
.
.
Gyuutt
“Adu-du-duh!”
Fano terbangun saat merasakan ada seseorang yang menjewer telinganya dengan keras, rasanya panas dan sakit. Karena terpaksa bangun, kepala Fano rasanya langsung nyut-nyutan, dia ingin marah pada siapapun yang menjewernya seperti itu, namun setelah tau siapa pelakunya....
“SIAPA Siiii – hehe, apa kabar ayah mertua?” Fano yang tadinya ingin marah, setelah melihat mata bulat besar Lino yang melotot padanya, dia langsung ciut.
“Aku belum jadi mertuamu! Enak aja, lagian kamu ngapain tidur sama Queen hah? Mending kamu keluar, nemenin tamu sana!” omel Lino, Raja di kerajaan ini.
Mana bisa Fano membantah titah Raja?
Tadi Queen habis memarahinya karena menampung Fira untuk tinggal bersamanya, tapi setelah Fano ceritakan tentang Jehyuk yang menyukai Fira, Queen tidak jadi marah. Kemudian Queen meminta Fano lanjut memijitnya, sampai ketiduran.
Fano yang bosan akhirnya ikut ketiduran.
“Tapi, aku gak kenal, gimana bisa menemani tamu?” tanya Fano, takut-takut dia turun dari ranjang Queen. Queen sendiri tidak terlihat terganggu sama sekali dengan keributan yang ditimbulkan ayah dan kekasihnya. Dia tetap tidur tenang bagaikan putri – maksudku, dia memang putri.
“Gak usah banyak bacot kamu, berisik banget, udah ikut aku! Gak baik cowo ada di kamar cewe” kata Lino, sambil menyeret Fano dengan tidak sabaran. Untung saja tadi Lino diberi tahu adiknya, Lylac, jika Fano ada di kamar Queen, jadi Lino bisa mencegah Fano berbuat yang iya-iya pada putri kesayangannya.
Lylac sendiri terkekeh melihat Fano diseret keluar dari kamar Queen, Fano menatapnya sinis, dia tau pasti Lylac yang memberitahu ayah mertua – maksudnya, Lino, jika Fano ada di dalam kamar Queen. Padahal fano tidak berbuat apapun.
Lino terus membawa Fano pada Raja dan Ratu yang Fano sama sekali tidak kenal, yang pasti, mereka manusia biasa. Selain makhluk mistis seperti peri, elf, werewolf, duyung, iblis dan lain-lain, manusia juga ada dan memiliki kerajaan mereka sendiri.
Bersama mereka juga ada seorang pangeran yang Fano lupa siapa namanya, yang pasti dia yang menyukai Queen dan ingin melamar Queen.
Lino memperkenalkan Fano pada mereka, putri mereka yang masih berumur sekitar 12 tahunan terlihat terpesona dengan Fano, namun Fano biarkan saja dan pura-pura tidak melihat. Pura-pura menjadi tidak peka adalah yang terbaik disaat seperti ini, Fano juga takut salah bicara atau bertingkah, karena ada Lino bersamanya.
“Kenalkan, Ini Fano, calon suami putriku, dia adalah penguasa di wilayahnya” kata Lino, sambil menyenggol rusuk Fano. Fano bingung, sepertinya dia diajak berakting, tapi tidak ada naskahnya, jadi bagaimana Fano berimprovisasi?
“Ehem – itu benar sekali” sahut Fano.
“Pasti kerajaannya kecil” timpal pangeran yang Fano lupakan namanya, gak penting sih, ya gak Fano ingat, malas sekali.
“Sebenarnya kekuasaan ku besar dan tidak hanya di satu wilayah, tapi tidak ingin menyombongkannya” kata Fano, membuat Ratu dan putri kecil berdecak kagum.
“Anda memiliki calon menantu yang hebat, selamat ya” kata Raja itu, Lino hanya tersenyum lalu merangkul Fano, kemudian Lino berpamitan pada mereka, mengajak Fano menjauh.
“Semoga setelah ini mereka tidak terus-terusan mendesak untuk menikahkan putranya dengan Queen” kata Lino, setelah dia dan Fano sudah menjauh, di tempat mengambil minuman.
“Boleh saya bertanya, kenapa anda tidak menyukai pangeran itu?” tanya Fano.
“Tentu saja karena putriku tidak menyukainya, meski aku tidak terlalu menyukaimu, tapi karena putriku sangat menyukaimu, aku tidak ada pilihan lain, kebahagiaan putriku adalah yang paling utama” jawab Lino, kemudian dia meneguk nektar dengan jeli di dalamnya.
__ADS_1
Menurut Fano, meski agak keras, Lino adalah ayah yang baik. Dia memang kelihatannya garang, namun dia juga memiliki sisi lembutnya sendiri. Jika menurut Randy dan Zeus sih seperti itu.
Mungkin Fano harus mulai mempercayai mereka, karena mereka dekat dengan Lino. Memang Sih, Fano jarang mendapat kesempatan untuk berbincang hanya berdua dengan Lino, Lino kan juga orang sibuk.
“Hei kau!” tiba-tiba pangeran yang Fano lupakan namanya, mendatangi Fano, padahal Fano masih bersama dengan Lino, tidak ada takut-takutnya ya bocah ini.
“Ada apa Arthur?” tanya Lino malas.
“Oh? Ma – maaf, saya tidak melihat anda ada disini, saya hanya ingin menantang dia saja” kata pangeran yang ternyata namanya Arthur, hmm – namanya yang sulit untuk diingat, bahkan author saja sampai harus scroll ke bab atas untuk melihat lagi siapa namanya.
Fano menatap Arthur malas, ingin menantang apa lagi sih dia ini? Memangnya jika dia menang, dia bisa menikahi Queen begitu? Bodoh sekali.
“Oh? Sepertinya itu akan seru, terima saja tantangannya Fano” sahut Raja (ini anaknya Lino, bukan gelar) yang entah datang dari mana, tiba-tiba saja sudah muncul meski tidak diundang, seperti jelangkung.
“Itu benar, terima saja Fano, aku mulai bosan disini” timpal Lylac, yang datang seperti jelangkung juga.
DUGH
Fano meringis menahan sakit pada rusuknya yang baru saja disiku oleh Lylac. Kejam sekali dia. Keturunan siapa sih? Bar-barnya minta ampun.
“Baiklah ku terima, kau mau menantangku apa?” tanya Fano, dia pasrah saja lah, ditantang tinggal menjalani saja.
“Besok, pertandingan berburu, yang mendapat paling banyak dan paling besar menang” kata Arthur dengan sombong. Jika dia seyakin itu, berarti dia cukup ahli dalam berburu.
“Tidak masalah” sahut Fano.
“Aku tunggu besok, jika kau tidak datang, berarti kau pecundang” kata Arthur, setelah itu dia pergi.
“Bocah itu tidak sopan sekali” keluh Lino, dia jengkel dong, padahal ada dia selaku penguasa disini, tapi si Arthur memutuskan dengan seenak jidatnya.
“Padahal aku sangat sibuk” Fano ikutan mengeluh.
“Tidak apa Fano, berburu itu menyenangkan kok! Aku akan menemanimu” kata Raja.
“Bukankah kau harus menemani putri Frazeice ya, Raja?” tegur Lino.
Raja berdecak malas “Aku tidak suka dijodoh-jodohkan Pa!” keluh Raja.
Lino menghela nafas bosan “Aku tidak menjodohkanmu, hanya saja ingin mendekatkan kalian, jika kalian cocok, wilayah kita akan meluas, kita juga bisa bebas berbisnis di wilayah itu, tapi jika nantinya kau tidak suka ya sudah, aku tidak akan memaksamu” kata Lino.
Namun Raja tetap tidak bergeming, dia terlihat masih tidak suka dengan keputusan ayahnya untuk mendekatkan dia dengan seorang putri.
“Kenapa sih? Bukannya dia sangat cantik?” tanya Fano pada Raja.
“Tuh, Fano saja tau jika putri Frazeice itu cantik” sambar Lino.
“Tapi aku ingin memilih pasanganku sendiri Pa!” tolak Raja lagi.
__ADS_1
Lino menghela nafas bosan, lalu menepuk bahu Fano “Beri dia pengertian Fano, ku sudah lelah dengannya, dia sangat keras kepala” kata Lino, kemudian menoleh pada Lylac.
“Hei, kau, ikut aku!” kemudian Lino menyeret Lylac pergi bersamanya.
“Aku punya nama! Jangan panggil aku hei kau!” protes Lylac.
“Iya iya, adik bungsu, ikut aku” Lino.
“Huh! telat!” Lylac.
“Kenapa kau sama menyebalkannya dengan Fano?” Lino.
Fano mengernyitkan dahinya, tidak setuju dengan ucapan Lino, padahal Fano kan anak baik, dia tidak menyebalkan.
“Pokoknya aku tidak mau mendekati putri Frazeice! Titik!” kata Raja, Fano yang mendengar itu menghela nafas malas, kemudian menyeret Raja menuju tempat sepi untuk duduk dan bicara.
Mereka akhirnya sampai di sebuah gazebo yang ada di taman, tempat sepi untuk bicara.
“Kau pasti ada alasan untuk menolaknya kan?” tanya Fano.
Raja mengangguk “Iya, karena aku ingin memilih pasangan sendiri” kata Raja.
“Dasar bodoh! Itu bukan alasan yang jelas!” rasanya Fano ingin mengumpat terus jika menghadapi Raja.
“Jangan mengataiku! Apa aku salah?” Raja.
“Tentu saja salah! Dasar anak bandel, begini ya, dengar kan aku! Ayahmu hanya ingin mendekatkan kalian berdua, tidak harus menjadi pernikahan, hanya ingin kalian dekat saja dulu, jika kalian nantinya tidak cocok ya sudah, ayahmu bilang tidak masalah. Hanya mendekati untuk berteman saja apa susahnya sih? Kau ini kekanakan sekali” kata Fano.
“Jadi itu bukan pernikahan?” tanya Raja.
“Tidak harus seperti itu, jika nantinya kau mencintai orang lain ayahmu tidak akan memaksamu, ayolah” Fano.
“Aku akan coba, tapi putri Frazeice sangat dingin dan terlihat jutek” kata Raja.
“Tentu saja seperti itu jika masih menjadi orang asing, coba saja untuk mengenalnya, itu tidak akan merugikanmu kan? anggap saja kau sedang mencari teman atau apa, dulu kau tidak menyukaiku, buktinya sekarang kita dekat kan?” Fano.
“Eh? Memangnya kita dekat ya?” Raja.
“Kau ingin ku pukul?”
“Aku ini pangeran mahkota disini!”
“Terus?”
“Kau menyebalkan!”
.
__ADS_1
.