
.
.
Yoshi menutup mulut dan hidungnya dengan tangan rapat-rapat “Huek – kalian saja yang menangani hal
ini, aku akan keluar dan menunggu pak polisi datang” setelah itu Yoshi segera berlari keluar dari apartemen kecil yang mereka datangi ini.
Fano, Lylac, Yoshi dan Jungyu jadi berangkat untuk menangkap penculik. Mereka kembali ke jalanan besar dan padat di Shibuya. Lylac berpura-pura menjadi gadis lugu yang tersesat, sementara itu yang lain mengawasi dari jauh.
Benar saja penculik itu mendekati Lylac, dia seorang laki-laki, menggunakan hoodie hitam. Dari auranya
saja Fano bisa melihat aura suram itu, sangat gelap dan mengerikan. Fano saja dapat melihatnya setelah mengaktifkan skill mata kebenaran. Itu skill yang
hanya dapat digunakan cuma satu jam, harus membayar 10 koin pula. Tapi Fano membelinya karena penasaran.
Tapi berkat skill itu Fano dapat melihat siapa saja orang baik dan jahat dari auranya. Aura manusia dapat dilihat dan terbagi menjadi berbagai warna, semakin gelap, maka semakin jahat lah orang itu.
Yoshi memiliki aura kuning terang, itu artinya dia sangat baik meski pernah memiliki pikiran buruk juga. Kalau Jungyu auranya jingga, itu artinya dia netral, baik, tapi juga bisa jadi jahat.
Fano sendiri memiliki aura merah, Fano sudah bersyukur meski itu artinya dia agak jahat, yang penting tidak hitam gelap seperti pria dengan hoodie itu.
Pria itu terus berjalan membawa Lylac menuju apartemen kecil, Lylac terus merengek pura-pura lemah dan tidak bisa melawan, Fano merasa Lylac sekarang sedang cosplay menjadi Abel, kecurigaan Fano itu dikuatkan dengan pendapat Yoshi. Yoshi juga berpikir tingkah Lylac mirip dengan Abel, dan Yoshi merasa kesal, sedangkan Jungyu hanya terkekeh untuk menanggapinya.
Setelah sampai di depan pintu apartemen dan pria itu telah membuka pintu, Lylac berhenti pura-pura lalu membuat pria itu pingsan. Baru kemudian Fano menelfon polisi membuat sebuah laporan.
Jungyu menggotong pria itu ke dalam apartemen, rencananya ingin mengikatnya di sebuah kursi lalu saat dia siuman akan diinterogasi.
Akan tetapi, saat mereka sudah memasuki apartemen itu, bau menyengat langsung dapat mereka cium. Bukan hanya itu, di atas meja besar juga terdapat potongan tubuh manusia. buru-buru Fano membuat laporan kedua.
Yoshi sebenarnya bertugas untuk merekam semua kejadian, mulai dari Lylac diculik sampai di bawa ke apartemen, Yoshi juga merekam isi apartemen yang mengerikan.
Namun dia tidak kuat, mual dan kabur.
Fano tidak heran sih, aura Yoshi kuning terang, dia orang baik, bisa trauma jika melihat hal-hal yang mengerikan begitu. Beda dengan Fano yang sudah biasa.
Oh iya, aura Lylac ... tidak punya. Mungkin karena bukan sepenuhnya manusia, jadi tidak punya, atau bisa jadi Lylac menyembunyikan auranya.
PLAK
Fano menampar pria itu, pembunuh seperti itu sangat diperbolehkan untuk dibunuh. Tapi tidak, Fano tidak akan membunuhnya, sayang sekali kalau dibunuh, dia harus menderita dulu.
Pembunuh itu perlahan tersadar, Fano memberikan banyak pertanyaan tapi pria itu memilih bungkam. Lylac yang kesal berkali-kali memukul kepalanya, sampai pingsan lagi.
__ADS_1
Hingga beberapa saat kemudian Yoshi kembali lagi bersama pihak yang berwajib, mereka kembali berterimakasih pada Fano dan teman-temannya. Kemudian Fano menceritakan kejadian sebenarnya kenapa dia sampai mengincar dan ingin menangkap langsung pria itu, tentu saja karena pria itu hampir menculik Noa.
Setelah menjelaskan semua kejadian dan menunjukkan barang bukti berupa rekaman milik Yoshi, Fano memilih berpamitan, karena Yoshi sudah tidak tahan lagi.
Kepolisian ingin memberkan Fano dan teman-temannya penghargaan, namun Fano menolak dan meminta polisi untuk merahasiakan identitas mereka. Pak polisi mengerti, karena memang Fano
orang yang terkenal, jadi tidak heran jika memiliki privasi yang harus dirahasiakan.
“Kau baik-baik saja?” tanya Fano setelah urusan mereka selesai dengan pembunuh berantai dan juga polisi.
Kini mereka sudah jauh dari apartemen itu, namun Fano kembali khawatir melihat wajah pucat Yoshi.
Jangan-jangan bocah itu trauma dengan kejadian yang baru dia alami. Apalagi saat sudah ada polisi, beberapa tempat juga di geledah.
Mereka membuka lemari pendingin dan menemukan potongan kepala gadis yang menurut Sahi menghilang itu.
Fano tidak bisa membayangkan betapa sedihnya keluarga korban setelah mendengar putri mereka sudah tidak benyawa dan terlebih lagi telah dimutilasi sedemikian rupa.
Sekarang Fano sudah mengerti, sangat mengerti betapa kejamnya dia dahulu. Pasti keluarga dari semua korban Albert juga merasa seperti itu.
Bukannya menjawab Yoshi malah berjongkok “Aku menyesal mengikuti kalian” kata Yoshi.
“Maaf, seharusnya aku mengajak Jehyuk” sahut Fano, namun Yoshi menggeleng “Tidak, tidak apa, aku hanya – sedikit mual, aku –”
“Hamil?” tanya Jungyu, Yoshi langsung melirik Jungyu dengan lirikan sadis “Jika aku hamil memangnya itu anak siapa hah? Aku laki-laki!” balas Yoshi.
Yoshi kembali berdiri “Aku tidak bisa membayangkan dihamili Abel, itu jauh lebih mengerikan dari pada isi apartemen tadi” kata Yoshi.
Kemudian Fano merangkul bahunya, yang langsung diterpis oleh Yoshi “Jangan pegang-pengang! Kau tadi menyentuh pembunuh itu kan?” protes Yoshi.
“Maaf deh, dikit aja kok” Fano.
“Gak-gak, nanti aku ketularan rabies” Yoshi.
Sebuah mobil datang untuk menjemput mereka, itu adalah mobil yang kakeknya Yoshi minta untuk menjemput dan mengantarkan mereka ke tempat ini.
Jadi mereka memasuki mobil itu dan kembali ke hotel.
Tidak ada pembicaraan lagi diantara mereka, semuanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Bahkan sampai mereka sampai di hotel pun masih tidak ada pembicaraan, sampai kemudian Fano menyeletuk.
“Yoshi tidak mau kembali ke Indonesia? Aku tau keadaanmu sedang tidak baik untuk langsung kerja” kata Fano.
Yoshi berbalik menatap Fano “Kau memberiku libur lagi?” tanya Yoshi.
__ADS_1
“Hanya dua harian aku di Indnesia, kali aja kamu kangen sama Abel”
Yoshi mengangguk “Mau deh, aku kangen Abel, aku jadi kepikiran dia setelah melihat kepala gadis itu, aku takut ... bagaimana jika itu Abel?”
Fano menepuk bahu Yoshi pelan “Abel itu sangat kuat meski seperti bocah dan manja, jadi pasti Abel bisa melawan” kata Fano, berusaha untuk menenangkan Yoshi.
Karena jika itu Abel yang diculik, pasti penculiknya mati duluan setelah kena panah cahaya dari Abel.
Tapi kan, Yoshi tidak tau itu, wajar dia khawatir.
Lylac kembali ke kamarnya, Fano juga sudah ingin membuka kamar hotelnya, namun teriakan Lylac membuat mereka terkejut. Buru-buru Fano dan Yoshi menghampiri Lylac, sementara Jungyu sih bodo amat, dia langsung menghampiri para bocah yang sedang main game, mereka sedang batle.
“Ada apa sih?” tanya Fano.
Kemudian Fano speachless melihat pemandangan tidak senonoh di depannya.
“Jehyuk! Kenapa kau letakkan Fira di atas kasur hah?! Kan jadi basah, bodoh!!” Lylac menghampiri Jehyuk lalu memukulinya dengan tas tangan yang dia bawa tadi.
Fano jadi khawatir dengan tas itu.
“Apa yang terjadi, Fira?” tanya Fano.
“Aku ... anu – itu ... energi ku habis dan ... tiba-tiba berubah lagi, Fano berikan energi lagi!”
Fira duduk diiatas ranjang, dengan kaki yang sudah berubah menjadi ikan. Lylac berteriak karena takut ranjangnya basah, sementara Fano kaget karena Jehyuk melepas gaun Fira saat dia masuk kamar.
Saat ini Fira masih memakai branya, tapi tetap saja tidak senonoh bukan?
“Aku mau memasukkannya ke bak mandi biar tidak kehabisan nafas! Jadi gaunnya ku lepas, mohon untuk tidak berpikiran buruk!” kata Jehyuk untuk membela dirinya sendiri.
“Tapi jangan didudukin di atas ranjang juga dong! Kan basah!” protes Lylac lagi.
“Jadi, Fira ini seekor duyung?” tanya Yoshi.
“Seekor utu agak kasar, dia setengah manusia kok, ayahnya manusia” sahut Lylac “Tidak perlu dimasukkan bak, tinggalkan saja dia denganku, kalian semua pergi!” tambah Lylac.
“Tapi –” Jehyuk.
“Tidak ada acara modus, pergi kalian! Jangan pelototi dada Fira terus! Dasar lelaki!” Lylac.
Fano pun menyeret Jehyuk dan Yoshi untuk pergi dari kamar itu.
Banyak kejadian yang terjadi hari ini, Yoshi mungkin sudah stress saking terkejutnya dia. Yang membuat Fano heran, Jehyuk biasa saja melihat Fira berubah menjadi duyung.
__ADS_1
.
.