Sistem Kekayaan Hukuman

Sistem Kekayaan Hukuman
Secangkir teh pagi


__ADS_3

.


.


Saat Fano sudah kembali ke apartemennya, keadaan apartemen sudah ramai.


Tidak seramai itu sih, tapi ada beberapa orang di dalamnya, seperti Yoshi, Dave, Wawan, Abel, Aron, Queen dan Bima.


“Fano kau sudah datang? Kami membuat takoyaki” kata Yoshi yang menyambutnya.


“Kak Fano ada banyak pesanan hari ini setelah Bella mengunggah foto perubahan setelah dua kali pakai krim” sahut Dave.


“Meningkat sekitar 40% dari sebelumnya” timpal Wawan.


“Bisnisnya sangat lancar ya, aku sudah mendapat gajiku lho” kata Bima yang tiba-tiba datang dari dapur memakai apron merah.


Fano memang memberi Bima gaji karena dia membantu pemotretan dan merekam vidio, entah kenapa Bima sangat pandai memotret atau merekam vidio, semua foto atau vidio yang dia ambil hasilnya jadi sangat luar biasa. Karenanya Yoshi tidak banyak melakukan editing. Fano sangat berterima kasih, makanya dia memberi Bima gaji.


Tidak mungkin Fano hanya meminta bantuan, hanya karena Bima teman dia tidak menggajinya... tentu saja Fano tidak seperti itu.


“Apa gajinya kurang?” tanya Fano, dia duduk di sebelah Dave untuk melihat pekerjaan bocah itu.


“Tidak juga, aku senang mendapatnya, karena aku mendapatnya dengan usahaku sendiri, hehe – udah ya, mau masak lagi” Bima pun kembali ke dapur, memasak takoyaki denganQueen dan Abel.


Aron juga ada di ruang tengah bersama Dave, Yoshi, Wawan dan Fano. Hanya saja dia diam memaikankan ponselnya, sepertinya dia serius bermain game.


“Fano! Ayo main game denganku! Kita bisa jadi tim dan mengalahkan gadis songong ini” kata Aron tiba-tiba, dia terlihat kesal sekali dan seperti ingin membanting ponselnya.


Fano tidak mengerti..


Kenapa mereka suka kumpul di apartemennya? Padahal bisa di apartemen Bima.


“Berhenti mengerjakan itu Dave, Yoshi dan Wawan juga.. aku sudah punya karyawan baru tiga orang, jadi pekerjaan kalian akan lebih ringan” kata Fano, sebelum kemudian beranjak dari sebelah Dave pindah ke sebelah Aron.


“Eh? Udah ketemu karyawannya? Bukannya tadi ke rumah sakit?” tanya Dave


“Sepulang dari rumah sakit lah” jawab Fano sambil mengeluarkan ponselnya sendiri.


“Apa gajiku akan berkurang juga?” keluh Yoshi.


“Fokus dengan belajar untuk ujian saja – oh iya, Wawan gak pulang? Undah malem ini” sahut Fano.


“Masih jam delapan kak, lagian aku nginep sama kak Dave” kata Wawan.


Fano mengangguk saja “kenapa kita gak main game aja sambil nunggu camilan?” tawar Fano.


Yoshi berdiri dari duduknya “Aku akan ke dapur membantu Queen dan Abel”


“Kak Fano..” panggil Wawan, Fano menoleh padanya “Kenapa Wan?”


“Itu.. eum –”


Sepertinya ada yang ingin Wawan bicarakan.


“Kita bicarakan nanti aja, kalian gak ada PR apa?” Fano


“Udah selesai dari tadi, kita ngerjain sambil nungguin kak Fano” sahut Dave.


“Mereka rajin banget, buat apa juga rajin-rajin gitu” timpal Aron.

__ADS_1


Fano melirik Aron, lalu menghela nafas lelah, anak didik Sky memang tidak jelas. Mereka cerdas, pintar, genius... tapi bukan berarti mereka rajin. Mereka lebih suka main-main ketimbang belajar seperti itu.


“Tapi makasih lho udah diajarin matematika tadi kak” kata Wawan.


Aron menyeringai “Itu gak seberapa, gak perlu berterima kasih”


“Kapan mainnya ini?” tanya Fano.


“Oh iya, kita akan main melawan timnya Crystal, dia songong banget padahal dibantu sama Mai, kita gak boleh kalah sama mereka!” kata Aron, dia sangat bersemangat kali ini.


“Mai itu siapa?” tanya Fano.


Aron menoleh pada Fano “Kau tidak tau? Zhang Mai? Putri bungsu keluarga Zhang? Padahal dia populer banget di China sana”


“Sepupumu?” Fano.


Aron menggeleng “Bisa dibilang... bibi? Kau tidak perlu menanyakan itu, ayo main sekarang”


Mereka pun mulai bermain game, Dave dan Wawan juga ikut main game.


***


Suara alarm dari ponsel membangunkan Fano, dia menggeliat sebentar sebelum duduk lalu meraih ponselnya dan mematikan alarm.


Dia merenggangkan ototnya sebentar lalu mengusak kedua matanya.


Fano menoleh pada seseorang yang tidur di sebelahnya, bukan Yoshi seperti biasa, karena semalam ibunya pulang, jadi dia kembali ke apartemennya.


Yang tidur di sebelah Fano adalah Aron.


Padahal Fano pikir semalam dia ikut Bima untuk tidur di apartemennya, tapi ternyata tidak. Jika sedang tidur seperti ini Aron terlihat seperti remaja yang manis dan tidak banyak tingkah, beda dengan saat dia sudah bangun.


Fano meninggalkan Aron untuk mencuci muka di kamar mandi, setelahnya dia keluar bersiap menjalankan misi pagi seperti biasa, untuk mencari koin.. kan lumayan sekarang Fano mendapat 400 koin untuk sekali melakukan misi pagi, meski misinya juga bertambah.


Fano terkejut melihat Queenza sudah berada di ruang tengah, memakai gaun tidur berenda yang cantik, di meja sudah tertata cangkir-cangkir teh dan juga beberapa sandwich.


Fano menghampirinya lalu duduk di sebelahnya


“Kau bangun langsung membuat semua ini?” tanya Fano, dia menuangkan teh ke dalam cup kosong.


Ternyata teh susu hangat.


Meminum teh di pagi hari seperti ini membuat tubuh hangat dan nyaman.


“Aku sudah terbiasa minum teh atau susu, atau minuman hangat setelah bangun tidur.. jika lapar makan sandwichnya juga” kata Queen.


“Kau terlihat senang pagi ini, atau hanya perasaanku saja?” tanya Fano, sambil menatap Queen lekat-lekat.


Dia baru bangun tapi wajahnya sudah segar dan cantik saja, padahal dia tidak memakai make up apapun, tapi wajah cantiknya terlihat luar biasa dan seakan tidak nyata.


“Mungkin hanya perasaanmu, aku terlihat senang karena bersama denganmu” kata Queen, kemudian dia memeluk lengan Fano.


Fano tau Queen tidak sungguhan mengatakan itu, seperti dia tidak ingin mengatakan kenapa dia terlihat senang. Tapi Fano tidak mungkin juga mendesaknya untuk bicara.


“Oh iya, kau serius mau bekerja denganku? Lepaskan lenganku, aku mau minum teh lagi” Fano segera menuangkan teh ke dalam cangkirnya yang sudah kosong setelah Queen melepas pelukan di lengannya.


“Aku serius, aku juga sudah melihat bagaimana teman-temanmu bekerja”


“Aku ingin membuka toko untuk produkku sendiri, kau bisa menyiapkannya?”

__ADS_1


“Aku masih harus mencari tempat baru atau kau sudah punya tempat untuk tokomu?”


Fano menggeleng “Belum dapat, aku agak sulit menentukan tempat yang terbaik untuk tokonya”


“Kalau begitu serahkan semuanya padaku”


“Tapi kau serius ingin membantuku?”


Queen mengangkat cangkir tehnya dengan gerakan yang elegan “Aku serius, aku tidak akan memaksamu untuk masuk ke The Royal Group... tapi aku akan membuat bisnismu bisa menjadi sebesar The Royal Group, bukankah itu yang kau inginkan?”


Fano mengulurkan tangannya, kemudian Queen meraih jabat tangan itu.


“Senang bekerja sama denganmu, jangan menghianatiku.. aku tidak suka dihianati” kata Fano.


Queen menyeringai “Aku tidak akan menghianatimu, tenang saja”


Meski begitu, Fano masih akan waspada dengan Queenza. Yang Fano tau tentang Raynold, meski mereka menyebalkan dan seenaknya sendiri, mereka tidak akan menghianati kawan.


Tapi masalahnya, apa Queen menganggapnya kawan? Ataukah lawan?


Fano tau dia tidak bisa menyaingi atau memusuhi Raynold meski dia tidak menyukai mereka, yang dia bisa hanyalah membuat mereka berpihak padanya.


Jadi Fano akan memulainya dengan Queenza.


“Kau akan pergi olah raga seperti biasa?” tanya Queen, dia sudah menyandarkan kepalanya di bahu Fano.


Fano pikir, Queen sudah kembali mengantuk saat ini.


“Benar, aku punya banyak pekerjaan pagi ini”


“Maksudmu banyak yang harus kau kerjakan?”


Fano menjawabnya dengan gumaman “Hmm” lalu menghabiskan tehnya, kemudian meletakkan cangkir itu kembali ke atas meja.


“Aku akan ke bawah dulu” kata Fano, tapi Queen menahan lengannya.


“Apa lagi?” tanya Fano.


“Itu.. bisa kau belikan nasi pecel untukku?”


Mendengar itu Fano menatap Queen bingung, untuk apa gadis ini ingin nasi pecel? Padahal itu kan makanan yang biasa saja dan kurang mewah.


“Kenapa kau menatapku seperti itu?” Queen melipat tangannya di bawah dada saat Fano menatapnya dengan tatapan aneh.


“Kau suka nasi pecel? Atau kau hanya ingin coba-coba saja?”


“Kakekku suka nasi pecel, aku pernah dibuatkan dulu, jadi aku ingin lagi”


Fano mengedikkan bahu “Baiklah, terserah saja, aku akan membelikan untuk yang lain juga”


“Selamat jalan.. aku akan menunggu disini” Queenza mengambil posisi santai di atas sofa setelah Fano berdiri.


.


.


.


bagi kalian yg suka cerita percintaan remaja/ teen romance bisa coba dulu baca novel baruku "Aku berbeda dari kembaranku"

__ADS_1


kalo gak suka gpp, skip aja.


makasih ❤


__ADS_2