Leon yang membayar? Tumben?” tambah Fano.


Memang makan malam mereka adalah pesanan dari restoran, Leon yang membayar. Semua makanan itu


dihangatkan sebentar oleh para pelayan sebelum dihidangkan di meja makan. Leon bahkan membeli beberapa macam pizza juga, katanya untuk makanan penutup.


Tumben sekali bocah itu baik mau mentraktir.


“Apa kak Leon ulang tahun?” tanya Abel.


“Enggak kok, cuma pengen aja, gabut” jawab Leon.


“Gabutnya anak sultan beda ya, sering-sering gabut dong” sahut Yoshi, Leon menjawabnya dengan acungan jempol, karena mulutnya sibuk mengunyah makanan, jadi tidak bisa menjawab.

__ADS_1


“Kalo Fano gabut ngapain? Nraktir juga?” tanya Lylac.


“Kalo dia gabut malah ngajak orang berantem” sahut Aron.


Lylac mengangguk, dia sangat mengerti itu, Fano memang suka membuat kesal jika sedang gabut. Sementara itu Fanonya sendiri tidak paham. Kapan dia mengajak orang bertengkar jika sedang gabut? Memang Fano pernah gabut apa? Dia kan orang sibuk?


“Biasanya aku yang diajak” tambah Yoshi.


“Kak Fano jangan gitu, berantem gak baik lho, kayak Abel dong gak pernah ngajak orang berantem”


sahut Abel, kemudian Aron menatapnya dengan tatapan datar “Apaan, kau sering berantem denganku kan?” tanya Aron. Karena seingat Aron, dia dan Abel malah jarang sekali akurnya.


“Kau kan bukan orang” jawab Abel.


“Hahahaha” Yoshi.


“Kalo aku bukan orang, berarti kamu juga, kamu kan adikku” Aron.


“Oh iya ya” Abel.


“Hahahaha - mmm” Yoshi yang tertawa sangat berisik, jadi Jungyu memasukkan nasi ke mulutnya agar dia diam.


“Enak” Yoshi.


Selesai makan malam Fano membereskan beberapa barang yang akan dia bawa ke Jepang, lalu ia masukkan ke dalam koper, tapi kemudian dia melihat Lylac yang mengambil jaket mantel Fano.


“Eh eh eh, ngapain itu?” tanya Fano.


Lylac menunjuk dirinya sendiri “Aku?”


“Bukan hantu di sebelahmu” Fano.


“Oh, ku pikir aku” Lylac


“Ya kamu yang aku maksud, mau kemana hah?” tanya Fano.


“Apaan! Ga ada ngedate-ngedate! Lagian kalian ngapain keluar malem-malem gini sih?” Fano.


“Kan aku ga punya baju Fano!” kemudian Lylac menggerakkan jari tangannya, tiba-tiba saja kartu kredit Fano yang unlimited sudah berpindah tangan pada Lylac.


“Hey!” Fano.


“Diam Fano, aku akan membelikan diriku sendiri beberapa pakaian, aku akan membelikanmu burger jika ingat” kata Lylac.


“Terserah saja lah, hati-hati jangan sampai Noa terlihat orang lain”


“Jangan khawatir, aku pergi – oh, Queen sepertinya akan datang, aku harus cepat-cepat pergi!” Lylac buru-buru keluar dari kamar Fano.


Fano hanya geleng-geleng kepala, tidak mengerti lagi dengan kelakuan aneh Lylac. Fano mau ikut sebenarnya, untuk mengawasi mereka. Tapi sepertinya ada Yoshi sudah cukup, lagipula meski Lylac kelakuannya tidak jelas, dia bisa menjaga anak-anak itu. Lagipula, ini masih jam tujuh malam, Fano pikir masih aman untuk keluar.


Eh tapi – kenapa Lylac bilang jika Queen akan kemari? Kenapa juga dia harus segera pergi jika Queen datang?


Entahlah, Fano malas memikirkan yang ribet-ribet saat ini.


Oke semua persiapan sudah selesai.


Fano menyimpan kopernya lalu keluar dari kamar. Dia tidak menyangka jika mansionnya langsung sepi karena beberapa orang pergi. Fano tidak tau ada siapa saja sekarang di mansion ini. Fano melihat ke tempat game, hanya ada Leon, Asahi dan Wubin. Yang main


game hanya Leon dan Sahi, Wubinnya hanya diam memperhatikan dan menyemangati.


Fano jalan lagi ke dapur kali ini, dia menemukan Xiao Kun sedang membuat cookies bersama Suho.


“Kalian ngapain? Kun tidak siap-siap? Bukannya kau akan pergi besok?” tanya Fano.


“Kita membuat cookies, aku berangkat masih besok sore” jawab Xiao Kun.


“Kau akan berangkat ke Shanghai?” tanya Suho.

__ADS_1


Xiao Kun berpikir sejenak kemudian mengangguk “Iya, tapi kemudian orangtuaku akan mengajakku ke Shicuan”


“Ada acara apa di Shicuan? Kau akan dijodohkan?” sahut Fano.


“Ya enggak lah, aku ga tau ada acara apa” kata Xiao Kun “nanti aku bawain oleh-oleh bubuk cabai yang paling pedas buat kak Fano” tambahnya.


“Sudahlah, aku kan tidak kuat makan pedas” sahut Fano.


“Meski kau sangat suka pedas?” tanya Suho, Fano mengangguk. Padahal Albert sangat menyukai makanan pedas, tapi apa daya, tubuh Fano yang tidak kuat.


Fano sebenarnya ke dapur hanya untuk mencari apel saja, setelah dapat dua apel dia pamit pergi lagi. Suho dan Xiao Kun lanjut membuat cookiesnya, mereka bilang akan membawakan cookies itu untuk bekal pergi ke Jepang, mereka ada-ada saja, tapi Fano sangat menantikan cookies buatan mereka.


Fano sudah memeriksa Leon, Sahi, Wubin, Suho dan Xiao Kun. Sedangkan Noa sedang pergi bersama Yoshi, Aron, Abel dan Lylac.


Sepertinya ada yang kurang deh.


Siapa ya?


Fano membuka salah satu kamar yang anak-anak Ether gunakan, Fano mendesah lega setelah menemukan satu member tersisa sedang asyik tiduran sambil memainkan ponsel, Shiho.


Padahal anak Ether hanya ada tujuh orang, kenapa rasanya Fano sering melupakan mereka ya? Tujuh orang tidak banyak kok.


“Kak Fano?” Shiho yang sadar ada Fano yang memasuki kamar menghentikan vidio yang sedang dia tonton.


“Kamu kenapa disini sendirian? Tidak gabung dengan yang lain” tanya Fano.


“Tadinya aku akan main game ML dengan Noa, tapi dia diajak calon istrinya” sahut Shiho.


“Heh, jangan sebut Lila seperti itu, kau pikir aku sudah merestui mereka apa?” Fano


Shiho tertawa mendengarnya “Kenapa sih? Kan Lilanya cantik, cocok lah buat Noa, malah Lila


cantik banget kayak bidadari, apa dia beneran keturunan bidadari ya?”


Fano harus menjawab bagaimana ya? Bukan bidadari sih, lebih tepatnya keturunan seorang Dewi. Tapi tidak


mungkin Fano mengatakan hal itu.


“Kalau dia keturunan bidadari, maka aku sekarang ini reinkarnasi dari seorang ketua mafia”


“Hahaha mana ada reinkarnasi kak Fano ada-ada aja – minta apelnya” Shiho merebut apel yang belum Fano makan, tapi tidak protes sih, apel bisa mengambil lagi.


“Kalau begitu mustahil juga dong dia keturunan bidadari” Fano.


“Tapi Lila cantik banget”


“Kamu gak tau aja kelakuan bobroknya kayak gimana, capek banget hidup sama dia tuh” keluh Fano, Shiho tertawa lagi.


“Kak Fano kenapa sih mukanya lucu banget, kak Fano pelawak ya?”


“Aku pebisnis Shiho! Kamu ini, aku tinggal ya, mau ke kamar”


“Oke!”


Fano pun keluar dari kamar itu menuju kamarnya sendiri, namun seperti yang Lylac katakan sebelumnya. Ternyata Queen memang sungguhan datang, untungnya sendirian, kalau bersama Raja, Fano takut mansionnya akan kembali ramai, karena mungkin Fano yang gabut akan mengajaknya berantem.


“Fano!! Ada si Lylac disini?” tanya Queen.


“Kau baru datang dan langsung menanyakan dia?” protes Fano.


“Hehe, enggak sih, aku kesini kangen Fano! Aku ingin menunjukkan sesuatu, ayo ke kamar, takut dilihat orang” kemudian Queen menyeret Fano menuju kamar Fano.


Apa yang ingin Queen tunjukkan ya?


.


.

__ADS_1


__ADS_2