
.
.
Fano dan Angel baru saja mengunci gembok mereka di salah satu tempat. Di namsan ada banyak gembok yang ditempelkan disana, menjadi salah satu ciri khas tempat ini. Biasanya di gemboknya ditulisi harapan kita.
Kalau Fano sih hanya menuliskan ‘terima kasih atas kesempatan kedua’, Fano tidak tau Angel menuliskan apa, dia pun juga tidak tau dua bocah yang mengikuti mereka menuliskan apa. Yang pasti Wonhi dan Noa bertengkar terus, Noa ingin melihat Wonhi menuliskan apa di gemboknya, tapi Wonhi menolak, lalu saat Wonhi ingin tau Noa menuliskan apa, Noa juga menolak.
Hingga Fano dan Angel sudah menempelkan gemboknya, dua bocah itu baru selesai.
Setelah menempelkan gembok, mereka berfoto disana, beberapa orang mengenali mereka, tapi mereka tidak peduli. Meski begitu Angel, Wonhi dan Noa tetap tersenyum ramah pada mereka.
Selain gembok, mereka juga melihat-lihat kota Seoul menggunakan teropong, mereka juga menyewa hanbok dan berfoto. Setelah hari semakin gelap dan mereka capek serta lapar, mereka lanjut lagi pergi restoran untuk mencari makan.
Oh iya, mereka tidak berangkat hanya berempat, Fano tidak memiliki SIM disini, jadi dia tidak boleh mengendarai. Tapibsebenarnya jika Fano mau, sistem bisa memberi Fano SIM khusus negara ini. Namun menurut Fano, jangan sekarang, mungkin nanti jika dia memang akan lama berada disini.
Karena itu, ada supir yang mengantar mereka. Itu adalah supir kepercayaan keluarganya Subin. Menurut perkiraan Fano, mungkin itu butler milik keluarga Raynold. Karena wajahnya yang tampan, dan juga kelihatan gesit dan cekatan, dia juga menjelaskan banyak hal dengan baik seperti orang yang sangat terpelajar.
Sudah pasti itu butler.
Supir itu juga merekomendasikan salah satu restoran dengan makanan terbaik, meski harganya tidak main-main juga, tapi tidak masalah. Uang bisa dicari, koin pun bisa dicari, mengeluarkan uang tidak masalah bagi Fano, yang penting kebahagiaan dan kebersamaan.
Setelah kenyang, tentu saja mereka pulang. Wonhi dan Noa tidak mau pulang ke asrama mereka. Alasan Noa sih, karena teman-temannya tidak ada di asrama, banyak yang pulang ke rumah masing-masing, kalaupun Noa kembali ke asrama disana dia akan sendirian. Mungkin teman-temannya pulang besok pagi.
Wonhi sebenarnya bisa saja pulang ke rumahnya, tapi dia bilang rumahnya biasanya sepi, orangtuanya juga sibuk.
Makin ramailah apartemen yang Fano tempati.
Harusnya apartemen ini adalah apartemen yang besar, namun rasanya jadi sempit sekarang.
“OMG NOA!!!” Vivi yang melihat Noa memasuki apartemen langsung heboh, membuat Noa terkejut, bocah itu langsung bersembunyi di balik tubuh besar Fano.
“Vivi yang tenang, kau membuatnya takut” sahut Dave dari sebrang ruangan.
Di apartemen masih ada Jehyuk dan baby Jisung, mereka bermain bersama Wawan dan Bella juga. Tadi mereka ini pergi ke taman bermain bersama Jungyu juga, jadi tidak aneh jika pulang-pulang membawa banyak boneka dan mainan, oh.. dan banyak camilan.
“Hehe, maaf ya Noa, silahkan masuk... oh! Ad Wonhi juga, hallo!” teriak Vivi lagi, Wonhi hanya menunduk malu-malu. Baru kali ini dia bertamu di rumah orang, terlebih isinya orang asing semua.
Kemudian Wonhi berhenti saat sadar Dave menatapnya lekat, dia jadi berdebar-debar dan takut melakukan kesahalan, tapi kemudian Vivi menarik lengannya untuk bergabung dengan yang lain.
Membiarkan mereka di ruang tengah, Fano pergi ke kamarnya, rencananya ingin mandi karena dia merasa gerah – tunggu!
Fano berbalik, dan melihat Noa ada di belakangnya “Kenapa mengikutiku? Mainlah dengan yang lain” kata Fano.
Noa menggeleng pelan.
“Kau malu?” tanya Fano, Noa mengangguk.
Fano terkekeh kemudian mengusak rambut pirang Noa “Jangan takut, mainlah dengan mereka”
“Noa!” Yoshi masuk kamar dengan senyuman lebar “Kenapa?” tanya Yoshi ketika menyadari Noa tidak tersenyum.
“Tidak ada, Noa hanya malu bersama yang lainnya” kata Fano.
“Oh, begitu... jangan malu, Vivi agak berisik, tapi dia baik kok, ayo sini sama aku... Noa mau puding mangga?” tawar Yoshi, Noa pun mengangguk dan akhirnya mau mengikuti Yoshi pergi dari kamar Fano.
Fano pun bisa bernafas lega.
Tidak seperti rencana awal, Fano bukannya mandi, dia malah memilih berbaring di ranjangnya. Menggunakan skill fast change, dia mengganti pakaian formalnya dengan baju santai berupa kaos dan celana training biasa.
Fano menatap langit-langit, tapi sebenarnya dia hanya menatap kosong. Di dalam pikirannya ada banyak hal, seperti toko Floutesse beauty yang akan segera dikerjakan, lalu bagaimana caranya agar dia bisa mengalahkan Yohan... atau membuat Yohan batal bertunangan dengan Angel.
Apa yang harus Fano lakukan untuk itu?
__ADS_1
Sepertinya Fano akan lama berada di negara ini.
Terdengar suara ponsel berdering, Fano meraih ponselnya yang tergeletak di samping tubuhnya, ada telfon dari Queen, Fano langsung mengangkatnya.
“Queen?”
“Fano, bagaimana disana? Semuanya beres?”
“Hmm, tidak ada masalah, hanya saja... aku tidak tau apa yang harus ku lakukan untuk membuat pertunangan Angel dengan Yohan batal”
“Ku rasa itu tidak mudah, tapi kau bisa saja menjebak Yohan”
“Menjebak?”
“Iya menjebak – apa ini? Tumben kau tidak memiliki ide”
Setelah itu Fano bisa mendengar suara tawa Queen di sebrang sana, suaranya merdu dan indah, paling tidak di telinga Fano terdengar seperti itu.
“Karena banyak lagi yang ku pikirkan, kepalaku rasanya mau meledak, jangan tertawakan aku”
“Hehe, maaf..”
“Kenapa kau menelfon? tumben”
“Aku hanya rindu padamu”
“Kalau begitu kemarilah, aku juga merindukanmu”
“Bagaimana dengan pekerjaan disini?”
“Aku akan meminta Yoshi pulang – oh iya, apa keluargamu masih marah padanya?”
“Tentu saja, tapi Abel baik-baik saja tuh, hanya... eum”
“Dia jadi agak aneh, lebih pendiam – pokoknya tidak seperti biasanya”
Mendengar itu Fano jadi khawatir dengan Abel, mungkin Fano harus meminta Yoshi kembali dan menemui Abel.
Entah mengapa, tapi Fano khawatir dengan Abel, takutnya Yoshi tidak menyukainya – tidak, sepertinya Yoshi menyukai Abel kok.
Entahlah, ini memang rumit.
“Abel baik-baik saja Fano, jangan terlalu khawatir dan.. eum – tidak masalah jika tidak menyukainya, kami tidak akan memaksa kok”
“Tapi ku rasa Yoshi menyukai Abel, hanya saja dia ragu karena Abel masih kekanakan, kau mengerti maksudku kan?”
“Aku tau, kedengarannya kau capek, kau bisa istirahat, ku tutup telfonnya”
“Tunggu Queen!”
“Iya?”
“Itu... Angel setuju, jadi..”
“Aku sudah menduganya, dia juga berkirim pesan denganku, mengatakan dia ingin semakin dekat denganku. Kita memang tidak terlalu dekat dari dulu, tapi aku tidak membencinya kok”
“Oh ya?”
“Iya... bahkan aku dulu menganggapnya imut saat pipinya masih chubby”
“Dia memang imut, tapi sekarang sudah sangat kurus”
“Langsing Fano”
__ADS_1
“Tidak, bagiku itu kurus”
“Terserah, ku tutup telfonnya ya?”
Telfon pun diputus oleh Queen, Fano kembali meletakkan ponselnya di sebelahnya, kembali mentap pada langit-langit dengan tatapan kosong.
Menjebak ya?
Tapi menjebak bagaimana?
Kenapa tiba-tiba otak Fano buntu?
***
PUK PUK
Fano terbangun saat merasakan tepukan kecil di dadanya, saat ia telah sepenuhnya sadar dan membuka mata, ternyata ada baby Jisung di atas tubuhnya.
Jisung menatap Fano dengan mata bulat besarnya yang lucu, bayi itu tersenyum pada Fano memperlihatkan gigi-gigi mungilnya.
“Pa! Pa! Bu bububu”
Fano pun mengangkat tubuh bayi itu dan terduduk. Saat itulah dia sadar, bahwa Jehyuk dan Noa ada di kasur yang sama dengannya, tertidur pulas. Lalu ada juga Yoshi yang tertidur di sofa, kemudian Dave, Wawan dan Jungyu menggelar kasur lain di lantai.
Apa yang terjadi? Mereka seperti sedang mengungsi saja.
Kemudian suara ribut terdengar di luar kamar, karena penasaran, Fano pun keluar sambil menggendong bayi.
Setelah keluar dari kamarnya Fano makin bingung dengan keadaan di luar kamar.
“Fano sudah bangun?” tanya Angel
Fano mengangguk pelan “Iya, ada apa sih? Kenapa semuanya ada di kamarku?”
Angel terkekeh kemudian mendekati Fano dan mengambil alih Jisung untuk dia gendong.
“Apartemen ini sedang dibersihkan” kata Angel.
“Tapi kenapa?”
“Kau tidak tau karena semalam langsung tidur kan? yang pasti, ada kecoa di apartemen ini, jadi aku memanggil beberapa ahli untuk mengatasinya”
Fano bisa melihat beberapa orang yang sudah selesai membersihkan apartemennya, mengacungkan jempol pada mereka. Fano hanya membalasnya dengan tersenyum canggung.
“Mereka sudah selesai, terima kasih semuanya!” kata Angel sambil tersenyum lebar pada mereka.
Padahal Fano baru bangun, sudah disuguhi hal-hal aneh saja.
“Mamamama bu!”
Angel terkekeh mendengar ocehan si bayi “Jisungi lapar? Aku akan membuatkan susu dan bubur untukmu, Fano jangan diam saja, cepat buat sarapan, aku ingin merasakan masakanmu lagi”
“Baiklah, kau ingin makan apa?”
“Tempura”
Fano mengerutkan dahinya “Pagi-pagi makan gorengan? Kemana perginya ‘diet’ mu saat pertama kita bertemu lagi?”
“Aku sudah tidak diet karena ada bathbomb darimu”
Fano mengangguk-angguk mengerti “Baiklah baiklah, kita makan gorengan”
.
__ADS_1
.