
.
.
Fano terkekeh pelan “Hahaha pergi dari rumah? Haruskah aku mengumpulkan saksi di rumah sakit? Apakah mereka semua kompak membohongiku? Lalu bagaimana bisa semua barangku ada di gudang? Sudahlah, kalian tidak perlu pura-pura bodoh denganku, aku ini tidak lupa ingatan”
“Bocah kurang ajar! Kau sudah berani dengan bibimu?” teriak bibinya Fano, dia bahkan ingin berdiri dari duduknya, tapi pamannya Fano menariknya kembali untuk duduk.
“Bibi? Apa aku masih bisa menyebut anda bibi? Anda tidak pernah bertingkah seperti layaknya seorang bibi, haruskah aku memanggil anda seperti itu? Saya rasa tidak” balas Fano.
“Fano! Dasar anak durhaka!” teriak bibi lagi.
Suara tawa Fano semakin keras “Hahaha durhaka? Lucu sekali.. jika seperti itu ku rasa kalianlah yang durhaka padaku, kalian tidak hanya mengambil semua harta warisanku, tapi juga menyiksaku, membuatku mengerjakan semua pekerjaan rumah – sebenarnya itu tidak masalah sih, tapi kalian juga sering memukuliku. Aku masih ingat luka di dahi karena mangkuk keramik yang anda lempar padaku, aku sangat kesakitan tapi kalian tidak peduli bukan? Aku bersyukur karena luka itu tidak membekas, membekasnya hanya di dalam hatiku saja.
Tidak cukup sampai disana, kalian juga sering menghinaku sampai aku depresi, aku berusaha mencari uang tambahan untuk menutupi kekurangan biaya sekolah tapi masih diambil juga. Sebenarnya kalian ini manusia atau tidak sih? Ayah yatim piatu yang seharusnya dilindungi malah diambil semua hartanya dan juga dipukuli setiap hari.
Sekarang aku telah kalian usir, mendapat pekerjaan yang bagus dan mendapat uang lalu kalian bisa seenaknya mendatangiku dan meminta semua uangku. Apa itu masuk akal?”
Semua keluh kesah dan kesedihan Fano yang asli telah diutarakan. Sesungguhnya Fano sangat kasihan dengan Fano yang asli.. hidupnya sangat sulit dan menyedihkan. Yang membuat semakin sedih adalah sosok keluarga yang harusnya melindungi malah jadi musuh utama.
Ini sangat miris.
“Bilang saja jika kau egois dan tidak ingin memberi kita sepeserpun” celetuk sepupu Fano. Paman Fano melirik putranya yang sama sekali tidak tergerak karena pidato panjang dari Fano barusan.
Hanya seperti angin lalu, tidak dipedulikan.
“Bukankah kalian ingin aku tidak berurusan dengan kalian lagi? Jadi untuk apa kalian mendatangiku, mari hidup sendiri-sendiri mulai sekarang, aku tidak akan menyinggung kalian” kata Fano, dia sudah lelah karena bicara panjang lebar juga percuma, hati mereka sudah mengeras dan tak bisa diluluhkan kembali.
“Kami saat ini sedang kesusahan uang, memiliki banyak hutang dan sebagian besar juga karena merawatmu, paling tidak kau harus membayar biaya merawatmu selama ini” kata bibinya Fano, paman sudah ingin menghentikannya tapi tidak bisa.
Yang asli kerabat Fano adalah pamannya, dia sudah terlihat tidak enak dengan Fano. Lagipula selama ini yang banyak berbuat jahat cuma istri dan sepupu Fano saja sih, meski paman juga ikut-ikutan. Jadi sama saja sebenarnya.
“Jadi aku harus membayarnya? Padahal semua harta warisan dari orangtuaku sudah kalian makan juga kan? tapi baiklah, aku bukan orang jahat dan tidak tau malu seperti kalian, jadi aku akan membayar hutang kalian, berapa nominalnya? Dimana aku harus membayarnya?” kali ini Fano menatap pamannya dengan tajam.
Fano serius ingin membayar semua hutang mereka, toh uang juga tidak jadi masalah bagi Fano. Untuk apa juga menimbun banyak uang kan?
Fano hanya ingin mereka pergi segera dari kehidupannya, dia tidak tahan melihat mereka lebih lama lagi.
Paman mengeluarkan sebuah dokumen.
Di dalamnya tertulis semua hutang mereka beserta bunganya sekalian, Fano cukup lega karena ukan berhutang pada rentenir tapi bank. Jika dengan rentenir urusannya akan lebih rumit. Tapi bukan berarti hutang dengan bank lebih baik, karena bunganya juga sama saja, besar.
__ADS_1
Semua hutang dan bunganya itu adalah 85 juta.
Kenapa mereka bisa hutang sebanyak ini?
“Kenapa bisa sebanyak ini?” tanya Fano.
“Kau tidak punya uang segitu?” tanya sepupu Fano dengan nada yang kurang mengenakkan seperti dia sedang meremehkan Fano. Jadi Fano menatapnya remeh juga “Kau kemari untuk meminta uang padaku, tidak pantas berbicara seperti itu”
Sepupu Fano menciut mendengarnya, Fano benar-benar berubah, yang sekarang jauh lebih menakutkan dan seperti berbeda dengan yang dulu.
Apa ini sungguhan Fano?
“Aku dipecat dari pekerjaanku, jadi hutang tertimbun sebanyak itu, karenanya aku terpaksa meninggalkanmu di rumah sakit, karena kami sudah tidak punya uang” kata pamannya Fano.
“Begitu ya, aku akan memberi seratus juta untuk membayar hutang sekaligus agar paman bisa mencari pekerjaan yang baru, ingat! Sisa uang untuk paman, mencari pekerjaan! Aku tidak mau kalian datang padaku lagi untuk uang, kita sekarang hidup sendiri-sendiri”
Fano mengembalikan dokumen itu lagi, kemudian mentransfer uang seratus juta ke rekening pamannya.
Fano kemudian menoleh pada sepupunya “Jangan jadi pecundang, carilah pekerjaan, kau tidak malu denganku? Yang dulu selalu kau sebut pecundang dan tidak berguna ini bisa menghasilkan sampai seratus juta sebulan, kenapa kau tidak bisa?”
Sepupu Fano terlihat ingin marah tapi paman menghentikannya, semua ucapan Fano benar. Pamannya sadar mereka salah selama ini, sekarang dia malu karena meminta bantuan Fano. Terlebih lagi setelah semua perlakuan mereka Fano masih mau membantu bahkan memberi uang untuk modal usaha.
Paman meminta istri dan putranya pergi duluan, setelah itu paman menghadap Fano.
“Terima kasih Fano, maaf selama ini aku menjadi paman yang buruk untukmu”
“Pergilah paman, selagi aku masih memanggilmu paman... jangan temui aku lagi setelah ini, aku hanya ingin mendengar kalian pergi menjauh dariku” kata Fano.
Paman pergi setelahnya dengan rasa bersalah pada keponakan satu-satunya itu.
Fano kembali terduduk di sofa, kepalanya menunduk dalam.
Kedua tangannya terkepal kuat.
Dia sudah mati-matian menahan diri untuk tidak berbuat lebih. Fano sangat marah dengan kelakuan mereka, terutama dengan bibi dan sepupunya itu.
Fano ingin membalas, ingin memukul balik, ingin mencaci balik.
Tapi tentu saja dia tidak bisa melakukan itu atau sistem akan menghukumnya.
Keterlaluan sekali bukan?
__ADS_1
Jika mereka sedang susah dan butuh bantuan paling tidak pura-pura baik di depan Fano, mereka sedang meminta pada Fano! Tapi apa yang mereka lakukan? Mereka masih mencaci Fano dengan mulut kotor mereka.
Astaga... Fano yang asli sangat teramat baik pada mereka.
Kenapa Fano yang asli tidak lari saja sih? Kenapa dia dulu bertahan dalam keluarga seperti itu? Itu lebih buruk dari kisah Cinderella.
Apalagi akhirnya tidak bahagia, Fano tidak bahagia... dia sudah pergi.
Yang ada sekarang hanyalah Albert dalam tubuh dan ingatan Fano saja.
“Kak Fano...”
Tiba-tiba ada yang memeluk Fano dari sisi kiri dan kanan, ternyata Dave dan Wawan.
“Kenapa kalian disini sih?” tanya Fano.
Dave dan Wawan sama-sama menatap sendu pada Fano.
“Kenapa kalian menatapku seperti itu? Aku baik-baik saja kok” kata Fano, berusaha untuk tersenyum di depan mereka.
“Kak Fano tidak perlu menahannya, kami mendengar dan merekam semua percakapan kalian” kata Wawan.
“Kami tau apa yang terjadi pada kak Fano... kak Fano terlalu baik pada mereka” sahut Dave.
“Seharusnya tidak perlu diberi uang, mereka akan ngelunjak nantinya kak!” tambah Wawan.
Fano terkekeh pelan melihat malah mereka yang lebih sedih darinya.
“Aku melakukannya karena dia masih pamanku, aku tidak peduli dengan istri dan anaknya paman. Bagaimana pun dulu ayahku bisa sukses berkat dukungan paman juga, hanya saja paman memilih istri yang salah” kata Fano.
Dua bocah itu kembali memeluk Fano dari samping.
“Kak Fano terlalu baik..” Dave.
“Karena ini aku suka kak Fano” Wawan.
“Aduh, aku sesak nih..” keluh Fano.
Bukannya melepas, mereka malah makin erat memeluk Fano.
“Uhuk! Hei!”
__ADS_1