
.
.
Fano terlihat sangat bersemangat, dia menunjukkan kamar yang telah dia siapkan khusus untuk Lady, yah – dan Kaisar. Lady terlihat sangat senang, kamarnya sangat luas dan penuh dengan nuansa hijau muda, warna kesukaan ibunya Albert dulu, yang tentu saja masih menjadi warna favorit Lady Lydia.
“Wah, ini kamar apa hutan, hijau semua” gumam Kaisar, Fano menoleh padanya, menatapnya dengan tatapan kesal.
“Aku yang menyiapkan semua ini sendiri” kata Fano.
“Oh ya? WOW! Ini luar biasa! Aku sangat suka” buru-buru Kaisar menambahkan, dia juga pura-pura kagum, padahal dia tidak begitu suka warna-warna terang seperti hijau muda atau hijau pandan.
Kaisar bahkan sering bertengkar kecil dengan istrinya karena sangat menyukai warna hijau muda, dan sekarang Fano menyulap kamar dengan nuansa hijau muda.
Terlihat seperti Fano ingin menyiksa Kaisar dengan perlahan. Sampai Kaisar pikir Fano memiliki dendam dengannya. Namun, karena Fano sangat sensitif dengannya, Kaisar tidak berani menyakiti Fano barang sedikit saja.
Tidak berhenti sampai disana, setelah melihat kamar, Fano juga kembali mengajak Lady Lydia untuk berkeliling mansion besarnya. Kaisar tidak mau ikut, buat apa juga, jadi dia lebih memilih untuk berkumpul dengan Felix, Chris, Yoshi, Jungyu dan Hyun yang sekarang sedang berbincang ringan.
Fano sudah mengenalkan Lady pada Yoshi, Jungyu dan Hyun, sebelum kemudian mengajak Lady pergi berkeliling.
“Fano sangat bersemangat” komentar Felix.
“Tentu saja dia bersemangat, Kaisar jangan cemburu ya” sahut Chris, membuat Kaisar merasa canggung. Dulu memang Kaisar yang tidak tau apa-apa sangat cemburu melihat Fano bersama Lady, sekarang setelah tau kebenarannya, Kaisar merasa agak santai.
“Ngomong-ngomong, kenapa Hyun ada disini?” tanya Felix.
Hyun adalah putri dari adiknya Subin, tentu saja keluarga Raynold mengenalnya, bahkan Jungyu bisa kenal kan karena Jungyu dekat dengan keluarga Raynold, yaitu keluarga Subin.
Apalagi adik Subin, Doyong, adalah anak yang manis dan baik, tentu saja Felix menyukai bocah yang seperti itu, mirip dengan teman kecil Felix, yang namanya David, namun dipanggil Dave.
Dave temannya Felix itu nama aslinya David, sedangkan Dave temannya Fano itu namanya memang asli Dave. Jadi mereka berdua berbeda, meski kelakuan sama. Kenapa juga author suka nama Dave ya, hhh. Dah lah, lanjut.
“Saya sekarang bekerja dengan Fano, hnya untuk menjadi desainer perhiasan saja” jawab Hyun. Felix mengangguk-angguk mengerti, Doyong pernah bercerita putrinya sangat suka menggambar.
Sementara itu Fano dan Lady sekarang sampai di taman, Fano menunjukkan mawar biru yang dia tanam di halaman mansion.
“Sudah tumbuh sebanyak ini, kapan Fano menanamnya?” tanya Lady.
“Baru, eum – satu bulan? Atau dua bulan? Aku lupa, sepertinya baru satu bulan saja” jawab Fano, tidak terlalu yakin dengan jawabannya. Fano memang tidak biasa mengingat sesuatu seperti kapan dia menanam tanaman, dia bahkan sudah lupa berapa bulan dia ada di Korea sejak pertama kali.
“Pasti kau sangat sibuk sampai melupakannya, apa pekerjaanmu disini Fano?” tanya Lady.
“Aku – eum, sekarang menjadi pemilik sebuah perusahaan, tidak – dua perusahaan, yang satu berfokus pada produk kecantikan, yang satu lagi berfokus pada restoran dan cafe” jawab Fano.
“Kau juga membuka restoran rupanya, akhirnya keinginan kita terwujud ya? Membuka restoran di masa depan, aku tidak menyangka masa depan kita seperti ini, berada di tubuh dan identitas yang berbeda” kata Lady.
Fano tersenyum kecil “tidak masalah, yang penting, aku sudah bertemu denganmu, ibu” kata Fano “Ah, maaf, tidak seharusnya aku memanggilmu ibu” tambah Fano.
__ADS_1
Lady mendekat untuk memeluk Fano “Tidak apa Fano, kau bisa menganggapmu ibuku, mungkin kau canggung dengan Kaisar, tapi, kau juga bisa menganggapnya ayahmu – atau paling tidak, seorang kakak. Kaisar ingin dekat denganmu” kata Lady.
Fano hanya terdiam mendengarnya.
Sebenarnya, Fano juga ingin dekat dengan Kaisar, ingin tau sosok ayahnya seperti apa.
“Ibu, boleh aku menanyakan satu hal?” tanya Fano.
Lady tersenyum dan mengangguk “Tentu saja, kau bisa menanyakan apapun.”
Saat ini mereka duduk di bangku taman, memandangi bunga-bunga yang tumbuh bersama dengan mawar biru, ditata sedemikian rupa menjadi taman yang indah.
“Aku belum pernah melihat bagaimana dan seperti apa ayah dulu, bisakah ibu menceritakannya padaku?” tanya Fano.
Senyum Lady lenyap mendengarnya, namun itu hanya sesaat, dan kemudian Lady kembali tersenyum.
“Ayahmu memang agak keras, dulu dia sangat tampan, mirip dengan Albert, banyak gadis-gadis yang menyukainya, ayahmu dulu playboy yang banyak dikejar wanita, namun kemudian ayahmu jatuh cinta pada ibu. Saat itu di musim dingin kami bertemu, di hari pertama salju turun di tahun itu, kami bertemu seperti sebuah takdir. Ibu yang naif saat itu hanya mementingkan tentang cinta saja, jadi ibu mengikuti ayahmu, menikah dengannya dan memilikimu. Kita dulu keluarga yang bahagia, sampai kemudian ayahmu dikejar rentenir, kemudian – eum, ayahmu dibunuh, sama dengan bagaimana aku meninggal dulu.”
Fano tersentak mendengar akhir dari cerita itu, dia tidak menyangka, kisah hidup keluarganya sangat tragis.
Ayahnya dan ibunya dibunuh, lalu Albert sendiri meninggal dengan dihukum mati.
Jika dipikir-pikir lagi, itu sangat menyedihkan.
Apa karena itu keluarganya mendapat kesempatan kedua saat ini?
“Maafkan aku, aku tidak bermaksud membuat ibu sedih” kata Fano, merasa tidak enak hati karena meminta untuk menceritakan luka lama.
“Tidak apa nak, ayahmu dulu memiliki watak yang keras, dia terkesan dingin, padahal dia adalah pria yang hangat. Dia sangat pandai memasak, bahkan ibu diajari oleh ayahmu dulu. Ayahmu dapat melakukan segala hal, memancing ikan, berburu di hutan....”
Kemudian Lady menghela nafas berat “Mirip sekali dengan Kaisar, mungkin karena itu aku jatuh cinta padanya, mereka berdua identik, hanya saja Kaisar berasal dari keluarga bangsawan, memiliki banyak uang dan tidak akan dikejar rentenir” tambah Lady.
Fano menarik ibunya lalu memeluknya, menepuk punggungnya pelan.
Fano tidak tau apakah dia diperbolehkan untuk mengatakan tentang Kaisar atau tidak pada ibunya, namun, Fano memilih untuk tetap diam.
Begini saja tidak apa.
Lagipula, Lady dan Kaisar sudah bahagia.
Tidak apa meski Kaisar tidak mengetahui siapa Fano, tidak masalah baginya.
Ah, apa benar begitu, Fano?
“Apa yang kalian lakukan?”
Mereka berdua menoleh pada asal suara, terlihat Kaisar datang, tersenyum pada mereka berdua.
__ADS_1
“Kami hanya melihat-lihat taman” jawab Lady, kemudian dia berdiri untuk menghampiri Kaisar, memeluk lengannya dan tersenyum lebar.
Melihat Lady sekarang bisa tersenyum selebar itu saat bersama Kaisar, Fano merasa lega.
Benar, tidak apa seperti ini.
Mereka tidak perlu tau siapa Kaisar sebenarnya, iya kan?
“Ternyata bunga ini bisa tumbuh disini juga ya? Pasti menggunakan sihir dari Fano dan Lylac, iya kan?” tanya Kaisar.
“Fano?” panggil Lady, saat Fano hanya melamun dan tidak menjawab pertanyaan Kaisar.
PUK.
Fano baru sadar saat Kaisar menepuk bahunya, Fano pun berjengit karena kaget.
“Iya, pa?” Fano.
“Hah?” Kaisar.
“Oh, maksudku, Kaisar” Fano tersenyum canggung, tadi apa yang dia katakan? Fano sudah lupa.
“Kau kenapa Fano? Baik-baik saja kan?” tanya Kaisar.
Fano tersenyum lemah lalu mengangguk “Aku baik, jangan Khawatir” kata Fano.
“Bagaimana aku bisa tidak khawatir?” tanya Kaisar.
“Kaisar, ini salahku, aku menceritakan pada Fano tentang ayahnya Albert dulu, jadi dia seperti itu,
harusnya aku tidak bercerita” kata Lady.
“Untuk apa kau menceritakan itu?” tanya Kaisar.
“Karena Fano ingin tau, seperti apa ayahnya dulu” sahut Lady.
Kaisar kembali menoleh dan menatap Fano. Padahal dulu Kaisar tidak pernah melihat Fano seperti sekarang ini, dulu Fano hanya terlihat seperti remaja menyebalkan yang suka memberontak.
Tapi kenapa sekarang Kaisar melihat Fano hanya seperti seorang anak yang rapuh dan ingin diperhatikan?
Mungkinkah karena sudah bertemu ibunya, sekarang Fano merindukan sosok ayah?
Kaisar jadi mengingat kembali saat itu Fano datang ke kamarnya saat dini hari, dia ketakutan, mengatakan dia bermimpi buruk dan memanggilnya papa.
“Fano, apakah kau merindukan sosok ayahmu?” tanya Kaisar.
Fano tidak ingin berbohong, jadi dia mengangguk pelan.
__ADS_1
.
.