Sistem Kekayaan Hukuman

Sistem Kekayaan Hukuman
Gadis misterius dan obat mata


__ADS_3

.


.


Yoshi berbalik, memperlihatkan hasil temuannya pada Jehyuk “Kim Yena” ucapnya, yang berhasil membuat Jehyuk makin bingung “Siapa juga Kim Yena? Namanya pasaran banget, dulu di SD ada sekitar tiga yang namanya Kim Yena, terus di SMP ada sekitar empat orang, masih mending di SMA cuma ada dua orang, dan semuanya itu beda-beda orang mulai SD, gak ada yang sama – kalian mendengarku?”


Jehyuk menoleh pada Fano yang asyik main dengan Jisung.


“Aku mendengarmu!” sahut Yoshi.


“Yah, pokoknya gitu” kata Jehyuk.


“Jadi Kim Yena yang di SD, SMP dan SMA semuanya beda-beda orang?” tanya Yoshi, Jehyuk mengangguk pelan.


“Berarti kamu kenal dengan sembilan orang yang namanya Kim Yena, itu marganya juga Kim semua?” tanya Jungyu yang entah mengapa ikut penasaran.


“Kalau ditambah dengan Yena dari marga lain maka daftarnya akan lebih banyak” sahut Jehyuk.


“Masalahnya data yang ada program televisi itu tidak mencantumkan hal-hal lain seperti nomor telfon, berat badan, ukuran bra –aduh!” Yoshi mengusap kepalanya yang barusan dijitak Jehyuk.


“Untuk apa juga dia memberikan ukuran – ah, sudahlah, Kim Yena tidak penting, kita lupakan saja” kata Jehyuk.


“Jadi tidak ada informasi lain, Yoshi? Itu aneh sekali, aku saja harus memberikan ukuran baju dan sepatuku pada mereka” kata Fano, Jehyuk melirik Fano “Ku pikir kau tidak tertarik dengan Kim Yena” cibir Jehyuk, tapi Fano tidak menghiraukannya, dia terus melanjutkan.


“Informasi itu dibutuhkan karena semua kostum dari mereka kan – oh! Bagaimana dengan cctv di ruangan untuknya? Kita semua punya ruangan masing-masing” kata Fano.


Yoshi menjentikkan jarinya “Ah! Benar juga! Mari kita intip!”


“Jangan mengintip yang tidak-tidak!” sahut Jungyu.


“Tenang saja, aku mengintip yang iya-iya” kata Yoshi.


Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di salah satu restoran, milik F&A group tentunya. Mereka bukan mau kerja, tapi mau makan, lapar sekali hampir seharian belum makan. Sempat makan siang di sana tapi tidak puas, karena menu makan siangnya biasa saja.


Hari ini restoran terlihat sibuk, maklum saja, semakin hari minat dari pelanggan untuk mengunjungi restoran


semakin meningkat saja. mungkin ini karena iklan restoran yang Fano pasang adalah vidio Fano memasak berbagai menu yang baru dan unik. Meski wajah Fano tidak diperlihatkan, yang diperlihatkan hanya bahan-bahan dan masakannya saja. namun entah mengapa hal itu dapat menarik banyak minat.


Ada pula orang luar negri yang penasaran dan ingin pergi ke Korea hanya untuk memakan masakan itu. Fano sampai mendapat ucapan terimakasih dari mentri pariwisata.


“Mari tuan, silahkan masuk, apa tuan-tuan sekalian sudah memesan meja?” tanya seorang pelayan perempuan muda, dilihat dari ekspresinya sepertinya dia tidak tau siapa Fano, ini kasus yang langka dimana ada gadis muda yang tidak mengenali Fano. Tapi apapun bisa terjadi, bisa saja dia terlalu keras bekerja hingga tidak tau berita terkini.


“Kami belum memesan meja, bisakah kami mendapat meja VIP?” tanya Yoshi.


“Tentu saja tuan, mari silahkan masuk” pelayan itu mengantar mereka menuju salah satu ruangan privat di lantai dua.


Setelah sampai, mereka segera memesan berbagai macam makanan dan minuman, Fano tidak tau mereka memesan apa saja karena dia sendiri sibuk menggendong bayi dan juga memeriksa ponselnya.


Lalu, Fano merasa dia telah melupakan sesuatu, tapi apa itu?


Apa yang Fano lupakan ya?


“Jadi begini ya pelayanan di restoran kita, tidak buruk” komentar Yoshi setelah pelayannya pergi.


“Apa kau berkata seperti itu karena pelayan tadi tidak bisa mengenalimu? Kurasa pelayan itu minus” kata Jehyuk.


“Hah? Minus? Apanya? Kelakuannya?” tanya Yoshi.

__ADS_1


Jehyuk menggeleng “Maksudku, penglihatannya, agak kurang”


Akhirnya Fano menyerah, dia tidak bisa mengingat apa yang telah dia lupakan, jadi dia memilih menyahuti teman-temannya “Apa jika aku membantunya memperbaiki penglihatan dia akan terus bekerja denganku?” tanya Fano.


“Kalau begitu perbaiki penglihatanku juga, aku punya sedikit minus, dan kadang tidak bisa mengenali orang” sahut Jungyu.


Fano mengangguk “Baiklah, aku akan memberikan kalian semua obat mata gratis”


“Obat mata macam apa? Yang hanya berguna untuk tetes mata?” tanya Yoshi.


Fano terlihat berpikir, kemudian dia mengeluarkan sesuatu dari saku jas yang dia kenakan, yang sebenarnya dia keluarkan dari kotak penyimpanan.


Ada obat, atau ramuan khusus mata yang dijual toko sistem saat Fano naik ke level 16. Fano tidak tau dia bisa menjualnya lagi atau tidak, dia tidak yakin obat itu masuk kategori kecantikan atau kesehatan. Jika kesehatan maka Fano tidak menjual produk kesehatan apapun, jadi Fano tidak bisa menjualnya. Bukannya tidak bisa, hanya tidak mau.


Masalahnya produk kesehatan yang Fano miliki sama saja dengan milik Royal Group, Fano hanya tidak ingin menjual barang yang sama. Fano maunya menjual sesuatu yang tidak dimiliki orang lain. Karena itu dia memilih produk kecantikan.


Fano kemudian meletakkan botol kaca kecil itu ke atas meja di depan teman-temannya.


Yoshi mengangkat botol kecil itu dan mengamatinya sebelum kemudian direbut oleh Jehyuk dan Jungyu.


“Kalau tidak salah, bahannya berasal dari persik biru, memiliki lebih banyak vitamnin A, yang pasti bagus untuk meningkatkan kualitas mata, juga bisa untuk mengobati mata lelah, ku rasa itu memang obat tetes mata” jelas Fano.


“Untukku” Jungyu mengantongi botol kecil itu.


“Fano aku juga mau!” protes Jehyuk.


“Boku mo!” Yoshi.


“Wakata, nanti aja di rumah ya, aku cuma punya satu lagi, mau ku beri pelayan tadi, kasihan jika dia bekerja dengan penglihatan yang buruk” kata Fano.


Akhirnya makanan datang, Fano cukup shock melihat semua makanan itu, ada banyak sekali. Fano langsung minta pelayannya memberikan bon untuk mereka segera.


“Mau bayar sekarang? Nanti aja sih” kata Jehyuk.


Fano menggeleng “Aku sudah penasaran dengan semua harga – terimakasih”


Pelayan dengan cepat memberikan tagihan mereka. Namun sebelum pelayan pergi, Fano bertanya pada pelayan muda itu.


“Maaf nona tapi, apa nona memiliki penglihatan yang buruk?” tanya Fano.


Pelayan itu terkejut, kemudian dia menundukkan kepalanya “Benar tuan, maaf, apa saya memiliki kesalahan?” tanya pelayan itu takut-takut.


“Ah, tidak kok, kamu tidak memiliki kesalahan, hanya saja kamu tidak bisa mengenali kami dengan baik – jadi, ini obat mata untukmu, gunakan ini tiga kali sehari agar matamu lebih sehat” Fano menyerahkan botol kaca kecil lain untuk pelayan itu.


Pelayan terlihat senang menerima botol kecil dengan isi cairan biru muda tersebut.


“Terimakasih tuan, tapi tuan-tuan sekalian ini siapa ya?” tanya pelayan itu.


“Aku Fano, ini Yoshi, Jehyuk, Jungyu, dan Jisung” jawab Fano, sambil menunjuk semuanya satu-satu.


Pelayan itu makin terkejut mendengar nama-nama yang tidak asing itu, dia kemudian meminta maaf beberapakali, namun Fano bilang tidak masalah dan meminta pelayan itu kembali bekerja.


“Dia lucu sekali, mengingatkanku pada adikku” kata Jungyu.


“Kamu punya adek? Kan anak tunggal?” tanya Jehyuk.


“Adeknya Jungyu kan pacarnya Fano! Gimana sih?” sahut Yoshi.

__ADS_1


“Oh, maksudnya Angel?” Jehyuk.


Fano hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan teman-temannya, yang kadang genius, kadang lemotnya minta ampun. Sementara mereka makan, Fano memberi Jisung biskuit agar ikut makan


juga, kan kasihan yang lain makan Jisung tidak.


Oh iya, tagihan.


Fano membuka tagihan tersebut dan – astaga panjang sekali!


Apa Fano tidak salah lihat ini??


“Dua ... juta .. lima ratus ... ribu ... won” Fano membacanya dengan dramatis.


Yoshi langsung tersedak mendengarnya “Nani?”


“Dua juta lima ratus ribu won, iya kan?” Jehyuk.


“Kalo dirupiahkan berapa itu?” tanya Yoshi.


“Lebih baik jangan dirupiahkan, nanti kamu shock” kata Fano.


“Aku udah shock, shock untuk kedua kalinya tidak akan membuatku sakit hati” Yoshi.


“Kenapa kau harus sakit hati?” tanya Jungyu.


“Berisik! Udah makan aja sana, kalo enggak aku bakal nyuruh kalian ngasih masing-masing 500 ribu buat bayar makanan ini” ancam Fano, mendengar itu, mereka kembali memakan makanan mereka dengan


semangat.


“Ini cuma empat orang dewasa, masa ngabisin sampe 30 jutaan sih?” gumam Fano, masih tidak habis pikir dengan betapa rakusnya teman-temannya, padahal dia sendiri juga sama saja.


“Uhuk – kamu bilang apa? Tiga puluh juta?” tanya Yoshi.


Fano menggeleng “enggak, makan aja ya”


Perhatian Fano kembali teralihkan dengan pesan baru yang datang dari Raja.


Dia bilang, ada kejutan untuk Fano, tapi Fano harus masuk portal yang ada di loteng.


Loteng? Loteng yang mana?


Karena masih bingung, Fano menanyakan Raja dimana loteng yang dia maksud, lalu Raja mengatakan loteng yang ada di mansionnya.


Kejutan apa ya?


.


.


.


apa alurnya lambat? maaf tapi setiap kejadian yg ditulis itu penting dan ada beberapa petunjuk juga. gak bisa diskip 🤭


lagian kalo cepet2 nanti kita cepet juga berpisahnya.


dah lah, sampai ketemu di bab selanjutnya 👍

__ADS_1


__ADS_2