
.
.
Dengan menggunakan skill teknologi yang dia miliki, Fano mencari tau banyak informasi di internet, meski begitu dia tidak sendiri, ada Wawan yang ikut membantunya. Dave dan Yoshi juga ada disana, namun kerjaan mereka beda lagi, mereka sedang menghandle toko online mereka.
Toko mereka sudah berganti nama menjadi Floutesse Beauty, atau disingkat menjadi Flouby. Logonya berupa huruf F besar warna emas dengan bunga putih menghiasi sekelilingnya, bunga putih itu sebenarnya bunga persik putih. Tapi tentu saja tidak ada yang bisa mengenalinya, kecuali beberapa orang.
Informasi yang Fano cari adalah informasi tentang teman lamanya, Giovanni Delarez. Tentang dimana keberadaannya, asal mula bisnisnya bisa sesukses itu, apakah ada pihak tertentu yang ada dibaliknya... bisa saja Gio berhubungan dengan suatu komplotan mafia yang dulu menjadi musuh Albert.
Fano masih berusaha berpikiran positif tentang teman lamanya tersebut.
Akan tetapi informasi yang dia dapatkan meruntuhkan semua kepercayaannya.
Dengan kemampuan teknologi yang dia miliki, dan juga kepandaian Wawan dalam hacking dan coding, Fano menemukan fakta yang cukup mengejutkan.
Banyak rumor beredar tentang Gio, dan semuanya masuk akal.
Ada yang menyebutkan jika Gio mewarisi semua harta Albert, termasuk kelompok mafianya, karena itu bisnisnya bisa berkembang sangat pesat. Banyak juga bukti yang Fano dapat dari meretas dokumen catatan beberapa kepolisian di Eropa sana.
Ada pula dokumen yang Fano dapat dari Italy jika Gio memang mengetuai kelompok mafia Albert setelah Albert meninggal. Lalu Wawan juga mendapat informasi dari salah satu Bank di Paris jika semua harta Albert masuk ke rekening Gio.
Selain itu, ada desas desus jika Gio memiliki anak dari selingkuhannya, anak itu beberapa tahun lebih tua dari Bima.
Itu tidak masuk akal, tidak mungkin Gio memiliki anak – tapi bisa saja sih.
Fano sempat berpikir jika mungkin saja anak itu sebenarnya putranya, ada kemungkinan seperti itu, tapi bagaimana bisa dia menyembunyikan Alfred dari keluarga Raynold?
“Aaarrgghh” Fano mengacak-acak rambutnya frustasi, Wawan yang sedang menghapus semua jejak mereka terkejut mendengar teriakan Fano yang sangat tiba-tiba tersebut. Yoshi dan Dave juga menoleh heran pada Fano.
Bima dan Vivi yang baru saja memasuki apartemen Fano sambil membawa beberapa bungkusan juga ikut bingung.
Fano terlihat berantakan.
“Tidak apa, aku hanya frustasi – kalian sudah datang?” kata Fano, lalu dia menoleh pada Bima dan Vivi.
Mereka berdua datang untuk pemotretan, Vivi akan menjadi model baru untuk produk shampoo. Rambut Vivi sudah semakin panjang dan indah dari sejak pemakaian pertama.
Bima dan Vivi baru datang karena harus mengantri beli kebab dulu.
“Aku sebenarnya ada produk baru, krim kecantikan, sabun cair, parfum, body lotion, snow gel... sebenarnya yang lain tidak masalah, yang masalah hanya krim kecantikannya saja” kata Fano.
“Masalah gimana kak?” tanya Dave, menatap Fano antusias karena ada produk baru tapi juga agak bingung saat Fano bilang ada masalah.
“Karena krim kecantikan harganya jauh lebih mahal dari yang lain” jawab Fano.
“Ku rasa tidak masalah, tapi apa yang membuatnya mahal?” tanya Bima, dia duduk di sebelah Fano, meletakkan barang bawaannya di atas meja.
Fano berdiri dari duduknya “Sebentar, aku ambil dulu barangnya”
Setelah itu Fano memasuki kamarnya, lalu menutup pintu.
Ada beberapa barang yang sudah dibuka di toko sistem, krim kecantikan seharga dua koin atau senilai dengan satu juta rupiah, lalu sabun cair, parfum, body lotion dan snow gel yang harganya sama-sama satu koin atau 500 ribu rupiah.
Fano membeli masing-masing satu untuk contoh saja, lalu membawanya keluar dari kamar.
Fano menaruh kotak-kotak itu di atas meja.
__ADS_1
Kotak dari produk itu saja sudah sangat cantik dengan logo F emas tercetak di atas kotak. Fano membuka krim kecantikan terlebih dahulu, isinya adalah satu wadah yang cukup besar berbentuk bunga mawar dengan diameter sekitar 8 cm berwarna merah muda. Wadah krim tersebut dikelilingi dengan kelopak mawar sungguhan yang baunya sangat wangi, tidak terlalu wangi juga, wanginya lembut dan segar.
“Kak Fano cepat buka tutup krimnya!” pinta Vivi yang sudah tidak sabaran.
Fano membuka tutup krim tersebut, krim tidak wangi, warnanya merah muda dengan gliter warna perak.
“Tidak aneh harganya lebih mahal dari bathbomb, memang berapa harganya?” tanya Yoshi.
“Lima juta, apa itu terlalu mahal? Atau terlalu murah?” tanya Fano.
“Bagaimana jika untuk sementara lima juta itu harga promo?” usul Bima.
Fano menoleh pada Bima lalu menunjukkan jempolnya “Aku juga berpikir seperti itu, ku rasa lima juta terlalu murah, tapi karena kita masih baru jadi tidak mungkin langsung memberi harga lebih dari itu” kata Fano.
“Kak Fano, boleh aku pakai? Aku ingin memilikinya!” mata Vivi berbinar-binar melihat produk krim tersebut, dia sangat suka wadahnya, krimnya, wanginya.. semuanya!
“Karena kau modelku, aku akan memberinya padamu, tapi.. aku ingin mencoba efeknya dahulu. Krim ini diklaim dapat membantu semua masalah kulit wajah, seperti berminyak, berjerawat, kulit kering, bekas jerawat... jadi bisa dipakai semua jenis kulit, selain itu juga dapat membantu melembabkan dan mencerahkan kulit secara alami. Jadi ku pikir, aku ingin mencobanya pada seseorang yang memiliki masalah dengan wajahnya, kalau bisa yang agak parah” kata Fano.
“Aku ingin coba” kata Dave, mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
“Kulit wajahmu sudah putih mulus, apanya yang mau diperbaiki?” sahut Bima “Biar aku saja” lanjutnya.
“Wajahmu sudah putih mulus apanya yang mau diperbaiki?” Dave mengembalikan ucapan Bima. Kemudian Bima menghampirinya, lalu dengan gemas menguyel-uyel pipi Dave.
“Huwwaa kak Bima berhenti!! Kak Fano tolong!!” Dave
“Berhenti kalian, ini bukan saatnya bercanda!” teriak Fano.
Tapi bukannya berhenti, Yoshi malah ikutan menyerang Dave, kali ini menggelitiki bocah itu.
“AKU TAU!!” teriakan Vivi yang cukup keras tersebut mengalihkan perhatian Bima dan Yoshi, Dave lega karena akhirnya dia bisa kabur, bersembunyi di balik tubuh Fano.
“Kak Fano cari yang punya masalah sama wajahnya kan? aku tau seseorang... dia kasihan banget banyak diejek, jadinya dia sering menyendiri, aku pengen deketin, tapi dia saat aku deketin kayak ngejauh terus gitu kak” kata Vivi
“Siapa sih? Anak kelas kita?” tanya Dave
Vivi menggeleng “Bukan, anak kelas sebelah, aku dulu satu SMP sama dia. Sejak masuk SMA wajahnya banyak jerawat gitu, dia bilang udah pergi ke dokter tapi gak sembuh-sembuh, sekarang anaknya minder banget”
Fano tersenyum lebar “Bagus.. kita pakai dia, maksudku.. dia bisa jadi model kita”
“Sebelum gelap, ayo pemotretan dulu Vi, kalo kemalaman nanti kamu dicari mama kamu” kata Bima, dia berdiri lalu mulai mempersiapkan kamera, Yoshi juga meninggalkan laptopnya dan turut membantu Bima.
“Sekalian sama produk yang baru ya!” Fano.
Yoshi memberikan kedua jempolnya “Beres CEO!”
“CEO?” Wawan yang dari tadi sibuk dengan laptopnya akhirnya mendongak pada mereka.
“Fano kan CEO perusahaan ini?” kata Bima.
“Tapi kan kak Fano punya tuan” sahut Dave.
“Meski itu benar, tapi yang mengurusi semua bisnis kan Fano, jadi tentu saja CEOnya Fano” balas Bima.
“Aku wakil CEO ya?!” pinta Yoshi
Fano mengangguk “Boleh aja”
__ADS_1
“Kak Yoshi curang!” balas Dave.
“Kamu sekertaris aja Dave, bawahanku” sahut Yoshi.
“Cih” Dave
“Terus aku apa?” Wawan
“Kamu kan manusia Wan” Vivi
“AHAHAHA” Bima
“Kak Bima receh banget gitu aja ketawa” sahut Vivi
“Terserah aku lah!” Bima
“Iya nih, terserah Bima lah” Yoshi
“Kamu gak usah ikutan” Bima mencubit pipi kenyal Yoshi.
“ITTAI!!” (sakit!) Yoshi.
“Berisik banget kalian! Cepatan siapin pemotretannya, biar aku makan kebab dulu” timpal Fano, dia sudah meraih satu bungkus kebab “Ini daging apa?” tambahnya.
“Ada yang sapi ada yang ayam” sahut Vivi.
“Kak aku!” Wawan mengulurkan tangannya, minta kebab juga, Fano meraih satu bungkus secara acak kemudian memberikannya pada Wawan.
“Oh iya kak Fano.. sini deh” kata Wawan.
Fano mendekat pada bocah yang dulunya gemuk itu, sekarang sih sudah lebih kurusan, tapi masih terlihat besar, maklum tingginya sudah 180 cm. Wawan bongsor memang.
“Apa Wan? Kamu nemu sesuatu?”
“Itu kak.. sempet ada kehebohan beberapa waktu lalu di bandara, pertama karena sepertinya ada beberapa anggota mafia dari kelompok mafia yang sedang kita selidiki masuk ke negara kita, kedua.. sepertinya mereka membawa sesuatu yang mencurigakan. Dan yang lebih mencurigakan lagi, mereka lolos pemeriksaan bea cukai dan sebagainya” kata Wawan.
“Berarti sudah mulai masuk ya? Ini harus segera dihentikan, tapi bagaimana caranya?”
“Kira-kira apa yang mereka bawa ya kak?”
“Mungkin narkotika jenis baru”
“Kok kak Fano tau?”
“Aku bukannya tau, ini sedang menebak”
Wawan mengangguk-angguk mengerti “Kalo
itu benar, harus dihentikan kak.. harus dilaporkan ke pihak yang berwajib”
Fano menggeleng “Belum bisa, kita harus punya banyak bukti – terus awasi mereka Wan”
Wawan mengangguk.
.
.
__ADS_1