Sistem Kekayaan Hukuman

Sistem Kekayaan Hukuman
Pemikiran yang aneh


__ADS_3

.


.


Fano berusaha menyingkirkan Yoshi yang sedang memeluknya erat.


“Ah, aku baik-baik saja, kenapa kalian semua mengasihaniku?” protes Fano.


Ini sudah satu jam sejak keluarga pamannya Fano pergi, ternyata selama Fano berbcara dengan pamannya, Dave dan Wawan yang mengikutinya merekam semua kejadian tersebut. Dimulai dari Fano baru datang langsung dimaki bibi dan sepupunya, sampai saat mereka semua pergi.


Jadilah mereka semua menonton rekaman itu di ruang tengah villa, beruntung Dave dan Wawan merekamnya dengan kamera terbaik yang biasanya Bima dan Yoshi gunakan untuk memotret model dan produk mereka. Untuk informasi, Fano membeli tidak hanya satu kamera, ada beberapa kamera lain juga yang digunakan.


Harga tidak terlalu penting bagi Fano, uang bisa dicari, koin bisa didapatkan lagi. Makanya dia juga tidak keberatan memberi uang seratus juta untuk keluarga pamannya, asal mereka tidak mengganggunya lagi saja.


Namun, jika setelah ini mereka berbuat ulah, jangan harap Fano akan menganggap mereka keluarga lagi.


Oh iya, rekaman tersebut mereka putar di proyektor, jadi mereka seperti melihat film drama anak tiri. Beberapa dari mereka terlihat sedih dan mengasihani Fano, contohnya Yoshi yang saat ini memeluk Fano padahal Fanonya tidak kenapa-napa.


“Hontou ni dai jo bu?” (Beneran baik-baik aja?) bisik Yoshi, sambil menatap Fano dengan mata kecilnya yang berkaca-kaca. Memang Yoshi sedang mengasihaninya, harusnya Fano kesal dengan itu, namun karena ekspresi Yoshi lucu jadi Fano malah terkekeh.


“Fano aku serius nih” Yoshi mencubit lengan Fano, kalau mencubit yang lain Yoshi takut Fano mengamuk.


“Aku juga serius, memang aku merasa marah pada mereka, aku tidak mengerti mereka menganggapku seperti apa dahulu... aku sampai tidak yakin mereka itu manusia yang memiliki hati, bahkan mafia saja sangat menyayangi keluarga dan sanak saudara mereka, tapi – ah... bisakah kita tidak membahas ini? Aku sebenarnya ingin marah” Fano menyandarkan punggungnya pada sofa.


“Aku tidak tau kau mengalami hal yang lebih berat di rumah daripada sekolah, aku minta maaf dulu pernah mengganggumu” kata Andy, dia merasa sangat bersalah pada Fano sekarang, mungkin dia sudah melupakan sosok Fano yang menyeramkan, yang telah mencambuknya dengan ikat pinggang, padahal belum satu bulan berlangsung.


“Santai aja, kau tidak terlalu parah kok.. jika dibandingkan bibi dan sepupuku, jadi Fano – maksudku, aku tidak terlalu memiliki dendam padamu.. dendamku hanya pada Indra karena dia yang membuatku celaka” jawab Fano.


“Ku pikir hidupku menderita, tapi ternyata ada yang lebih parah dariku... aku harus bersyukur” celetuk Surya, yang diangguki oleh yang lain.


Fano mengerutkan keningnya “Hmm – itu benar sih, hidupku memang menyedihkan, tapi bukan berarti itu akhir dari segalanya bukan? Kita bisa bersama-sama bangkit dan mengubah hidup kita”


Wawan menatap Fano takjub, dia makin kagum dengan sosok Fano, dia sampai tidak sadar jika bertepuk tangan, tapi kemudian Haikal di sebelahnya menghentikan bocah itu “Ngapain tepuk tangan? Gak ada yang tampil”


“Ehehehe, keceplosan kak” Wawan.


“Mana ada tepuk tangan keceplosan Wan” sahut Dave.


Ponsel Fano berbunyi, Fano beranjak dari sana untuk mengangkat telfon. Dia terus berjalan hingga sampai di tepi kolam renang, dia duduk disana baru kemudian mengangkat telfon.


“Kenapa?” tanya Fano pada seseorang yang menelfonnya.


“Kau dimana?”

__ADS_1


“Apa jika aku menjawab kau akan kemari? Tidak perlu, bukankah kau sibuk?”


Seseorang yang menelfon Fano, Queenza, berdecak kesal kemudian membalas “Kau pasti ada di villa pinggir pantai kan? aku mendengar atasanmu itu memiliki saham di Deline Jewelry sampai 30%”


Fano mengernyitkan dahinya, agak bingung kenapa Queenza bisa mengetahui hal itu padahal sepertinya tidak ada berita yang memberitakan hal tersebut. Fano jadi mempertanyakan apakah memang jaringan informasi keluarga Raynold secanggih itu? Atau itu hanya perasaan Fano saja ya?


“Itu benar, darimana kau mengetahuinya?”


“Itu tidak penting, yang pasti aku baru menyelesaikan pemotretan untuk salah satu brand pakaian ternama lalu informasi itu mengejutkanku, maksudku.. kenapa harus Deline? Royal Group juga memiliki perusahaan perhiasan sendiri, tidak – itu masuk Blackwolf Co.. maksudku, ku pikir atasanmu tidak menyukai The Royal Group ya? Dia hanya membeli saham di perusahaan lain selain The Royal Group”


Fano menghela nafas berat, Queenza


sangat menyebalkan, dia mempertanyakan banyak hal yang seharusnya tidak perlu


dia pertanyakan. Lagipula apa salahnya semua itu?


“Begini Queen – aku tidak mengerti letak kesalahannya dimana.. kenapa kau harus mempermasalahkan ini?”


“Karena aku pikir dia tidak menyukai The Royal Group”


“Itu tidak benar – maksudku.. yah, tidak salah juga. Tapi itu tidak penting, lagipula itu bukan urusanmu kan? kau tidak perlu komplain padaku”


“Beli saham di The Royal Group, bukan atasanmu tapi kau”


“Aku akan kesana”


Telfon diputus oleh Queenza secara sepihak, Fano manatapi ponsel barunya dengan bingung. Queenza selalu seenaknya sendiri.


Oh iya, ponsel Fano yang lama telah rusak setelah Fano lempar tempo hari, jadi dia sudah membeli lagi ponsel baru, harganya lebih mahal dari sebelumnya, sekitar dua puluh jutaan.


Fano meletakkan ponselnya di atas meja kecil yang ada di sampingnya. Di tepi kolam yang ada di belakang villa, ada kursi-kursi kecil dan juga meja. Ada pula tempat barbeque dan taman kecil juga air mancur disana. Dari tempat Fano duduk, dia bisa menatap pantai, lautan, serta langit siang.


Hari sudah tidak terlalu terik, karena ini juga sudah jam dua siang, hari mulai beranjak sore.


“Fano..”


Di tengah Fano sibuk memandangi pantai dan ombak yang tidak terlalu besar, Yoshi datang lalu duduk di kursi lain.


“Yang lain masih di dalam?” tanya Fano.


“Kak Yanto dan kak Joni sudah pulang karena ada urusan, kak Surya sedang main game dengan Andy dan Haikal, kalau Dave dan Wawan ada di lantai dua gak tau mau ngapain, jadi aku ke sini nemenin kamu” jawab Yoshi.


Kemudian hanya sunyi yang dapat mereka dengar, juga suara ombak di kejauhan sana. Mereka berdua asyik memandangi ombak yang pasang surut.

__ADS_1


“Fano, apa duyung itu nyata?” pertanyaan random Yoshi membuyarkan lamunan Fano, Fano menoleh padanya lalu mengangguk “Ku rasa itu mungkin saja nyata”


“Mungkin?” ulang Yoshi, Fano mengangguk lagi, kali ini terlihat lebih yakin.


“Kenapa kau bertanya seperti itu?” tanya Fano.


Yoshi mengedikkan bahunya “Entah, kadang pikiran-pikiran aneh melintas di kepalaku, seperti keberadaan dunia lain, makhluk-makhluk lain... atau, apakah reinkarnasi itu nyata. Bukankah pemikiran seperti itu menyenangkan?”


Fano terkekeh pelan “Kau suka berteori ya? Apakah menurutmu reinkarnasi itu benar terjadi?”


Yoshi mengangguk “Bisa saja kan?”


“Tapi bagaimana menurutmu jika ada orang yang sangat jahat dari masa lalu bereinkarnasi menjadi teman baikmu?”


Yoshi kembali menatap Fano, menatapnya lama sebelum kemudian menjawab “Aku percaya tidak ada orang yang benar-benar jahat, pasti mereka memiliki sisi baik tersendiri dalam dirinya. Atau, jika memang sangat jahat, pasti ada pemicunya”


“Tapi sebenarnya ada orang yang memang jahat tanpa ada pemicu apapun, orang yang egois dan mementingkan dirinya sendiri, membuang istri dan anaknya demi sesuatu yang tidak pasti”


“Apa ada orangtua yang membuang anaknya sendiri?”


Fano mengangguk “Ada kok”


“Tapi, bahkan ayahku yang tidak terlalu baik saja masih memiliki rasa sayang padaku”


“Dunia ini luas dan kejam Yoshi, banyak hal yang belum kau ketahui”


Yoshi mengangguk “Aku tau itu, dunia luas dan kejam”


“Tapi apa menurutmu, jika ayahmu sangat jahat dan kejam, dia membuangmu dan ibumu demi harta dan kekuasaan, lalu ada temanmu yang memiliki dendam pada ayahmu dan membunuh ayahmu, apa kau masih akan baik pada temanmu itu?”


Yoshi terlihat berpikir keras “Gimana ya? Mungkin meski aku tau ayahku pantas mendapatkannya, aku masih akan marah pada temanku itu – entahlah.. ayahku memang pecundang dan bukan ayah yang baik, tapi dia tidak sejahat itu, yang jahat istri barunya”


Yoshi kembali menoleh pada Fano yang kini diam saja “Kenapa kau bertanya seperti itu?”


Fano menggeleng “Tidak, sama sepertimu, itu hanya pikiran random yang tiba-tiba terlintas di pikiranku, tidak perlu terlalu dipikirkan”


Yoshi bangkir berdiri lalu menarik lengan Fano agar ikut berdiri “Ayo jalan-jalan ke pantai, mumpung udah gak sepanas tadi”


Fano mengangguk setuju.


.


.

__ADS_1


__ADS_2