
.
.
Fano sampai di salah satu jalanan yang padat di kota Seoul, banyak orang berlalu-lalang dan sibuk dengan diri mereka masing-masing. Fano sampai di jalan itu tidak menaiki mobil, namun hanya dengan berjalan kaki, agak jauh dari mansionnya, tapi tidak masalah. Fano tidak masalah disuruh jalan kaki meski agak jauh, jauh pun tidak terlalu masalah.
Dia kuat, jalan kaki hanya seperti olah raga baginya. Bahkan, meski sudah berjalan kaki jauh dia tidak merasakan dirinya berkeringat.
Misi dari sistemnya sudah jelas, Fano diminta untuk datang ke jalanan ini, menunggu copet datang lalu membantunya.
Nah, masalahnya ini membantu copet itu seperti apa? Membantu dia untuk masuk penjara? Membantu dia mencopet? Ah, yang itu tidak mungkin.
Entahlah, yang pasti, Fano hanya berjalan saja menunggu dicopet atau ada seseorang kena copet, beres.
Hadiahnya kali ini tidak random seperti sebelumnya, hadiahnya adalah satu unit apartemen mewah. Fano tidak tau apartemennya di apartemen yang mana, karena apartemen mewah di sekitar Seoul banyak sekali dan harganya juga beragam.
Fano jadi berpikir, jika hadiahnya apartemen seperti ini, tidak mungkin misinya sepele.
Karena hari ini Fano sedang santai saja, jadi dia hanya mengenakan baju santai namun meski itu baju santai, mereknya bukan main-main. Satu kemeja saja harganya jutaan, belum lagi celananya.
Fano melihat ada ibu-ibu menjual aksesories, Fano jadi berinisiatif untuk membeli aksesories kecil untuk Queen dan Angel. Memang itu murah, tapi Fano pikir mereka akan senang mendapat hadiah dari Fano.
“Silahkan dipilih nak, mau membeli untuk siapa?” tanya ibu itu.
“Untuk kekasih saya” jawab Fano.
Kemudian ibu itu menyarankan cincin, jepit, atau gelang. Fano memilih dua jepit yang lucu, satunya berbentuk mahkota, satunya berbentuk sayap putih malaikat. Fano pikir itu cocok sekali untuk Queen dan Angel, jadi dia membelinya.
Fano mengeluarkan dompetnya lalu membayar ibu itu dengan uang sepuluh ribu won, karena satu jepit berharga dua ribu lima ratus won, maka Fano mendapat kembalian lima ribu won.
Namun kejadian selanjutnya jauh dari perkiraan Fano. Baru saja dia memasukkan uang kembaliannya ke dalam dompet, ada seseorang yang menyambar dompetnya dengan gesit.
Buru-buru Fano menyimpan jepit rambut yang dia beli lalu berlari mengejar pencopet kecil itu.
Kecil?
Fano yang sedang mengejar pencopet itu mengernyit bingung, pencopetnya masih anak-anak, sekitar umur dua belas tahunan lah.
Fano memelankan larinya, memasuki gang sepi, lalu merubah penampilannya, kali ini memakai hoodie biasa, bukan baju santai tapi mahal tadi.
Fano juga menutupi wajahnya dengan masker, kemudian dia kembali mengejar bocah tadi, namun secara diam-diam.
Bocah itu sudah tau jika Fano tidak lagi mengejarnya, mungkin berpikir Fano sudah jauh atau apa, jadi dia juga memelankan larinya. Bocah itu tidak tau jika Fano masih mengikutinya.
Bocah yang tadi mengambil satu lembar uang Fano, membeli tiga buah roti dan dua botol air mineral di mini market. Setelah itu dia kembali berjalan menuju tempat ... tempat apa ya? Dibilang kumuh juga tidak, tapi dibilang ada banyak orang jalanan yang tidak punya rumah sepertinya banyak.
Mungkin semacam tempat gelandangan?
__ADS_1
Bocah itu terus berjalan hingga sampai di tempat yang sepi. Disana ada seorang gadis kecil kira-kira berumur delapan tahun, juga anak laki-laki kecil lain berumur enam tahunan.
Bocah laki-laki umur dua belas tahun itu memberi mereka roti dan air mineral, kemudian mereka makan bersama.
Jadi ini yang dimaksud menolong pencopet?
Dengan langkah pelan Fano mendatangi mereka, bocah umur dua belas tahun itu terlihat ketakutan melihat Fano.
“Aku tidak punya uang, jadi lebih baik kamu –” bocah itu tidak meneruskan ucapannya saat Fano melepas maskernya, dia sudah lebih tenang saat Fano tersenyum padanya.
“Kenapa kalian ada disini? Dimana orangtua kalian?” tanya Fano.
Bocah laki-laki umur dua belas tahun menggeleng pelan “Sudah tidak ada, mereka pergi meninggalkan kami, mereka bercerai dan pergi, rumah kami disita jadi kami tidak punya rumah, apa kakak orang jahat?” tanya bocah itu.
“Jika aku orang jahat, aku akan marah saat kau mengambil dompetku” kata Fano.
Bocah itu menatap Fano tidak percaya “Tapi ....”
“Aku sengaja berganti baju agar kau tidak merasa masih ku ikuti, tapi tenang saja, aku tidak marah kok” kata Fano.
“Maaf kan kakakku, dia begitu karena ingin membelikan makan untuk kami” ucap si gadis kecil.
Fano tersenyum lalu mengusak kepalanya pelan “Tidak, kakak tidak marah kok. Apa kalian mau mendengar ceritaku?”
Mereka semua mengangguk pelan.
“Aku sebenarnya sudah tidak memiliki orang tua, lalu satu-satunya kelurgaku, yaitu paman, malah mengusirku dari rumah. Tapi aku tidak mau menyerah dan berusaha untuk sukses dengan bekerja. Kalian masih terlalu muda, kalian hanya tidak beruntung memiliki orangtua tidak bertanggung jawab seperti itu. Jika kalian mau, kalian bisa tinggal di tempatku, tapi semuanya tidak gratis” kata Fano.
Fano tersenyum melihat semangat bocah itu. Tentu saja bocah kecil seperti dia yang belum lulus sekolah akan ditolak untuk bekerja di manapun. Apalagi di kota kejam seperti Seoul ini.
“Kalau begitu, ayo ikut kakak”
Fano memesan taxi lalu membawa mereka semua menuju mansionnya. Sampai di mansion, Fano meminta pelayannya untuk
membersihkan mereka dan memakaikan mereka pakaian yang bagus. Fano juga meminta pelayan untuk menyiapkan kamar untuk mereka di lantai satu, kamar yang besar untuk tiga anak itu, dengan tiga ranjang, dan kalau bisa belikan banyak boneka dan mainan juga untuk mereka.
Sementara itu, Fano akan mencari informasi tentang orangtua mereka dan akan menuntut orangtua mereka, baru setelahnya mungkin Fano akan mengadopsi anak-anak itu.
Raja yang masih ada di sana dengan senang hati membantu Fano setelah mendengar semua cerita tentang anak-anak itu. Kalau begini saja mereka jadi akur.
Tidak butuh waku lama bagi mereka untuk menemukan orangtua kandung ketiga bocah itu. Keduanya memang telah bercerai, namun setelahnya tidak ada yang mau merawat anak-anak itu.
Baik ayah maupun ibu semuanya memilih untuk hidup bersenang-senang tanpa anak, ayahnya telah dilaporkan beberapa kali masuk penjara karena mabuk-mabukan dan tindak kekerasan terhadap wanita. Ibunya tidak kalah buruk, dia juga sering kali berganti pasangan dan menipu banyak pria untuk mendapatkan uang.
Rumah yang tadinya dihuni anak-anak itu adalah rumah dari kakek-nenek mereka yang digadaikan oleh ayah mereka, karena tidak bisa menebus jadinya disita.
Fano tidak habis pikir dengan orang dewasa yang seperti itu, dulu dia pikir Albert orang yang sangat buruk karena dia psokopat, kejam, dan lain-lain. Tapi paling tidak Albert tidak membuang istri dan anaknya begitu saja kan? tentu saja Alberti tidak melakukannya.
__ADS_1
Dia sudah ditinggal oleh kedua orangtuanya, jadi dia berjanji untuk tidak meninggalkan keluarganya.
Yah ... meski pada akhirnya dia tidak bisa bersama mereka karena harus dihukum mati.
Jadi di kesempatan kedua ini, Fano harus jadi orang baik, banyak membantu orang, dan sayang keluarga.
“Jadi kau akan mengadopsi mereka? Aku tidak yakin karena kau bukan orang sini” kata Raja.
Fano menghela nafas berat “Aku juga tidak yakin dengan itu, tapi aku tidak bisa membiarkan mereka begitu saja”
“Bagaimana jika kita meminta bantuan paman Subin? Pasti paman mau membantu kita, jadi biar dia yang mengurusi orangtua dan mengadopsi tiga anak itu. Tapi kalau kau mau mereka tinggal disini denganmu, paman tidak akan masalah” kata Raja.
Fano mengangguk mengerti “Jadi hanya untuk formalitas saja begitu ya, apa kau mau menghubungi pamanmu?”
Raja berdecak kesal “Padahal kau sendiri juga bisa kan, manja banget”
“Kau ingin ku tendang dari sini ya?” Fano.
“Padahal tadi udah baikan, sekarang ribut lagi” komentar Suho, dia juga ada di ruang tengah bersama Fano dan Raja, memakan ice cream oreo dengan tenang.
Noa, Wonhi dan Cherin ada bersama pelayan yang mengurusi bocah-bocah itu, mereka antusias sekali dengan mereka dan banyak menanyai mereka. Biasalah, bocah memang cocoknya kumpul dengan bocah saja.
“Dia duluan” kata Fano sambil melirik Raja.
“Kok aku sih?” Raja.
“Lebih baik kalian cepat hubungi presdir” sahut Suho, rata-rata para idol menyebut Subin dengan sebutan presdir.
Dengan malas Raja meraih ponselnya, lalu menghubungi pamannya tersebut, tidak sampai satu menit, panggilan itu berakhir.
“Paman akan datang kemari untuk melihat anak-anak itu dulu” kata Raja.
“Apa ini tidak merepotkan presdir?” tanya Suho.
Raja terkekeh mendengarnya “Jangan khawatir, paman pasti senang membantu anak-anak terlantar seperti itu, kami bahkan memiliki panti asuhan juga – kau tau itu kan?” kata Raja.
Suho mengangguk “Kalian hebat sekali ya, sudah banyak uang, suka menolong juga, tidak heran Fano jadi mentu keluarga kalian”
Fano menoleh pada Suho “Aku tidak sebaik itu”
“Iya, Fano tidak baik – adikku menyukainya karena dia tampan saja” sahut Raja, yang kemudian mendapat tendangan sayang dari Fano.
“Heh sakit!!” keluh Raja.
“Masih kurang?” tanya Fano, siap-siap untuk menendang Raja lagi, yang meski ditendang tidak bergeser sama sekali, Raja juga kuat.
.
__ADS_1
.
.