Sistem Kekayaan Hukuman

Sistem Kekayaan Hukuman
Ada yang tidak beres


__ADS_3

.


.


Fano benar-benar tidak tenang keesokan harinya, jadi sebelum berangkat sekolah, Fano mengendarai motornya menuju panti asuhan yang dimaksud. Kali ini Fano hanya membawakan beberapa kotak kue, berisi cupcake, donat dan macaroon.


Fano memesan kue tersebut di malam hari, jadi pagi harinya sudah bisa diambil.


Saat Fano memasuki area panti, anak-anak yang tadinya sedang bersih-bersih di halaman atau bagian depan panti langsung menatap Fano dengan mata berbinar-binar, terutama melihat kotak-kotak kue yang Fano bawa.


Tidak butuh waktu lama bagi anak-anak itu untuk mendekati Fano dan mengelilingi Fano.


Fano dibawa ke ruang tamu, kemudian Fano memberikan kotak-kotak yang dia bawa untuk anak-anak panti pada seorang bocah yang sepertinya lebih besar dari yang lain, umurnya sekitar sepuluh tahunan.


“Bagi ini dengan adik-adik yang lain ya” pesan Fano, bocah itu mengangguk senang lalu membawanya pada anak-anak yang lain.


Seorang wanita membawakan teh hangat untuk Fano “silahkan diminum..”


Setelah itu Fano mengajak bicara wanita itu, ternyata dia adalah pemilik panti, dia menjelaskan ada dua lagi wanita yang mengurus panti membantunya. Wanita itu terus tersenyum dengan ramah, namun Fano masih merasa janggal.


Kemudian Fano menyinggung kiriman uang sepuluh juta yang kemarin dia kirim itu sudah datang atau belum.


Wanita itu mulai terlihat aneh, tapi kemudian dia tersenyum dan dia bilang akan menggunakannya untuk keperluan panti.


Fano hanya tersenyum mendengar jawaban wanita itu, Fano tidak puas.


Kenapa pakaian anak-anak panti terlihat lusuh? Mereka juga terlihat sekedar bersih saja, tidak terlalu terawat.


Fano tidak bisa tidak curiga dengan senyuman licik yang terlihat ramah itu.


Ini artinya Fano harus menyelidiki lebih lanjut.


Setelahnya Fano pamit pulang karena dia ada sekolah. sontak anak-anak itu datang lagi pada Fano, sebagian memeluk kaki Fano karena mereka terlalu kecil, jadi Fano mengangkat salah satu yang paling kecil lalu menggendongnya.


Sepertinya Fano menyukai anak kecil, dia sudah merasa seperti seorang ayah. Dulu Albert hanya bisa melihat Alfred saat masih bayi, setelah bertemu lagi Alfred malah sudah sangat besar.


Jadi bersama anak-anak kecil begini membuatnya senang dan merasa seperti seorang ayah. Yah.. meski mereka mungkin menganggapnya paman atau kakak.


“Kakak dateng lagi ya?”


“Bawa kue lagi!”


“Jangan bawa uang, bawa kue”


Fano terkekeh mendengar pendapat jujur mereka, dia pun mengangguk dan berjanji akan membawa banyak makanan jika kembali lagi. Fano sempat melirik wanita yang tadi, dan dia tidak terlihat senang mendengarnya.


Seorang ibu yang mungkin pengurus panti mendatangi Fano dan mengambil alih balita yang ada di gendongan Fano.


“Terima kasih ya nak sudah datang” ibu itu tersenyum pada Fano, beda dengan yang tadi, yang ini terlihat sangat tulus. Sepertinya ibu itu senang dengan kedatangan Fano yang membuat anak-anak bahagia.

__ADS_1


Setelahnya Fano benar-benar pergi, dia sudah duduk di atas motornya saat anak laki-laki yang tadi Fano pasrahi untuk memberikan kue-kue pada anak yang lain datang menghampirinya. Anak laki-laki itu sejenak terpana dengan motor Fano.


“Apa kakak ini orang kaya?” tanya bocah itu dengan polosnya.


Fano tertawa lalu mengusak kepala bocah itu “Itu benar, tapi dulunya aku tidak memiliki apa-apa, aku pun dibuang oleh pamanku, tapi... aku tidak menyerah dan bangkit, bekerja keras dan menghasilkan uang”


Bocah itu semakin menatap Fano dengan tatapan kagum “Kakak keren sekali.. aku juga ingin bekerja dan jadi kaya seperti kakak!”


Fano tersenyum “Apa kamu sekolah?”


Bocah itu menggeleng “Enggak.. tapi aku belajar baca dan nulis”


“Bukankah panti ini dapat banyak bantuan, kenapa kau tidak disekolahkan?”


Bocah itu terlihat bingung “Bantuan apa kak? Yang aku tau cuma baru kakak yang datang ngasih bantuan, kalau pun ada orang kaya datang mereka gak ngasih apa-apa kok”


Fano gelisah mendengarnya, benar-benar ada yang tidak beres dengan panti ini.


“Nanti sore temui aku di taman yang ada disana, kamu mau kan?”


Bocah itu mengangguk “Mau tapi buat apa kak?”


Fano tersenyum lalu mengusak kepala bocah itu lagi “rahasia, ya udah ya, aku harus sekolah, sampai nanti” Fano mengenakan helmnya dan beranjak dari sana.


Di dalam kepala Fano sudah muncul berbagai rencana untuk mengungkap apa yang sebenarnya terjadi di dalam panti tersebut. Fano tidak mungkin main lapor saja tanpa bukti bukan?


[Selamat berjuang Fano]


Tidak apa, bermain detektif-detektifan begini seru juga.


***


Saat jam istirahat Fano sengaja membawa teman-temannya ke atap sekolah untuk berdiskusi tentang panti asuhan yang dia datangi pagi ini. Mereka pergi ke atap setelah mendapatkan makanan dan minuman.


Fano menceritakan apa yang terjadi, mulai dari dia mengirim bantuan sebesar sepuluh juta, sampai dia pergi langsung ke panti dan berbincang dengan bocah laki-laki sebelum pergi.


“Menurutku ini memang harus diselidiki” kata Andy.


“Itu benar, bayangkan saja jika memang pemilik panti menggunakan semua uang anak panti untuk dirinya sendiri, dan kita tidak melakukan apapun, anak-anak itu akan menderita” sahut Haikal.


“Apa kak Fano sudah punya rencana?” tanya Dave


Fano mengedikkan bahunya “Entah, aku ingin minta pendapat kalian aku harus bagaimana”


“Menurutku bagaimana dengan kita rekam diam-diam” kata Yoshi.


“Suruh detektif menyelidiki” Bima.


“Apa maksudmu? Disini ada detektif Andy” Andy, Bima menatap Andy dengan tatapan tidak percaya.

__ADS_1


“Menurutku merekam secara diam-diam tidak buruk” kata Dave, dia terlihat sedang berpikir saat ini.


“Caranya merekam diam-diam?” tanya Fano.


Bima mengangkat tangannya agar perhatian Fano tertuju padannya “Aku tau, ada kamera pengawas yang kecil, ada juga alat penyadap.. kita bisa minta anak-anak itu menyebarnya di setiap sudut panti”


Fano tersenyum mendengarnya “Itu ide yang bagus”


Bima tersenyum bangga mendengar fano menyetujuinya.


“Maksudku kan memang seperti itu tadi” sahut Yoshi.


“Tapi kau kurang jelas” bantah Bima.


Haikal kemudian memasukkan keripik kentang ke dalam mulut Yoshi dan Bima agar mereka diam.


“Berisik banget kalian” Haikal.


“Aku akan menjalankan rencana itu, kalian akan membantuku kan?” tanya Fano.


Mereka semua mengangguk sambil masih


memakan keripik kentang dan singkong.


“Tapi ngomong-ngomong, kenapa kau tiba-tiba ingin menolong mereka? Maksudku.. dari mana tau mereka punya masalah?” tanya Andy.


Fano terdiam, berpikir bagaimana cara menjawabnya. Kalau tidak disuruh sistem membantu Fano juga tidak tau.


“Aku memang sering memberikan donasi, lalu aku berinisiatif untuk datang langsung, hitung-hitung memberi mereka kue. Aku membeli banyak kue dari redpeach, jadi ku pikir akan lebih baik jika aku memberi kue enak pada anak-anak panti” jawab Fano.


Kali ini jawaban Fano tulus, dia benar-benar berpikir akan lebih baik jika anak-anak panti bisa merasakan kue yang lezat. Fano juga sebenarnya ingin membawakan buah-buahan juga, tapi karena terlalu berat, jadinya ya tidak jadi dilakukan.


“Aku juga ingin menyumbang sesuatu” celetuk Dave “Mungkin obat-obatan dan selimut hangat?” tambahnya.


“Ayo kumpulkan uang untuk membelikan sesuatu yang berguna untuk mereka” usul Yoshi.


“Benar juga, aku ikut!” sahut Bima.


“Aku juga” Haikal.


“Baiklah, kita sudah sepakat ya?” Andy.


“Tapi jika pemilik panti terbukti bersalah, bagaimana dengan nasib anak-anak panti? Mereka butuh pemilik panti yang baru” kata Fano.


Mereka kembali berpikir, tapi kemudian celetukan Haikal membuat mereka berhenti “Ayolah, itu urusan nanti.. yang pasti kita hanya harus membantu mereka dan membuktikan kejahatan pemilik, lalu lapor polisi agar diadili”


“Baiklah, lakukan yang bisa kita lakukan dulu” Fano.


Diskusi mereka berhenti sampai disana, tapi mereka masih betah berada di tempat itu, tempat yang sepi, aman dan nyaman, jauh dari gangguan orang lain. Mereka baru pergi saat bel masuk berbunyi dengan nyaring.

__ADS_1


.


.


__ADS_2