Sistem Kekayaan Hukuman

Sistem Kekayaan Hukuman
Menjinakkan sebuah bom


__ADS_3

.


.


Sementara Vivi dan Bella berusaha menjelaskan situasinya pada penjaga panti dan juga anak-anak yang sudah besar, Fano terus berjalan cepat mendekati gudang yang ditunjukkan layar sistem untuknya. Setelah sampai, Fano membuka pintu dengan tidak sabaran, karena pintu ternyata dikunci rapat.


Pintunya sampai sedikit rusak – tidak, sangat rusak, salah satu engselnya copot. Bisa dibayangkan betapa bar-barnya Fano membuka pintu tersebut, tidak berperi-kepintuan sama sekali.


Namun Fano tidak peduli, dia segera mendekati sebuah box berisi bom tersebut.


Waktu dihitung mundur, tinggal tiga puluh menit lagi.


Tiba-tiba Fano makin panik, dia tidak tau cara menjinakkan bom, jika dia salah sedikit saja, bukan hanya panti ini, tapi Fano juga akan tamat.


[ini adalah bom mahal, jika meledak, maka rumah-rumah di sekitar juga ikut meledak]


‘Lylac?’


[Iya, ini aku – aku akan memberitahu cara menghentikannya, pertama-tama siapkan gunting]


Kemudian Fano mengeluarkan sebuah gunting kertas besar, masih baru, dan tentu saja tajam. Dia membeli gunting itu di Korea untuk menggunting sesuatu, tapi kemudian dia masukkan di kotak penyimpanan sistem agar suatu saat membutuhkan bisa langsung ambil.


“Oke, sudah.”


[Bagus, sekarang gunting kabel biru]


Fano melihat ada tiga kabel biru, kabel biru kecil, sedang dan besar.


“Yang mana?” tanya Fano tidak sabaran.


[Sedang dan kecil, gunting saja sampai putus]


Meski takut, dengan tangan gemetaran, Fano menggunting kabel biru yang kecil dan sedang “Sudah?”


[Belum, baru setelahnya yang biru besar]


“Sudah?” tanya Fano, dia melihat hitungan jamnya mulai menjadi sangat cepat, Fano pun panik lagi “ada apa ini?”


[Tenang dan tunggu saja, jangan panik, Fano]


Beberapa detik kemudian hitungan tersebut habis, menjadi (00:00:00) lalu berhenti.


Fano kembali menyimpan guntingnya lalu menatap bom, berkedip-kedip sebentar, sebelum kemudian sadar jika bomnya telah berhasil dihentikan.


“Ini sudah berhasil kan? apa bomnya bisa diaktifkan lagi?”


[Kau terlalu panik, tarik nafas dulu, hembuskan perlahan – iya, seperti itu, ulangi sampai kau merasa tenang]


“Ini keterlaluan, kenapa dia malah menaruh bom itu disini? Di tempat banyak anak-anak panti? Kenapa dia begitu kejam?” tanya Fano, baru kali ini dia merasa sedih sampai ingin menangis.


Apa sekarang Fano sudah jadi cengeng?


[Tidak, itu artinya kau memiliki rasa empati, dan itu artinya kau lagi-lagi lolos ujianku dengan cepat]

__ADS_1


[Hadiah untukmu akan diproses]


‘Aku tidak membutuhkan hadiah itu’


[Sungguh? WOW!]


[Fano sudah berubah banyak, apa kau ingat dulu untuk menolong kucing saja aku harus menyuapmu dengan hadiah dulu?]


[Ini sungguhan Fano? Bukan Noa?]


‘Diam kau!’


Krieeekkk


Fano membalikkan badannya saat pintu gudang tiba-tiba terbuka, padahal harusnya semua orang panti sudah disuruh keluar tapi – hmm?


Seorang bocah perempuan kecil yang membawa boneka kelinci buntal warna putih muncul, kemudian dia tersenyum lebar melihat Fano.


“Kak Fano!!”


Fano segera meraih tubuh kecil bocah itu lalu menggendongnya “kenapa kau disini, bahaya” kata Fano, bocah yang berumur sekitar lima tahunan itu tidak mengerti dan hanya menatap Fano bingung.


“Namamu siapa?” tanya Fano, sambil keluar dari gudang.


‘Bomnya sudah benar-benar aman?’


[Sudah mati, tidak akan meledak]


[Sama-sama! Karena aku sudah membantu, aku mau hadiah juga!]


Fano mengerutkan keningnya, apa-apaan Lylac ini? Padahal dia sudah ada di mansion besar keluarga


Raynold, semuanya sudah tersedia disana, tapi masih minta hadiah? Yang benar saja!


[Aku minta hadiah dinikahkan dengan Noa]


‘Idih’


“Namaku Fila!”


“Eum, maksudnya Fira?”


Bocah itu mengangguk senang “Iya, Fila!”


“Aku juga punya teman namanya Fira” kata Fano.


“Pasti cantik deh.”


“Iya, cantik kayak kamu.”


“Hehe – Fila cantik!”


Akhirnya Fano sampai di luar panti, kemudian Vivi, Bella, dan pengurus panti mendekati Fano dan menanyakan tentang bom itu.

__ADS_1


“Bomnya sudah ku matikan, masih ada digudang sih, lebih baik dibuang atau dikubur, jangan lapor polisi, aku hanya tidak ingin orang lain tau panti ini pernah ada bom, takutnya warga panik juga, dan soal pelaku, aku sudah tau siapa itu” kata Fano, kemudian menyerahkan Fira kecil pada salah satu ibu panti.


“Ya ampun Fira, ibu cari kamu kemana-mana, taunya masih di dalam” kata Ibu panti yang gemas, ibu panti sudah panik karena si kecil tidak ditemukan.


“Fila mau liat kak Fano!” sahut Fira.


Fano yang ikutan gemas mencubit kecil pipi bocah itu.


“Karena semuanya sudah baik-baik saja, saya mohon pamit, oh iya, setelah kejadian ini, saya mohon kalian lebih berhati-hati saat ada orang yang masuk, selalu kuunci rapat-rapat semua pintu, saya akan mempekerjakan satpam baru untuk panti ini, semakin banyak penjagaan, semakin baik, dan bisa gantian” kata Fano.


Setelahnya Fano pamit bersama Vivi dan Bella, sementara itu yang lain sudah di dalam mobil, termasuk Indra yang sudah diikat kuat dengan sebuah tali, mulutnya juga sudah dilakban.


Fano tidak mengatakan apapun, dia hanya meminta Vivi dan Bella untuk masuk mobil, kedua gadis itu tidak mau di belakang, maunya sama-sama di depan bersama Fano. Mungkin takut dengan Indra.


Untungnya di depan muat, tapi jika ketahuan bisa ditilang, Fano jadi bingung. Sudahlah, memilih jalan yang aman kalau begitu.


Mereka semua tidak ada yang berani bicara, hanya suara Indra yang tidak jelas, mungkin minta tolong atau apa, Fano tidak peduli juga.


Padahal baru saja tadi Fano hampir menangis karena Indra sangat jahat menaruh bom di panti, namun sekarang Fano sendiri sudah punya niatan yang lebih jahat lagi.


Menyiksa Indra di ruang bawah tanah yang ada di mansionnya. Mansion besar yang jadi kecil jika dibandingkan dengan mansion milik keluarga Raynold, atau mansion Fano di Korea.


Setelah sampai, mereka semua langsung berhamburan keluar dari mobil. Fano juga turut menyeret Indra lalu dilemparkan keluar dari mobil.


Indra yang dilempar tapi yang menjerit ketakutan malah Wawan, Vivi dan Bella. Tanpa menunggu aba-aba lagi, Andy dan Surya segera membawa Indra ke ruang bawah tanah, sebelum Fano sendiri yang menyeret penjahat itu dengan lebih kejam.


“Kalian tidak perlu ikut ke ruangan bawah tanah, kalian main saja di atas okay?” pinta Fano pada Wawan, Vivi dan Bella.


Tidak lama kemudian setekah mereka bertiga masuk ke mansion, mobil yang dibawa Yoshi datang, dia membawa Lylac dan Dave.


“Kau menculik Indra?” tanya Yoshi setelah keluar dari mobil, Fano mengangguk “Iya, aku akan menyiksanya sampai mati” sahut Fano dengan tanpa ekspresi, yang membuat Dave langsung meringis, mendengarnya saja sudah ngilu, dia kan anak baik-baik.


“Apa kau sudah memikirkan konsekuensinya jika dia mati?” tanya Lylac.


Fano mengernyitkan dahinya “Kau tidak melarangku?” tanya Fano bingung, bukankah harusnya Lylac melarangnya ya?


Lylac mendengus malas “Untuk orang yang hampir membunuhmu? Dia juga sudah membunuh beberapa orang, merugikan banyak pihak, apa kau tau jika ayahnya bangkrut karena dia? Dia bahkan menggunakan semua orangtuanya agar bisa bebas, ibu dan ayahnya sudah hampir gila dibuatnya – lalu kau berharap aku akan menghentikanmu? Soal bukti, aku bisa bantu menghilangkannya” kata Lylac.


“Kau sepertinya memiliki dendam padanya” sahut Yoshi.


“Kau tidak?” tanya Fano.


“Tentu saja punya! Apalagi setelah tau dia ingin membunuh anak-anak panti” kata Yoshi.


“Aku gak ikutan ya? Takut ....” ujar Dave.


“Kamu mainlah dengan yang lain” kata Fano.


“Okay!” Dave pun buru-buru pergi ke dalam mansion, sementara itu Fano, Yoshi dan Lylac pergi ke ruang bawah tanah.


.


.

__ADS_1


__ADS_2