Sistem Kekayaan Hukuman

Sistem Kekayaan Hukuman
Menghilangkan rasa bosan


__ADS_3

.


.


Semuanya berakhir bahagia, adik dan teman-teman Jemin akhirnya berhasil terselamatkan, mereka disembuhkan dengan sihir cahaya oleh Abel dan Fano. Ternyata mereka pingsan terkena sihir hitam dari si beruang. Menurut Aron, beruang itu terjebak di dunia ini dan tidak dapat kembali ke dunia asal. Karena dulu sekali ada beberapa portal bermunculan di dunia ini yang berasal dari dunia lain, monster-monster pun bermunculan.


Meski sudah dibersihkan tuntas, ternyata masih ada yang tertinggal, yaitu si monster beruang. Karena sudah bertahun-tahun keberadaannya juga semakin tipis, dia bersembunyi dibalik kabut, berani muncul hanya di malam hari.


Namun, pada para petugas di perkemahan, Fano tetap menyebutnya hantu, hantu beruang. Karena mereka berhasil memusnahkan beruang itu, maka Aron, Abel dan fano sudah dicap sebagai pemberantas hantu.


Entah itu bagus atau tidak, tapi Fano merasa terbebani. Aneh saja jika dia di cap sebagai pemberantas hantu, padahal juga bukan.


Lagipula, apakah hantu itu ada?


[Ada kok, bangsa hantu]


Ada-ada aja.


[Aku serius]


‘Istirahat sana Lylac, kau masih sakit’


[Ugh! Aku akan datang menemuimu]


Fano mengedikkan bahunya tidak peduli, mana mungkin Lylac bisa menemuinya, kan dia masih sakit.


Ini sudah pagi hari, Fano sedang memasak sarapan untuk semua orang, sarapan yang sehat dan hangat agar semuanya lebih bersemangat di pagi hari ini. Fano tidak sendirian, dia memasak bersama Jemin. Ternyata Jemin adalah pemilik restoran seafood yang dekat dari perkemahan ini, dia baru mengambil alih restoran itu dari keluarganya sambil melanjutkan kuliah. Jemin juga kuliahnya tata boga, dia bersiap untuk menjadi chef, karena itu impiannya sejak kecil, juga karena memang restoran itu sudah turun temurun.


Bisa dibilang, keadaan Jemin membuat Fano iri, yah ... meski dia sekarang sudah memiliki restoran sendiri. Tapi sepertinya menyenangkan berada dalam keluarga yang seperti itu, terutama karena Jemin diajari memasak oleh ibunya, dia sendiri yang cerita. Kemampuan memasak itu sudah turun-temurun juga. Adik Jemin juga diajari memasak.


Oh iya, adiknya Jemin namanya Jeya biasa dipanggil Zea. Dia seumuran Abel, dia juga gadis yang cantik namun agak tomboy, rambutnya dikuncir satu asal-asalan dan selalu menatap Fano dan Aron sinis.


Entah kenapa, Fano tidak tau apa salahnya, kalau Aron sih biasa ya, mungkin dia tidak menyukai Aron, kan dia


berisik.


Zea juga ada di dekat mereka, bersama Angel, Yua, dan pacarnya Jemin, meminum minuman hangat yang dibuatkan Angel dan Yua. Sementara itu Aron dan Jehyuk sedang berbicang dengan teman-teman Jemin, kalau Yoshi dan Abel sih masih ada di dalam tenda.


Yoshi masih lemas setelah kejadian semalam, meski dia sudah sembuh, Fano juga sudah meminumkan ramuan penyembuh padanya. Jadi tinggal istirahatnya saja.


“Fano” panggil Jemin.


“Iya?” Fano menoleh padanya.


“Tidak, itu ... terimakasih sudah mengusir hantu itu, sekarang aku sudah merasa lega karena itu sudah tidak ada”


Fano menepuk bahu Jemin “Sudah sepatutnya aku lakukan, aku juga tidak ingin ada koban-korban lain, beruangnya sangat kuat” kata Fano.


“Melihat keadaan temanmu, ku rasa hantunya memang sekuat itu – oh iya Fano, aku tidak tau apakah kau bersedia atau tidak tapi, karena kita memiliki bisnis yang sama, yaitu restoran, apa kau ingin bekerja sama?” tanya Jemin.


Fano tersenyum “Tentu saja, aku sangat menyukai makanan dari restoranmu, setelah ini kita bisa membicarakan kerjasama” balas Fano.


“Tentu, tidak sekarang, sekarang saatnya kita bersantai”

__ADS_1


Pagi hari itu setelah semuanya sarapan dan mengobrol sebentar, merekapun bubar. Teman-teman Jemin banyak yang pergi karena harus bekerja atau kuliah. Lalu pacarnya Jemin juga pergi karena ada kuliah.


Fano dan teman-temannya juga bersiap-siap untuk pulang, untungnya Yoshi sudah baikan, dia sudah bisa


mengejek Fano yang tersandung batu kecil saat mengambil barang-barang mereka, Fano tidak jatuh, tapi suara tawa Yoshi membuatnya malu.


Perkemahan selesai dan mereka harus kembali pada aktifitas masing-masing.


Fano sendiri sih hanya bekerja di rumah saja, kali in Jehyuk yang pergi ke kantor sementara Jungyu menemani Fano dan Yoshi bekerja di rumah. Angel sendiri ada acara dan jadwalnya mulai kembali sibuk.


Yua tentu saja juga sibuk, dia masih sekolah.


Sementara itu, Aron dan Abel masih di rumah Fano, Abel tidak mau pulang cepat-cepat karena masih ingin bersama Yoshi katanya.


Oh iya, siang ini anak-anak Ether datang karena mereka sudah mulai liburan, tapi bukannya pergi ke tempat wisata, mereka malah memilih untuk mengunjungi mansion Fano, kata mereka permainan dan wahananya lebih banyak, makanannya juga lebih banyak.


Pada akhirnya Fano, Yoshi dan Jungyu kerja di dalam ruangan saja, ada ruangan kantor juga di mansion itu, semuanya lengkap. Bahkan, warnet juga ada, serius. Tempatnya bersebelahan dengan kantor, tapi di ruangan warnet itu ada peredam suaranya, jadi tidak berisik sampai keluar ruangan.


Anak-anak Ether ditambah Aron dan Abel main di ruangan komputer atau warnet itu, tempat duduknya juga kursi yang jutaan itu, ada sofa juga, jadi nyaman di tempat itu.


Tok tok


Fano mendongak dari laptopnya, menatap Yoshi yang baru masuk dengan memakai hoverboard. Teman Fano yang satu ini banyak gaya memang. Itu hoverboard milik Leon, entah apa alasan si Leon membawa hoverboard, mungkin agar lebih mudah bergerak. Tapi, setelah sampai mansion malah tidak dipakai, yang memakai malah si Yoshi.


“Nani?” tanya Fano.


“Fano mau takoyaki?” tanya Yoshi, dia membawa satu kotak kecil berisi takoyaki untuk Fano, lalu meletakkannya di sebelah minuman Fano. Karena sekarang yang bersama mereka adalah Jungyu dan


Fano jadi ingin teh mawar biru saja.


Namun sayang sekali yang bisa dibeli hanya teh mawar merah.


“Siapa yang membeli takoyaki?” tanya Fano.


“Membeli? Suho dan Xiao Kun yang masak, yang mereka beli hanya guritanya saja – oh iya, kita jadi bekerjasama dengan restorannya Jemin?” tanya Yoshi, dia kembali ke mejanya dengan masih menggunakan hoverboard.


Fano meraih gelas minumannya lalu menyesapnya sedikit “Tentu saja, Jehyuk yang sedang mengurusnya – Gyu-ya, laporan yang ku minta mana?” tanya Fano.


“Sebentar-sebentar!” jawab Jungyu dari balik mejanya sendiri.


Entah mengapa, kerja di dalam ruangan membuat Fano penat dan mudah lelah.


“Aku ingin ganti ruang kerja” kata Fano.


“Tapi di luar berisik sekali, mana bisa konsen, kamu pergi aja sendiri” tolak Yoshi.


“Bukankah mereka di ruang komputer ya? Apa ada yang di luar?”


“Wubin di luar, latihan nyanyi”


Jungyu datang untuk memberikan laporan yang Fano minta “Ini laporannya, aku akan mengerjakan yang lain”


Fano mengangguk “Terimakasih, aku akan pergi ke luar” kata Fano, dia membereskan dokumen yang dia butuhkan dan juga laptopnya, bersiap untuk pergi ke luar, mungkin ke balkon lagi.

__ADS_1


Fano susah konsentrasi jika bosan. Fano juga membawa makanan dan minumannya.


Di ruang tengah Fano menemukan Wubin yang sedang duduk bersandar sambil menutup matanya, di telinganya terdapat earphone, jadi mungkin dia sedang mendengarkan lagu.


Fano meletakkan barang-barangnya di meja yang ada di ruang tengah lalu menghampiri bocah itu. Dia sama sekali tidak merasa terganggu dengan kedatangan Fano, apa dia tidur ya?


Otak jahil Fano sedang bekerja, dia yang penasaran mencabut earphone dari telinga kanan Wubin lalu memakainya.


Wubin yang sadar menoleh pada Fano.


“Kak Fano! Aku sedang menenangkan diri” protes Wubin.


“Aku juga menenangkan diri, jadi bagi-bagi ya – lagunya bagus juga, lagu siapa?”


“Masa gak tau? Itu kan lagunya Wonhi dan Cherin, yang dikerjain kak Suho dan Noa” jawab Wubin.


“Ah, dikerjain di studio sini kan? bagus juga ya” Fano mengembalikan eraphone Wubin lalu mulai pada pekerjaannya.


Di ruang tengah yang sepi ini, Fano sudah bisa berkonsentrasi, dia mulai mengerjakan beberapa dokumen.


Sampai kemudian ganti Wubin yang mengganggu Fano, dia ikut melongok melihat pada pekerjaan Fano. Sebenarnya Wubin langsung pusing karena semua tulisan dalam bahasa Inggris. Dengan telnjuknya Fano menyingkirkan kepala Wubin menjauh “Ini bukan untuk anak kecil”


“Aku bukan anak kecil paman” kata Wubin, Fano menatap Wubin malas.


“Bin, kamu pergi main sama yang lain aja sana” kata Fano.


“Males kak Fano, aku gak suka main game” balas Wubin.


“Masa sih? Kan main game seru, aku aja suka” kata Fano.


“Gak semua orang suka, aku kadang juga main game tapi gak sesuka itu sih” sahut Wubin.


“Terus kamu sukanya apa?”


“Apa ya? Aku lebih suka petualangan, traveling, membaca buku”


Fano menatap Wubin aneh “Oh ya? Kau serius mengatakan itu?”


Wubin mengangguk “Aku ini anak yang pendiam, meski suka bepergian, aku tidak banyak bicara”


Fano mengangguk-angguk “Aku juga suka bepergian, aku juga suka membaca atau mendengarkan cerita”


“Kak Fano tau cerita yang bagus?”


Fano sudah berhenti mengerjakan pekerjaannya dan fokus pada Wubin “Kau ingin mendengar cerita tentang dunia lain yang penuh dengan makhluk aneh dan sihir?”


Dengan antusias Wubin mulai menganggukkan kepalanya “Mau!”


“Ini cerita tentang dunia lain yang berdampingan dengan kita, namanya Ardez”


.


.

__ADS_1


__ADS_2