Sistem Kekayaan Hukuman

Sistem Kekayaan Hukuman
Tidur di sofa


__ADS_3

.


.


Malam ini Fano tidak bisa tidur, mungkin karena di siang hari sudah tidur sampai sore. Jadi dia memutuskan untuk memeriksa pekerjaannya di laptop, seperti memantau perkembangan penjualan, laporan dari beberapa toko cabang.


Lalu... hmm – Fano pikir, dia bisa memenangkan lokasi yang dia inginkan. Pemilik lokasi tersebut tergiur dengan tawaran uang yang diajukan pihak Yohan, karenanya Fano hampir kalah.


Yang perlu Fano lakukan hanyalah menaikkan harga yang dia tawarkan di awal.


“Minum ini” Jungyu datang memberikan minuman hangat, Fano mengambilnya dan menyesapnya sebentar. Rasa hangat seketika menjalar di tubuhnya.


“Apa ini? Rasanya lumayan” kata Fano.


“Itu adalah teh herbal, kau harus banyak-banyak minum minuman kesehatan, kalau Angel yang ku beri dia malas meminumnya” sahut Jungyu.


“Ini beneran enak kok, aku tidak bohong” tambah Fano.


Jungyu terkekeh senang lalu menyesap minumannya sendiri “dia antara kalian semua yang ku beri minuman itu, hanya kau dan Dave yang suka meminumnya”


“Anak muda memang jarang ada yang suka minuman kesehatan, kecuali jika sedang trend, anak-anak muda jaman sekarang suka dikendalikan oleh trend” kata Fano.


Jungyu kembali terkekeh “Haha kau terdengar seperti orang tua”


Fano menatap Jungyu sebentar kemudian mengedikkan bahunya “Mungkin aku memang sudah tua”


“Tapi Fano, sebagai pebisnis, bukankah trend bisa kita manfaatkan?” tanya Jungyu.


Fano menyeringai “Dari awal, aku sudah memanfaatkannya dalam bisnisku, trend biasanya dimulai oleh orang-orang terkenal, kemudian diikuti lalu menyebar”


“Pantas saja produkmu jadi mendunia dalam waktu singkat ya”


Fano tertawa mendengarnya “Mendunia apanya? Produkku masih berputar di sekitar Asia saja, mungkin karena Asia juga sangat luas”


“Aku jadi bersemangat untuk bekerja denganmu, ku rasa aku bisa melakukannya sambil kuliah” kata Jungyu.


Fano mengangguk “tapi masalahnya bagaimana dengan lokasi itu? Haruskah aku mendatangi Yohan dan memukul wajahnya?”


Jungyu tersenyum penuh arti “kalau bisa, aku sudah melakukannya dari dulu. Masalahnya keluarga Ryu memiliki pasukan mafia di belakang mereka. Itulah kenapa banyak pesaing bisnis mereka yang tidak ingin berurusan dengan mereka”


Fano terdiam mendengarnya, coba saja pasukan mafia mereka masih menjadi bagian dari pasuka Gio pasti bisa diatasi. Masalahnya mereka sudah lepas dan juga mereka pernah membantu keluarga Raynold untuk menemukan lokasi Gio.


Haruskah Fano meminta bantuan keluarga Raynold lagi?


Atau.. haruskah dia melakukannya sendiri?


“Aku berpikir untuk menaikkan tawaran kita, siapa tau pemilik tanah setuju” kata Fano.


“Kau memiliki dana lebih?” tanya Jungyu.


“Jangan bercanda, aku tidak pernah kekurangan uang, membeli seluruh gedung apartemen ini aku juga bisa” kata Fano.


Jungyu tersenyum misterius, malah membuat Fano semakin heran.


“Kalau begitu, lepaskan lokasi itu, aku punya tempat lain yang lebih bagus, bagaimana?”


Melihat raut wajah Jungyu, harapan besar sepertinya bisa Fano dapatkan, dia mulai ikut tersenyum lalu mengangguk.


“Boleh, apa kita bisa melihat lokasinya besok?”


Jungyu mengangguk puas “Tentu saja itu lokasi terbaik menurutku, pemilik sebelumnya adalah kerabat dari istri pemilik Royal Ent. Kebetulan gedung yang ingin dijual bagus sekali dan belum banyak orang yang tau jika itu akan dijual” kata Jungyu.


“Kenapa kau bisa tau?” tanya Fano.


“Aku bercerita pada Dojun tentang Yohan yang ingin membeli lokasi yang kau inginkan, lalu Dojun memberitahuku jika pamannya akan menjual gedungnya” jawab Jungyu dengan wajah puas “Aku pikir kau tidak akan mengambilnya karena harganya lebih mahal” tambahnya.

__ADS_1


“Kau terlalu meremehkan kantongku” sahut Fano kesal, Jungyu tertawa melihat raut kesal Fano.


“Habisnya meski kau sudah banyak uang kau masih terlihat sederhana” kata Jungyu.


“Aku? Sederhana?” Fano tidak mengerti, padahal untuk piyama yang sedang ia kenakan saja harganya mencapai jutaan, baju dan aksesories yang Fano kenakan juga berasal dari merek terkenal yang harganya berjuta-juta.


Jungyu menggeleng “Bukan apa yang kau kenakan Fano.. tapi sifat dan tingkah lakumu, soalnya yang aku tau anak-anak orang kaya disini suka sekali memamerkan kekayaannya, mobilnya, propertinya.. yah, meskipun banyak juga yang kaya tapi masih merendah. Tapi itu sangat langka”


“Sebenarnya di negaraku juga begitu kok, apalagi di kota-kota besar”


Jungyu mengangguk “Benar, orang-orang suka melihat seseorang dari uangnya saja”


Jungyu kemudian bangkit dari duduk, membawa gelasnya yang sudah kosong ke tempat cucian di dapur lalu memasuki kamar Fano.


“Sudah ya Fano, aku mau tidur dulu” kata Jungyu


“Hmm – hmm?” Fano menoleh pada Jungyu yang sudah menutup kamarnya.


Jika dia tidur dengan Yoshi lalu Fano tidur dimana?


“Gyu-ya! Lalu aku tidur dimana?!”


Jungyu membuka pintu lagi, menyeringai jahil pada Fano “Kan bisa sama Angel, good luck!”


“Good luck kepalamu! Hei!”


[Kau bisa tidur di sofa]


“Sembarangan! Eh- tapi benar juga..”


Fano mengacak-acak rambutnya, sepertinya dia harus tidur di sofa malam ini. Jungyu juga kenapa tidak membawa pulang Angel, padahal apartemen mereka juga hanya ada di lantai bawah ini.


Pasti Jungyu sengaja.


***


Nafas Fano terengah-engah setelah selesai berlari beberapa putaran di area tepi sungai Han, dia mendapat seribu koin untuk misi paginya.


Sebenarnya ini masih terlalu pagi, masih jem enam pagi. Tidak terlalu banyak orang berkeliaran di jam sepagi ini selain para pekerja.


Fano tidak sendirian, dia melakukan misi pagi dengan Yoshi, tapi bocah itu sudah menyerah duluan dan memilih duduk saja memakan hotteok dengan lahap.


Setelah Fano duduk di sebelah Yoshi, dia memberikan sebotol air mineral untuk Fano. Fano segera meneguk seluruh isi botol karena dia butuh banyak cairan.


“Wah, setiap pagi kau terus melakukan olah raga seperti ini, lihat semua ototmu... kau juga semakin tinggi rasanya” komentar Yoshi.


Feno melirik Yoshi lalu terkekeh “Haha kenapa? Kau iri denganku? aku hanya 185 cm, tidak bertambah tinggi lagi sejak.. eum – tiga bulan lalu? Atau empat bulan? Aku lupa”


“Aku tidak iri” Yoshi


“Ya ya ya tatapanmu mengatakan yang sebaliknya tuh” cibir Fano.


Kemudian Yoshi memberikan satu hotteok jatah Fano, untungnya masih hangat. Pagi-pagi begini memang enak makan yang hangat dan manis.


“Kau tidur dengan Angel semalam?”


“Uhuk”


“Hei – pelan-pelan Fano.. kau sudah menghabiskan airmu”


Fano menatap Yoshi dengan tatapan malas “Kenapa pertanyaanmu seperti itu?”


“Aku salah?”


“Salah! Aku tidur di sofa semalam”

__ADS_1


Yoshi terkejut mendengernya “ah, baka” (bodoh)


“Jangan mengataiku! Aku tidak bisa berbuat macam-macam”


“Karena ada rantai di lehermu”


Fano menatap Yoshi horror “Kau.. kau bilang apa?”


“Kenapa kau kaget? Aku dikasih tau Abel dulu, dia bilang kau tidak bisa berbuat jahat karena ada rantai di lehermu – aku pikir Abel itu anak indihom bisa lihat-lihat hantu gitu..”


Fano mencubit pipi Yoshi dengan tangannya yang tidak memegang makanan, Yoshi mengaduh kesakitan sampai Fano melepas cubitannya.


“Mana ada yang seperti itu, percaya aja sama anak kecil! Terus yang bener itu indigo bukan indihom” Fano kembali memakan kuenya sambil menatap pemandangan sungai Han di depan mereka.


Yoshi mengusap-usap pipinya yang baru dicubit Fano, pasti pipinya merah deh. Fano ini tidak sadar apa tenaganya sangat kuat? Kalau pipi Yoshi copot gimana?


“Sakit? Maaf jangan nangis” kata Fano setelah sadar Yoshi jadi diam.


“Siapa juga yang nangis!” sahut Yoshi.


Fano ikutan mengusap pipi Yoshi yang memerah, tapi Yoshi menepisnya, dia jengkel sekali dengan Fano, tapi dia tidak bisa marah. Serba salah pokoknya.


[MISI PENTING DATANG!]


Fano mengernyitkan keningnya heran, sepagi ini sudah ada misi penting saja.


[Pergi ke lokasi ini]


Kemudian layar sistem memberikan peta area di sekitar Fano berada. Ada dua titik merah yang Fano tau itu keberadaan Fano dan Yoshi, lalu ada juga titik biru lokasi yang harus Fano datangi.


“Ayo jalan-jalan cari makanan, jangan ngambek Yoshi-chan”


“Jangan panggil aku seperti itu!”


“Kenapa? Kan lucu”


“Fano!”


“Iya-iya.. ish – jadi cowok kok ngambekan”


“Aku gak ngambek! Kesel aja sama kamu”


“Bedanya apa?”


“Beda pokoknya!”


“Gak mau kalah banget sih”


“Biarin”


“Kayak cewek aja”


Kemudian Fano berlari dan Yoshi mengejarnya, mereka pun kejar-kejaran seperti bocah TK. Untungnya disana masih sepi pengunjung. Fano baru berhenti saat dia sudah sampai di lokasi yang sistem tandai dengan warna biru.


“Haaahh haahh Fano capek!” keluh Yoshi yang baru sampai di dekat Fano.


“Suruh siapa ikutan lari?”


DUGH


Yoshi menendang betis Fano dengan kakinya, tapi bukannya mengaduh kesakitan, Fano hanya terkekeh karena tendangan Yoshi hanya seperti tendangan kucing kecil pada harimau dewasa.


.


.

__ADS_1


__ADS_2