
.
.
Fano berdecak kagum melihat isi di dalam gua pelangi, jika saja tempat ini ada di bumi, sudah bisa menjadi keajaiban alam karena sangat cantik. Seperti penjelasan Lylac, dinding gua berwarna warni, belum lagi ada banyak batu-batu yang seperti permata, mengeluarkan cahaya seperti lampu dan berkedip, lebih mirip cahaya kunang-kunang menurut Fano.
Kalau di dunia modern ada gua seperti itu pasti sudah ramai menjadi wisata, kemudian menjadi spot foto yang menarik.
“Fano!!”
Fano yang baru saja berniat untuk selfie di gua, menoleh pada Lylac yang sudah berjalan beberapa
langkah di depannya. Dia melipat tangannya, menatap Fano kesal “Kamu ngapain sih? Kita harus cepat, kau hanya mendapat waktu satu jam untuk percobaan pertama” kata Lylac.
“Bentar, mumpung aku lagi ganteng, selfie dulu” Fano pun siap berpose di depan smartphone dengan kamera canggihnya.
Cekrek.
Fano berdecih kesal, tadi saja dia dimarahi, sekarang si Lylac malah ikutan foto dengannya, dasar peri hybrid labil.
“Apa kau bilang?” Lylac memukul lengan Fano dengan ‘pelan’ sampai Fano mengaduh kesakitan.
“Aku tidak mengatakan apapun!” protes Fano.
“Kau barusan mengatai ku labil kan? mengaku saja!” tuding Lylac.
“Iya, iya, aku mengaku, puas?”
Pagi ini – eum, subuh ini? Pokoknya, sekitar jam 4 pagi Lylac membangunkan Fano, meminta Fano untuk
memasuki dungeon pelangi secepatnya. Fano hanya diberi waktu lima belas menit untuk bersiap, jadi Fano tadi hanya mencuci muka saja, lalu mengganti pakaiannya dengan skill fast change, sekalian merapihkan rambut juga. Meskipun Fano akan memasuki dungeon, dia harus tetap ganteng, itu sangat penting.
Lylac tentu saja ikut, untuk mengawasi Fano, karena Lylac tau Fano mudah terpesona, jika tidak diawasi bisa-bisa Fano akan seharian berada disana.
“Kau hanya akan bertemu dengan monster-monster kecil level satu, jadi gunakan sihir level satu juga, ngomong-ngomong, kau suka senjata apa? Pisau, pedang, panah, tombak, pistol?” tanya Lylac.
Fano terlihat berpikir sebentar “Apa ya? Aku bisa menggunakan semuanya.”
“Aku tau itu, bodoh, maksudku senjata apa yang membuatmu nyaman?” tanya Lylac lagi, dengan tidak sabaran, Fano terlalu bertele-tele.
“Gak usah ngatain juga! Kayaknya panah aja deh, soalnya panah itu agak sulit, jadi sekalian latihan juga gitu” kata Fano, setelah mempertimbangkan semuanya.
Lylac berdecak malas, hanya memilih senjata saja lama sekali. Kemudian Lylac mengeluarkan busur panah kecil berwarna putih gading tanpa anak panah.
__ADS_1
“Fokuskan salah satu elemen yang kau inginkan, imajinasi kan elemen itu menjadi anak panah, lalu tembakkan pada target, itu sangat mudah kan?” kata Lylac.
Fano mengangguk “benar, teorinya sangat mudah.”
“Mulailah berburu” kata Lylac, sambil mendorong Fano keluar dari gua depan – WOAH!
Fano kembali terpana dengan pemandangan di depannya, ada padang rumput yang luas membentang, beberapa monster kecil berlarian. Monster-monster itu lucu sekali seperti boneka-boneka yang ada di kamarnya Abel.
Ada kelinci putih lucu yang gendut, melompat-lompat sambil membawa wortel. Ada pula monster anak ayam kuning, monster anak anjing yang terlihat seperti pomeranian, ada pula monster kucing gendut seperti Garfield.
Semua monster level satu sangat menggemaskan.
“Lylac, aku harus membunuh mereka semua?” tanya Fano.
Lylac mengangguk “Iya, jiwa bocahmu terlihat jelas saat ini, kau sepertinya senang melihat mereka. Tenang saja, jika kau panah, atau tusuk, atau tebas ... mereka akan lenyap dan berubah menjadi koin. Monster level satu senilai 100 koin. Namun mereka akan muncul lagi satu jam kemudian, makanya waktumu adalah satu jam saja. kau dikatakan lulus jika telah memburu sekitar 500 monster, kalau bisa lebih” jelas Lylac.
“Lalu hari berikutnya aku sudah bisa masuk ke lantai dua?” tanya Fano, Lylac mengangguk “Itu benar, ayo mulai lah.”
Fano mengangguk pelan, rencananya, dia akan menggunakan semua elemen yang dia miliki, karena dia memang harus melatih semuanya. Tapi kecuali sihir hitam atau kegelapan, dia tidak ingin menggunakannya pada monster-monster lucu itu.
Andai monsternya bisa dibawa pulang atau dijadikan boneka pasti Angel suka deh – kenapa Fano berpikir sejauh itu sih? Sudahlah.
Fano mulai mengarahkan panahnya pada kelinci yang melompat-lompat.
[Anda mendapatkan 300 koin]
***
Suara cipratan air terdengar sangat jelas, Fano sedang mencuci mukanya di sumber air di luar dungeon. Tadi itu nyaris sekali, Fano baru mendapatkan monster lucu ke-500 nya di detik-detik terakhir. Jika saja Fano gagal, dia akan mengulangi lagi di lantai satu esok hari.
Memang skill memanah Fano dibandingkan senjata yang lain sangat rendah, namun jika Fano memilih pistol dari awal, itu akan terlalu mudah dan tantangannya tidak akan berasa.
Rasanya segar sekali setelah mencuci muka, padahal Fano belum mandi, jika airnya sesegar ini Fano jadi ingin mandi sekarang.
“Mau sekalian mandi? Di kolam itu” kata Lylac, sambil menunjuk sebuah kolam, sumber air juga yang lebih luas. Fano jadi jadi tergoda untuk mandi, tapi masa di tempat terbuka begini sih?
“Di rumah aja lah” sahut Fano.
Lylac terkekeh mendengarnya “Kenapa? Kau malu? Memangnya siapa yang akan melihatmu?”
“Kan masih ada peri yang mungkin tiba-tiba lewat” bantah Fano.
“Tidak ada peri lain yang akan lewat, sudah ada aku disini, jadi tidak akan ada yang berani mendekat, mandi di kolam itu dapat meremajakan kulitmu, menjadikanmu terlihat lebih muda dan tampan – aku jadi ingin mandi juga, ayo!” Lylac pun menyeret Fano mendekati kolam.
__ADS_1
Dasar kolam terlihat ada batu-batu berkilauan.
“Itu batu yang sama seperti yang tertempel di dinding, kalau kau mau kau bisa mengambilnya, kalau beruntung kau bisa mendapat berlian” kata Lylac.
“Hah? Serius?” tanya Fano tidak percaya.
Lylac mengangguk “Semua batu itu adalah permata, ada berlian putih, berlian biru, berlian pink, berlin merah, berlian hitam, ruby, safir, topaz, emerald, dan lain-lain. Apa kau pikir itu batu biasa?”
Tanpa basa basi, Fano pun mengganti bajunya dengan celana renang, dia mau berburu berlian saja.
“Lylac, bantu aku mencari berlian sini!”
Lylac berdecak malas, jika ada berliannya saja dia langsung masuk kolam! Dasar Fano.
Fano tidak percaya dia benar-benar mendapatkan batu berlian, itu artinya yang menempel di gua juga berlian dong ya?
Fano masuk kolam bukannya mandi, malah mencari berlian. Dia berhasil mendapatkan beberapa batu
berlian dengan warna hitam, merah, biru, putih dan merah muda, ada pula berlian unik yang warnanya mint. Fano tidak peduli batu lain, dia hanya mengumpulkan yang berlian saja lalu dia masukkan kotak penyimpanan.
“Memangnya berliannya mau kau apakan?” tanya Lylac, dia sudah capek, jadi duduk di tepi kolam sambil kakinya masih mencelup ke air.
Fano berpikir sejenak “Buat apa ya? Mungkin aku bagiin.”
“Kau semangat mencari berlian tapi ternyata tidak tau mau digunakan untuk apa?” Lylac.
“Bagaimana jika aku membuat koleksi perhiasan saja? eh, tapi aku tidak pandai mendesain perhiasan sih” gumam Fano.
“Kan anakmu memiliki perusahaan perhiasan Fano, itu, si Alfred – pasti mereka punya desainer khusus lah” sahut Lylac, yang dapat mendengar jelas gumaman Fano.
Fano tersenyum mendengarnya “Aku juga berpikir seperti itu, aku jadi ingin ke London untuk menemuinya” kata Fano. Memang saat ini Alfred ada di London, mengurusi perusahaan yang ditinggalkan Gio, kadang Alfred juga ke Indonesia. Alfred tentu tidak mengurusinya sendiri, dia dibantu oleh kerabat Raynold juga, sekalian untuk menjaga Alfred. Kerabat Raynold yang dimaksud adalah Sam, saudara kembar dari mamanya Queen (Luna) dan mamanya Abel (Felly).
“Ke London boleh juga!” sahut Lylac.
“Aku juga sudah lama tidak kesana, nanti kita kesana jika ada waktu luang” kata Fano, kemudian dia naik dan ikut duduk di tepi kolam. Setelah lama mencari berlian, Fano mulai merasakan dingin.
“Kalau begitu kapan luangnya? Kau kan suka menyibukkan diri” keluh Lylac.
“Aku akan meminta Jungyu mengatur jadwalku agar kita bisa pergi secepatnya” kata Fano.
“Bener ya! Awas kalo lama” Lylac.
“Kenapa jadi kau yang antusias sih?” Fano.
__ADS_1
.
.