
.
.
Gedung yang menjadi hadiah Fano naik level adalah gedung perkantoran yang berada di salah satu jalan elit, yang menyewa toko di sekitar sana saja biayanya tidak sedikit. Gedungnya memang tidak besar, hanya seharga 200 miliar, namun itu adalah gedung yang strategis untuk memulai sebuah bisnis.
Gedungnya berlantai enam dengan desain dan lokasi yang bagus, setidaknya Fano tidak memiliki masalah sama sekali.
“Apa kamu managernya?” tanya Fano pada seorang pria berbadan besar yang datang menyambut Fano yang baru keluar dari mobil mewahnya.
“Benar.. apakah anda tuan Alfred?” tanya manager tersebut.
“Bukan, saya adalah asistennya, saya kemari ingin melihat-lihat gedung ini, karena tuan saya membeli gedung ini hanya karena lokasinya saja, jadi saya sendiri yang harus melihat langsung keadaan gedung” kata Fano, dia terus tersenyum untuk kesopanan saja.
“Baiklah, mari saya antar melihat-lihat gedungnya” kata manager, mempersilahkan Fano jalan duluan. Beda dengan Dave yang memakai pakaian kasual, Fano memakai celana bahan dan kemeja rapi, agar terlihat sedikit lebih dewasa saja.
“Ayo Dave..”
Dave diam tidak bergerak, matanya tertuju pada salah satu bangunan dengan papan bertuliskan ‘Funzone’. Itu adalah pusatnya bermain game, menjual game dan action figur juga, pokoknya lengkap.
“Kau bisa kesana, tapi ingat untuk mengangkat telfonku nanti, jangan terlalu asyik main, okay?”
Dave mengangguk senang mendengarnya, dia pun segera pergi menuju Funzone.
Sementara itu Fano melihat-lihat ke dalam gedung bersama manager, kemudian seorang wanita cantik datang menghampiri.
“Sekertaris saya akan menemani anda untuk melihat-lihat gedung, dia bisa menjelaskan lebih baik daripada saya” kata manager tersebut. Fano sih iya iya saja, lagipula lebih seru ditemani wanita cantik nan seksi dari pada pria berbadan besar dan bermuka licik.
“Mari saya antar tuan..”
Sekertaris tersebut memperlihatkan semua fasilitas yang ada disana, dia juga menjelaskan jika beberapa tempat sedang disewa, karena pemilik sebelumnya memang menyewakan gedung ini.
“Perintah dari tuanku adalah untuk mengosongkan bagian lantai paling atas, karena akan dipakai untuk kantor kami nantinya” kata Fano, mereka saat ini sudah berada di lantai paling atas, yaitu lantai enam.
“Kebetulan tidak ada yang menyewa di lantai ini, sebenarnya ada tapi sudah pindah kantor karena tidak sanggup membayar sewa” kata sekertaris cantik tersebut.
“Apa kita bisa ke rooftop?” tanya Fano
“Oh tentu, di atap pemandangannya juga sangat indah”
Mereka menaiki tangga untuk sampai di atap. Pemandangannya memang benar indah, meski ini hanya lantai enam, tapi jalanan ini berada di ketinggian.
“Pemandangan malam pasti bagus sekali disini” gumam Fano
“Benar tuan, menurut saya jika membuka cafe atau restoran disini bagus juga”
Restoran ya.. haruskah Fano membuka restoran seperti impian ibunya Albert?
“Kau benar.. ngomong-ngomong nona, nona suka mewarnai rambut? Rambut nona terlihat kering” kata Fano.
Sekertaris tersebut tersenyum canggung, sambil menyentuh rambutnya.
“Nona tidak perlu malu, saya hanya ingin menawarkan salah satu produk dari tuan kami, yang akan merawat rambut nona dengan baik, harganya agak mahal, 700 ribu”
“Itu..”
“Nona mau mencobanya, saya akan mengirimkan shampoonya pada nona dengan gratis, nona bisa membayar setelah rambut nona membaik, bagaimana?”
Mungkin karena tidak enak atau bagaimana, karena tuan yang Fano maksud adalah pemilik gedung ini tempat dirinya bekerja, jadi dia mau-mau saja.
Menjadi sales memang merepotkan, tapi untungnya Fano memiliki kemampuan berbahasa yang baik dan sopan, kalau Albert yang melakukannya mungkin orang-orang akan lari duluan.
***
“Disini kamu rupanya”
__ADS_1
Dave berjengit saat tiba-tiba suara Fano ada di dekatnya “Kak Fano ngagetin aja!”
“Kamu lagi ngapain sih?”
“Main.. ssshh – aku lagi konsentrasi nih kak”
Permainan yang sedang Dave mainkan adalah permainan mengambil boneka dengan mesin capit. Dave sampai keringat dingin karena fokus dengan capit dan boneka kelinci. Di dalam mesin ada berbagai boneka-boneka lucu, ada yang kecil, sedang dan besar. Tentunya makin besar makin sulit. Tapi boneka kelinci yang diincar Dave berukuran sedang.
Gagal.
Dave menggeram kesal.
“Mau ku ambilkan?” tawar Fano, Dave menyerahkan beberapa koinnya pada Fano, dia sudah menyerah, sudah beberapa kali dia coba tapi gagal.
Fano menggerakkan capit pada boneka yang tadi Dave incar.
Berhasil.
Dave tidak percaya sekarang Fano mengeluarkan boneka kelinci putih itu lalu memberikannya pada Dave.
“Bagaimana... kok bisa –”
“Mungkin keberuntungan.. lagian kamu ngapain sih mainan boneka segala?”
Dave tersenyum jahil “Buat kak Angel”
Fano kembali merebut boneka itu, tapi Dave dengan cepat menjauh “Bercanda! Mau dipajang aja di kamar, biar gemoy”
“Ayo pergi, kita beli helm lalu makan siang di cafe”
“Okay!”
Mereka pergi dari sana, menuju toko yang menjual helm dan aksesories bermotor lainnya.
Fano memilih salah satu helm berwarna hitam, Dave ikut memilih juga meski dia tidak punya motor.
“Kalo kak Fano pergi motoran kan biar aku bisa ikut”
“Kamu licik juga ya”
“Hehe – kak mau beli jaket kulit juga?”
“Oh iya..”
Setelah membeli beberapa barang yang mereka inginkan, mereka pun pergi lagi lanjut menuju salah satu cafe yang sedang viral. Cafe ini menjual waffle dan croffle, variannya juga banyak sekali.
Mereka membeli beberapa varian dan juga minuman.
“Kak Fano”
“Kenapa?”
“Itu... kenapa kemarin kak Fano menolak undangan dari The Royal group? Bukankah itu hal yang sangat luar biasa?” tanya Dave.
“Kau mengatakan seperti itu karena kedua orangtuamu bekerja di rumah sakitnya kak Tio?” balas Fano.
Kemarin saat Tio ke apartemen Fano untuk memeriksa Dave, Tio mengenali Dave karena orangtua Dave adalah dokter di rumah sakit keluarganya Tio, dan rumah sakit itu bekerja sama dengan The Royal Group dari jaman dulu. Bahkan baru semalam Fano tersadar jika Orang tua Tio adalah teman baik mertua Albert dulu, pemilik The Royal Group.
“Bukan gitu! Semua orang jika mendengar nama The Royal Group pasti langsung kagum, mereka adalah perusahaan terbesar, terutama di Asia dan Amerika... lalu, aku juga tidak menyangka kak Fano menolak seorang Queenza”
Fano menghela nafas lelah.
Fano juga sudah tau siapa Queenza, dia adalah cucu dari mertuanya, anak dari kakak iparnya dahulu. Kakak ipar yang tidak menyukai Albert dan sempat menolak mati-matian saat Albert menikah dengan adiknya.
Bagaimana mungkin sekarang Fano bisa mau dekat-dekat dengan Queenza? Meski Fano tidak ada hubungannya dengan keluarga mereka tapi – entahlah, Fano tidak mau saja.
__ADS_1
“Apa kau tau artinya undangan itu Dave?”
Dave menggeleng karena memang tidak terlalu mengerti.
“Mereka sepertinya sudah tau tentang bisnis yang sedang ku kerjakan, dan mereka ingin bisnis itu berada di bawah kekuasaan mereka. Apa sekarang kau tau kenapa aku menolaknya?”
Dave menatap Fano dengan mata bulatnya yang lucu itu, kemudian dia menggeleng lagi.
Fano tersenyum geli lalu melanjutkan.
“Itu karena aku ingin bisnis ini berdiri sendiri, tidak ingin berada di bawah merek The Royal Group”
“Jadi kak Fano ingin bersaing dengan mereka?” tanya Dave
Fano mengedikkan bahunya “Entah.. yang pasti, aku ingin perusahaanku berdiri sendiri”
“Maksudnya punya tuan kak Fano?”
“Oh, iya, tuanku”
“Tuannya kak Fano itu kayak gimana? Apa dia sibuk?”
Fano mengangguk “Sangat sibuk.. kamu tidak perlu bertemu dengannya”
“Tapi aku penasaran”
Pesanan mereka berdatangan, semuanya sudah dibungkus di dalam kotak, tapi mereka memilih memaksan salah satu kotak, yang waffle pizza.
“Hmm.. enak! Apa kak Fano bisa buat kayak gini?” tanya Dave, dia terlihat bahagia memakan wafflenya.
“Apa aku perlu membeli cetakannya?” Fano
“Ayo beli kak!”
“Ayo? Kenapa kau semangat sekali..”
“Hehe, kan seru kalo bisa bikin waffle setiap hari”
“Tapi boleh juga, aku ingin beli panggangan juga, cetakan waffle juga, mesin ice cream juga”
Dave semangat sekali mendengar itu, terutama saat Fano menyebut mesin ice cream.
“Beli kak!”
“Kau pikir duit tinggal metik di pohon? Tapi karena aku punya uang, aku akan beli”
“Kak Fano keren!! Kita makan ice cream setiap hari.. terus bikin ice cream nasi padang kayak di tiktik!”
“Hah?”
“Atau ice cream indomi”
“Bikin sendiri ya, aku sih ogah”
“Ih kan penasaran kak”
.
.
.
author terharu deh kalian masih inget apa yg ada di novel sebelumnya, pinter bgt kalian 😢
sampe nama butler aja masih diinget, kadang ada nama yg dipake lg dan gak ada hubungan sama yg sblumnya, kyak alfred dan dave.
__ADS_1
pokoknya nikmatin aja, nanti juga terjawab pertanyaan kalian.
terima kasih