
.
.
Sampai rumah hari sudah mulai gelap, Fano berencana untuk mencari portal yang dimaksud raja dengan segera. Karena jika ada orang lain yang menemukannya selain dia akan berbahaya.
Fano berhenti berjalan saat melihat ketiga temannya bukan pergi ke atas untuk istirahat, malah pergi ke ruang kerja.
“hey hey, kalian mau kemana?” Tanya Fano, yang sudah berada di tengah tangga menuju lantai dua.
“kita masih penasaran dengan kim Yena” kata Yoshi.
“kita akan mencari tau siapa dia sebenarnya, pasti ada petunjuk” sahut Jehyuk. Fano memutar bola matanya malas.
Memang tadi saat yoshi memeriksa cctv di ruangan yang digunakan kim Yena atau si kostum putri, rekamannya tidak ditemukan, bahkan cctv di sekitar ruangan itu juga tidak ada.
“lalu jungyu? Kenapa ikut juga?” Tanya Fano lagi.
Jungyu mengedikkan bahunya “mungkin karena aku juga penasaran, istirahatlah Fano, kau pasti capek, jika kau mencari, kita ada di ruang kerja”
Fano mengangguk “okay, good luck!”
Fano melanjutkan perjalanannya menuju lantai atas.
“Papa!”
Fano berhenti di ujung tangga, seperti ada yang salah. Kemudian dia menunduk, menatap jisung yang masih dia gendong. Hebat sekali bayi satu ini, dia tidak rewel sama sekali meski dibawa seharian. Namun dia sudah mengantuk.
Fano tersenyum pada jisung “jisungie, aku akan memeriksa loteng, kamu tidur ya? Aku akan memberimu pada kakak maid” kata Fano, dengan nada lembut. Bayi itu mengangguk pelan, fano cukup terkejut melihat reaksi itu. Fano mengedipkan matanya berkali-kali, masih belum percaya jisung membalasnya dengan anggukan kepala.
“Kau mengerti ucapanku?” Tanya Fano.
“Bububu” jisungnya hanya menggumam dan menunjuk-nunjuk kamar.
“Baiklah, kita ke kamar dulu”
Fano menitipkan jisung pada pelayan di rumahnya, baru kemudian lanjut pergi ke loteng.
Loteng ya?
Fano tidak pernah main jauh-jauh sampai ke loteng walau ini mansion miliknya. Ternyata ada loteng, bersih juga. Tempatnya seperti gudang karena banyak barang yang tidak dipakai.
Tidak mau susah-susah berpikir, Fano memilih untuk membuka layar sihir, kemudian memilih pencarian sihir. Layar akan dengan otomatis menemukan seseorang atau sesuatu yang memiliki energi sihir.
Ketemu.
Fano berdiri di depan sebuah cermin besar yang masih tertutup kain lebar warna merah gelap. Cermin itu besarnya satu setengah tinggi fano, lebarnya dua sampai tiga kali lebar Fano. Itu artinya sangat besar.
Bagaimana bisa ada cermin sebesar ini disimpan di loteng?
Fano menarik kain merah gelap yang menutupi cermin, kemudian terbatuk-batuk karena ternyata kainnya agak berdebu, untungnya tidak banyak, jadi tidak parah.
“UHUK! Kain ini harus dicuci dulu sepertinya”
Fano bisa melihat cerminnya mengeluarkan cahaya setelah Fano menyentuh permukaan cerminnya, mungkin portal membuka setelah bereaksi terhadap energi sihir Fano.
[Selamat! Anda telah menolong penglihatan seorang gadis yang buruk!]
__ADS_1
[Anda mendapatkan 40 poin dan 5000 koin!]
Oh! Gadis pelayan yang tadi? Mungkin dia baru memakai obatnya, syukurlah jika penglihatan gadis itu membaik setelah ini. Mungkin Fano harus memberi semua karyawannya obat itu. Harga obat cukup murah kok, satu koin akan mendapat kan 5 obat. Itu artinya satu obat berharga seratus ribuan.
Ini adalah misi manual yang Fano usahakan sendiri, boleh juga. Jika Fano memberi pada seluruh karyawan, mungkin dia akan lebih mudah mendapatkan poin.
OH IYA!!
Fano pikir apa yang dia lupakan tadi, ternyata Lylac!
Apakah Lylac sudah bangun ya?
Nanti saja dulu memikirkan itu, lebih baik Fano masuk portal dulu. Fano mengulurkan tangannya untuk masuk portal, tiba-tiba sesuatu dari dalam menarik tangannya dengan cepat. Fano sudah panik, namun setelah dia masuk dan keluar dari portal, dia sudah berada di dunia yang berbeda.
“FANO SELAMAT YA!!”
Ternyata yang menariknya adalah Queen, dia memakai gaun yang cantik ala seorang putri, dengan pita besar tersampir di tubuhnya, dan juga balon-balon yang terikat di lengannya.
Setelah Fano mengedarkan pandangannya, dia ternyata ada di taman yang berada di istana Fleurazia. Taman ini makin cantik karena ada cahaya-cahaya yang menghiasi taman, seperti kunang-kunang, tapi bukan kunang-kunang, seperti lampu, tapi bukan lampu juga. Sepertinya itu sihir, Fano tidak terlalu paham.
Selain Queen, juga ada Raja, Kaisar, dan Lady Lydia.
Ada meja yang di atasnya terdapat berbagai makanan, untungnya Fano tidak makan banyak di restoran, sebagian besar makanan seharga dua juta lima ratus ribu won itu dimakan oleh teman-teman Fano.
“Kenapa kalian memberiku kejutan seperti ini?” tanya Fano.
“Karena Fano memenangkan pertandingan! Itu sangat luar biasa” kata Lady, dia mendekati Fano sambil tersenyum bahagia.
Melihat mereka bahagia, Fano jadi ikut bahagia, padahal Fano tidak terlalu gembira karena memenangkan pertandingan itu. Entahlah, Fano memang senang, tapi itu karena dia mendapat banyak poin, bukan karena menang.
Namun, melihat mereka membuat kejutan kecil seperti ini Fano senang juga.
Namun Queen bergerak untuk memeluknya.
“Selamat ya Fano, aku senang kau menang! Apa kau tau kenapa aku berdandan seperti ini?” tanya Queen.
“Eum ... tidak?” Fano.
“Karena aku adalah hadiah untukmu!” kata Queen.
Fano terkekeh mendengarnya, kemudian dia membalas pelukan Queen “terimakasih, aku suka sekali hadiahnya!”
Setelah itu mereka makan, katanya itu semua buatan Queen dan Lady Lydia. Mereka juga menjelaskan jika Kaisar dan Lady sudah baikan. Kaisar juga mengatakan dia ingin mulai menerima Fano, jadi Fano
juga akan mulai menerima Kaisar.
Lalu Raja mengatakan jika dia seperti obat nyamuk disana, karena dia sendiri yang tidak memiliki pasangan.
“Ya udah cari pasangan sana!” kata Queen.
“Mana bisa? Dia kan pangeran mahkota, tidak bisa sembarangan” sahut Kaisar.
“Apa Raja akan dijodohkan dengan seorang putri?” tanya Fano.
Raja terlihat malas dengan pertanyaan Fano, dia berdecak kesal.
Jadi Kaisar yang menjawabnya “sebenarnya iya, karena dia kan calon Raja, jadi pasangannya akan dipilih seorang putri yang sesuai, yang bisa membantu dia untuk memimpin kerajaan, yah ... seperti itulah. Tapi Raja masih bisa memiliki selir kok, jadi tidak masalah”
__ADS_1
“Tapi aku tidak suka itu! Putri-putri disini menyebalkan semua! Aku maunya Cherin!” balas Raja.
“Cherin siapa?” tanya Lady.
“Ada, dia seorang gadis yang cantik dan lemah lembut – Cherin apa kabar Fano? Baik kan dia?” Raja malah menanyai Fano.
“Cherin? Dia sibuk untuk mempersiapkan comeback, full album, belum lagi ada syuting dan pemotretan beberapa brand. Wonhi saja jarang main ke mansion sekarang” jawab Fano.
“Untuk apa dia masih main ke mansionmu?” tanya Queen, Fano menoleh padanya lalu tersenyum “Jangan khawatir, dia main bersama anak-anak Ether, kadang juga ada proyek bersama, kau sendiri kapan sudah bisa bekerja denganku?”
Queen tersenyum cerah “sebentar lagi urusanku selesai, jangan khawatir! Oh iya, kapan kau akan berangkat ke Jepang? Bersama Noa kan?”
“Iya, aku agak gugup bertemu kakeknya Yoshi” kata Fano.
“Kata kakek, kakeknya Yoshi itu temannya kakek” celetuk Raja, Fano menoleh bingung padanya.
“Gini Fano, kakek kan punya teman, nah, temannya kakek itu kakeknya si Yoshi – duh gimana sih?” Raja.
“Oke oke aku mengerti” Fano.
“Habis ini kau ikut aku ya Fano, ada sesuatu yang akan tu tunjukkan padamu” kata Raja.
“Apa itu? Kok aku gak tau” sahut Queen.
“Kau tidak boleh tau, ini hanya untuk Fano, tidak penting bagimu, tapi penting bagi Fano” balas Raja.
Melihat senyuman Raja, Fano jadi penasaran hal penting apa yang ingin dia tunjukkan.
Setelah makan malam singkat selesai, Raja buru-buru menyeret Fano menjauh, sebelum Queen tau dan sadar.
“Sebenarnya apa yang ingin kau tunjukkan sih?” tanya Fano.
“Lylac, kau tidak kangen? Kita ke Floutessia”
Setelah sampai di lorong sepi mereka berhenti, Raja membuka portal lalu menyeret Fano untuk memasukinya.
Mereka dalam sekejab sudah berada di depan kastil Floutessia yang indah. Meski pernah melihat dan pernah memasuki, Fano masih saja kagum melihat kastil itu.
“Ayo!”
Raja kembali menarik lengan Fano untuk memasuki kastil. Fano heran, kenapa jadi Raja yang sangat bersemangat sih? Fano kan capek juga ditarik-tarik, mana dia habis manggung kan hari ini.
“Hey pelan-pelan Raja! Elah!”
“Hehehe”
Raja pun melepas lengan Fano, selanjutnya mereka berjalan biasa saja menuju kamar Lylac, kamar yang sama dengan yang waktu itu mereka kunjungi.
Hingga akhirnya mereka sampai di depan kamar.
Tiba-tiba Fano merasa gugup.
“Ayo cepat buka pintunya” bisik Raja, Fano menoleh malas pada Raja, ingin bertanya lagi kenapa dia bisa lebih bersemangat dari Fano, tapi Fano hanya menahannya dan memilih untuk membuka pintu itu dengan perlahan.
Pintu pun terbuka dan ....
“Kalian sudah datang?”
__ADS_1
.
.