
.
.
Ini aneh, padahal sebelum tidur, Fano sudah meminum ramuan penyembuh, lalu ramuan agar dia tidak
bermimpi saat tertidur juga. Akan tetapi, saat dia terbangun dia sudah demam. Namun, Fano senang karena ada Angel yang perhatian merawatnya. Sepertinya sakit tidak seburuk itu, apalagi jika dirawat oleh kekasih yang cantik dan lemah lembut.
Fano betah sakit kalau begini caranya.
Eh?
Apa ini? Tumben Lylac tidak menyahut? Dia baik-baik saja kan? padahal tadi sebelum Fano tidur, dia berdebat dengan Fano. Ini aneh.
Tapi jika Fano ingin melihat layar sistem, masih bisa muncul, cuma tidak ada balasan dari Lylac. Kok Fano jadi khawatir ya?
“Fano, kamu mikirin apa sih?” tanya Angel. Fano menoleh pada lalu tersenyum dan menggeleng pelan “Gak ada kok.”
“Jangan bohong, aku panggil dari tadi gak nyahut-nyahut!” Angel memasang wajah cemberut yang bagi Fano sangat imut, bibir mungilnya maju beberapa centi, lucu sekali.
“Hehe, maaf deh” Fano mencubit pipi Angel gemas “Aku pusing soalnya” tambah Fano.
“Fano pusing juga? Kamu tuh makanya jangan kerja terus dong, istirahat juga, jangan maksain diri” omel
Angel.
“Iya, maaf, aku gak akan gitu lagi” kata Fano.
“Awas ya kalo sakit lagi! Aku kan jadi khawatir”
“Aku baik-baik aja, sekarang udah mendingan” sahut Fano.
Kemudian Angel memeluk Fano “Jangan sakit ya, aku jadi ingat saat kau terbaring di rumah sakit ... aku berpikir kau tidak bisa selamat” kata Angel.
“Apa saat itu kau selalu datang untukku?” tanya Fano, Angel melonggarkan pelukannya lalu mengangguk “Iya, aku datang setiap hari, tapi saat aku dua hari tidak datang, langsung ada kabar kau sudah pulih dan pergi, aku sangat bingung waktu itu” kata Angel.
“Banyak dokter dan suster juga tidak menyangka aku akan bangun, pemilik rumah sakit juga terkejut,
karena itu biaya rumah sakitku dibebaskan, bahkan aku sampai sekarang masih berhubungan baik dengan pewarisnya, kak Tio, dia juga dokter disana” kata Fano.
Angel mengangguk “Karena Fano baik, pasti banyak yang membantu Fano, aku juga cukup terkejut kau sudah punya apartemen waktu itu”
“Apartemen itu hadiah sebenarnya, terimakasih kau selalu ada untukku saat itu, aku memang tidak tau
jika kau selalu datang, tapi mungkin berkat kau datang terus, aku bisa kembali lagi ke dunia ini” kata Fano, kemudian dia menarik pinggang Angel mendekat
padanya dan memeluk pinggangnya.
__ADS_1
“Aku selalu berdo’a untuk kesembuhanmu, Fano. Aku sangat takut kau akan pergi, aku merasa sangat bersalah” kata Angel.
“Jangan begitu, yang salah kan si Indra, bukan kamu” Fano mengusap pipi lembut Angel, dia pikir, Fano yang asli sepertinya menyukai Angel. Fano memang anak yang baik, tapi tidak dengan yang sekarang, tapi yah ... dia berusaha untuk menjadi baik, demi dirinya, ibunya, semuanya.
“Tapi aku tetap merasa bersalah jika mengingat hal itu, karena gara-gara aku, Fano –” Angel tidak meneruskan ucapannya saat Fano membungkam bibir Angel dengan sebuah kecupan manis “Itu bukan salahmu.”
Angel kembali mengecup bibir Fano sebelum kemudian beranjak dari sana, “Aku akan membuatkan makan malam untukmu, kau disini saja jangan kemana-mana” kata Angel kemudian.
Fano berdecak malas saat Angel sudah pergi meninggalkannya. Ini sudah sore sekitar jam tiga, tadi
Fano sudah bangun sekitar jam sebelas. Setelah itu dia makan siang dan sudah merasa baikan setelah jam satu siang. Kemudian dia mandi dan merasa lebih
segar, namun beberapa menit setelahnya dia malah pusing lagi.
Karena itu Angel meminta Fano tetap duduk di ranjang saja, tidak boleh kemana-mana, masih bagus Angel membiarkan Fano melihat ponsel atau laptopnya untuk kerja sedikit-sedikit.
Mungkin benar Fano terlalu bekerja keras.
“Apa aku refreshing saja ya?” Fano kembali berselancar di internet, mencari tempat yang bagus di
sekitar Korea. Sepertinya camping di tepi pantai Busan bagus juga, Fano jarang camping, pernah dulu waktu hanya bersama teman-temannya yang laki-laki seperti
Andy, Yoshi, Haikal, Dave, Wawan, Surya dan lain-lain. Mereka camping tapi tempat camping di atas gunung.
Fano belum mencoba camping di tepi pantai, sepertinya seru.
Teman-teman Noa yang datang ada Suho, Asahi, Shiho, Xiao Kun, Wubin. Fano menghitung mereka dalam kepala, ternyata teman mereka kurang satu, harusnya mereka bertujuh.
“Kok kalian cuma enam orang, yang satunya lagi mana, si rambut merah?” tanya Fano.
“Dia ada kelas bahasa Inggris kak, sama bahasa Korea” jawab Shiho.
“Ah, begitu ... berarti Noa juga masih belajar bahasa Korea dong ya?” tanya Fano.
Noa mengangguk “Iya, tapi guruku beda, lebih privat, karena level bahasa Koreaku beda dengan yang lain, aku masih kesulitan” kata Noa.
Fano jadi sedih mendengarnya, andai saja Fano tidak sibuk dia pasti bisa mengajari Noa, tapi sayang sekali dia sangat sibuk, baru tidak bekerja jika sudah jatuh sakit seperti ini. Nama kepala Fano juga masih agak pusing, meski sudah lebih mendingan dari sebelumnya.
“Kak Fano ngapain nyari informasi tentang pantai?” tanya Xiao Kun saat dia tidak sengaja melihat ponsel Fano, yang measih menunjukkan pencariannya.
“Oh ini? Aku berencana untuk pergi camping, karena sepertinya aku bekerja terlalu keras, u rasa camping di tepi pantai akan menyenangkan” kata Fano.
“Kebetulan kita juga akan ke pantai di Busan kak” sahut Wubin semangat, yang kemudian diangguki oleh yang lainnya.
“Kita akan syuting konten disana, Royal Ent menyewakan satu tempat di tepi pantai, jadi nanti disana tidak ada siapapun selain kita dan staff” timpal Shiho.
“Fano ikut juga ya? Kau akan mengajak siapa?” tanya Suho, disini yang tidak memanggil Fano kakak hanya
__ADS_1
Suho seorang, karena dia paling tua dan seumuran dengan Fano, lebih muda Suho beberapa bulan sih.
“Kalau Angel tidak sibuk aku akan mengajaknya, kalau sibuk ya mungkin Jungyu dan Jehyuk, hanya mereka temanku disini” kata Fano.
“Aku juga temanmu” sahut Suho.
“Kita juga teman kak Fano” timpal Wubin.
“Itu kalian kapan berangkatnya? Aku mau ikut, akan ku kabari Jungyu dan Jehyuk nanti” kata Fano. Mungkin
setelah ini tinggal menyiapkan alat-alat camping saja seperti tenda, sleeping bag, dan lain-lain.
“Dua hari lagi” jawab Suho.
“Kalian sibuk sekali ya” ucap Fano, dia tau jika selama dua hari ke depan anak-anak itu masih ada beberapa jadwal lain, padat sekali mereka kesana-kemari.
“Memang padat, tapi pekerjaan kita sambil bersenang-senang, beda dengan kak Fano yang harus banyak berpikir berat” sahut Noa.
“Apa aku jadi idol aja ya, kayaknya enak banyak mainnya” canda Fano.
“Jangan kak Fano, nanti kalo kak Fano jadi idol, kita tersingkir gimana” sahut Asahi.
“Iya nih, kak Fano bukan idol atau selebriti aja udah terkenal banget” tambah Wubin.
“Kapan aku bisa terkenal kayak kak Fano ya” keluh Shiho.
“Harus banyak duit dan ganteng dulu, kita udah ganteng, tinggal duitnya gak punya” bisik Xiao Kun, tapi bisikan itu sangat keras jadi semuanya bisa dengar.
“Susah kalo gitu ya” sahut Suho.
Tiba-tiba Fano meringis kesakitan, mereka berhenti mengobrol dan menatap Fano khawatir.
“Kak Fano kenapa?” tanya Noa.
Fano menggeleng pelan, lalu tersenyum kecil “Aku baik, tapi entah kenapa tiba-tiba kepalaku sakit lagi” Fano tidak tau kenapa dia bisa begini. Bahkan ramuan penyembuh tidak dapat membuat rasa sakitnya menghilang, hanya mereda sedikit saja.
Fano tidak tau harus bagaimana, apalagi sistemnya juga tidak ada menyahut seperti biasanya.
Entah mengapa, perasaan Fano jadi tidak enak.
Apa Lylac baik-baik saja? tau begini dia tidak akan tidur dan mendengarkan Lylac, Fano pikir dia memang sedang dalam masalah, karena sebelum Fano tidur, ucapan Lylac aneh semua. Yah, meski dia memang sering mengajak Fano bertengkar.
Tapi tadi pagi berbeda, seperti Lylac sedang mencari perhatian Fano.
.
.
__ADS_1
.