
.
.
Angel melangkah perlahan-lahan mendekati sosok Fano yang sedang duduk di ruang tengah depan TV. TV tidak menyala, Fano menyibukkan diri dengan pekerjaan dan laptopnya, Fano terlihat sangat sibuk.
Angel bahkan melepas sepatunya dan berjinjit agar Fano tidak mendengar suara dia datang. Setelah sampai di belakang Fano, Angel memeluknya dari belakang.
“Angel?” panggil Fano.
Angel berdecak kesal, karena Fano bisa langsung mengenali dirinya “Kenapa kau bisa tau ini aku? Dan kenapa kau bekerja di tengah malam begini?” tanya Angel, dia kemudian duduk di sebelah Fano.
“Aku bisa mengenali baumu dari kejauhan, lalu aku bekerja hanya untuk memeriksa laporan saja kok lagipula aku tidak bisa tidur, karena tadi siang aku sudah tidur” jawab Fano.
“Apa aku se-bau itu?” tanya Angel.
“Tidak, maksudku aroma mu, eum – parfum.”
“Oh begitu” Angel kemudian hanya memeluk Fano dari samping, melihat ke arah laptop Fano yang menampilkan dokumen-dokumen yang tidak Angel mengerti.
“Apa kau baru selesai syuting? Bagaimana dengan acaramu?” tanya Fano.
“Kau pasti tidak melihatnya kan? aku memenangkan penghargaan lagi tahun ini, penjualan album terbaik, lagu tahunan terbaik untuk solo, lalu ost terbaik tahun ini” kata Angel.
“Oh, maafkan aku, disana tidak ada televisi” kata Fano.
“Maksudmu tidak sempat menonton televisi?”
“Ah – iya, itu ... hehe, aku akan menonton siaran ulangnya” kata Fano lagi.
Angel menggeleng “Tidak perlu melihat, lihat saja cuplikan penampilanku, nanti akan di upload di channel yutupku.”
“Baiklah jika itu yang kau inginkan, tapi – kenapa Dojun tidak ikut dalam acara itu? Ku pikir dia akan ikut” tanya Fano. Fano sungguh berpikir demikian, karenanya dia mau ikut pesta dan menginap.
Eh, ternyata Dojun ikut juga, menyebalkan sekali. Setelah memporak-porandakan mood Fano, Dojun masih tidak mau diam dan terus menyulut amarahnya. Sekarang Fano merasa bodoh karena ikut marah pada Kaisar setelah itu.
Fano sendiri tidak tau kenapa begitu, dia merasa sangat bodoh dan childish, kenapa juga dia marah pada Kaisar? Dia tidak salah, dia juga tidak tau apa-apa, tapi Fano ikut menyalahkan dia.
Bodoh sekali.
“Aku juga tidak tau, padahal dia juga memenangkan penghargaan, tapi tidak ikut, banyak fansnya bertanya-tanya, karena tidak ada pengumuman apapun tentang itu, banyak fansnya khawatir, malah aku yang banyak ditanyai, aku jawab saja dia sibuk” kata Angel.
“Kenapa jadi kau yang ditanya, kau kan tidak ada hubungannya dengan dia” sahut Fano.
“Tapi kan aku memang dekat dengan dia, dan kami satu agensi, tentu saja masuk akal untuk bertanya padaku” kata Angel.
“Iya sih.”
Ini aneh, padahal Angel sedang membela Dojun, tapi Fano tidak marah. Apa karena dia Angel, jadi Fano tidak marah?
Angel meraih wajah Fano agar menatap padanya “Fano, kau sungguh baik-baik saja? apa ada yang terjadi padamu selama aku tidak ada?” tanya Angel.
Fano menggenggam tangan Angel yang bertengger di wajahnya “ada yang terjadi, tidak mungkin tidak ada” kata Fano.
__ADS_1
“Kau mau menceritakannya padaku?” pinta Angel.
Fano menghela nafas berat, kemudian memilih untuk menutup dokumen dan juga laptopnya, dia juga sudah merasa lelah saat ini. Setelah selesai mematikan laptopnya, Fano mulai bercerita pada Angel, tentang Dojun yang lebih memilih ikut bertanding bersama Arthur dari pada mendatangi acara penghargaan. Tentang Dojun yang selalu mencari gara-gara dengan Fano, lalu tentang Kaisar juga.
“Bagaimana bisa setelah kalian pesta pernikahan langsung bertanding? Aku juga tidak menyangka kak Dojun melakukan hal itu padamu, kak Dojun yang ku kenal tidak seperti itu, dia baik dan perhatian –”
“Kau tidak percaya padaku?”
Angel menggeleng “Tidak, aku percaya padamu, tentu saja ... aku hanya tidak menyangka kak Dojun akan menyulut emosimu, mungkin dia hanya ingin dekat denganmu?”
“Dengan mengatakan akan membuatmu menjadi pemeran utama wanita, lalu dia juga bilang dengan begitu dia bisa mencium mu di depan kamera? Dia sudah gila dan kau tetap membelanya?”
“Tidak seperti itu, Fano.”
“Tentu saja dia baik di depanmu, Angel, karena dia ingin mencari perhatianmu, sudahlah, aku tidak ingin membicarakan dia.”
Angel kembali memeluk Fano “Maafkan aku, aku tidak berniat untuk membelanya, aku hanya –”
“Iya, aku mengerti.”
“Fano.”
Mereka terdiam karena ada suara ribut menaiki tangga, jadi mereka berdua fokus melihat pada tangga, hingga kemudian Queen datang bersama Abel dan Kaisar.
“FANO!!” Queen berjalan dengan cepat, menyingkirkan Angel lalu memeluk Fano erat.
“Kak Oci mana?” tanya Abel.
“Di kamarnya” jawab Fano, tentu saja jam segini Yoshi sudah tertidur lelap, dia juga bekerja keras seharian ini, sepulang kerja dia malah harus mengurusi Fano yang moodnya hancur, jadi pasti dia lelah. Bahkan, Lylac saja juga sudah tidur bersama Fira.
Fano hanya diam menerima pelukan Queen, dia tidak tau harus bagaimana, terutama karena Kaisar berjalan mendekat pada mereka, lalu duduk di sofa tunggal yang tersedia disana.
Kaisar hanya terdiam, sampai kemudian Angel berinisatif untuk bertanya.
“Kenapa kalian kemari?” tanya Angel.
“Karena Kaisar menghawatirkan –” Queen.
“Ehem” Kaisar.
“Aku bercanda, aku hanya merindukan Fano kok, oh iya! Makanan olahan daging beruang juga kami bawakan, ada di dapur, grandpa bilang, Fano harus makan makanan itu karena, kau kenapa Fano?” Queen menangkup wajah Fano, yang tiba-tiba murung “Kau tidak suka daging beruang?” tambah Queen.
“Aku suka! Aku akan makan! Kebetulan aku lapar, aku akan makan sekarang!” kata Angel antusias.
“Hey, aku menanyai Fano” sahut Queen.
“Tapi aku ingin mencoba masakannya” timpal Angel tidak mau kalah.
“Baiklah, kau bisa makan, hangatkan dulu sebelum dimakan ya?” Queen pun mengalah, Angel memakai sendal rumah lalu dengan semangat turun untuk pergi ke dapur.
“Fano kenapa tiba-tiba pergi sih? Oh iya, anak harimau putih ada di kerajaan, bersama istrinya Kaisar, tidak bisa dibawa kemari” kata Queen.
“Ehem” Kaisar.
__ADS_1
Queen berdecak malas “baiklah, tadi Abel kemana? Aku harus menghentikannya” Queen pun berdiri lalu pergi mencari Abel di kamar Yoshi.
“Fano, aku ingin bicara denganmu” kata Kaisar.
“Membicarakan apa?” tanya Fano, dia mulai membereskan berkas-berkas dan juga laptopnya.
“Aku minta maaf tentang tadi sore, aku tidak bermaksud untuk marah padamu – okay, aku memang salah karena tidak tau apa yang terjadi, aku sudah berbicara pada Devon – maksudku Dojun, agar tidak mengganggu mu seperti itu lagi. Sebenarnya dia memang menyukai Angel dari kecil, dia hanya tidak terima Angel lebih memilihmu, apalagi kau sudah memiliki Queen, dan masih menjadikan Angel kekasihmu juga, dia tidak terima” kata Kaisar, agak berbelit-belit karena dia merasa gugup berbicara dengan Fano. Apalagi Fano kelihatannya masih marah padanya.
Namun, ucapan Fano selanjutnya membuatnya heran.
“Tidak, harusnya aku yang minta maaf, sudah sepantasnya kau lebih membela Dojun, dia adik sepupumu, kau pasti lebih dekat dengannya kan? itu wajar kau membelanya, kau tidak harus minta maaf padaku, aku yang salah karena terlalu sensitif seperti anak kecil dan berakhir menyalahkan mu, aku minta maaf” kata Fano.
“Fano, jujur saja, apa kau membenciku? Apa kau tidak suka padaku?” taya Kaisar.
“Tidak, aku tidak membencimu, yah ... dulu aku sempat membencimu, tapi sekarang sudah tidak” kata Fano, dia tidak berani menatap mata Kaisar.
“Aku akan tinggal disini.”
Buru-buru Fano menoleh pada Kaisar “Apa?”
“Pesta pernikahan di dunia ini, akan diadakan disini saja, di rumahmu, kau keberatan?” tanya Kaisar.
“Ti – tidak ... tapi –”
“Aku dan Lady akan menginap di rumahmu, Lady sangat ingin tinggal denganmu dan memasakkan mu setiap hari, mungkin hanya untuk satu minggu saja, aku yakin kau pasti –”
“Aku tidak keberatan! Kalian bisa menggunakan rumah ini, aku ... aku akan membantu kalian menyiapkan pestanya” kata Fano.
“Tidak perlu, aku tidak ingin merepotkan mu, kami akan menyewa tim sendiri nantinya” sahut Kaisar.
“Tapi aku ingin membantu” timpal Fano.
Kaisar tersenyum “baiklah kau bisa membantu – eum, apa kau sangat sibuk?” tanya Kaisar.
“Ada banyak hal yang harus ku kerjakan, tapi itu tidak terlalu banyak sampai menyita banyak waktuku, memangnya kenapa?” Fano.
“Mau jalan-jalan denganku? Eum – apa kau suka berkemah?” Kaisar.
Fano diam sejenak untuk berpikir, kenapa tiba-tiba Kaisar ingin berkemah dengannya?
“Aku suka berkemah kok” kata Fano.
“Oh, itu bagus, kita bisa berkemah berdua, bagaimana jika di tepi pantai?”
Eh, hanya berdua? Fano pikir akan mengajak yang lain.
“Tapi, kenapa tiba-tiba –”
“Tidak ada alasan, hanya ingin saja, kau mau?”
Fano mengangguk “Boleh, aku akan meminta Jungyu – asistenku untuk menjadwal ulang dan mengosongkannya di hari libur” kata Fano.
.
__ADS_1
.