
.
.
Queen menghela nafas berat, kemudian dengan jari telunjuknya dia menyentuh leher Fano.
“Disini.. aku bisa melihat ada rantai yang menjerat lehermu.. aku yakin karena rantai ini kau tidak bisa berbuat sesuka hatimu, ada yang mengaturmu bukan?”
Fano memalingkan wajahnya dari Queen, kembali menatap langit di atas sana.
“Itu memang benar, ‘sesuatu’ sedang mengatur
apa yang boleh dan tidak boleh ku lakukan. Aku tidak keberatan, ini permintaan ibuku, agar aku menjadi orang yang lebih baik, aku tidak ingin mengecewakannya lagi”
Queen kembali berbaring telentang, ikut menatap langit di atas sana.
“Fano percaya reinkarnasi?”
Fano cukup terkejut mendengar itu, kemudian dia menjawab “Aku.. percaya”
“Aku juga percaya”
“Kenapa kau mempercayainya?”
“Ini rahasia Fano, tapi karena aku sudah mengetahui rahasiamu tentang rantai itu maka aku akan memberitahu sedikit... sebenarnya, Queenza yang asli harusnya sudah meninggal saat dikandungan, kebetulan, saat itu bibiku juga sakit-sakitan, aku tidak tau bibi yang mana mengingat bibiku juga banyak sekali. Pokoknya yang aku dengar, dengan jiwa dan kekuatan bibiku, akupun terlahir dengan selamat, namun karena itu malah bibiku yang meninggal. Aku sebenarnya merasa sangat bersalah”
“Apa itu Reina?”
“Aku tidak tau, itu kan rahasia, yang tau harusnya hanya kakek, ayah, dan om Roi”
“Lalu, bagaimana bisa dengan itu kau percaya dengan reinkarnasi?”
Queen terdiam sejenak, hingga beberapa detik kemudian ia kembali bersuara “ini mungkin terdengar aneh, tapi aku mulai mendapat memori-memori aneh sejak kau terus mempertanyakan bibi Reina. Aku yakin memori itu bukan milikku, karena itu aku ingin mendiskusikannya denganmu, bukankah itu aneh?”
Fano mengangguk setuju meski Queen tidak bisa melihat dia menganggukkan kepala, dia juga berpikir itu aneh jika Queen benar-benar mengalaminya.
“Itu aneh, tapi bisa jadi bibimu yang mengirim memori itu sebagai pertanda atau sesuatu”
“Pertanda jika aku harus membantumu?”
Kini Fano kembali menoleh pada Queen “Maksudmu apa?”
“Jujur saja, awalnya aku mendekatimu karena aku melihat potensi dalam bisnismu, aku bahkan ingin Angel menjauh agar bisa mendekatimu – tunggu! Kau tidak marah?” Queen bangkit duduk, menatap Fano yang hanya diam saat ini, bukankah harusnya dia marah karena Queen tidak tulus membantunya?
Akhirnya Fano ikut duduk lalu menjawab “Aku tau itu dari awal kau ingin mendekatiku, jadi aku tidak terkejut. Lanjutkan apa yang ingin kau katakan”
Queenza menghela nafas sebentar sebelum melanjutkan “pokoknya aku ingin mendekatimu karena tertarik dengan produkmu dan bisnismu, tapi kemudian memori-memori aneh mendatangiku, seakan memintaku untuk terus berada disisimu dengan tulus... karena itu sekarang aku berjanji akan membantumu hingga kau sukses”
Fano tersenyum lalu menepuk-nepuk kepala Queen dengan lembut “Kau gadis yang baik, kau juga sangat jujur dan tulus, meski sedikit menyebalkan”
Queen menepis tangan Fano dari kepalanya, lalu memasang wajah cemberut yang lucu, tapi Fano malah tertawa melihat ekspresi Queen.
Kemudian Fano merangkul bahu Queen lalu menunjuk ke satu titik di langit sana “lihat itu, bukankah itu membentuk mahkota?”
__ADS_1
Queen memincingkan matanya melihat ke titik yang Fano tunjuk “Mana? Tidak membentuk apa-apa tuh, mungkin hanya kebetulan”
“Kau tidak percaya padaku? Itu benar-benar membentuk mahkota”
Queen menyingkirkan lengan Fano dari bahunya “Tidak! Kau membohongiku!”
Fano hanya tertawa setelahnya, padahal Queen tidak berpikir ada yang lucu, mungkin Fano sudah jadi receh berkat bergaul dengan teman-temannya yang super receh.
“Ngomong-ngomong Fano, kenapa kau percaya reinkarnasi?”
Tawa Fano lenyap mendengarnya “Karena eum.. aku adalah reinkarnasi dari seorang pemimpin mafia yang paling kua – aduh!”
Fano tidak menyelesaikan ucapannya saat Queen mendorong bahu Fano hingga kembali terlentang.
“Jangan mengada-ada!” kata Queen, kesal karena dia pikir Fano malah bercanda dengannya, Fano juga kembali tertawa setelah terbaring di ranjang.
Melihat Fano tertawa lepas entah kenapa Queen jadi tersenyum, beberapa hari setelah Angel pergi Fano sering murung. Melihat Fano kembali tertawa lepas seperti itu membuat Queen lega.
Queen merasa bersalah karena Angel pergi, namun, Angel pergi bukan salah Queen. Orangtua Queen dan orangtua Angel yang menginginkannya, lagipula Angel kan memang bermimpi menjadi penyanyi.
Meski begitu, Queen tetap merasa bersalah.
“Kau akan menginap disini?” tanya Queen.
“Aku akan pulang”
Queen menggeleng “Tidak menginaplah disini”
Yang datang adalah Abel, Aron, dan Christal. Christal adalah anak dari Rin dan Sky, Peter juga anak mereka. Kemudian Aron menjelaskan jika Raja dan Peter ada bersama dengan Alfred, mereka mengobrol banyak hal di tempat lain, jadi mereka meninggalkan ketiga orang itu untuk kemari.
Christal terlihat sangat tertarik dengan Fano, Fano juga kurang nyaman karena Christal masih asing baginya, Christal juga sangat cantik dan menarik. Jadi Fano tidak nyaman saat Christal dekat-dekat dengannya.
Untungnya ada Queen dan Abel menarik Christal menjauh agar tidak dekat-dekat dengan Fano.
Mereka mengobrol lagi disana sambil melihat bintang, mereka juga akhirnya tertidur disana saat mereka sudah mulai mengantuk dan lelah.
***
Setelah beberapa lama hanya mendapat misi biasa, kali ini Fano sedikit bersemangat karena akhirnya mendapatkan misi penting. Apalagi misinya sangat mudah.
--*--
MISI PENTING:
Menolong anak-anak di panti asuhan yang beralamat di Jl.xxx xxx, xxx
Waktu misi adalah satu minggu, bisa kurang tidak boleh lebih.
Hadiah: 3000 koin
--*--
Langsung saja Fano mengirimkan uang sebesar sepuluh juta untuk panti asuhan itu untuk bantuan awal. Karena Fano juga harus sekolah, jadi tidak bisa ke panti asuhan itu hari ini.
__ADS_1
Tapi masalahnya, setelah Fano selesai sekolah, sampai malam hari Fano sudah menyelesaikan semua pekerjaannya, tidak ada tanda-tanda misinya telah diselesaikan.
“Apa yang terjadi?”
Fano kembali membaca misinya, sepertinya tidak ada yang salah, biasanya bantuan hanya berupa uang kan? selama ini Fano juga sering mengirim bantuan berupa uang pada beberapa donasi-donasi.
Tapi jika misi tidak terselesaikan pasti ada masalah.
“Tidak mungkin misi hanya seperti ini, apalagi sistem memberikan alamat spesifik, pasti ada sesuatu dengan panti asuhan ini. Mungkin bantuan yang dimaksud bukan berupa uang” gumam Fano, dia sedang berpikir keras sampai kemudian ada pesan dari Queen jika ayah dan kakaknya sudah mulai menyerang Gio beserta kelompok mafianya.
Mereka berhasil menemukan banyak bukti jika Gio merupakan ketua mereka, dan juga penyebaran narkotika yang sedang viral itu adalah perbuatan mereka.
Meski begitu penyelidikan lebih lanjut masih dilakukan, karena keluarga Raynold juga ingin menyelesaikan masalah hingga ke akar-akarnya.
Fano senang karena akhirnya Gio mendapat balasannya, tapi dia sebenarnya juga tidak senang karena bukan dia sendiri yang melakukan semua itu.
Fano ingin menghabisi Gio dengan tangannya sendiri, tapi itu tidak mungkin... jika dia melakukannya, dia tidak memiliki perubahan. Di kehidupan kedua dia malah kembali menjadi pembunuh.
Fano harus menjadi orang baik seberapa sulitnya pun hal itu.
Dia tidak boleh mengecewakan ibunya lagi.
Karena Fano tidak bisa tidur, akhirnya dia memberi pesan pada Yoshi jika dia tidak bisa tidur. Tidak berapa lama Yoshi datang ke apartemen Fano membawakan satu botol yang entah isinya apa.
Yoshi membawa Fano ke ruang tengah, menuangkan isi dari botol ke dalam dua cangkir lalu memberi salah satunya untuk Fano “Minumlah, ini teh yang bisa membantumu lebih rileks dan semoga kau bisa tidur nyenyak”
“Terima kasih”
Fano menyesap minuman itu lalu tersenyum, tehnya memang tidak manis, tapi rasanya sangat segar dan hangat, dia mulai merasa rileks.
“Abel bilang dia punya kakak tampan yang baru, itu maksudnya apa?” tanya Yoshi.
“Oh, itu Alfred”
“Alfred? Atasan kita?”
Fano menggeleng “Sudah tidak lagi, dia memberikan semua kendali bisnis padaku sekarang, tapi.. kita tetap bekerja sama, kau tau Deline Jewelry? Kita bekerja sama dengan mereka sekarang”
“Tunggu tunggu! Maksudmu... Deline Jewelry itu milik Alfred?”
Fano mengangguk “Benar, sekarang itu milik Alfred”
Yoshi tersenyum lebar “Wah Alfred keren sekali!! Serius kita bekerja sama dengan Deline? Hebat sekali..”
Fano hanya tersenyum melihat Yoshi sesenang itu “Kita nanti juga akan jadi hebat seperti itu – tidak, lebih hebat lagi”
Yoshi mengangguk setuju “Aku bersyukur sekali bisa berkenalan denganmu dan menjadi temanmu Fano”
“Aku juga senang menjadi temanmu”
.
.
__ADS_1