Sistem Kekayaan Hukuman

Sistem Kekayaan Hukuman
Ruangan aneh dan bola kristal


__ADS_3

.


.


Fano baru saja pulang dari mengantar Angel, ada seorang remaja laki-laki yang berjalan menghampiri Fano. Fano masih berada di parkiran, baru saja melepas helm yang ia kenakan. Dia memang mengantar Angel memakai motor, Fano membelikan helm sendiri untuk Angel, helm milik Queen dulu sudah dikembalikan.


Remaja laki-laki itu sampai di depan Fano.


Dia laki-laki dengan postur tinggi, memiliki rambut pirang cenderung putih, dengan warna mata emas dan tentu saja wajah tampan.


Fano masih diam menanti apa yang ingin remaja laki-laki itu sampaikan padanya.


“Kau yang bernama Fano?” tanya remaja laki-laki itu, Fano mengangguk pelan “Benar, ada perlu apa denganku?”


Ini sudah sekitar jam sembilan malam, sebenarnya Fano tidak ingin berlama-lama, mengingat banyak yang harus dia kerjakan.


“Berarti kau babysitternya Abel? Aku sekarang mengerti kenapa mama tidak khawatir meninggalkan Abel padamu”


Fano mengerti sekarang, dia juga merupakan putra dari saudara kembar istrinya Albert, putranya Roi. Pantas saja mirip dengan Roi, hanya saja matanya memiliki warna seperti Felly, ibunya.


Itu artinya keponakan Albert juga.


Ternyata Albert memiliki banyak keponakan, Kaisar dan Queen seharusnya juga keponakannya kan? meski begitu, susah bagi Fano untuk menganggap Kaisar dan Queen sebagai keponakannya, entah mengapa. Padahal untuk menganggap Abel dan Bima sebagai keponakan itu mudah sekali.


Tapi..


Fano tidak ada hubungannya dengan mereka.


Fano sedikit tersentak saat tiba-tiba putranya Roi itu menyentuh lehernya, meski hanya beberapa detik, setelahnya dia menjauhkan tangannya dari leher Fano.


Dia tersenyum kecil, lebih tepatnya menyeringai, lalu mengulurkan tangannya pada Fano “Namaku Aron, Aron Samudra..”


Fano menjabat tangan Aron “Farelino Adhitama, panggil saja Fano”


Setelah itu mereka melepaskan jabat tangan mereka.


“Aku dan Abel akan menginap di tempatmu”


Apa?


“Apa maksudmu? Kenapa tiba-tiba?” tanya Fano bingung.


Aron mengedikkan bahunya “Mama sibuk, papa masih di L.A, Abel maunya bersama denganmu... jika itu kau, mama mengijinkan, tenang saja, kami akan membayarmu, tapi karena aku tidak percaya padamu, aku juga akan ikut untuk mengawasi”


Fano tidak mengerti lagi dengan mereka.


“Bukankah kalian bisa menginap di apartemen Bima?”


Aron menggeleng “Tidak bisa, Bima pergi ke Villa bersama Queen dan Kai, aku dan Abel malas untuk ikut, tenang saja, kami tidak merepotkan”


Fano tau dia tidak mungkin bisa menolak keinginan Abel, akhirnya dia setuju dan pasrah saja.


Akhirnya mereka bersama-sama kembali ke apartemen Fano.


“Dimana Abel?” tanya Fano saat mereka sudah ada di lift.


“Sudah ada di apartemenmu, ada dua temanmu disana, sepertinya Abel mengenal mereka” kata Aron, dia menjawab sambil memencet-mencet tombol di lift.


Fano menghentikan Aron saat dia melihat Aron menekan tombol untuk naik ke lantai lain, buka lantai tempat apartemen Fano berada.


“Apa yang kau lakukan?”

__ADS_1


“Diam saja, aku ingin menunjukkan sesuatu padamu”


Fano tidak mengerti kenapa Aron ingin mereka pergi ke lantai yang disana tidak ada penghuninya. Itu adalah lantai yang tidak memiliki satu pun unit apartemen. Yang Fano ketahui, ada taman kaca disana, ada aula juga.


Tapi apa iya Aron ingin mengajaknya ke taman kaca?


Mereka sampai di lantai yang Aron inginkan, dua lantai di atas lantai apartemen Fano.


Aron terus berlajan menuju entah kemana, Fano tidak mengerti, mereka bahkan sudah melewati taman.


Aron membuka sebuah pintu.


Fano terkejut melihat ada kamar di balik pintu tersebut. Mereka terus masuk hingga sampai ke depan lemari penuh buku. Aron mengeluarkan buku merah, lalu menekan tombol yang tersembunyi di dalam sana.


Lemaripun bergeser dan terbuka, Fano terkesiap melihat lemari itu bergeser hingga menunjukkan sebuah pintu lain dibaliknya.


Namun, pintu tersebut tidak memiliki kenop, bagaimana cara membuka pintu tersebut?


Aron mendekati pintu lalu menempelkan tangannya pada  pintu tersebut, Fano sempat melihat cahaya kebiruan muncul dari telapak tangannya, kemudian pintu tanpa kenop tersebut perlahan terbuka.


Aron menarik lengan Fano agar masuk ke dalam bersamanya.


Di dalam ruangan sangat gelap, sampai Aron menekan sebuah tombol yang terhubung dengan sebuah lampu, meski begitu lampu tersebut tidak terlalu terang, ruangan jadi remang-remang.


Aron terus menarik Fano sampai pada suatu meja, di atas meja tersebut terdapat sebuah bola kristal yang cukup besar, dengan diameter kira-kira 30cm. Warnanya antara putih, biru, pink dan perak. Mengeluarkan sinar redup yang terlihat seperti akan mati.


“Coba sentuh bola itu” kata Aron.


“Untuk apa?” tanya Fano, dia masih bingung dengan keponakan Albert satu ini, sangat random, mirip sekali dengan ayahnya.


“Coba saja, jika bola itu kembali bersinar berarti kau berhasil”


“Lalu jika aku berhasil?”


Meski sebenarnya masih bingung dan malas, pada akhirnya Fano menuruti kemauan Aron.


Fano menyentuh bola tersebut dengan tangan kanannya.


“Pejamkan matamu, rasakan aura yang ada di sekitarmu, lalu masukkan pada bola tersebut” ucap Aron dengan agak berbisik, karena hanya ada mereka berdua di ruangan ini, tentu saja suara Aron terdengar jelas.


Fano melakukan semua yang Aron perintahkan seperti orang bodoh, dia merasa seperti seorang paman yang bermain dengan keponakannya dan mau saja melakukan hal-hal konyol.


Fano tidak terlalu mengerti maksud aura yang Aron ucapkan, tapi Fano merasa dirinya memiliki seperti aura hitam dan juga putih.


Tapi bagaimana memasukkan aura itu?


Astaga, ini konyol.


Fano kembali membuka matanya untuk protes pada Aron, tapi dia malah terkejut.


Karena ruangan yang tadinya remang-remang tersebut kini malah terang benderang, asal cahayanya adalah dari kristal yang masih Fano pegang.


Bola kristal tersebut bersinar terang dan terlihat cantik.


Refleks Fano melepaskan tangannya dan menjauh satu langkah dari tempatnya berdiri.


“Sudahku duga, kau tidak biasa... tidak heran Queen tertarik padamu.. ku rasa Crystal pasti akan tertarik juga” kata Aron, dia terlihat puas saat ini.


“Apa maksudnya ini?” tanya Fano.


Aron menggeleng “Tidak ada maksud apa-apa, bola itu bisa menyala jika yang menyentuhnya memiliki energi sihir – tidak perlu dipikirkan, ayo kembali ke apartemenmu”

__ADS_1


Fano tidak terkejut mendengarnya, dia memang sudah membeli kemampuan sihir dari sistem bukan? Agar bisa menggunakan skill fast change dan juga imaginary gun.


Jadi Fano tidak heran dirinya memiliki energi sihir itu.


“Energi sihirmu cukup besar untuk ukuran manusia biasa, kau sangat menarik... mari berteman denganku” kata Aron lagi, dia sudah mengajak Fano untuk keluar dari ruangan misterius tadi.


Fano sempat melihat di ruangan itu ada banyak barang-barang aneh dan antik.


“Hmm” Fano hanya membalas Aron dengan


gumaman.


“Kau tidak tertarik berteman denganku? Kau kan sudah berteman dengan Queen dan Abel.. oh, dan Angel juga”


“Kau kenal Angel?”


Aron menggeleng “Hanya mengenal saja, tidak akrab, baru kemarin kenalan.. maksudku dikenalkan, sama Om Lino”


“Untuk apa kau dikenalkan dengan Angel”


Aron menoleh pada Fano lalu menyeringai “Apa ini? Kedengarannya kau cemburu”


“Tidak, biasa saja”


“Itu hanya formalitas, kami makan malam bersama yang lain, mereka membicarakan sesuatu, aku tidak terlalu paham”


Mereka kembali memasuki lift hingga sampai


di lantai tempat apartemen Fano berada.


Setelah masuk apartemen, Fano bisa melihat Abel sudah menghabiskan banyak daifuku strawberry dan juga mochi coklat.


“Abel ini udah malem, kenapa kamu makan banyak desserts?!” sambar Aron, Abel terkejut karena Aron sudah ada disana saja, kemudian Abel bersembunyi di balik tubuh mungil Yoshi, sambil menghabiskan mochi coklatnya.


“Maaf tapi aku tidak bisa menolaknya” sahut


Yoshi, merasa bersalah karena tidak amanah dan malah berakhir memberi semua kue untuk Abel.


Fano melihat semua itu sudah lelah saja, dia ingin istirahat.


Tunggu!


Kenapa Fano tiba-tiba lelah dan mengantuk? Padahal tadi biasa saja.


Fano menoleh pada Aron, apa energinya ikut disedot oleh bola kristal ya?


“Kak Fano!” Dave buru-buru menghampiri Fano yang terlihat lemas.


“Aku baik-baik saja Dave, hanya mengantuk saja” kata Fano.


“Aron! Kamu apain kak Fano?” teriak Abel


“Sedikit eksperimen saja” Aron


“Kau gila!” Abel


“Terserah” Aron


Fano tidak tau apa yang sebenarnya terjadi tapi – dia harus segera tidur.


“Dave, bawa aku ke tempat tidur” pinta Fano

__ADS_1


.


.


__ADS_2