
.
.
Queen hanya terdiam saat Fano tiba-tiba memeluknya kemudian berbisik “Bisakah kita tidak membicarakan ini? Aku belum siap, tapi aku memiliki alasan sendiri kenapa melakukannya, kau tidak perlu tau”
Fano melepas pelukannya, lalu menatap wajah cantik Queen “Maafkan aku” tambah Fano.
“Kalau begitu, kenapa harus membeli saham Deline? Apa aku juga tidak boleh tau alasannya? Kau tau tidak jika itu punya papanya Bima? Bima tidak akan suka jika kau ada hubungan dengan perusahaan itu”
Fano menggeleng “Maafkan aku, aku punya alasan sendiri, yang perlu kau dan Bima tau hanya.. semua itu dilakukan bukan untuk bekerja sama dengan perusahaan itu”
Queen mengernyitkan dahinya “Maksudmu
menghancurkannya?”
Fano menggeleng “Tidak separah itu juga”
“Kalau begitu mengambilnya?”
Fano tidak menjawab pertanyaan itu, dia hanya kembali menatap lautan yang luas di depannya.
Cukup lama mereka berdiam diri hingga tiba-tiba Fano merasakan Queen memeluk lengannya, Fano hanya diam membiarkan gadis itu, sampai kemudian dia kembali bicara.
“Besok aku bertemu dengan utusan mereka”
Sontak Queen yang terkejut melepas pelukannya dan menatap Fano dengan raut khawatir “Apa perlu ku temani?”
Fano menggeleng “Tidak perlu, aku tidak ingin membahayakanmu”
“Justru jika kau sendirian bisa berbahaya, apa kau tau jika mereka bukan lawan yang mudah? Mereka itu adalah komplotan mafia”
Fano menunduk menatap Queen “Mafia? Tau dari mana?”
“Rahasiakan ini.. tapi – papanya Bima mengambil alih kelompok mafianya adik ipar papaku yang sudah meninggal, itu yang kami percayai”
“Berarti belum ada bukti?”
Queen mengangguk “Iya..”
“Sudahlah, biar itu jadi urusanku, jangan terlalu khawatir, aku akan baik-baik saja”
Meski begitu, Queen tidak bisa berhenti khawatir. Takutnya Fano belum mengerti seberapa bahayanya mereka. Memiliki hubungan dengan Deline Jewelry bukan berarti hal baik, atau setidaknya itu yang Queen ketahui.
__ADS_1
***
Fano berdiam diri di depan cermin besar yang ada di ruangan khusus pakaiannya, itu adalah cermin satu badan, yang sebenarnya bahkan lebih tinggi dari Fano sendiri.
Setelan jas yang rapi sudah Fano kenakan, hari ini dia akan pergi ke hotel bintang lima tempat yang diinginkan pihak Deline Jewelry untuk bertemu.
Fano merasa aneh tapi juga semangat di saat yang bersamaan. Kemudian mengenakan masker untuk menutupi wajahnya, serta topi untuk menutupi rambutnya.
Ini adalah hari minggu jam sepuluh siang, sementara Fano menemui pihak Deline, Queenza dan teman-teman Fano, terutama yang bekerja dengan Fano sedang pergi mengunjungi toko yang baru.
Fano sendiri sudah mengunjunginya bersama Queen kemarin malam, dia merasa senang dengan lokasi serta bangunannya, semuanya sempurna bagi Fano. Tentu saja sempurna karena yang memilih adalah sistem, sistem lebih tau apa yang dibutuhkan Fano.
Fano memang sengaja membuat Queenza dan teman-temannya sibuk agar tidak mengetahui apa yang sedang Fano kerjakan saat ini.
Dia memilih untuk pergi menggunakan motor dan bukan mobil, agar lebih cepat, juga agar tidak terlalu mencolok. Fano tidak ingin menjadi perhatian banyak orang.
Tapi keinginan Fano tersebut tidak terkabulkan, karena kenyataannya Fano sangat populer, hingga semua orang dapat mengenali motor serta helm yang biasa Fano kenakan.
Fano mulai menyesal sering memakai motor tersebut.
Padahal Fano tidak ingin diketahui masuk ke dalam hotel tersebut, jadi bukannya parkir di parkiran hotel seperti seharusnya, Fano malah berbelok ke sebuah restoran yang cukup terkenal dan memarkir motornya disana.
Untungnya mereka tidak masalah Fano hanya nitip parkir, lagipula Fano sudah memberi tip pada tukang parkir dan satpam untuk menjaga motornya dengan baik.
Saat Fano masuk hotel dan menanyai resepsionis dimana letak tempat pertemuan dengan utusan Deline, Fano menggunakan bahasa Inggris agar mereka percaya Fano bukan orang Indonesia.
Resepsionis yang terpesona dengan penampilan Fano, dan mungkin juga mengira Fano adalah orang penting dari luar negri segera memberitahukan pada Fano, dia juga menawarkan diri untuk mengantar Fano.
Hotel ini memiliki berbagai fasilitas, termasuk ruang rapat atau ruang pertemuan, selain itu hotel ini juga memiliki restoran dan bar yang cukup terkenal.
Jadi Fano pikir pertemuannya ada di salah satu ruang pertemuan, namun dia salah, resepsionis malah mengarahkan Fano yang menyamar menjadi Alfred itu ke bar.
Barnya sepi, tapi sepertinya bukan karena ini masih siang, melaikan bar ini sudah disewa oleh seseorang.
“Tuan, silahkan duduk” seorag pria dengan setelan jas mahal duduk di meja bar, ada seorang bartender yang sedang meracik entah apa.
Jika identitas Alfred, maka seharusnya sudah berumur dua puluhan, jadi tidak masalah meminum minuman beralkohol entah itu sedikit atau banyak. Tapi jika itu Fano, sebenarnya juga sudah dalam usia yang legal, meski begitu agak aneh saja jika Fano meminum minuman beralkohol.
Fano beruntung karena sistemnya tidak melarang minum minuman itu, tapi sebenarnya Albert sendiri tidak terlalu menyukai alkohol, dia hanya bisa minum red wine, tapi bukan berarti dia tidak kuat minum alkohol.
“Mau minum apa, kami akan memberikan minuman paling mahal sekalipun” kata pria tersebut.
Fano melirik bodyguard pria itu yang memiliki badan besar-besar.
__ADS_1
Mafia bukanlah sesuatu yang akan digembor-gemborkan, malah akan ditutup-tutupi, hingga kadang orang yang terlihat baik, eh.. ternyata malah komplotan mafia.
Tetapi bagi Fano yang sudah hafal, dia bisa langsung mengenali mereka sebagai mafia.
Mungkin bawahannya Gio, tapi sepertinya pria ini memiliki kedudukan yang cukup bagus, bisa dilihat dari penampilannya yang luar biasa, juga jam tangan rolex yang bertengger manis di pergelangan tangannya.
“Tapi aku hanya bisa minum koktail, lagipula ini masih siang” jawab Fano, pria itu tertawa mendengarnya “Haha benar juga, ini masih siang – pelayan! Berikan koktail dan hidangkan makan siang untuk kita”
Setelah itu pembicaraan beralih pada pembahasan tentang perusahaan serta pembelian saham. Pria yang bernama Simon tersebut mengatakan pemimpin Deline sangat tertarik karena Fano atau Alfred bisa membeli saham sampai 30% dan itu bukan uang yang sedikit. Karenanya mereka ingin semakin mengenal Alfred.
Fano yang mengerti ketertarikan merekapun main tarik ulur dengan memberi sangat sedikit informasi, agar mereka semakin penasaran. Fano hanya ingin mereka tau jika dia memiliki uang dan kekuasaan, itu saja. Juga sebisa mungkin Fano tidak terlihat seperti terintimidasi dengan tatapan seram mereka.
Karena orang-orang seperti ini akan menganggap Fano adalah lahan uang bagi mereka, mereka tidak akan melepas Fano. Tapi disisi lain mereka juga pasti curiga karena nama Alfred Maverick tersebut, terlebih lagi informasi tentang Alfred hampir sedikit.
Gio yang mungkin saja sedang menyembunyikan Alfred yang asli pasti akan penasaran sekali dan khawatir.
Simon mengajak Fano makan siang sambil masih berusaha mencari informasi, tapi sesuai rencana, Fano hanya memberi informasi sedikit yang tidak terlalu penting.
Meski begitu, setelah semuanya selesai dan Fano sudah ingin pergi, Fano menyampaikan sesuau pada Simon.
“Jika kalian ingin tau lebih banyak tentangku, maka pemimpin kalian Giovanni harus menemuiku secara langsung”
Sontak saja Simon terkejut, bodyguard yang bersama Simon tiba-tiba menodongkan pistol mereka, tapi kemudian Simon memberi isarat agar mereka menyimpan senjata mereka.
Simon tersenyum kecil lalu membalas “Akan ku sampaikan”
Fano menyeringai lalu segera pergi dari sana, dia berbelok menuju tempat yang sepi dan segera berjalan cepat. Tidak.. dia tidak takut, hanya saja Fano tidak ingin ada yang melihat kemana dia pergi, Fano tidak ingin ada yang mengikutinya.
Namun ternyata Fano sedang sial, ada beberapa orang yang menghadangnya secara tiba-tiba. Mereka berpenampilan sama dengan bodyguard yang bersama dengan Simon tadi.
Fano yang tidak siap akhirnya berhasil digiring oleh mereka, mungkin dia juga membiarkan mereka menangkapnya karena penasaran.
Fano pikir, Gio sedang ada di hotel ini dan ingin menemuinya langsung.
Pria-pira besar itu membawa Fano ke lantai lima belas, ke salah satu kamar paling mahal di hotel ini. Mereka memperlakukan Fano dengan baik, meski memaksa, mereka tidak berani menyentuh Fano secara berlebihan.
Dan Fano pikir itu sangat aneh.
Pintu kamar dibuka, pria-pria besar itu menyuruh Fano masuk, akan tetapi mereka tetap di luar.
Tidak sama seperti dugaan Fano, ternyata bukan Gio yang ada di dalam kamar tersebut, melainkan orang lain.
.
__ADS_1
.