Sistem Kekayaan Hukuman

Sistem Kekayaan Hukuman
Di atas bukit perkemahan


__ADS_3

.


.


Angin berhembus agak kencang secara tiba-tiba, beberapa daun-daun beterbangan hingga rambut Angel pun beterbangan dan sebagian mengenai wajah Fano.


“Aduh!”


“Angel kenapa?” tanya Fano, tiba-tiba saja Angel berteriak setelah angin berhenti. Angel menghadap Fano sambil memejamkan kedua matanya “Fano aku kelilipan, tolong!”


“Tunggu, jangan panik, aku bantuin ya”


Perlahan Angel membuka mata kanannya, yang terkena sesuatu. Ternyata ada satu bulu mata yang hampir masuk. Perlahan-lahan Fano menyingkirkannya dari mata Angel.


“Apa bulu matamu sering rontok? Kamu memiliki bulu mata yang panjang” kata Fano setelah bulu mata itu sudah ia ambil.


“Sering, tidak sesering itu sih, tapi dibanding orang lain aku sering” jawab Angel.


“Bulu matamu indah”


Angel menatap Fano yang tiba-tiba memuji bulu matanya “Terimakasih?”


“Aku serius mengatakannya” kata Fano.


“Aku juga serius membalasnya dengan terimakasih” sahut Angel.


“Oh, baiklah” Fano tidak mau berdebat lagi, dia hanya merapikan rambut Angel yang sedikit berantakan setelah terkena angin tadi. Angel masih memiliki rambut pirang karena di cat, rasanya sudah butuh di warnai lagi.


“Boleh aku meminta sesuatu Angel?” tanya Fano.


“Tentu saja!” jawab Angel antusias, Fano terkekeh melihat Angel yang tersenyum secerah itu, Angel sangat manis dan menggemaskan.


“Haha, imutnya ... aku ingin kau mengembalikan warna rambutmu menjadi hitam, aku suka kau dengan rambut gelap, atau mungkin warna coklat boleh juga” kata Fano, dia masih membelai rambut Angel yang terasa halus. Rambut itu bergelombang dan juga terasa lembut. Angel tidak melakukan perawatan lain selain menggunakan produk perawatan rambut dari


Floutesse beauty. Sekarang bukan hanya shampoo tapi ada conditioner juga, hanya itu tapi rambut Angel sudah seperti dirawat dengan perawatan mahat berjuta-juta.


Tentu saja Fano puas dengan hasilnya.


“Tapi rambut hitam membosankan, mungkin aku akan coba coklat gelap” sahut Angel.


“Oke, coklat gelap juga bagus” kata Fano.


“Ku pikir kau suka rambut pirang, iya kan?” tanya Angel, fano terkekeh lalu menggeleng “Tidak juga, aku suka semua warna rambut, kau cocok dengan rambut pirang, tapi aku lebih suka kau dengan warna rambut alami”  kata Fano.


“Padahal aku berpikir untuk mengecat rambut menjadi biru muda atau merah muda” sahut Angel.


“Kau akan terlihat lucu, itu terserah padamu, tapi aku tidak terlalu setuju” kata Fano.


“Begitu? Baiklah, kalau begitu tidak jadi”


Mereka kembali terdiam memandangi pemandangan sambil menikmati semilir angin yang berhembus, angin itu tidak kencang seperti sebelumnya.


Fano melirik pada Angel yang hanya diam menatap pemandangan, hingga kemudian Angel sadar jika Fano sedang menatapnya.


“Fano kenap –” Angel tidak meneruskan ucapannya saat tiba-tiba Fano mendekatkan wajahnya pada Angel, Angel terdiam karena sempat terpesona dengan wajah Fano yang makin tampan jika dilihat dari dekat. Sampai kemudian Fano menempelkan bibir mereka, Angel sempat terkejut karena tidak siap, tapi kemudian dia menikmati ciuman itu.


“Kak Fano!!”


Fano buru-buru melepas ciumannya saat mendengar suara Abel mendekat, yang kemudian disusul dengan suara Yoshi.


“FANO!! ANGEL!! Toko desu ka?” (kamu dimana)


“Kak Oci, nyarinya pake bahasa Korea aja, nanti gak ngerti mereka”


“Oke oke, ODIYA!!!! (dimana) PALLI NAWA!!! (cepat keluar) Gitu kan?”


“Hehe – oh itu mereka! Kak Fano! Kak Angel!!”


Yoshi dan Abel baru saja sampai puncak, Abel langsung berlarian menghampiri Fano dan Angel ang masih mager, tidak ingin pergi dari tempat duduk. Tempat duduknya panjang, jadi Abel dan Yoshi juga muat disana.


“Kok kalian udah disini? Gak naik perahu?” tanya Fano.

__ADS_1


“Udah dong tadi sama kak Oci!!” jawab Abel bahagia sambil memeluk lengan Yoshi erat.


“Sekarang yang naik ada Aron, Jehyuk dan Yua” sahut Yoshi.


“Gak apa-apa tuh bertiga?” tanya Fano lagi.


“Kan perahunya ada yang lebih besar Fano, jadi muat bertiga” sahut Angel.


“Udah siang banget nih, gimana makan siangnya? Jadi mesen aja apa gimana?” tanya Fano.


“Pesen aja pesen! Ada restoran seafood deket sini, kata Yua sih enak banget disana, kita bisa pesen!” sambar Abel.


“Boleh juga tuh, seafood” Angel yang suka seafood menyahuti dengan antusias.


Fano tidak punya pilihan lain selain memesan dari restoran itu untuk makan siang mereka. Meski sekarang ada diatas bukit, tapi untungnya signal masih lancar jaya, tidak ada halangan sama sekali.


Angel dan Abel sibuk sekali memilih hampir semua menu untuk dipesan.


“Jangan lupa pesan minuman juga” sahut Yoshi.


“Minuman sih gak usah, ktapunya cola dan air putih, itu aja cukup” timpal Fano.


“Yah, cuma cola?” keluh Yoshi.


“Lalu kau mau minum apa lagi? Soju?”


Yoshi nyengir “Ya gak juga sih, kan masih siang”


“Oh, jadi kalo udah malem kak Oci mau minum soju? Gak boleh!” kata Abel.


“Abel, umurku sudah cukup untuk –”


“Gak boleh!”


Ini nih yang tidak Yoshi suka, Abel selalu melarangnya minum sesuatu yang memiliki kadar alkohol sekecil apapun itu. Kalau yang dilarang Fano sih pasti tidak ada masalah, tapi Yoshi kan penasaran dengan soju Korea, dia ingin mencicipi juga, kata Jungyu manis rasanya, meski Yoshi tidak percaya. Palingan pahit.


Beginilah jika pacaran dengan bocil.


Fano menepuk-nepuk bahu Yoshi “sabar bro, namanya juga bocil”


“Aku bukan bocil!” sahut Abel, ternyata dia mendengar ucapan Fano barusan “Aku udah dewasa!” tambahnya.


“Abel ... kan kita udah bahas ini dulu, kamu gak perlu sok sok dewasa, aku suka kamu apa adanya” sahut Yoshi.


“Tapi kan ... kalo kayak anak kecil terus nanti kak Oci direbut gimana?”


Yoshi pun beranjak dari duduknya, untuk menghampiri Abel yang duduk di bangku lain, kemudian Yoshi memeluknya “Gak akan, aku hanya menyukaimu, udah jangan pikirin itu lagi, kita kan kesini buat seneng-seneng, okay?”


Abel mengangguk-angguk pelan.


Tiiitt tiiitt


Fano mendengar suara aneh yang sepertinya hanya di dengar olehnya, suaranya cukup keras, tapi Angel, Yoshi maupun Abel sepertinya tidak dapat mendengarnya. Apa jangan-jangan layar sistem? Apa itu Lylac?


Diam-diam Fano membuka layar sistemnya, meski mereka tidak bisa melihat Fano tetap harus hati-hati bukan?


Tidak di layar sistem ternyata, Fano pun membuka layar sihir.


[Terdeteksi sihir lain yang lemah]


Sihir lain?


Mungkin maksudnya selain Aron dan Abel?


Apa itu jahat? tapi jika lemah, sepetinya tidak akan mengganggu, iya kan?


Fano kembali menghilangkan layar sihirnya, berusaha untuk tidak berpikiran buruk.


Itu sihir yang lemah, semoga tidak mengganggu.


“Ayo kita kembali ke bawah, mungkin makan siangnya sudah datang!” ajak Angel. Merekapun kembali menuruni bukit.

__ADS_1


***


“Terimakasih” ucap Fano setelah semua pesanan sudah datang ke tenda mereka. Bukan main, Abel dan Angel sungguhan banyak memesan makanan.


Mulai dari udang, gurita, salmon, cumi, kerang, semua olahan seafood dipesan oleh mereka. Dan gilanya lagi semua makanan itu terlihat sangat menggiurkan, Fano jadi ikut tergoda. Tapi jika makan banyak sekarang, nanti makan malam mereka pasti makan sedikit.


Biar sajalah, malah bagus jika makan sedikit, tidak perlu banyak masak.


“Angel makan banyak banget ya” komentar Aron.


“Hehe, aku suka seafood soalnya” sahut Angel.


“Oppa, ambilin baby cumi dong” kata Yua, Jehyuk menoleh padanya “Aku?”


“Hanya kau yang dipanggi oppa, pasti itu kau” timpal Yoshi.


Jehyuk mengernyitkan dahinya bingung, kemudian menoleh kembali pada Yua sambil menunjuk dirinya sendiri “Aku?”


“Ya udah kalo gak mau” sahut Yua, dia sudah berdiri hendak mengambil makanan yang dia inginkan, namun Jehyuk lebih dulu menggeser makanan itu ke depannya “Ini, habiskan”


“Eh eh! Apaan habiskan-habiskan! Aku belom makan itu, sini” protes Fano, mana mungkin Fano membiarkan ada satu makanan pun belum dia cicipi sementara dia yang membayar semua tagihan. Tidak bisa!


“Kau kan banyak uangnya, kenapa pelit sekali sih” Yua mau tidak mau memberi makanan itu untuk Fano juga.


“Aku memang pelit, terutama padamu, tuan putri” balas Fano.


Yua membelalakkan matanya, kemudian Fano menyeringai melihat Yua agak panik, pasti Yua sudah menyadari jika Fano sudah mengetahui tentang dirinya.


“Apa sih, jangan panggil aku seperti itu” kata Yua.


“Iya nih, mana pantas dia dipanggil tuan putri” sahut Aron.


“Abel yang pantas” sahut Abel.


“Gak ada yang ngajak kamu ngomong Bel, udah makan aja sana!” Aron.


“Aku juga gak ngomong sama kamu ya! Aku ngomong sama kak Oci sama kak Yua” Abel.


“Jangan ribut kalian” Fano.


“Aron duluan kak Fano!” Abel menunjuk wajah Aron, yang kemudian ditepis oleh Aron dengan cepat “Gak usah nunjuk-nunjuk”


“EHEM! Rame banget ya kalian”


Merekapun berhenti ribut setelah melihat ada seorang pemuda mendekati mereka, dia pemuda yang manis, terlihat seperti seorang mahasiswa populer yang banyak dikejar wanita, dia pun terlihat snagat ramah.


“Maaf mengganggu, sedang makan kan? kebetulan, kami bagi-bagi mochi semoga kalian suka, kami juga membagikan tteokpoki yang bisa kalian masak sendiri” kata pemuda itu.


Jehyuk maju untuk menerima bingkisan dari pemuda tersebut “terimakasih, apa kamu yang menyewa tenda yang disamping itu?” tanya Jehyuk.


“Benar, aku Jemin, ngomong-ngomong ... kalian siapa? Boleh kenalan?” tanya pemuda itu, Jemin.


“Aku Jehyuk, ini Yua, Yoshi dan Fano dari Jepang, Aron dan Abel dari Amerika lalu ada idol, Angel Park” Jehyuk mengenalkan semuanya.


“Hey sejak kapan aku dari Jepang?” protes Fano.


“Oh! Yang terkenal itu kan, Angel, Fano, Yoshi ... aku sempat melihat beritanya, salam kenal semuanya! Kalau ada apa-apa aku ada di sebelah, selamat menikmati camping” ucap Jemin, kemudian dia pamit pergi.


“Pemuda yang sangat ramah, bukan tipeku” gumam Yua.


“Oh ya? Gak ada yang nanya tuh” sahut Jehyuk.


“Aku berbicara sendiri” Yua.


“Ah, begitu – ini mochi dan tteokpokki buat nanti aja ya, disimpen dulu” kata Jehyuk, lalu meletakkan bingkisan yang diberi Jemin ke atas meja.


“Mau mochi ...” gumam Abel.


“Nanti Abel, nanti, makan dulu takoyakinya” sahut Yoshi.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2