Sistem Kekayaan Hukuman

Sistem Kekayaan Hukuman
Berangkat ke Korea


__ADS_3

.


.


Bima duduk di kursi di meja makan, lalu menempelkan pipinya pada meja, untung mejanya bersih.


“Kau masih mengantuk?” tanya Fano, kemudian Fano meletakkan segelas susu hangat ke depan Bima, yang langsung diminum oleh bocah itu.


“Semalam aku push rank dengan Peter” kata Bima setelah menenguk susunya.


“Kau menang?” tanya Fano, dia kembali memasak, sarapan kali ini adalah omurice, yaitu nasi goreng dibalut telur.


“Menurutmu jika ekspresiku seperti ini apakah aku menang?” tanya Bima.


“Coba belajar main game sama Dave atau Andy, Haikal juga bisa...” saut Fano.


“Sepertinya aku payah main game, aku pernah ikut lomba balap kuda poni saat masih kecil dan aku kalah juga”


Fano berbalik menatap Bima “Kau lomba balap kuda poni?”


Bima mengangguk “Iya, waktu itu kami masih sangat kecil, yang ikut aku, Queen, Peter, Raja, Abel, Aron... siapa lagi ya? Chrystal.. eum, Yua.. dan apa kau tau siapa yang menang?” tanya Bima.


Fano menggeleng “Yang pasti bukan kau”


“Iya, itu sudah jelas. Yang menang itu Abel! Ah, aku sejak itu trauma, tidak mau dikalahkan anak kecil lagi. Padahal waktu itu Abel masih umur enam taun lho.. kesal sekali kalau ingat”


Fano tertawa mendengar cerita Bima, dia membayangkan Bima kecil yang menangis tidak terima karena dikalahkan Abel yang masih enam tahun. Pasti lucu sekali.


“Jangan ketawa dong! Aku jadi makin bete, oh iya.. semalam heboh banget lho si Abel nangis.. kenapa ya?”


Fano hanya geleng-geleng kepala, si Bima memang kurang peka situasi.


“Abel nangis gara-gara Yoshi, dia gak sengaja bilang dia gak mungkin suka sama Abel karena Abel mesih kecil, eh ternyata ada Abel disana, dia mecahin piring terus nangis.. aku bawa pergi Yoshi sebelum diamuk masa, terus pagi ini si Yoshi dapat pesan ancaman kematian dari para sepupumu” jelas Fano.


Bima mengangguk-angguk, dia sudah mengerti situasinya.


“Berarti keselamatan Yoshi terancam, dia harus pergi dari kota ini – tidak, negara ini..”


Fano menoleh pada Bima yang sok serius itu “Tenang saja, aku akan membawanya kabur ke Korea”


“Oh, gercep juga kalian”


***


Fano dan teman-temannya sudah sampai di bandara saat sore hari, seorang pria tampan dengan postur tubuh tinggi dengan senyuman yang hangat menyambut mereka.


“Akhirnya kalian sampai juga, apa kalian lapar? Kita bisa mampir ke restoran dulu” kata Pria itu, Jungyu.


Kemudian Fano menanyai teman-temannya apa mereka lapar atau tidak, mereka kompak tidak mau makan, maunya langsung ke tempat saja. Mereka tidak lapar karena di pesawat juga sudah makan banyak, lagipula tidak lama lagi sudah jam makan malam, jadi jika makan sekarang nanggung.


Jadilah mereka langsung pergi ke tempat.


Fano akan menempati apartemen yang disediakan pihak Royal Ent untuk Fano, ada di gedung apartemen yang sama dengan apartemen milik Angel. Hanya saja apartemen Fano sudah disiapkan yang ukurannya lebih besar dengan empat kamar.


Fano meletakkan kopernya begitu saja lalu merebahkan dirinya di ranjang yang empuk. Yoshi juga masuk ke kamar karena dia satu kamar dengan Fano. Kemudian Yoshi duduk di ranjang, menunduk menatap Fano.

__ADS_1


“Jangan menatapku seperti itu, biarkan aku tidur” protes Fano.


“Aku kepikiran Abel”


“Lalu? Apa urusannya denganku?”


“Fano..”


Fano berbaring menyamping, pura-pura tidak mendengar Yoshi. Fano saja tidak mengerti kenapa dia malah membawa Yoshi kemari, harusnya dia mengurusi kantor saja. Tapi sebenarnya di kantor juga sudah ada Queen, Surya, Haikal.. jadi tidak masalah meski Yoshi dan Fano pergi.


Membawa Yoshi ke Korea rasanya seperti membawa buronan kabur. Perasaan Fano juga was-was takut ikutan diancam, sepertinya keluarga Raynold sangat menyayangi Abel, jadi tidak heran jika Yoshi langsung diserang karena sedikit kesalahan.


Fano jadi ingat dengan Albert dulu.


Tapi padahal Yoshi orang yang baik, dia juga berwajah manis seperti anak-anak remaja polos. Tapi masih juga tidak disukai hanya karena – oh iya, itu memang salah Yoshi.


Kenapa juga bocah ini bicara sembarangan? Dia terlalu tidak peka.


Karena Fano tidak terlihat ingin membahas masalahnya, jadi Yoshi memilih keluar menemui yang lain. Tapi sepertinya anak-anak SMA yang ikut memilih untuk tidur sama seperti Fano.


Mungkin karena selama di pesawat hanya Yoshi yang tertidur jadi sekarang ganti hanya Yoshi yang terbangun.


Hanya ada satu orang yang bisa Yoshi ajak bicara.


Jungyu yang sedang menyeduh kopi dengan mesin kopi yang tersedia di apartemen ini, mungkin sudah satu paket.


Yoshi mendekati Jungyu lalu duduk di dekatnya.


Jungyu yang merasa ada yang mendekat pun menoleh, dia kemudian tersenyum melihat Yoshi yang cemberut “Mau kopi?” tanya Jungyu.


“Fano tidur juga?” tanya Jungyu.


“Hmm, karena cuma aku di pesawat yang tertidur jadi sekarang gantian” jawab Yoshi.


Jungyu hanya terkekeh sebentar sebelum kemudian meletakkan secangkir kopi ke depan Yoshi.


“Kau temannya Angel juga?” tanya Jungyu, Yoshi mengangguk “Benar, Angel biasanya curhat padaku, isi curhatnya cuma Fano sih. Aku juga yang meyakinkan Angel untuk pergi ke negara ini, untuk mengejar cita-citanya” kata Yoshi, kemudian dia menyesap kopi itu.


Rasanya enak, tidak terlalu pahit, tidak juga terlalu manis, paling tidak rasanya cocok di lidah Yoshi.


“Angel juga banyak cerita tentangmu, dia bilang kau adalah pria yang imut.. haha, ku rasa dia tidak berbohong” kata Jungyu.


Yoshi menatap Jungyu kesal, sebenarnya dia tidak suka dibilang imut, apalagi jika Fano yang mengatakannya. Rasanya sangat menyebalkan hingga ingin memukul, tapi Yoshi tidak berani memukul Fano, serem.


“Aku tidak imut” kata Yoshi, kemudian menyesap kopinya lagi.


“Wajah-wajah sepertimu sebenarnya cocok menjadi idol, pria yang manis.. ku rasa kau akan populer” kata Jungyu lagi.


“Terima kasih tapi aku tidak ingin menjadi idol, tanpa menjadi idol hidupku sudah rumit, jadi tidak mungkin aku menambah beban hidupku, lagipula aku juga sudah populer di media sosial”


“Berapa pengikutmu?”


“Eum.. terakhir sekitar 3 juta? Mungkin sudah bertambah? Entahlah, aku tidak berani menyalakan ponsel, ada yang menerorku”


Sore itu Yoshi menghabiskan waktunya dengan berbincang dengan Jungyu. Mereka mengobrolkan banyak hal hingga langit mulai gelap.

__ADS_1


Kembali pada Fano.


Fano mulai bangun lalu duduk, menguap sebentar lalu menggeliat. Dia kemudian meraih ponselnya, jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam.


Fano tidur lama sekali ternyata.


Dia meletakkan kembali ponselnya lalu mencuci muka di kamar mandi, setelah itu baru keluar dari kamar.


Tapi.. kenapa sepertinya apartemen sepi ya?


Dimana semua orang?


Fano kembali ke kamarnya untuk mengambil ponsel dan memeriksanya. Benar saja, ada pesan dari Jungyu jika dia membawa yang lain ke restoran yang ada di depan apartemen.


Kalau tidak salah itu restoran China, mungkin teman-temannya sudah makan hot pot.


Fano berdecak kesal lalu melemparkan ponselnya ke ranjang.


Dia kembali keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur, dia yakin pasti di kulkas ada sesuatu yang bisa dimakan.


Dan saat itu Fano tercekat.


Ada seeorang di apartemennya.


Seorang gadis yang sedang memasak memunggunginya. Rambutnya pirang, memiliki tubuh tinggi, ramping dan indah.


Tapi siapa?


Baru saja Fano ingin membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, gadis itu sudah berbalik, dia tersenyum melihat Fano yang hanya berdiri seperti orang bodoh.


“Fano sudah bangun? Aku sedang memanaskan hot pot untukmu”


Sial sekali.


Padahal ini sudah berapa lama? Satu tahun?


Tapi kenapa.. kenapa Fano masih saja berdebar saat melihatnya?


Angel.


Dia makin cantik saja.


Apa ini? Bukankah Fano sudah memiliki Queen? Queen adalah Reina, tidak mungkin Fano bisa menyukai orang lain lagi kan?


Bagaimana bisa dia menyukai dua orang sekaligus?


Angel berjalan mendekati Fano lalu mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah Fano. Senyuman Angel tidak berubah, dia tetap cantik seperti dulu. Senyuman itulah yang membuatnya jatuh cinta.


“Angel..”


“Fano, aku merindukanmu”


.


.

__ADS_1


__ADS_2