
.
.
“Yo!”
Fano mendongak, menatap seorang anak laki-laki yang mungkin seumuran Fano, atau bahkan mungkin lebih muda datang mendekat padanya.
Dahi Fano mengernyit melihat penampilan pemuda itu.
Saat ini baru baru selesai mengerjakan misi paginya dan mendapat 300 koin, jadinya sekarang koin Fano sudah ada 3150 koin. Fano yang lelah sehabis mengelilingi jogging track akhirnya duduk di salah satu bangku taman sambil menegak air mineralnya.
Tapi tiba-tiba seorang pemuda aneh datang mendekat. Dia sangat tampan dengan tubuh tinggi kurus, wajahnya terlihat kecil dengan rambut agak panjang. Memakai celana training hitam dengan hoodie yang hitam juga, tapi Fano bisa melihat dia memakai kaos putih di dalam hoodienya.
Fano pikir pemuda itu cocok menjadi anggota band rock, atau model.
Tapi kenapa dia menyapa Fano ya?
Pemuda itu sudah mendekat lalu duduk di sebelah Fano, dia mengulurkan tangannya yang refleks Fano balas jabat tangan itu.
“Aku Bima Verdinand, kayaknya kamu baru ya disini?”
“Bima Verdinand?”
Bima mengangguk “Iya, eum.. gedung apartemen ini punya keluargaku”
Fano tidak mengerti, bagaimana bisa bocah ini memiliki nama Verdinand? Bukankah harusnya mengikuti marga ayahnya mengingat yang Verdinand adalah ibunya – ah, Fano jadi bingung.
“Tidak.. itu – bukankah tuan besar Verdinand memiliki anak perempuan, seharusnya itu ibumu.. dan bukankah kau seharusnya mengikuti marga ayahmu –”
Fano menghentikan ucapannya saat Bima menepuk bahunya “Kau tidak tau apa-apa, tapi yang pasti kami tidak sudi orang itu menjadi ayahku, jadi aku memakai marga ibuku”
Lia Verdinand adalah seorang gadis yang Albert kenal baik dan sudah ia anggap sebagai adik sendiri. Lia juga yang memperkenalkan Albert pada istrinya, akhirnya Lia juga berkencan dengan seorang pengusaha di Swiss yang juga seorang teman baik Albert.
Fano tidak mengerti kenapa Lia dan putranya tidak ingin mengakuinya sebagai suami dan ayah, bahkan marga putranya juga mengikuti marga keluarga Lia.
Bima tiba-tiba terkekeh, saking hebohnya dia tertawa sampai menepuk-nepuk punggung Fano segala.
“Haha – kenapa kau berekspresi seperti itu? Hahaha kau lucu sekali, kau ingin tau apa yang terjadi pada keluargaku?” tanya Bima dengan nada jahil.
Fano menggeleng “Tidak, itu privasi, kita juga belum kenal kan”
“Kalau begitu kenalan, siapa namamu?”
“Fano, Farelino...”
Apa nama belakang Fano ya?
[Adhitama!]
“Farelino Adhitama”
__ADS_1
“Jadi kau dipanggil Fano ya? Lalu – aku melihatmu keluar dari gedung apartemen sekitar jam tujuh malam bersama seorang gadis, dia siapamu?” tanya Bima
Fano menatap Bima penuh selidik “Kau... mengenal Vivi?”
“Ah, jadi namanya Vivi..”
“Dia temanku, kenapa kau bertanya?”
Bima berdiri dari duduknya “Hanya ingin saja, oh iya mulai hari ini aku akan masuk ke sekolahmu, tapi aku kelas dua.. mungkin kita akan bertemu lagi di sekolah, sampai nanti”
Setelah itu Bima benar-benar pergi.
Fano tidak mengerti dengan bocah itu, tiba-tiba datang sok akrab mengajak kenalan, setelahnya menanyakan hal yang aneh lalu pergi begitu saja.
“Dia sungguhan putranya Lia?”
Kalau hanya melihat tampangnya sih cocok jadi anaknya Lia yang cantik jelita, tapi kelakuannya?? Entahlah.
Tapi, sebenarnya meski Albert dulu berhati dingin, dia juga masih punya sedikit kepedulian terhadap orang-orang di sekitarnya, terutama yang sudah ia anggap keluarga sendiri seperti Lia. Tapi apa yang terjadi dengan Lia? Apa dia dihianati oleh Gio?
Padahal Fano ingin melupakan masa lalunya, tapi sepertinya masa lalu masih menghantuinya, apalagi Fano dapat menemukan nama mereka dengan mudah dimana pun.
***
Hari ini Andy sudah masuk sekolah, anak-anak yang lain baik yang sekelas maupun kelas lain agak bingung melihat Andy memilih duduk di belakang Fano. Andy juga terlihat dekat dengan Fano dan Angel.
Mereka ingin bertanya kenapa tapi takut juga dengan tampang mengintimidasi Andy, tanpa Andy sendiri sadari, orang-orang akan takut melihatnya padahal Andy tidak berbuat apapun. Apalagi tubuh Andy yang tinggi tegap, dia terlihat berotot juga, jadi otomatis yang lain takut padanya.
Ada juga yang mencibir dan mengatakan Andy baik pada Fano untuk pencitraan saja, agar reputasinya kembali baik setelah kejadian Fano jatuh dari atap gedung membuat seluruh sekolah heboh.
Yah.. tidak bahagia juga sih.
Angel hari ini sepertinya mendiami Fano, entah apa yang telah Fano lakukan, dia juga tidak terlihat bersemangat. Bahkan setelah bel istirahat berbunyi Angel tetap seperti itu.
Dia kenapa ya?
[Coba tanya]
‘Memangnya kau tidak tau? Biasanya kau tau segala hal’
[Mana mungkin, aku bukan dewa!]
Fano pikir sistem tidak mau memberitahunya karena Fano harus berjuang sendiri.
“Angel.. kau kenapa?” tanya Fano, ini tepat beberapa detik setelah bel istirahat berbunyi.
Angel menggeleng pelan “Aku baik-baik saja”
“Kau yakin?” bisik Fano, kali ini lebih lembut.
Setelah itu Angel mengeluarkan ponselnya, memperlihatkan sesuatu yang membuat Fano jadi bingung. Ada fotonya dengan Vivi saat Fano mengantar Vivi pulang semalam, anehnya banyak orang berpendapat macam-macam hingga jatuhnya malah fitnah.
__ADS_1
Ada yang mengatakan itu pacarnya Fano, ada yang mengatakan itu adiknya Fano, aneh-aneh pendapat mereka.
“Dia Vivi.. semalam aku membantunya, lalu mengantarkannya pulang, itu saja” kata Fano.
“Bukan pacarmu?” tanya Angel, Fano terkekeh pelan lalu menggeleng “Bukan lah”
“Kau cemburu ya ndut” tuduh Andy yang dari awal mendengar pembicaraan mereka, refleks Angel berbalik lalu memukul Andy dengan buku tulisnya.
Sekarang Angel sudah tidak takut pada Andy rupanya.
“Berhenti memanggilku seperti itu!”
“Aku sudah memanggilmu begitu sejak TK, mana bisa diubah tiba-tiba”
“Kalian sudah kenal sejak TK?” tanya Fano, Angel kembali duduk dan membereskan bukunya.
“Iya, kita satu sekolah terus sejak TK, aku sudah akrab dengannya” jawab Andy.
“Akrab apanya! Kau selalu menggangguku!” sahut Angel.
Entah mengapa, Fano tidak suka mendengarnya, tapi dia berusaha meluruskan pikirannya, mana mungkin dia cemburu hanya karena Andy berteman sejak TK dengan Angel. Itu tidak masuk akal.. maksudnya – untuk apa cemburu ya kan?
“Ayo ke kantin” ajak Fano, dia berdiri duluan kemudian diikuti Andy dan Angel yang masih bertengkar di belakangnya.
Hari ini mereka memilih pergi ke kantin karena pagi ini Yoshi bilang ingin membeli siomay. Karena Yoshi bilang dia sudah ada di kantin jadi Fano langsung saja pergi ke kantin. Fano pikir Yoshi akan bersama Dave, tapi ternyata saat Fano sampai di kantin tidak hanya ada Dave... ada Vivi dan Bima juga.
“Hai Fano! Lama banget sih, sini duduk” kata Bima, dia terlihat berwajah lebih ceria dari tadi pagi saat menemuinya.
“Kak Fano!” Vivi juga ikut tersenyum lebar setelah melihat Fano.
Jauh berbeda dengan Yoshi dan Dave yang terlihat tertekan berada disana.
Fano segera duduk di tempat kosong di sebelah Vivi, kemudian Angel duduk di sebelah Fano yang lain. Angel kembali terlihat suram saat ini.
“Ada Andy juga ternyata, apa kabar?” Bima menyapa Andy yang terlihat makin kikuk duduk di sebelah Bima. Ternyata mereka juga saling kenal.
“Baik” jawab Andy singkat.
“Oh iya, Fano belum tau ya, aku sekelas dengan Yoshi, kita duduk sebelahan, ya kan?” Bima merangkul Yoshi seolah mereka sudah sangat akrab.
Sepertinya Bima ini tipe-tipe yang ceria dan tidak tau malu, extroverts.
Pasti merepotkan jika berteman dengannya, tapi untuk menyingkirkannya juga tidak bisa... Fano tidak bisa mengabaikan putra dari seorang wanita yang sudah Albert anggap adiknya sendiri, seharusnya Bima sudah seperti keponakannya.
Tapi bahkan Yoshi dan Andy terlihat kaku berada di dekat Bima.
Pada akhirnya mereka makan dengan tenang, Bima banyak mengocehkan tentang segala hal, intinya dia bercerita bagaimana dia bisa bersekolah di tempat ini. Dia bercerita jika dia tidak merasa cocok bersekolah di London, apalagi dia bersekolah di sekolah khusus laki-laki, berada di asrama membuatnya tidak nyaman.
Jadi dia memilih untuk pergi ke Indonesia, karena dia pikir Indonesia sekolahnya sangat snatai, cocok dengan kepribadiannya. Meski begitu kakeknya menceramahi dia habis-habisan karena dia pindah saat kelas tiga SMA. Bima juga bercerita jika ibunya lebih senang Bima berada di Indonesia.
“Dimana ibumu sekarang?” tanya Fano, dia sudah menyelesaikan semangkuk mie ayamnya saat Bima bercerita.
__ADS_1
.
.