
.
.
“Ehem”
Fano menoleh pada Yua yang dari tadi ingin mendekatinya terus, dia bahkan sampai mau membantu Fano memasak makan malam segala. Makan malam kali ini adalah tteokpokki campur potongan daging, jamur, sayur-sayur lain. Sengaja tidak banyak masak karena kan tadi siang juga sudah makan banyak sekali.
Padahal Fano tidak butuh bantuan, tapi Yua mengatakan ingin membantu. Sedangkan yang lain bertugas untuk menyalakan api unggun dan juga membakar marsmallow.
“Mau dibantu?” tanya Yua.
“Tidak, kau duduk saja ini sudah mau selesai” tolak Fano, Yua pun cemberut, kemudian dia kembali duduk. Terlihat sekali dia ingin mengatakan sesuatu pada Fano, tapi tidak jadi.
Fano menutup panci yang ia gunakan untuk memasak, kemudian mengecilkan apinya, baru selanjutnya dia fokus dengan gadis itu.
“Ada yang ingin kau bicarakan bukan? Katakan saja” kata Fano
Yua terlihat senang mendengarnya “Itu... jangan katakan pada Jehyuk-oppa tentang pembicaraan kita ya? Terutama, jangan katakan jika itu aku” pinta Yua.
“Kenapa aku harus mengatakannya? Bukankah kau yang memintaku untuk mengatakannya waktu itu? Kenapa sekarang berubah lagi?”
Yua berdecak kesal “Itu kan sebelum aku tau ternyata kau sudah tau jika – lagian dari mana kau mengetahuinya? Ku rasa aku sudah menghilangkan jejakku” kata Yua.
“Begini, biar aku tanya dulu, kenapa kau melakukan itu? Bersaing denganku di pertandingan, lalu berlaku tidak sopan padaku dan mengatakan omong kosong, apa tujuanmu berbuat seperti itu?” tanya Fano.
Yua menundukkan kepalanya, jelas dia tidak menyangka Fano bahkan sudah mengetahui jika Yua melakukan itu dengan suatu tujuan.
“Aku pikir dengan aku menyaingi mu dan kau tidak bisa menang, kau tidak akan bisa bersama dengan kak Angel, karena aku masih berharap kakakku yang akan bersama dengan kak Angel, lalu soal Jehyuk-oppa, aku – aku menyukainya” kata Yua.
“Jadi kau mau egois dengan berharap aku putus dari Angel jika kalah? Kalaupun aku kalah itu tidak akan terjadi, pikiran bocahmu itu aneh sekali, lalu ... apa kau yakin Jehyuk menyukai bocah sepertimu? Kau bahkan mengaku-ngaku jika calon tunangannya” timpal Fano, karena masakannya sudah matang, dia pun mematikan kompornya kemudian membuka tutup pancinya, mencicipinya sebentar setelahnya.
Sudah enak.
Fano menutup pancinya kembali.
“Aku cuma main-main saja karena ku pikir kau tidak akan bisa mengenaliku” kata Yua.
“Sepertinya kau terlalu meremehkan ku ya, Yua. Aku tidak sebodoh itu, lagipula itu salahmu sendiri, bagaimana bisa kau berpikir aku sudah melupakan bagaimana suaramu, tentu saja aku masih ingat. Aku mengerti jika kau menyukai Angel, tapi kau tidak bisa berharap Angel akan menyukai kakakmu”
Yua kini mendongak menatap Fano “Ini tidak adil! Kakakku menyukai Angel sejak kecil, kau kan menyukai Angel setelah dia sudah secantik itu!” tuduh Yua.
Sontak Fano tertawa mendengarnya “Hahaha – kau berpikir seperti itu? Jadi kau belum tau jika aku yang merubah Angel menjadi secantik sekarang? Jika kakakmu menyukainya, kemana dia saat Angel
dibully dan dihina di sekolahnya? Oke, dia sudah suka sejak kecil, tapi itu tidak cukup untuk membuat seseorang jatuh cinta, ini bukan masalah siapa yang duluan, ah – sepertinya aku banyak bicara”
Fano mengangkat panci makanan untuk dia letakkan di atas meja, kemudian menata makanan yang lain.
“Fano” panggil Yua lagi.
“Apakah itu sopan? Kenapa hanya Jehyuk yang dipanggil kakak? Kami seumuran, panggil yang lain kakak juga” tegur Fano.
“Baiklah, Kak Fano ... maaf, sebelumnya aku belum mengenalmu, setelah seharian bersamamu, aku mulai menilai jika sebenarnya kau orang yang baik, aku pikir kebaikanmu palsu” kata Yua.
Fano menatap Yua, gadis itu terlihat menyesal, Fano jadi tidak tega untuk tidak memaafkannya.
“Baiklah, ku maafkan, lain kali jika menilai seseorang jangan setengah-setengah, sebenci apapun dirimu, kalau bisa sih, jangan terlalu benci dengan seseorang, apalagi jika dia tidak memiliki kesalahan padamu”
__ADS_1
“Tapi kan kau sudah dengan Queen, kenapa kau juga bersama dengan Angel?”
Fano terdiam, jika pertanyaannya seperti itu dia tidak bisa menjelaskannya.
“Kenapa kau diam saja?”
Fano kembali menoleh pada Yua “Kenapa tidak kau tanyakan hal itu pada Queen atau Angel? Tanyakan apa alasannya mereka memilih bersamaku”
Kini Yua yang terdiam.
“Wah udah mateng?!” tanya Aron yang baru datang.
“Udah, coba panggil yang lain ya” pinta Fano.
“Beres!” Aron.
***
Wush!
Fano terkekeh melihat angin kecil yang baru dia ciptakan memadamkan api unggun mereka. Ini sudah malam dan yang lain sudah tidur, tinggal Fano sendirian yang belum bisa tidur. Jadi Fano memutuskan untuk mempelajari sihir-sihir dasar yang belum dia pelajari.
Sudah api, air dan angin. Sisanya besok lagi saja, ini sudah malam.
“Hei”
Fano menoleh, terlihat Jemin yang tadi baik hati memberi mereka mochi dan tteokpoki datang membawa dua gelas yang kelihatannya masih mengepul, karena asapnya terlihat.
Buru-buru Fano nyalakan kembali perapiannya dengan sihir api.
Ternyata menyenangkan juga bisa bermain sihir.
Jemin menggeleng, kemudian memberikan salah satu minuman hangat untuk Fano, Fano pikir itu kopi, ternyata coklat panas. Ada campuran bubuk kayu manisnya dan beberapa campuran lain.
Enak dan hangat.
“Yang berkemah denganmu itu teman-temanmu semua?” tanya Jemin.
Fano mengangguk “Semuanya temanku, satu kekasihku” jawab Fano.
“Aku tebak, pacarmu pasti Angel” kata Jemin.
“Eum ... itu –”
“Tidak perlu malu, aku bisa melihatnya, aku juga sempat melihat kalian mendaki bukti berdua kan tadi siang. Sebenarnya bukit itu banyak yang bilang berhantu, aku tidak percaya, tapi aku tidak ingin uji
nyali disana. Bahkan kadang malam-malam begini akan ada yang membuktikan rumor itu” kata Jemin.
“Oh, jadi hantu itu masih rumor?” tanya Fano, Jemin mengangguk “Banyak orang yang menghilang, setelah ditemukan sudah pingsan dan memiliki luka seperti cakaran beruang. Tidak mungkin ada beruang di hutan ini, maksudku, kalau ada pasti sudah ditemukan bukan?”
Fano jadi kepikiran, apalagi saat Fano berada di bukti itu sempat ada peringatan dari layar sihirnya jika ada sebuah sihir yang keberadaannya lemah di sekitar sana.
Apa mungkin itu bukan hantu? Melainkan hal lain lagi?
“Berarti banyak korban selama ini?” tanya Fano lagi.
Jemin mengangguk “Iya, tapi itu jika ada yang nekat berkunjung malam hari, makanya tempat itu terlarang di malam hari, kau lihat papan tanda yang baru dipasang itu?” Jemin menunjuk papan larangan mendaki yang baru dipasang setelah hari mulai gelap.
__ADS_1
“Larangan itu akan dicabut jika sudah pagi, lalu dipasang lagi sore hari” lanjut Jemin.
“Tapi ku rasa review untuk tempat ini bagus semua, tidak ada yang menyebut tentang hantu atau apa” kata Fano.
“Tentu saja, jika ada review buruk akan dihapus, karena akan menurunkan populartitas tempat ini. Meski begitu, masih banyak orang-orang bodoh yang nekat untuk mendaki saat malam – tunggu! Aku melihat sinar senter dari bukit itu, apa aku hanya berkhayal?”
Fano juga memperhatikan pada bukit, dia juga melihat sekilas sinar senter yang dikatakan Jemin.
“Sepertinya ada yang nekat masuk” kata Fano.
“Tidak mungkin itu teman-temanku kan? sebentar Fano, aku periksa teman-temanku di tenda dulu” jemin meninggalkan gelas minumannya di meja, lalu beranjak untuk kembali ke tendanya.
Sambil menunggu Jemin, Fano menyesap coklat panasnya, sambil sesekali memperhatikan pada arah bukit.
Jemin kembali lagi dengan raut khawatir “Adikku tidak ada Fano, di tenda hanya ada pacarku, itupun sudah tidur, gimana ini?” Jemin terlihat panik.
“Tenang-tenang dulu, adikmu laki-laki atau perempuan?” tanya Fano.
“Perempuan lah! Kalau laki-laki tidak mungkin aku tinggal dengan pacarku, sementara itu ada satu teman laki-lakiku dan satu teman perempuanku juga tidak ada tadi ku periksa – padahal aku sudah memperingati”
“Kalau begitu kita jemput mereka”
“Tapi –”
“Kau takut?”
Perlahan Jemin mengangguk “Iya, aku – aku trauma, aku pernah kehilangan temanku karena hantu dibukit itu, tapi teman-temanku malah – aduh, bagaimana ini”
Fano menarik Jemin untuk duduk “Jangan panik, tenanglah, biar aku yang mencari”
“Jangan Fano! bahaya”
“Lalu bagaimana dengan adikmu?”
Jemin terlihat bingung, dia ingin menyelamatkan adiknya, tapi dia juga takut.
“Aku akan mengajak seseorang bersamaku, dia sangat kuat, bagaimana?” saran Fano.
“Apa aku tidak merepotkan?” tanya Jemin.
Fano menggeleng “Tentu tidak, jangan khawatir”
Setelah itu, Fano membangunkan Aron untuk menemaninya. Tentu saja harus Aron, karena dia lebih berpengalaman tentang sihir, dan juga ‘sesuatu’ itu memiliki sihir yang lemah.
Namun, saat Fano dan Aron mau berangkat, Yoshi dan Abel ikut terbangun.
“Ikut” rengek Abel.
“Ikut ya? Aku dan Abel tidak akan mengganggu” pinta Yoshi.
Fano menoleh pada Aron untuk meminta persetujuan, namun Aron hanya mengedikkan bahunya tidak peduli “Ikut aja sih”
“Serius?” tanya Fano.
“Yeay!” Abel.
“Terserah saja”
__ADS_1
.
.