
.
.
Fano menyeka keringat yang mengalir di dahinya. Ini masih sangat pagi dan Fano sudah sibuk menanam benih bunga mawar biru di halaman mansionnya. Tidak semua benih itu Fano tanam, karena rencananya sebagian akan di tanam di Indonesia juga, nanti jika sudahnpulang.
Oh iya, Fano tidak sendiri, ada Lylac yang membantunya. Tidak mungkin Fano mengerti cara menanam bunga sihir jika tidak ada yang mengajari. Mungkin untuk menanam biasa Fano bisa, berhubung dia memiliki skill berkebun yang jarang sekali dia pakai. Fano pernah menggunakan skill berkebunnya untuk menanam beberapa sayur di balkon apartemennya di Indonesia sana, juga beberapa bunga hias.
Menanam tanaman sihir tentu sangat berbeda, setelah benih dimasukkan tanah, Fano masih harus mengalirkan energi sihirnya pada benih itu. Tiap benih mendapat perlakuan spesial, satu-satu, jadi tidak bisa setelah semua ditanam baru dialiri energi sihir secara serentak, hasilnya tidak akan bisa maksimal.
“Kau hanya menanam sepuluh benih? Tidak kah itu terlalu sedikit?” tanya Lylac.
“Untuk percobaan dulu, jadi sepuluh saja, sudah kan ini prosesnya?” tanya Fano, Lylac mengangguk “Sudah, ayo kita sarapan, karena sekarang aku dalam wadah manusia, aku bisa makan segala hal” kata Lylac, kemudian dia merangkul bahu Fano, karena itu Fano sampai harus sedikit menunduk.
“Jangan memakan berbagai hal, kau bisa sakit”
“Tidak akan, tubuhku akan otomatis menetralkan semua racun”
“Enak banget, aku juga mau kayak gitu dong”
“Gak boleh, hanya bisa berlaku untuk peri”
“Jadikan aku peri juga”
“Mana bisa”
Senang sekali melihat semuanya sibuk pagi ini, ada yang mau pulang ke rumah, ada yang siap-siap pergi ke Jepang, ada juga yang masih santai karena berangkatnya baru nanti sore.
“Nona Lila kopernya sudah selesai” kata seorang pelayan, dia bertugas untuk membereskan koper milik Lylac, karena Lylacnya tidak bisa membereskan kopernya sendiri. Semalam dia membeli beberapa potong baju, pakaian dalam, sepatu dan aksesories. Dia bahkan membeli koper baru, kopernya juga berwarna Lylac, seperti namanya.
“Terimakasih!” Lylac senang sekali barang-barangnya sudah beres.
“Fano nanti bawa oleh-oleh ya? Hehe, aku mau banyak oleh-oleh” kata Queen.
“Baiklah, aku akan membawa banyak oleh-oleh untuk kalian”
“YAAAAA!!!”
Baru saja Fano ingin membalas pelukan Queen, ingin bermanja-manja sebentar, eh tiba-tiba ada suara
Xiao Kun yang berteriak kencang sekali. Refleks semua orang memberi perhatian padanya, Xiao Kun ini termasuk main vocalist di grupnya, sudah biasa melakukan nada tinggi, jadi dia berteriak seperti itu sudah membuat yang lain hampir tuli.
“Ngapain kamu teriak-teriak sih?” protes Yoshi, yang baru mau berangkat mandi, tapi dia harus keluar kamar karena mendengar teriakan Xiao Kun, dia pikir ada bencana.
“Noa memakan cookies ku!” lapor Xiao Kun
“Katanya ini buat aku, gimana sih?” protes Noa.
“Iya tapi maksudku kan buat di pesawat nanti atau pas di Jepang nanti, gak dimakan disini juga!” kata Xiao Kun.
“Ya maaf, aku kan laper” kata Noa.
“Laper apa doyan itu! Sini aku mau juga – buat sarapan ajalah cookiesnya” sahut Leon.
“Tau ah, aku ngambek! Mau tidur aja lagi” Xiao Kun yang capek memilih kembali ke kamarnya untuk lanjut tidur, dia sih santai karena berangkatnya masih nanti sore.
“Tidur aja sana! Mimpiin putri kerajaan” sahut Leon.
BRAK
Xiao Kun menutup pintu dengan tidak berperi-kepintuan, beruntung pintunya tahan banting.
“Bocah ada-ada aja deh” Yoshi kembali memasuki kamarnya, bersiap untuk mandi.
__ADS_1
“Kak Oci ayo mandi sama Abel!!” Abel.
“Heh gak ada ya!” Aron.
Pagi yang berisik begini normalnya Fano tidak suka, tapi kali ini dia sangat suka, mungkin karena akan pergi jauh. Fano tau dia akan merindukan saat-saat seperti ini, dimana semua berkumpul dan meributkan hal sepele.
Yang akan ikut ke Jepang adalah Yoshi, Noa, Leon, Asahi, Jehyuk dan Jungyu. Lylac? Dia tidak diajak juga pasti ikut. Abel dan Aron tetap tinggal, setelah Fano pergi mereka akan dijemput Dojun, dan rencananya Abel akan kembali ke Indonesia, sementara Aron kembali ke Amerika.
***
Akhirnya mereka sampai juga di Jepang. Asahi dijemput keluarganya di bandara, jadi mereka
langsung berpisah di bandara. Setelah itu tentu saja mereka langsung menuju hotel tempat mereka akan menginap.
“Yoshi-kun!”
Mereka semua terdiam menatap seorang wanita muda yang melambaikan tangan sambil menatap Yoshi. Yoshi sendiri kebingungan karena merasa tidak mengenali perempuan itu, kemudian Yoshi berbisik pada Fano “Siapa ya?”
“Kenapa kau malah nanya aku? Ini pertama kalinya aku ke Jepang lho, ya mana aku tau lah” sahut Fano.
“Sepertinya dia teman sekolahmu” sahut Lylac.
“Teman sekolah?” ulang Yoshi, dia memang pernah sekolah di Jepang sampai SMP, selanjutnya dia pindah ke Indonesia.
“Ini aku Rina, Yoshi-kun apa kabar?” tanya perempuan itu, dia mendekati meja mereka.
Oh iya, mereka sedang makan siang di sebuah restoran perancis. Hebat sekali mereka ada di Jepang tapi malah memakan di restoran perancis.
Akhirnya Jungyu menyeret sebuah kursi untuk ditempati perempuan itu, karena nampaknya si
perempuan bernama Rina itu ingin mengobrol dengan Yoshi lebih lama, tidak peduli Yoshi bersama banyak teman.
Mungkin Rina ingin caper? Karena rasanya aneh tidak mengenali Leon dan Noa yang notabene seorang idol, apalagi Fano dan Yoshi sendiri juga cukup terkenal. Bahkan Fano dan Yoshi memiliki banyak penggemar juga di Jepang, kebanyakan gadis-gadis muda sih.
sudah tau siapa perempuan itu, mudah sekali baginya mencari informasi, namun tentu saja tidak etis untuk membeberkan siapa perempuan itu di depan orangnya
langsung.
Lagipula Lylac juga ingin sebuah pertunjukan drama yang menarik.
“Kau tidak ingat aku? Kawada Rina, bukankah kita cukup dekat saat SMP?” kata Rina.
Yoshi menatap penampilan Rina, terlihat seperti seorang nona muda dari keluarga kaya-raya. Yoshi mencoba mengingat-ingat nama Kawada, itu terdengar familiar di telinganya, seperti keluarga yakuza – yakuza?
Tunggu!
Sekarang Yoshi ingat, saat dia SMP, Rina ini sudah seperti tuan putri karena dia sangat cantik, juga
memiliki banyak penggemar, dan lagi, dia adalah putri seorang yakuza kaya raya. Memang tentang keluarganya yang yakuza dirahasiakan, tapi Yoshi tau betul jika keluarganya yakuza. Meski begitu Rina adalah putri dari istri kedua, istri tersayang ayahnya, karena itu Rina juga disayang bagaikan seorang putri.
Tumbuh di lingkungan seperti itu membuat Rina selalu mendapatkan apa yang dia mau.
Akan tetapi, dulu Yoshi sangat takut dekat-dekat dengannya, walaupun sudah jelas Rina sangat
menyukai Yoshi. Tapi Yoshi yang takut menolak Rina, karena tidak mau hidupnya jadi berat. Kan jika dia menerima akan banyak orang yang mengincar nyawanya, terutama keluarga yakuza nya itu.
Ngeri sekali jika ingat.
Pantas saja Yoshi sudah melupakannya, karena dia berusaha keras untuk melupakan kenangan buruk itu.
Apalagi setelah Yoshi menolak Rina, bukannya dia aman, malah Yoshi mendapat banyak bully dari
teman-temannya. Semuanya tidak terima Rina ditolak oleh Yoshi, bahkan Rina sendiri sering terang-terangan tertawa saat ada yang mengganggu Yoshi.
__ADS_1
Fano menepuk bahu Yoshi yang tiba-tiba terlihat tegang, tidak mungkin Fano tidak peka dengan perubahan ekspresi sahabatnya. Jelas ada yang tidak beres dengan perempuan cantik bernama Rina ini, terlihat sekali jika Yoshi ketakutan dan terlihat – entahlah ... yang pasti Rina harus segera disingkirkan. Karena mungkin akan menyulitkan mereka.
“Oh, Kawada Rina ya? Yoshi banyak bercerita tentangmu” kata Lylac tiba-tiba, dengan ekspresi antara menyeringai dan tersenyum manis. Yoshi hanya diam saat Lylac mengatakan itu.
“Oh ya? Apa yang Yoshi ceritakan padamu? Kau temannya Yoshi?” tanya Rina.
“Perempuan tidak tau malu, manja, sok berkuasa, bodoh, a b*ch, Yoshi bercerita banyak tentangmu” kata Lylac.
Tiba-tiba suasana jadi canggung, tapi itu tidak menyurutkan niat Lylac untuk terus memojokkan Rina. Lylac mengatakan banyak hal seperti Rina yang sering membayar seorang murid pandai untuk mengerjakan tugasnya, Rina yang sengaja menyatakan cinta pada Yoshi hanya agar Yoshi diganggu, Lylac juga mengatakan Rina melakukan itu hanya iseng saja.
Yoshi tidak tau Lylac mengetahui semua itu dari mana, tapi dia sangat marah saat Rina mengiyakan tentang dia yang mengganggu Yoshi hanya karena iseng.
“Iseng kau bilang? Kau membuat hidupku hancur dan masa SMP ku sangat kelam, aku membutuhkan banyak waktu untuk melupakannya, sialan! Dan sekarang kau dengan santainya mengatakan semua itu dengan senyuman bodohmu?” sambar Yoshi yang sedang emosi.
Fano mulai bersyukur dia menolak Abel yang merengek mau ikut mereka, jika Abel tau tentang Rina lalu Abel yang lepas kendali memanah Rina dengan panah cahayanya kan bisa gawat. Abel lebih susah mengontrol emosinya, jika dia marah, dia akan benar-benar marah.
“Aku kemari untuk minta maaf Yoshi” kata Rina.
“Dengan wajah yang tidak menunjukkan rasa bersalah sama sekali?” sambar Fano.
“Pergilah nona, aku sudah tidak mood makan karenamu” sahut Leon, dia sungguhan tidak mood makan dan makanan mahal itu masih utuh di depannya.
Rina berdiri dari duduknya “Kalian pikir karena kalian sudah terkenal kalian bisa mengusirku seenaknya? Aku akan membuat kalian hancur” kata Rina sebelum beranjak dari tempat itu.
“Lakukan saja, aku tidak peduli” gumam Lylac.
“Tapi, bagaimana ini? Keluarganya itu yakuza lho” sahut Yoshi.
“Kita hancurkan saja sekalian” sahut Fano.
“Aku setuju” kata Lylac.
“Tumben kau setuju denganku?” tanya Fano.
“Aku butuh hiburan” Lylac.
“Wow, aku tidak ikutan ya” timpal Jehyuk.
“Kau harus ikut, aku juga akan ikut” sahut Leon.
“Kau punya reputasi untuk dijaga, anak muda!” sambar Jungyu.
“Kau dan Noa tidak perlu ikut, kalian bermain game saja” kata Fano.
“Aku ingin sekali-kali membantai orang, aku ikut pokoknya!” protes Leon.
“Membantai? Kita main game apa sih? Papji?” tanya Noa.
“Noa sayang, kamu hanya perlu diam, okay?” Lylac.
“Kalian ngomongin apa sih?” Noa.
“Makanya bocah, jangan makan mulu, apa kamu tau siapa perempuan tadi?” tanya Jungyu.
Noa mengangguk yakin “tau, teman SMPnya kak Yoshi kan? pernah membully kak Yoshi makanya kita marah kan?” kata Noa.
“Eh, tumben nyambung, tos dulu” Jungyu, kemudian mereka berdua melakukan tos.
.
.
.
__ADS_1