
.
.
Memang benar Haikal aneh dan menimbulkan kecurigaan, tapi bagaimana jika tiba-tiba ada hal tak terduga terjadi?
Fano, Andy dan Haikal dipanggil ke ruang kepala sekolah setelah jam istirahat selesai, jadi mereka dipanggil saat jam pelajaran kembali berlangsung.
Mereka dipanggil karena ditemukan obat-obat terlarang di dalam tas mereka.
Tentu saja Fano terkejut, bagaimana hal itu bisa terjadi?
Sepertinya mereka dijebak, tapi jika Fano mencurigai Haikal, kenapa Haikal ikut dijebak juga?
Karena ada Fano yang menjadi tersangka, tentu saja kepala sekolah dan guru-guru lain jadi tidak percaya. Terjadi perdebatan sengit di antara guru-guru tentang hal ini. Yang ada di ruang kepala sekolah hanya guru-guru yang kebetulan tidak ada jadwal mengajar, termasuk pak guru olah raga.
Kemudian Reno yang baru datang bersama pak guru olah raga dari mengantar Zion ke rumah sakit juga datang ke ruang kepala sekolah. Reno marah-marah pada Fano, Andy dan Haikal dan menuduh jika merekalah yang membuat Zion seperti itu.
Fano mati-matian berusaha untuk menahan amarahnya, dia ingin sekali menonjok bocah itu tapi tidak mungkin karena dia memiliki reputasi untuk dilindungi.
“Berhenti melindungi dia! Pak guru lihat sendiri sahabatku Zion sudah seperti itu, Fano tidak sebaik yang kalian pikir, dia pasti pengedarnya, dua temannya ini juga pasti terlibat!” tuduh Reno.
“Huwah, aktingnya keren sekali, dia seperti marah sungguhan” bisik Andy pada Fano, tentu saja Fano setuju dengan itu.
Sudah jelas sekarang bagi mereka, jika yang menjebak mereka pastilah Reno, tidak mungkin Haikal yang saat ini terduduk lemas, Haikal sudah seperti kehilangan jiwanya, mirip dengan Fano setelah energi sihirnya tersedot habis kemarin.
“Tenang nak Reno, semua bisa dibicarakan baik-baik, jangan langsung menuduh seperti itu” kata ibu guru cantik yang mengajar bahasa Inggris.
“Kenapa kalian tidak curiga pada Fano? Coba kalian pikir, Fano bisa tinggal di apartemen mewah, memiliki mobil dan motor berharga miliaran, dapat dari mana dia jika tidak menjual obat itu?” tuduh Reno lagi.
“Pokoknya aku akan menuntut mereka bertiga karena mencelakai temanku Zion” tambah Reno.
Pak kepala sekolah memijit kepalanya, sepertinya beliau sedang pusing saat ini, sesungguhnya dia tidak ingin masalah ini sampai masuk ke pihak berwajib, karena tidak ingin mengotori nama sekolah. Tapi disisi lain dia juga tidak bisa sembarangan menuduh tanpa bukti yang jelas.
“Nak Reno tenang dulu ya” sahut ibu guru.
“Apa benar itu kalian yang mengedarkannya? Tolong jawab yang jujur” tanya pak guru olah raga.
“Saya mendapat semua itu karena bekerja pada atasan saya, seharusnya kalian tau jika saya sedang menjalankan bisnis dari atasan saya itu.. omsetnya sudah ratusan juta saat ini, apakah aneh jika saya memiliki banyak uang sekarang? Saya menjalankan bisnis sungguhan yang bersih” kata Fano, mencoba untuk terdengar tetap tenang.
“Tapi kau mendapatkannya jauh sebelum bisnismu dimulai!” sahut Reno.
“Itu karena Fano dipinjami atasannya, kenapa kau masih tidak mengerti juga?” timpal Andy yang sudah kesal karena Reno terus menyudutkan mereka tanpa memberi waktu bagi mereka untuk membela diri.
__ADS_1
Reno tertawa meremehkan “Oh ya? Aku tidak pernah melihat atasannya itu, seperti apa dia? Jangan-jangan dia tidak ada, apa kau pernah melihatnya? Tidak bukan?”
Mendengar itu Andy pun bungkam, dia memang belum pernah melihat sosok atasan Fano secara langsung.
“Lihat ini, mereka sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, lagipula sudah ditemukan bukti di tas mereka kan?”
Haikal yang dari tadi terdiam kini mengangkat kepalanya, menoleh pada Reno dan menatapnya tajam.
“Itu bukan milik kami.. dan bagaimana kau tau jika bukti itu ditemukan di dalam tas kami? Padahal bisa saja ditemukan di loker atau laci, tapi kau sudah bisa menebak dengan benar padahal kau baru datang bersama pak guru.. apa pak guru juga tau dimana benda itu ditemukan?” tanya Haikal.
“Yah... tentu saja tidak tau – apa benar ada di tas mereka?” pak guru malah bertanya pada bu guru bahasa Inggris.
Bu guru mengangguk pelan.
“Jad, bagaimana nak Reno mengetahuinya?” tanya pak kepala sekolah.
“It.. itu.. aku hanya menebak saja kok” kata Reno, dia kini terlihat gelisah.
Memanfaatkan momen ini, Fano pun angkat bicara “Pak kepala sekolah dan pak guru sudah tau saya tidak mungkin melakukan itu bukan? Mendengar kata obat-obat terlarang saja saja sudah tidak sanggup.. mana mungkin saya menjadi pengedar?”
“Fano benar” sahut Andy “Dia tidak mungkin
melakukannya, Fano sangat baik, dia bahkan meaafkan saya yang dulu pernah berbuat buruk padanya.. saya juga menyaksikan jika Fano bekerja keras untuk memulai bisnisnya, saya berani jamin itu”
Fano, Andy, Haikal dan Reno dibebaskan.. mereka juga tidak mendapat skor apapun, tapi mereka masih diawasi.
[Sudah saatnya kau bertindak]
‘Aku tau, aku sudah punya rencana, entah ini bagus atau tidak.. tapi pertama-tama adalah membuat Zion terbangun’
“Bagaimana ini Fano? Bagaimana jika Zion tidak bangun? Apa kita akan dipenjara?” tanya Haikal.
Diantara Fano, Andy dan Haikal.. hanya Haikal lah yang terlihat sangat panik.
Fano meraih kedua bahunya “Hei, tatap aku”
Perlahan Haikal mendongak untuk menatap kedua mata Fano, Fano bisa melihat kekhawatiran dan ketakutan di dalam mata Haikal. Sebenarnya kenapa anak ini? Tingkahnya aneh sekali dan menimbulkan
kecurigaan.
“Sebenarnya kenapa kau segelisah ini? Jika aku boleh jujur kau sangat mencurigakan! Apa itu kau?” tanya Fano.
Dengan raut yang terlihat marah Haikal menepis tangan Fano dari bahunya “Bukan aku! Aku selalu bersamamu seharian ini bukan? Aku juga dijebak... jika aku pelakunya tidak mungkin aku menaruh benda itu di dalam tasku sendiri!”
__ADS_1
“Jika itu bukan kau, kenapa kau bertingkah aneh?” tanya Andy.
Haikal menundukkan kepalanya, lalu duduk di salah satu bangku taman, karena saat ini mereka bukannya pergi ke kelas tapi malah keluar ke taman. Habisnya mereka stress, butuh udara segar. Mereka sudah mendapat ijin juga kok.
“Aku agak trauma dengan obat-obatan terlarang.. karena itu aku sangat panik setelah mendengar obat baru akan tersebar di negara kita, ayahku dan kakakku menjadi korban karena obat tersebut. Sekarang aku takut menjadi seperti mereka dan tanpa sadar ikut terjerat.. aku tau bagaimana rasanya kehilangan keluarga karena benda laknat tersebut. Ngomong-ngomong, ayah dan kakakku mendapatkannya dari Berlin, aku tidak tau bagaimana bisa mereka menjadi korban” Haikal bercerita, dia terdengar sangat sedih saat ini.
Fano dan Andy jadi merasa bersalah karena sempat menuduhnya. Fano juga bodoh.. padahal sudah jelas-jelas sistem mengatakan untuk tidak berbuat sesuatu pada Haikal saat Haikal menggoda Angel. Biasanya sistem akan membiarkan Fano memukul seseorang yang memang jahat, seperti dengan preman-preman waktu itu.
Tapi sistem selalu memperingati jika Fano sudah naik darah.
Memang sulit untuk tidak curiga pada Haikal, karena tingkahnya yang sangat aneh.
Fano duduk di sebelah Haikal lalu menepuk punggungnya.
“Jadi ayah dan kakakmu adalah salah satu Korban dari German?” tanya Fano.
Haikal mengangguk “Benar.. rumah besar dan beberapa tanah di Bandung sudah ibu jual agar kami bisa pindah, kami melakukannya agar tidak terbayang-bayang kenangan bersama mereka di rumah itu, karena sangat menyakitkan. Itulah kenapa aku bisa pindah ke kota ini”
Andy ikut duduk di sebelah Haikal yang lain.
“Maaf karena sempat curiga padamu..” kata Andy.
“Tidak apa, aku baru sadar jika tingkahku mencurigakan” balas Haikal.
“Sekarang kita tau siapa pelakunya, kita hanya tinggal membuat Zion mengaku saja” sahut Fano.
Haikal menoleh pada Fano “Tapi apakah mungkin Reno pelakunya? Dia sahabat dari Zion bukan?”
Fano tersenyum, lebih tepatnya menyeringai “Justru itu.. pelaku biasanya adalah orang terdekat kita, yang pasti aku akan membuat Zion kembali sadar”
“Kau akan ke rumah sakit?” tanya Andy.
“Tentu saja, aku akan melihat keadaannya dulu” Fano.
“Ku rasa dia akan dijaga ketat” sahut Haikal.
Fano mengedikkan bahunya “Entahlah, tapi pasti ada jalan”
Karena Fano memiliki skill fast change untuk menyamar, rasanya tidak akan sulit.
.
.
__ADS_1