Sistem Kekayaan Hukuman

Sistem Kekayaan Hukuman
Berburu di dalam hutan


__ADS_3

.


.


Tidak hanya Arthur dan pengawalnya, rupanya Dojun, Peter dan Chrystal juga sudah ada di tepi hutan. Ketiga cucu Raynold itu membuat bingung Arthur dan beberapa pengawal dengan ponsel pintar yang mereka miliki.


Pasalnya, Chrystal sedang memotret Dojun, Dojunnya sendiri sudah seperti sedang pemotretan dengan tema pangeran tersesat dihutan. Karena Dojun memakai pakaian ala pangeran yang sangat – indah. Fano benci mengakuinya, tapi baju yang dia kenakan memang indah, terbuat dari bahan berkualitas tinggi, dengan dihiasi permata-permata asli. Jika pakaian itu dijual satu miliar, pasti Fano akan percaya.


Tapi yah ... baju seheboh itu bukanlah tipe Fano, mungkin Fano mengatakan pakaian itu indah, dia mengakuinya, namun untuk memakainya ... rasanya tidak.


Selain Dojun, Chrystal dan Peter juga berpenampilan ala pangeran dan putri seperti biasa. Oh iya, ada unicorn hitam dan coklat juga bersama mereka.


“Kalian ngapain pemotretan disini?” tegur Kaisar.


Ketiga cucu Raynold itu berhenti lalu mendekati Kaisar sambil memasang senyuman khas anak baik “Maaf Kaisar, kami bermain sebentar” kata Chrystal, kemudian dia melirik pada Fano dan terkekeh.


Fano mengernyitkan dahinya tidak mengerti, kenapa Chrystal terkekeh setelah melihat Fano? Apa ada yang lucu dari Fano?


“Ku mohon untuk tidak mengacau, Dojun – kenapa kau masih disini? Ku pikir kau sangat sibuk? Apa sedang liburan?” tanya Kaisar, sambil turun dari unicornnya. Fano sendiri tidak mau turun, dia sudah nyaman duduk di atas unicorn peraknya, namun kemudian Kaisar membantu Fano turun, terpaksa Fano pun turun.


Ugh – padahal Fano bisa sendiri.


Sekarang tidak hanya Chrystal, Peter juga mentertawakannya, bahkan fano bisa melihat Dojun tersenyum miring, mengejek padanya.


Ada apa mereka bertiga ini?


Apa Fano terlihat seperti badut di mata mereka? Ataukah mereka saja yang receh? Bodo amatlah, Fano tidak peduli mau mereka menertawainya atau apa.


“Aku ada libur sampai beberapa hari ke depan dan aku disini karena mau ikut pertandingan berburu” kata Dojun.


Hah? Fano tidak salah dengar? Dia ingin ikut berburu juga?


“Tidak cukup menantangku untuk ikutan casting, sekarang kau ingin bertanding denganku juga?” sahut Fano.


“Untuk apa kau menantang Fano ikutan casting, Dojun?” tanya Kaisar.


“Aku hanya ingin bermain-main dan dekat dengan Fano saja, tidak ada maksud lain, Fano saja yang baper” sahut Dojun.


“Oh, jadi ini sifat asli Dojun yang selalu dibilang malaikat oleh fans?” cibir Fano.


“Mereka yang melabeliku seperti itu, bukan aku” timpal Dojun.


“Iya, karena aslinya kau adalah iblis” sahut Fano.


“Fano hentikan!” teguran Kaisar tersebut membuat Fano terdiam, sekaligus tidak terima, kenapa hanya dirinya yang ditegur, padahal Dojun juga salah.


“Ah, maaf – aku tidak bermaksud marah padamu” tambah Kaisar.


“Biar saja, Fano memang kekanakan dan ngambekan, kau tidak perlu minta maaf, Kaisar” kata Dojun.


Fano hanya diam, lalu menarik unicornnya menjauhi mereka, entah mengapa Fano sangat kesal kali ini. Terutama karena Kaisar lebih berpihak pada Dojun.

__ADS_1


Sudahlah, keduanya memang sama saja, menyebalkan.


Fano yang bodoh karena berpikir dia bisa melihat Kaisar sebagai sosok ayahnya. Tentu saja, Kaisar bukan ayahnya, dia hanya cucu Raynold yang sama menyebalkannya dengan Dojun.


Apa Fano memang terlalu terbawa perasaan?


Ataukah dia memang sensi jika itu Dojun?


Dojun menyebalkan, Fano tidak menyukainya.


“Fano!”


Fano berhenti setelah mendengar suara Kaisar mendekat “Kau kenapa? Tidak biasanya kau seperti ini, apa kau lelah?” tanya Kaisar.


“Apa pedulimu? Cepat mulai acara ini sebelum aku merasa lelah” katta Fano.


Kaisar terkejut mendengar suara Fano yang terkesan dingin, dia mulai berpikir, apakah dia ada salah mengatakan sesuatu? Kenapa suasana hati Fano cepat sekali berubah?


“Baiklah, aku akan memulainya.”


Kemudian Kaisar mengumpulkan Fano, Arthur dan Dojun, meminta mereka bersiap diatas unicorn masing-masing, menjelaskan peraturannya sebentar, sebelum kemudian pertandingan di mulai.


Waktu hanya satu jam.


Dalam waktu satu jam tersebut, mereka harus berburu, memburu apapun yang ada, namun tidak boleh menyiksa binatang, harus diburu dengan benar. Setiap binatang memiliki poin sendiri sesuai dengan ukuran dan tingkat kesulitan dalam memburunya. Makin besar dan makin sulit, maka poin juga semakin banyak.


Fano tidak berpikir sama sekali, dia hanya memasuki hutan setelah mengatur alarm untuk empat puluh menit ke depan, bukan satu jam.


Dengan adanya Dojun, moodnya sudah hancur.


Fano juga lelah.


Semalam dia lembur untuk menghadiri pertandingan tidak penting ini, kemudian dini hari dia masuk dungeon. Fano sangat lelah, jadi hal itu berpengaruh terhadap emosinya. Mungkin karena itu juga dia jadi marah tanpa sebab yang jelas.


Tidak masalah, Fano juga jarang marah, dia ingin marah, dia ingin mengeluarkan semuanya, untuk apa ditahan?


Fano merasakan sesuatu bergerak diantara semak-semak, jadi dia bersiap-siap untuk menarik busur panahnya dan – oh! Seekor rusa!


Clep!


Fano berhasil memanahnya dengan baik, jadi bergerak mendekati rusa itu lalu turun dan –


Ggrrhhhh


Fano terperanjat, setelah tiba-tiba dari semak-semak tinggi muncul seekor beruang tinggi besar, ukurannya satu setengah kali tinggi Fano, beruang itu sangat-sangat besar.


Ngomong-ngomong, Fano sekarang 186 cm, jika memakai sepatu tingginya bisa berubah lagi menjadi


188-189 cm. Tapi Fano jarang sekali memakai sepatu dengan sol yang tinggi, tidak nyaman saja.


“Apa sih, tiba-tiba muncul, ngagetin aja!” bentak Fano, dia sudah tidak memiliki rasa takut meski beruang itu lebih besar dan lebih garang. Mood Fano sudah jelek, jadi dia sangat sensitif. Jadi tanpa pikir panjang, Fano memanah beruang itu juga.

__ADS_1


BRUK


Beruang pun langsung tumbang di tempatnya.


“Makanya jangan menyulut emosiku! Suruh siapa ngagetin tadi! Ah – aku mendapat beruang, pasti


dimasakin beruang deh ini” keluh Fano. Padahal dia ingin menghindari untuk mendapat beruang, takut dimasakkan beruang oleh Felix.


Fano tidak pernah mencoba, dan dia berpikiran buruk duluan, takut rasanya tidak enak.


“Bodo lah, simpan saja” Fano pun menyimpan rusa dan beruang hasil buruannya ke dalam kotak penyimpanan.


Karena Fano belum puas, dia kembali menaiki unicorn, untuk lalu lanjut jalan untuk mencari buruan baru lagi.


Selama perjalanan, Fano banyak menemukan rusa, dia juga menemukan harimau putih kecil yang sendirian, karena kasihan dengan anak harimau putih, Fano hanya membawanya dan tidak memburu. Seperti kucing, anak harimau menurut sekali pada Fano. Jika tidak ingat itu bernyawa, mungkin Fano akan mengiranya boneka, karena lucu dan bulu-bulunya juga halus, enak juga dipeluk begini.


Fano terus melaju, mencari induk atau kelompk harimau putih ini,  tapi tidak menemukan, Fano malah menemukan tiga serigala bertanduk warna abu-abu terang.


Fano berdecak kagum, bulu mereka yang berwarna abu terang sangat bagus, biasanya hewan yang memiliki.bulu sebagus itu akan diuru untuk dikuliti dan kemudian dijadikan jaket atau karpet.


Jika itu di bumi, pasti tidak boleh, tapi didunia ini sangat boleh.


Clep clep clep.


Tiga serigala itu tumbang begitu saja, jadi Fano memasukkan ketiganya ke dalam kotak penyimpanan.


Bayi harimau putih mulai merengek dalam gendongan Fano.


“Kenapa? Lapar? Nanti, aku tidak punya daging di kotak penyimpanan, nanti saat kita pulang, aku akan


memberimu makanan, tapi – kenapa aku tidak menemukan harimau putih lain? Kenapa hanya kau sendirian? Apa kau sepertiku yang tidak memiliki orangtua? Kenapa orangtuamu menelantarkanmu?” gumam Fano, meski dia tau bayi harimau putih tidak akan mengerti dengan ucapannya.


Dia mendekap bayi harimau itu semakin erat, sambil melajukan unicornya untuk kembali ke tepi hutan, karena ini sudah empat puluh lima menit waktu berlalu. Fano tidak tau apakah buruannya cukup untuk mengalahkan yang lain, namun Fano tidak peduli.


Fano hanya manusia biasa yang memiliki batas, dia sudah merasakan kelelahan.


“Fano!”


Fano mulai tersenyum melihat Lady Lydia, Lylac dan Queen datang untuk menyambutnya. Kemudian Fano turun, mereka tercekat melihat Fano membawa seekor bayi harimau putih.


“Apa kalian memiliki makanan untuknya?” tanya Fano.


“Fano, dari mana kau menemukan bayi harimau putih ini?” sahut Queen.


“Dari dalam hutan, dia sendirian dan menangis, aku sudah berusaha menemukan orangtuanya tapi – tidak ada harimau putih lain” kata Fano.


Lylac mengambil alih harimau putih itu “Baiklah Fano, istirahat dulu di dalam tenda, Kaisar membuatkan tenda untukmu, kau pasti lelah.”


Fano menguap, benar, dia sangat lelah.


.

__ADS_1


.


__ADS_2