
.
.
Malam ini keluarga Angel pergi ke sebuah restoran untuk makan malam bersama keluarga Raynold, mereka memesan satu restoran untuk acara ini. Itu adalah restoran milik keluarga Tari, yang sebenarnya masih ada di bawah kekuasaan The Royal Group.
Dalam acara tersebut awalnya mereka berbincang-bincang dengan santai, seperti mengenalkan anak-anak dari Felly dan Roi, yaitu Aron dan Abel. Hari ini Aron datang dari Amerika karena sedang liburan, dan juga dia penat mengurusi hotel dan resort bersama ayahnya. Aron hanya datang sendirian tidak bersama Ayahnya yang super sibuk itu.
Abel yang sudah mengenal Angel jadi menempeli Angel terus, sepertinya dia menyukai Angel dan sudah nyaman bersamanya. Mengingat weekend kemarin Abel juga menginap di villanya Fano dan tidur bersama Angel.
Yang datang ke restoran adalah Lino, Luna, Kaisar, Queen, Felly, Aron, Abel, ayahnya Angel.. Beni, Elena, dan Angel.
Hingga kemudian tiba saatnya bagi Lino untuk memberitahu rencananya pada keluarga Angel, karena yang sudah tau kan hanya Lino, Luna, Felly dan Elena saja. Yang lain belum mengerti tentang rencana pertunangan yang sebenarnya pura-pura tersebut.
Lino memberitahu jika itu hanya jebakan bagi keluarga calon tunangan Angel, tugas Angel hanya bertunangan dengan putra dari ketua mafia tersebut. Selebihnya akan diurusi oleh Lino, kemudian Kaisar mengajukan diri untuk membantu ayahnya.
Angel melirik Queen yang mendengarkan semua itu sambil makan dengan elegan, tapi Angel tau Queen terlihat senang saat itu, bahkan Queen sempat menoleh pada Angel dan tersenyum padanya.
“Angel tidak punya pacar kan?” tanya Luna.
Mendengar itu Angel sedikit terkejut, lalu menggeleng pelan “Tidak tante”
“Baguslah, kau tidak boleh punya pacar dulu, nanti saja setelah masalah ini selesai, Angel tidak keberatan kan?” tanya Lino.
Angel tersenyum kecil, sedikit dipaksakan “tentu saja tidak”
“Oh ya? Tapi ku rasa kau agak dekat dengan Fano” sahut Queen, Angel kembali melirik padanya, Angel pikir Queen pasti sengaja bertanya seperti itu.
“Mereka hanya teman, ya kan Angel?” timpal Elena.
Angel terpaksa mengangguk kecil.
“Fano? Temannya Queen bukan?” tanya Lino.
“Kak Fano temennya Abel juga!” sahut Abel dengan ceria, yang kemudian berhenti saat rusuknya disenggol oleh Aron, kakaknya. Abel yang tidak terima balik menyenggol Aron “Jangan berisik.. that’s annoying” (itu menyebalkan) bisik Aron.
“Jangan berantem anak-anak, jaga sikap kalian” tegur Felly.
Mendengar teguran itu Abel pun cemberut, dia paling tidak suka jika acara seperti ini karena disuruh diam terus, padahal Abel tidak bisa diam.
“Abel kenal bocah itu juga?” tanya Lino.
“Dia babysitter yang ku maksud beberapa waktu lalu” jawab Felly.
Lino mengerutkan keningnya heran, jika Fano babysitternya Abel berarti... yang memiliki rantai di lehernya? Tapi Lino tidak melihat apapun.
“Pokoknya, Angel tidak boleh dekat dengan siapapun, kau juga akan menjadi trainee di Royal Ent, hubungan cinta hanya akan merusak karirmu” kata Lino kemudian, diam-diam Queen menarik senyuman mendengar ucapan ayahnya.
“Tuan Raynold benar juga, lagipula Angel masih terlalu muda untuk itu, ya kan sayang?” sahut Beni.
Angel tersenyum kecil lalu mengangguk.
“Untuk mempercepatnya, bagaimana jika Angel pindah sekolah saja? Lebih baik dia ikut tes masuk universitas di Korea saja, kakak ku bisa mempersiapkan semuanya” kata Elena, yang membuat Angel terkejut, dia menatap Ibunya tidak percaya.
“Mama..”
“Lebih cepat lebih baik sayang.. kau juga harus mengikuti trainee juga kan? bukankah kau ingin segera menjadi penyanyi?” sahut Beni.
Angel merasa sangat sedih, dia tidak tau harus bagaimana untuk menolaknya.
“Itu bagus juga, biar adikku Soobin yang mengurusi semua keperluan Angel, bukankah Angel juga dekat dengan Dojun? Dia akan menjagamu disana” kata Lino.
“Angel juga punya sepupu yang siap menjaganya” sahut Elena.
__ADS_1
“Aku sudah tidak sabar melihat Angel menjadi penyanyi yang sukses... semangat ya Angel!” timpal Luna.
Angel hanya bisa tersenyum menanggapi mereka.
Karena sudah tidak tahan berada disana, Angel ijin keluar untuk ke toilet. Tapi tentu saja bukannya ke toilet, Angel malah pergi ke atap restaurant.
Karena restoran sedang dibooking, jadi tidak ada pelanggan selain mereka, karena itu bagian restoran yang ada di atap juga sepi.
Angel hanya ingin menenangkan diri, berada disana membuatnya tertekan.
Dia pikir tidak ada yang mengikutinya, tapi kemudian terdengar suara yang familiar mendekat.
“Kau baik-baik saja?”
Angel berbalik, melihat Kaisar yang berjalan ke arahnya, lalu berdiri di sebelah Angel, menatap pemandangan malam kota yang indah di bawah sana.
“Aku baik-baik saja”
“Jangan berbohong, aku tau kau sedang menahan sesuatu”
Angel menghela nafas berat “Lalu aku harus bagaimana kak? Apa berkata jujur akan lebih baik? Yang ada aku akan langsung dipindahkan ke Korea”
Kaisar mengangguk “Itu benar, tapi apa kau akan terus diam dan tidak memberitahu hubunganmu dengan Fano?”
“Tapi kami tidak punya hubungan apapun” sahut Angel.
“Tapi kurasa –”
“Aku yang memintanya, aku hanya tidak ingin Fano mendapatkan masalah, lagipula – aku sudah bersedia untuk melakukan itu, jangan khawatirkan aku kak Kai, bukankah adikmu menginginkan semua ini?”
Kaisar terkekeh mendengar itu “Maksudmu Queen? Kau dan dia berbeda, yang kalian inginkan juga berbeda”
Angel mendongak menatap wajah Kai yang sebagian tertutup rambut hitam berantakannya, wajah yang tampan dengan kulit putih pucat, rahang tegas, mata hijau, dan hidung mancung.. dia terlihat sangat sempurna.
Tapi tidak ada perasaan lain selain teman, itu yang Angel rasakan pada Kaisar, sebenarnya dia juga sedikit canggung dengan Kaisar karena mereka kenal juga tidak lama.
Kaisar menunduk menatap Angel, lalu mengulas sebuah senyuman, senyum yang entah kenapa terasa dingin dan sedikit menakutkan. Tapi Angel tidak takut, justru merasa kagum, Kaisar sangat tampan.
Dia mewarisi ketampanan kakeknya, katanya begitu, tapi Angel belum pernah bertemu kakek Kaisar secara langsung. Padahal kata ibunya dulu saat Angel baru lahir, kakeknya Kaisar datang lalu menggendong Angel, hanya itu yang Angel tau.
Kaisar mengulurkan tangannya untuk menyentuh pipi Angel, Angel yang terhipnotis dengan mata hijaunya hanya diam saja menatap wajah Kaisar.
“Kau tidak perlu mengerti, lakukan saja apa yang ingin kau lakukan, jangan terlalu menghawatirkan Queen, ku rasa dia bukan ancaman bagimu”
Bagaimana bisa Queen bukan ancaman?
Tangan dingin Kaisar menelusuri pipi Angel, Angel bisa merasakan dinginnya tangan itu, tapi tidak terlalu dingin juga, sejuk...
“Tapi Angel.. apa kau yakin dengan Fano? Sebenarnya dia bukan orang yang baik untukmu”
“Maksud kak Kai?”
Kaisar mencondongkan kepalanya mendekati Angel, kemudian berbisik di telinga Angel.
“Dia tidak sebaik kelihatannya, lebih baik kau segera pergi menjauh”
Angel merasa merinding saat Kaisar berbisik di telinganya, tapi kemudian dia mundur selangkah.
Kaisar menyeringai melihat Angel sedikit ketakutan dan bimbang.
“Itu demi kebaikanmu, aku tidak memaksa”
Tidak memaksa? Tapi apakah Angel punya pilihan lain untuk menolak?
__ADS_1
Tidak.
Tidak ada.
***
Yoshi terbangun di malam hari karena suara berisik dari sebelahnya, dia mengusak matanya sebentar lalu menoleh. Ternyata Fano masih bangun, dia memang tidur di apartemen Fano karena canggung di apartemennya sendiri teman ibunya sedang menginap. Teman ibunya Yoshi perempuan sih.
Karena itu Yoshi memilih tidur bersama Fano saja.
Dia menguap sebentar sebelum bertanya “Fano.. nemu ku nai? (Gak ngantuk?)”
Fano mendongak dari laptopnya, menatap Yoshi yang terlihat masih sangat mengantuk tersebut, Fano terkikik melihat wajah temannya. Entah Yoshi membuka mata atau tidak, karena kelihatannya kedua matanya terutup.
“Ngomong apa kamu, aku gak ngerti” sahut Fano.
Yoshi menguap lagi “Emang aku tadi ngomong apa?” sekarang bocah Jepang ini terlihat membuka mata, menatap Fano penasaran.
“Lha, kamu yang ngomong sendiri juga gak tau, gimana sih?”
“Aku tadi ngomong pake bahasa apa?” Yoshi balik bertanya.
Fano mengedikkan bahunya “Jepang kali”
“Oh, kamu gak ngantuk?” Yoshi mengulangi pertanyaannya.
“Bentar lagi aku tidur” balas Fano.
Yoshi beranjak dari ranjang, berjalan menuju kulkas kecil yang ada di kamar Fano, lalu mengeluarkan botol minuman, meminum sedikit lalu berjalan menuju Fano yang sedang duduk di sofa.
“Ngapain kamu?” tanya Yoshi setelah duduk di sebelah Fano, dia meletakkan dagunya di bahu Fano agar bisa melihat laptop Fano lebih jelas.
“Aku sedikit mengedit beberapa foto untuk toko online kita, aku juga membuat akun yutup” jawab Fano.
“Oh? Buat apa?”
Fano tersenyum penuh arti “Tentu saja untuk promosi, aku membuat satu jam yang lalu, serakang subscribernya ada 100 ribu, oh – 300 ribu.. ini naik terus dari tadi”
Yoshi berdecak kagum melihat akun yutup untuk Floutesse beauty, atau Flouby, sudah memiliki banyak subscriber dalam waktu singkat.
Yoshi menjauhkan kepalanya dari Fano lalu menyandarkan punggungnya di sofa “besok jadi menemui anak yang Vivi rekomendasikan?”
Fano mengangguk “Tentu saja, aku serius dalam berbisnis kali ini”
Fano melihat jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam, dia pun segera menutup laptopnya, lalu menyandarkan punggungnya di sofa.
“Kau bekerja sangat keras Fano, kerja bagus!” Yoshi menepuk bahu Fano.
“Arigato” (makasih) Fano
“Eh? Tadi aku ngomong pake bahasa apa?” Yoshi
“Indo” Fano
“Kenapa dibalas pake bahasa Jepang?” tanya Yoshi
“Dame?” (gak boleh?) Fano
“Kok aneh ya denger kamu ngomong Jepang, padahal cuma satu kata”
“Ayo tidur” Fano beranjak dari sofa, Yoshi pun mengikutinya.
“Hai” (baik)
__ADS_1
.
.