Sistem Kekayaan Hukuman

Sistem Kekayaan Hukuman
Imajinasi atau nyata?


__ADS_3

.


.


Yoshi menoleh malas pada Abel di sebelahnya, bocah ini tidak mau meninggalkannya, padahal Yoshi


sedang bekerja, ingin menyingkirkannya tapi bagaimana ya ... di luar sedang sibuk, jadi Abel dititipkan pada Yoshi agar tidak mengacau.


Persiapan untuk pesta pernikahan Kaisar akan diadakan di mansion besar milik Fano ini, jadi hari ini sudah di mulai, beberapa orang berdatangan tanpa henti.


Yoshi sebenarnya ingin pergi ke kantor saja, karena pasti dia terganggu. Namun, Yoshi tidak bisa membawa Abel ke kantor seperti Jehyuk membawa Fira.


Satu Fira saja sudah pasti merepotkan, apalagi jika ditambah Abel, Yoshi tidak mau kantor jadi kacau.


Sebenarnya Abel tidak terlalu mengganggu, hanya saja dia terlalu menempel pada Yoshi, sekarang saja dia memeluk lengan Yoshi. Bagaimana Yoshi bisa mengetik jika begini? Mengetik dengan satu tangan kiri membuatnya kerepotan.


“Abel, bisakah kau main saja dengan boneka barumu?” tanya Yoshi.


Abel menggeleng “Aku udah gede, jadi ga main boneka, bonekanya cuma dipeluk aja” jawab Abel.


“Baiklah, bagaimana dengan main game terbaru?” tawar Yoshi.


Abel lagi-lagi menggeleng “Gak mau ga ada temennya, Kak Oci kenapa sih? Gak suka ya Abel ada disini?” tanya Abel dengan mata berkaca-kaca.


“Engga gitu Bel, kamu berpikiran buruk terus ih, aku kan lagi kerja, jadi jangan terlalu nempel gitu” kata Yoshi.


“Gak bisa! Abel mau deket-deket kak Oci terus! Oh iya, tadi pagi temen naganya Abel hubungi Abel, dia bilang dia mau kenalan sama kak Oci.”


Hah? Naga?


Yoshi jadi berpikir keras, ini Abel berimajinasi atau bagaimana? Atau ada seorang manusia dengan nama Naga? Ini tidak masuk akal, malah membuat Yoshi makin puyeng.


“Teman nagamu punya ponsel?” tanya Yoshi.


Abel menggeleng “Tidak, dia bisa menghubungiku lewat telepati, kapan-kapan aku kenalin kak Oci ya sama dia.”


Yoshi hanya tersenyum lalu mengecup pipi Abel “Baiklah, jika itu temanmu, aku mau dikenalkan, apa dia baik?”


“Sangat baik! Dia suka memberiku makanan dan benda-benda berkilau, diajak terbang keliling-keliling, pokoknya seru banget!” kata Abel antusias, meski itu hanya imajinasi,Yoshi pikir dia tidak boleh menghancurkan imajinasinya.

__ADS_1


“Seru dong pasti, kamu kenal dia sejak kapan?” tanya Yoshi, dia memutuskan untuk mengikuti imajinasi Abel saja, karena saat bercerita begini, Abel mau sedikit menjauh darinya, tidak terlalu menempel seperti sebelumnya.


“Sejak lahir, soalnya mama nemu telur naga pas hamil aku, terus kita lahir bareng, jadi saat aku lahir telurnya juga menetas. Waktu itu kami tinggal di kerajaan kakekku, ada di Devirtia, agar telur naganya ada yang merawat juga, kan tidak mudah merawat naga. Naganya laki-laki sih, sama Om Lino dikasih nama Draco. Setelah kami sudah sedikit besar, aku main dengannya bersama Aron dan Queen, namun dia paling dekat denganku” cerita Abel.


Entah mengapa, makin lama cerita Abel terdengar seperti sungguhan, tidak mungkin itu hanya mengada-ada, tapi otak Yoshi makin mendidih jika terus mendengarnya, ada banyak pertanyaan yang membuatnya bingung. Misalnya seperti ... Devirtia itu dimana? Dan Rajanya adalah kakeknya Abel? Berarti besannya Felix dong ya?


Ini membingungkan.


“Lalu Draco sekarang ada dimana Bel?”


“Tinggal di gua khusus yang ada di dalam hutan Flueurazia, guanya bagus sekali dan di dalamnya banyak permata, kadang-kadang dia berkunjung ke kerajaan juga. Oh iya, Draco naga yang masih kecil, karena seumuran denganku kan? tapi tetap saja dia lebih besar dariku, dia banyak tidur! Biasanya dia tidur sampai berbulan-bulan baru mau bangun lagi, jika aku tidak mengirim telepati, pasti dia tidur” kata Abel.


Tidak mungkin Abel mengarang semua itu kan?


Baru saja Yoshi membuka mulutnya untuk bertanya lebih jauh, dia harus dihentikan dengan suara pintu ruangan terbuka, menampilkan Fano yag baru kembali, membawa beberapa bungkus makanan dan juga balita laki-laki.


Kalau Yoshi tidak salah ingat namanya Devano, untung dipanggilnya Deva, bukan Vano, bisa bingung nanti karena namanya kembaran dengan Fano.


“Kau datang-datang membawa anak?” sambar Yoshi.


“DEVA!!” Abel beranjak dari duduknya, lalu merebut balita itu dari gendongan Fano.


Fano suka saja jika mansionnya berguna dan didatangi banyak orang, tapi tidak sebanyak itu juga lah. Fano menyesal tidak memasang tarif. Coba saja Fano pasang tarif pada mereka, bisa-bisa Fano dicoret dari daftar calon mantu.


“Gimana Fano tadi?” tanya Yoshi.


Fano tersenyum lalu mengangguk-angguk senang “Tenang saja semuaanya beres! Ada kendala sedikit, tapi tidak masalah, aku bisa mengatasinya kok.”


Fano duduk lalu membuka bingkisan makanan yang dia buka “Kalian mau?” tawarnya. Tentu saja Yoshi mau, yang Fano bawa adalah bungeobang, atau kue bentuk ikan yang memiliki bermacam-macam isi.


Abel juga mengambil satu, lalu dia berkata “Kakek pernah cerita dulu dia waktu SMA membuat kue ikan untuk festival sekolah.”


“Oh ya? Kelasku waktu itu buat apa ya? Aku lupa” sahut Yoshi.


“Kelasku kan menjual martabak mini, sedangkan kelasmu menjual thai tea” timpal Fano, Yoshi mengangguk-angguk, dia ingat lagi festival sekolahnya. Yoshi hanya menghabiskan waktu dengan keliling melihat-lihat stand kelas lain bersama Fano, Bima dan Dave. Mereka jajan banyak lalu nongkrong di depan kolam ikan sambil membahas banyak hal, kebanyakan yang dibahas game sih.


“Aku jadi pengen martabak” sahut Abel.


“Iya nih, pengen martabak telor sama martabak manis” tambah Yoshi, menatap Fano penuh harap, Abel juga ikutan menatap Fano dengan tatapan memohon yang dibuat-buat.

__ADS_1


Tentu saja Fano akan luluh! Menyebalkan sekali mereka berdua ini.


“Kita bisa membuat nanti malam saja” sahut Fano pada akhirnya, jujur saja, dia juga merindukan jajanan legendaris tersebut. Fano juga merindukan makanan lainnya, tapi dia tidak akan bercerita, takutnya mereka ikutan dan berakhir Fano harus memasaknya untuk mereka juga.


Sambil makan kue ikan, Fano kembali bekerja.


Ini sudah sore sekitar jam dua siang, Fano baru kembali dari apartemen Angel, Angelnya sendiri masih ketiduran dan tidak mau ikut, dia minta ditinggal saja, jadi yah Fano memilih pulang dan mengerjakan beberapa pekerjaan. Lalu di jalan Fano tidak sengaja melihat ada ibu-ibu menjual kue ikan, jadinya Fano melipir dan membeli beberapa.


Bisa dibilang memborong juga sih. Fano sudah memberi beberapa kotak untuk orang yang ada di depan, seperti Kaisar, Lady, Vivian, Queen, Raja ... Raja baru saja datang, tapi Fano tidak mau berdebat dengannya. Padahal Raja terlihat siap untuk menceritakan banyak hal pada Fano. Jika Fano menebak mungkin ceritanya adalah tentang putri dari negri es itu, yang berkencan dengan Raja.


Jujur saja Fano penasaran dengan kelanjutan hubungan mereka, tapi Fano mengerti dia harus segera menyelesaikan pekerjaannya. Meski jadwal Fano dikosongkan, bukan berarti pekerjaan tidak menumpuk.


Tiba-tiba suara tangisan bayi terdengar, Fano dan Yoshi menoleh pada Abel, si balita menangis.


“Apa yang kau lakukan padanya Abel?” tanya Yoshi.


“Deva mau makan kuenya juga, ya gak boleh lah! Aku larang dia, tapi dia nangis” kata Abel.


Yoshi pun berdiri untuk mengambil alih balita itu, namun tidak berhasil, si balita tetap menangis.


“Kenapa kau membawanya kemari sih Fano? Nih, tenangin” Yoshi meletakkan balita itu di pangkuan Fano.


“Lady menitipkan dia padaku tadi, jadi terbawa sampai sini” jawab Fano, di pangkuan Fano, si balita tetap menangis.


“Sini, aku berikan pada aunty vivian lagi” Abel pun mengambil alih balita itu dan membawanya keluar dari sana.


“Akhirnya Abel pergi juga” kata Yoshi, merasa lega karena Abel akhirnya mau keluar.


“Kenapa memangnya? Kau jahat sekali dengan pacarmu sendiri” sahut Fano.


“Masalahnya si Abel menggoda iman terus, kalau ada apa-apa yang disalahkan bukan Abel tapi aku” kata Yoshi.


“Mungkin pikiranmu yang terlalu kotor” Fano.


“Pikiranku lebih bersih darimu ya!” Yoshi.


“Ya ya ya, terserah” Fano.


.

__ADS_1


.


__ADS_2