Sistem Kekayaan Hukuman

Sistem Kekayaan Hukuman
Menolong Kucing kecil


__ADS_3

.


.


Di sekolah semuanya berjalan dengan baik, malah bisa dikatakan biasa-biasa saja. Seperti biasa Fano selalu unggul dalam berbagai mata pelajaran. Tidak ada kesulitan selain para siswi yang banyak mengganggunya. Banyak siswi yang berusaha mendekatinya sejak Angel tidak ada, terutama Vero.


Tapi tentu saja Fano tidak tertarik dengan mereka, Fano jauh lebih tertarik dengan buku pelajaran atau ponselnya dari pada meladeni orang-orang tidak jelas seperti itu.


Oh iya, karena ujian kelulusan tinggal beberapa bulan lagi, Fano mendapat Haikal dan Ben untuk bekerja di perusahaannya. Kalau Ben memang tidak heran karena dia termasuk siswa terbaik, tapi Haikal?


Jangan salah, meski Haikal terlihat tidak meyakinkan, entah kenapa dia selalu tau bagaimana cara menarik hati dan perhatian pelanggan, jadi Fano ingin Haikal membantunya dalam promosi produk serta toko. Haikal itu orang yang cerdas dan banyak akal, meski sifatnya kadang menyebalkan, tapi dia juga baik.


Lagipula Fano bukan orang yang nyaman bekerja dengan orang-orang asing, yang belum tentu dapat dipercaya. Kalau untuk toko, Fano tidak masalah mempekerjakan orang-orang asing untuk menjaga toko, terutama wanita muda yang memiliki ketrampilan berkomunikasi yang baik. Akan tetapi untuk kantor, itu skalanya masih kecil, jadi tidak perlu banyak-banyak karyawan.


Masalahnya Fano tidak bisa mempercayai banyak orang.


Untuk bisnis semuanya beres, tidak ada kendala. Malah bisnis Fano kian hari kian naik saja, permintaan tiap-tiap produk sudah melebihi ekspektasi, bahkan beberapa di antaranya dikirim ke luar negri.


Karena Angel masih brand ambasador produk kecantikam Fano, jadi permintaan untuk luar negri juga meningkat pesat, terutama di Korea, Jepang, Filipina, Thailand dan China.


Saat ini Fano untuk sehari saja sudah dapat keuntungan puluhan miliar hanya dari menjual produk-produk kecantikan itu.


Kesampingkan dulu masalah bisnis, sekarang Fano sudah pulang dari sekolah. seperti janjinya, dia akan membawa Alfred pergi menemui keluarga Raynold dan memiliki kesepakatan dengan mereka.


[Berhenti]


Fano berhenti di tengah perjalanan kembali ke apartemennya, dia hanya jalan kaki ke sekolah karena dekat. Fano memang lebih suka jalan kaki, apalagi karena jalannya bersama teman-teman yang lain.


Saat Fano berhenti, Dave, Yoshi dan Bima pun ikut berhenti.


[Ada kucing yang harus kamu tolong di semak-semak sana, hadiahnya 200 koin]


“Fano kenapa?” tanya Yoshi.


“Ayo dong, mau beli batagor nih disana” sahut Bima.


“Kamu duluan aja, aku dengar ada suara kucing minta tolong” kata Fano, mereka terkegak mendengarnya.


“Kak Fano mana ada kucing minta tolong? Kucing kan bisanya cuma meong-meong aja” timpal Dave.


“Ya maksudnya minta tolongnya dengan bahasa kucing” tambah Fano, mereka tergelak lagi, susah memang jika punya teman receh semua, dikit-dikit ketawa padahal tidak ada yang lucu.


“Ya udah ayo Dave duluan!” Bima kemudian menarik lengan Dave untuk duluan pergi beli batagor.


“Aku beliin lima ribu gak pedes!” teriak Yoshi.

__ADS_1


“Aku juga!” Fano malah ikutan.


“Beres!” jawab Dave juga ikut berteriak, orang-orang disekitar mereka menatap mereka aneh, tapi mereka tidak peduli seakan dunia milik sendiri.


Fano kemudian berjalan menuju semak-semak yang menurut sistem ada kucing yang harus Fano tolong. Meski Fano sebenarnya malas sih, kan sudah biasa kucing jalanan seperti itu.


[Kau tidak punya hati atau bagaimana? Kucing itu makhluk hidup yang berhak untuk –]


‘Iya iya ini aku tolong, jangan cerewet’


[Cih]


SRET


Fano menyibak semak-semak itu, itu adalah semak-semak yang beberapa bagian berduri. Dan benar saja, ada seekor kucing kecil terjerat disana. Bulunya yang berwarna jingga terdapat beberapa bekas darah dan juga kotor.


“Wah beneran ada kucing! Telingamu tajam juga Fano!”


Dengan hati-hati Yoshi mengambil kucing kecil itu, suara kucingnya sudah semakin pelan, kasihan sekali dia sepertinya kesakitan.


Fano dan Yoshi memilih membawa kucing ke taman kecil dekat sana, itu adalah taman saat pertama kali Fano bertemu Vivi. Di taman itu juga tidak jauh dari abang penjual batagor dalah gerobak yang didatangi Bima dan Dave.


Fano meminumkan ramuan penyembuh untuk kucing itu pelan-pelan, untungnya ada Yoshi yang membantu Fano, kalau tidak Fano tau harus berbuat apa.


Kucing itu mengeong lebih kencang setelah meminum setengah dari botol ramuan. Setengahnya lagi Fano siramkan pada tubuh kucing kecil yang terluka, baru setelahnya kucing itu dibersihkan di keran yang ada di pojok taman.


“Kau punya handuk kecil begitu di dalam tasmu?” tanya Yoshi, dia heran saja, di dalam tas Fano bisa ada handuk segala.


“Seseorang memberiku, ternyata sekarang berguna kan?”


“Iya juga, tapi siapa yang memberimu handuk begitu? Warna pink lagi”


“Aku juga tidak ingat”


“Meow!”


Kucing kecil itu sudah terlihat sehat dan ceria, hanya saja bulu-bulunya masih sedikit basah.


“Kawaii ne koneko-chan” gumam Yoshi, dia terlihat menyukai kucing itu.


“Ambil saja” kata Fano.


“Eh? Aku? Kenapa bukan kamu? Kan kamu yang nemu duluan” protes Yoshi “Aku paling tidak bisa merawat hewan” tambahnya.


“Kalau gitu biar ku bawa aja, teman papa ada yang pecinta kucing, juga menyediakan adopsi kucing” sahut Dave yang baru datang bersama Bima.

__ADS_1


Bima menadahkan tangannya pada Yoshi dan Fano setelah memberikan satu tas plastik dengan dua bungkus batagor di dalamnya.


“Astaga Bima, gak baik minta-minta gini” kata Yoshi.


Bima semakin menyodorkan tangannya pada Yoshi “Heh, kau pikir semua ini gratis hah?!”


Yoshi memberikan uang lembaran sepuluh ribu pada Bima “Kembali lima ribu”


“Gak perlu, kan pas kamu sama Fano” Bima mengantongi uang sepuluh ribu itu.


Dave hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Bima, dia ini ahli waris konglomerat tapi pelitnya minta ampun.


Fano memberikan kucing kecil berbalut handuk pink tadi pada Dave “berikan pada seseorang yang bisa merawatnya dengan baik”


Dave mengangguk “Beres! Jangan khawatir”


“Aku tidak khawatir” Fano


[Selamat! Kamu mendapatkan 200 koin]


***


Fano, Alfred, Aron dan Abel telah sampai di mansion besar keluarga Raynold, mereka pergi ke sana menaiki mobil. Baru saja sampai Aron dan Abel sudah menarik Alfred untuk keluar dari mobil.


Fano hanya bisa menatapi mereka yang entah kenapa sudah sangat akrab itu dengan tatapan datar. Abel banyak bercerita jika dia main dengan Alfred, mereka juga pergi ke taman kaca di lantai atas, memesan banyak makanan juga menonton film.


Tapi Fano cukup lega melihat mereka dapat membaur dengan baik. Fano agak terkejut karena apa yang Queen ucapkan benar tentang banyak keluarganya akan datang, Fano tidak bisa mengenali wajah-wajah baru.


Hanya satu yang bisa Fano kenali, yaitu Roi dan Rin.


Semua orang yang ada disana terpana saat melihat Alfred, terutama Roi dan Rin, pasti mereka berdua bisa mengenali wajah Alfred yang mirip dengan Albert dulu, yang membedakan Alfred dan Albert hanya rambut pirang dan mata birunya, itu Alfred dapat dari ibunya.


Karena itu, mau tidak mau Fano harus mengatakan yang sebenarnya pada mereka.


Fano pun disidang oleh mereka di salah satu ruangan khusus yang seperti ruang meeting penting. Ruangannya cukup tertutup dan luas, ada beberapa sofa warna abu-abu muda yang terlihat nyaman, ada pula televisi besar, lalu temboknya juga kedap suara.


Yang ikut ke dalam ruangan adalah Fano, Roi, Queen, Rin dan Aron.


Yang lain ikut maid untuk makan-makan camilan manis, Fano sempat mendengar salah satu maid mengatakan memiliki puding mangga pada Abel.


Fano juga ingin puding mangga, padahal dia juga baru saja makan batagor bersama Bima, Dave dan Yoshi. Oh iya, kucing kecilnya akan diantar oleh Dave, dia naik mobilnya Bima, Bima dan Yoshi juga ikut. Ada supir yang mengantar mereka berhubung tidak ada dari mereka yang memiliki SIM untuk mengemudi mobil.


Jadi saat Fano berangkat tadi, mereka juga berangkat.


“Katakan apa yang terjadi Fano” kata Queen, dia terlihat sudah tidak sabar mendengar cerita dari Fano.

__ADS_1


.


.


__ADS_2